Wings & Fate

Wings & Fate
Mission



Aku sudah terbang kesana kemari, dan menanyakan hal yang sama kepada semua orang disini. Namun balasan mereka hanya berupa gelengan kepala.


Tidak ada satupun yang mengetahui kemana Bora pergi.


"Bagaimana dengan... teman-temanku? Xiela dan Naomi? Aku harus berbicara dengan mereka," kataku lagi.


Salah satunya menjawabku tanpa memandang langsung mataku. "Sang Ketua Fire mengusir mereka. Katanya mereka diperbolehkan kembali kesini saat upacara penobatanmu diselenggarakan."


"Jadi berapa hari lagi hingga saat itu tiba?"


"Setelah proses penyucian, lalu pengepasan jubah, umm... kira-kira 2 hari lagi."


Aku menjadi semakin frustasi. Mungkin dua hari itu waktu singkat untuk mereka, namun bagiku itu terasa seperti selamanya. Aku harus bisa menahan diri sebelum mereka kembali dan aku bisa kabur dari tempat ini.


Aku kembali memandang mereka semua. Para Fae Royals yang memperlakukanku seperti aku ini Ratu, padahal mereka termasuk golongan bangsawan. "Kalau begitu... siapa pemimpin kalian yang bertanggung jawab atas keamanan Fae Hall?"


Jesca maju ke depan. Baru kali ini ia berani memandangi mataku.


"Oh... rupanya kamu." Aku mendesah.


Jesca sepertinya mengerti apa yang hendak kukatakan. Aku ingin pergi keluar dari tempat ini, dan terbang kembali ke istana Amarilis untuk memperingati mereka bahwa Egleans akan kembali beraksi. Aku harus menemui Callum dan membicarakan hal ini juga, tak peduli dengan hubungan kami yang sekarang.


Tapi aku tak diperbolehkan keluar. "Perintah dari Sang Ketua Fire," kata Jesca lewat tulisannya.


"Tapi kalian semua pasti mengerti, betapa berbahayanya hal ini."


Aku kembali berjalan tanpa arah, berpikir apa yang hendak kulakukan. Aku tahu aku tak bisa berdiam diri disini. Egleans itu makhluk yang tak bisa ditebak. Mereka bisa saja sudah menyerang Bougenville. Wilayah pusat itu tempat tinggal Raja dan Ratu Fae. Lebih dari setengah populasi Fae tinggal disana.


Apa yang kira-kira bisa kulakukan? Tentu, aku tak bisa menggunakan cara lama, yaitu kabur dari tempat ini begitu saja, sama seperti yang kulakukan dari rumah orangtuaku. Para Fae di hadapanku ini adalah Fae Royal. Mereka bisa berpindah tempat kemana saja.


Bahkan masing-masing dari mereka mempunyai kalung itu. Sepertinya itu semacam penguat bagi kekuatan mereka. Buktinya Jesca bisa memindahkan kita berdua kembali ke dalam gedung beberapa menit yang lalu.


Tiba-tiba nasehat Bora terngiang-ngiang dalam pikiranku. "Bayangkan, Alena. Bayangkan kekuasaan yang bisa kau peroleh saat kau mengatur semua Fae dengan sihirmu."


Meski aku belum dinobatkan menjadi Fae God, aku sudah menaruh kepercayaan kepada orang-orang. Banyak yang memuja-mujaku, bahkan Fae Royals menunduk kepadaku.


Aku menghentikan langkahku dan menghadap ke para Fae di depanku. Fae muda yang bertugas untuk melindungi tempat ini. Sebuah ide melintas di otakku.


"Kalian tentu tahu statusku selain menjadi seorang Fae God."


Tidak ada yang membalas ucapanku. Beberapa menatapku dengan kebingungan.


"Kalian mengambil perintah dari Ketua Golongan. Katakan bahwa itu benar."


"Itu benar, Miss," sahut seseorang. "Kami harus mematuhi mereka."


"Kalau begitu, akankah kalian menyangkalku jika aku keluar dari tempat ini, dan melaksanakan sebuah tugas yang pernah kugagalkan sebelumnya?"


Jesca kembali menuliskan sesuatu di atas kertasnya. "Tugas apa, Miss?"


Aku tersenyum percaya diri. "Tugas yang pernah diberikan oleh Ketua Golongan. Mata-mata di dunia manusia."


***


Penjara bawah tanah selalu memberi kesan menakutkan bagi siapa saja yang memasukinya. Callum tidak perlu melewati Fae yang terkurung di dalam sel, karena ia tinggal menggunakan sihirnya dan muncul langsung di dalam sel tempat Lexy terkurung.


