
"Kau baik-baik saja?" Callum sudah memegangi pundakku, mengamatiku dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Tentu saja," aku menaikkan alisku.
Callum mendesah lega, kemudian memelukku singkat. "Kupikir tadi... aku sempat melihatmu yang diserang oleh pria tua itu."
"Bora?" Aku tertawa. "Dia bukan apa-apa buatku."
"Oh, tentu saja bukan apa-apa untuk Lenaku," katanya sambil menyengir. Aku langsung tersedak air liur sendiri. Tadi apa katanya? Lenaku?
"Ayo." Callum tiba-tiba memakaikan jubah hitam di atas kepalaku, yang dapat menyembunyikan identitasku.
"Buat apa?"
"Aku ingin kita memasuki wilayah Bougenville dalam keadaan tidak dikenal. Sebentar lagi pasti berita penobatanmu yang kacau balau akan tersebar."
Kemudian kami sudah menaiki kuda hitam yang sedari tadi bersembunyi di dekat semak-semak. Callum yang memegang kendali kuda, sementara aku duduk di depannya sambil menundukkan kepala.
"Hiyaa!" Tali diarahkan, dan kuda sudah melaju. Aku menoleh ke belakang, melihat gedung Fae Hall sekali lagi sebelum kuda membawaku pergi ke wilayah lain.
***
Lexy menginjak tanah berlumpur. Ternyata tanah masih lembap bekas hujan deras kemarin. Sekarang ia sudah berhasil keluar dari istana bersama Val.
Sebelumnya, Ledion sudah membantunya keluar dari istana. Saat ia muncul dari bawah tanah, Lexy bisa melihat bahwa lorong istana yang biasanya ramai dipadati oleh orang-orang, sekarang sudah kosong melompong karena semua orang sedang berkumpul di Fae Hall.
Kecuali para penjaga istana tentunya. Dan berkat jabatan Ledion sebagai Ketua Ripper, ia dengan mudahnya mengusir para penjaga yang semula berjaga di pintu gerbang.
"Perkiraan kita akan sampai di Alther Suavis besok," jelas Val yang membawa pikiran Lexy ke masa kini. Ia kembali memperhatikan jalan, masih sambil menutupi wajahnya dengan tudung jubah.
"Menurutmu, apa yang akan kita hadapi?" Tanya Lexy untuk mencairkan suasana. Sekarang mereka hanya menggunakan kaki untuk berpindah tempat. Kalau ia menggunakan sayapnya, tentu semua orang akan mengenalinya. Mereka juga tidak mempunyai kendaraan. Satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan adalah kuda milik Ledion, tapi itu sudah dipinjamkan untuk Callum dan Alena.
"Peri Lebah," jawab Val.
"Singkat, padat dan jelas," kata Lexy, yang kemudian dibalas oleh cengiran Val.
Ia tiba-tiba melihat sesuatu dari kejauhan. Makhluk menjijikan berkaki empat. Makhluk itu sibuk mengunyah sesuatu dari tanah.
"Egleans?" Bisik Lexy. Perutnya tiba-tiba merasa mual saat mengucapkan kata itu. Karena makhluk itu sejenis dengannya.
"Kita hanya perlu tetap tenang, dan jangan menarik perhatiannya." Val langsung menarik tubuh Lexy, dan menuntun jalannya.
Berkat keahlian Val, Lexy tak perlu cemas apabila ingin menghadapi Egleans. Lagipula, pria ini sudah sangat sering bertarung dengan makhluk seperti itu.
"Jangan lirik kesana." Rupanya Val memperhatikannya. "Fokus ke arah depan."
"Ah? Ya," Lexy buru-buru memalingkan wajah, dan tanpa berbicara apa-apa lagi, tetap melaju ke depan.
***
Matahari akhirnya muncul di ufuk timur. Setelah berjam-jam menunggangi kuda, akhirnya aku dapat melihat gerbang besar dari kejauhan. Gerbang yang saking tingginya hampir menyentuh awan di langit. Aku bahkan tak bisa melihat isi wilayah Bougenville.
"Kita sudah sampai," kata Callum di telingaku. Sontak aku menoleh ke belakang.
"Jangan seperti itu lagi!"
"Kenapa?" Tanyanya sambil tertawa. Ia lalu mengurangi kecepatan kuda.