Betapa terkejutnya ia saat melihat Val di dalam sana.


Temannya itu masih tertidur di sudut ruangan, sedangkan di seberangnya ada Lexy. Tampaknya ia sedang memeluk anjing kesayangannya.


Yang pertama kali menyadari kehadirannya adalah gadis itu. Ia menggosok-gosok matanya dan berkedip beberapa kali.


"Siapa disana?"


"Ini aku," balas Callum kepadanya.


Tidak ada balasan. Lalu, "Kamu?"


"Begitulah." Callum menghampiri pria di seberang, kemudian menendang-nendang tubuhnya.


"Ini aku, bodoh."


"Callum? Oh." Val menurunkan pedangnya, kemudian kembali menghempaskan diri di dinding. "Kukira yang tadi itu Lexy."


"Kau memang gila," bisik Lexy dari seberang sana. "Kau pasti sudah membunuhku kalau aku melakukan itu."


"Sudah jelas," balas Val santai. Callum mengerutkan dahinya. Sejak kapan mereka berdua menjadi dekat?


"Omong-omong, kenapa kau disini?" Tanya Val yang sedang menatapnya.


"Seharusnya aku yang bertanya itu."


"Aku bosan. Setiap hari kerjaanku hanya menunggu kepulanganmu. Ini salahmu karena melarangku untuk ikut denganmu."


"Istanaku ini perlu kau disini."


"Sudah ada Ketua Fire."


"Dia terlalu tua dan semena-mena. Bisa jadi istanaku ini dijadikan tempat pemandian penuh dengan Chrysos."


"Memangnya ada yang seperti itu?" Tanya Val kebingungan. Callum menyengir. "Kenapa tidak? Aku kan, kaya raya."


Terdengar suara lirihan tawa dari Lexy. "Kau masih tidak berubah, Callum. Masih sombong."


"Senang mendengar pujian itu dari mulutmu, Lexy." Callum kemudian mendesah. "Kutebak, kalian tidak melihat keberadaan Alena?"


Lexy langsung bereaksi begitu mendengar nama kakaknya. "Alena? Kenapa dia? Apakah ia baik-baik saja? Kenapa ia tak lagi mengunjungiku?"


Mendengar pertanyaan Lexy, Callum malah semakin khawatir. "Aku juga belum melihat Xiela dan Naomi. Dimana mereka?"


Ia melirik Val, namun temannya itu sepertinya tidak tahu apa-apa. "Maaf, Callum. Seharusnya aku lebih memerhatikan istanamu."


"Bukan salahmu, Val." Kemudian, ia menatap Lexy, adik kembar Alena. Terakhir kali ia melihatnya adalah saat sebelum ia dikurung di bawah tanah, karena pengakuannya sebagai seorang Egleans. Meskipun wajahnya ini jiplakan Alena, ia memiliki sifat unik dan pemberani, sekaligus penyayang.


Ia teringat dengan ucapan Ratu peri lebah waktu itu. Ternyata gadis yang pernah berdansa dengannya tak lain adalah Lexy.


Dan ia belum meminta maaf kepadanya hingga hari ini. "Maaf, Lexy."


Lexy tampak kebingungan. "Maaf untuk apa? Kesalahanmu ada banyak, jadi aku lupa."


Callum tertawa. Wajahnya kemudian kembali serius. "Untuk segalanya."


Lexy tidak membalas, bahkan saat Callum melangkah keluar dari pintu sel. "Aku janji akan mengeluarkanmu dari sini, Lexy. Dan..."


Ia menoleh sekali lagi ke arah Lexy. "Dan aku berjanji, bahkan bersumpah kepada Dewa Pengampun, bahwa aku bisa memperbaiki semua ini dan membawa Alena kembali kepadaku."


Callum hendak melangkah, namun terhenti saat Lexy mengeluarkan suara. "Kau benar-benar mencintai kakakku, ya?"


Callum terkejut mendengar pertanyaan itu dan menoleh ke arahnya.


"Terima kasih," katanya lagi, kali ini menunjukkan senyumnya. "Aku senang ada yang merawat kakakku. Aku jadi lebih tenang."


Tak disangka, Callum balas tersenyum. "Syukurlah kau tak membenciku lagi."


Lexy kembali menunjukkan ekspresi mukanya yang biasa, lalu mendengus. "Oh, aku masih."


.


.


.


Hai, haiii!! Sudah lama tidak menyapa kalian nih, para readers 🤗🤗 Akhirnya Alena mulai beraksi lagi...keadaan jadi semakin seru 😂😂


See u on next eps~