"Rasanya geli di telingaku!"
"Kalau begini?" Callum memoncongkan bibirnya, dan meniup lubang telingaku dengan sengaja. Aku langsung bereaksi dan mengangkat tanganku.
"Berhenti!" Teriak salah satunya. Callum langsung menarik tali kekang kuda.
"Tunjukkan wajah kalian!"
Deg. Bagaimana ini? Aku hendak menyenggol Callum, namun seperti biasa pangeran itu pasti memiliki seribu trik di benaknya.
Callum turun dari kuda, dan merentangkan tangannya, mengisyaratkan kepadaku untuk tetap duduk di atas kuda.
Ia melepas jubahnya, dan memperlihatkan sayap emasnya. Mereka semua langsung terbelalak.
"Anu... apakah Anda-"
"Seorang Fae Royal," jawab Callum dengan nada serius. "Kalian tidak mau mengizinkan seorang Fae Royal untuk masuk ke wilayahnya sendiri?"
"Bukan begitu," jawab salah satunya. Setelah bertukar pandangan, barulah mereka membuka jalan. "Tapi kami perlu tahu siapa dia," lanjut salah satunya lagi sambil menunjuk ke arahku.
Aku tetap diam, masih menundukkan kepalaku.
"Dia adalah pasanganku," jawab Callum dengan santai. "Jadi kalian ingin menginterogasi wanitaku?"
Apa?!
"Pasangan?!" Sontak mereka semua menunduk. "Ampun, Mister. Maafkan kelancanganku."
Callum menyibakkan jubahnya dengan gagah, kemudian kembali berjalan ke arah kuda. Aku bisa melihat raut wajahnya yang serius saat berbicara dengan para pengawal. Namun itu semua menghilang saat ia berkedip ke arahku.
Aku pun memutuskan untuk tetap diam sampai akhirnya kami tiba di tujuan.
Aku ingin sekali menanyakan maksudnya tadi. Fae memang bisa memiliki pasangan. Namun prosesnya ribet dan berbelit-belit, tidak seperti manusia. Tidak seperti kedua orangtua angkatku yang hanya perlu menukar janji di atas altar, ditonton oleh banyak orang.
Dan proses menjadi pasangan Fae sendiri pun aku tak tahu. Miss Gray jarang sekali membahasnya, mungkin karena kita tak membutuhkan informasi itu.
"Jangan melamun, Lenaku," bisik Callum di telingaku. Aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke samping. Callum telah menaruh dagunya pada pundakku.
"Aku cuma..." Sial, umpatku dalam hati. Tak biasanya aku gugup di depannya.
Callum menunjukkan giginya. "Memikirkan yang tadi?"
"Maksudmu saat kau melarangku turun dari kuda?"
Ia mengernyitkan dahinya. "Kau tahu bukan itu maksudku. Ini pasti soal pasangan, kan?"
Aku melepas pandangan darinya. "A-apa yang mau dibicarakan emangnya?"
Aku tak dapat melihat ekspresi Callum karena ia sudah kembali fokus membawa jalan.
"Kau yakin tak mau mengintip sebentar untuk melihat pemandangan sekitar?" Lanjutnya lagi.
Benar juga. Aku tak pernah mengunjungi wilayah pusat, jadi setidaknya aku harus-
"Wow." Aku tak bisa menutup mulutku. Ini semua adalah bangunan bertingkat yang dinding-dinding rumahnya pun terbuat dari bahan langka. Tak ada pondok kecil yang jelek dan rusak, semuanya benar-benar memancarkan betapa kayanya Fae yang tinggal di wilayah ini.
Kalau pemandangan Amarilis sangat indah, ini berkali-kali lipat indahnya. Lapangan hijau yang luas dipenuhi oleh berbagai macam Fae yang saling bermain dan tertawa. Danau biru yang gemerlapan memantulkan cahaya matahari. Semuanya serba mewah sekaligus serba natural. Bougenville ini tak main-main kalau menyangkut keindahan infrastruktur sekaligus pemandangan alam.
Dan di ujung sana, sebuah bangunan yang sangat mewah dan luas. Istana Bougenville berwarna ungu muda, sesuai dengan namanya. Aku sampai harus menengadah untuk menemukan titik puncak atap istana.
"Selamat datang di Bougenville, kampung halamanku," kata Callum di telingaku.