
Sore itu, tepat saat matahari sudah menutupi sebagian permukaannya, aku sudah siap. Jesca sudah mendandaniku selayaknya. Aku memakai jubah putih panjang yang menyentuh lantai, sama seperti penjaga Fae God lainnya. Bedanya, kali ini terdapat corak lambang mahkota, lambang kekerajaan.
Kalau waktu itu rambutku hanya digerai seadanya dan tidak diberi perhiasan karena harus tampil natural, kali ini rambut pirangku dihiasi oleh rantai kecil keemasan dan bunga.
Aku melirik Jesca. Gadis itu memasang muka datar, dan bahkan tidak menatap mukaku sedetikpun. Aku tidak mendapatkan senyuman manisnya seperti biasa, karena ia sudah benar-benar menutup diri sejak ia tahu rencanaku yang sebenarnya.
Kami juga tidak menggunakan Gardian. Orang-orang menyebut kekuatan itu sebagai telepati. Kita bisa mendengar dan berkomunikasi lewat pikiran lawan, dan itu bersifat pribadi.
Aku menyentuh Gardian yang tergantung di leherku. Namun aku tidak menggunakannya untuk bertelepati, melainkan hanya untuk sekedar mengusir rasa gugup di pikiranku.
Semoga semuanya berjalan lancar hari ini, pikirku. Semoga aku bisa mengikuti rencana Callum dengan baik.
Tapi bayang-bayang wajah kecewa semua orang tiba-tiba muncul di pikiranku. Wajah Jesca saat ia mengetahui rencanaku yang sebenarnya, kemudian wajah-wajah anak polos seperti Ella.
Sebenarnya apa yang mau kucapai saat menjalankan rencana ini? Pikirku saat Jesca menuntunku menyusuri lorong lantai dua. Suara khalayak sudah terdengar dari kejauhan, tapi aku harus mengontrol diri agar tidak mengeluarkan banyak keringat yang bisa menghancurkan dandananku.
Naomi berkata bahwa aku bisa terikat dengan apparat hukum jika berhasil dinobatkan sebagai Fae God. Aku akan semakin dikontrol dan semakin diperlakukan seperti boneka oleh mereka. Sekarang saja, aku sudah pusing dan kewalahan menghadapi Bora. Bagaimana nasibku nanti jika seluruh kaum Fae sudah mengenalku? Alena, si Fae God?
"Miss Alena," panggil pria Fire itu. Aku langsung mengangkat daguku dan tersenyum ke arah Bora. Pria itu mengenakan setelan jas yang dihiasi oleh renda pada bagian kerah, serta bulu burung api yang menjadi mahkota kepalanya. Rambut merahnya membuat tampilannya semakin mencolok dan mudah dikenali sebagai Ketua Fire.
"Orang-orang sudah menunggumu." Ia mengulurkan tangannya ke arahku, dan aku sudah tidak melihat keberadaan Jesca.
"Mari, Alena. Tunjukkan kepada dunia, bahwa mereka sebagai kaum Fae masih mempunyai harapan. Yaitu kemunculanmu sebagai Fae God."
Jantungku berdegup kencang, dan aku menatap tangan itu. Tangan besar dan kasar milik Bora, pria yang sudah berusaha memanfaatkanku.
"Ya," ujarku singkat sebelum aku dituntun ke tengah ruangan dan sudah ditelan oleh massa.
***
Lexy sudah bersiap-siap bersama pria di sampingnya. Ia sudah mendapat jubah samaran dari Naomi. Selain itu, ia juga sudah mengenakan kain hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Panas memang, apalagi ia sedang berada di bawah tanah. Namun Lexy rela membiarkan tubuhnya berpanas-panasan seperti ini. Karena sebentar lagi, ia akan menjalani rencana yang sudah disepakati bersama teman-temannya kemarin.
Lexy menggeleng-geleng. Sebenarnya selama ini Val bisa saja dengan mudahnya membunuhnya dalam tidur. Pria ini tak tanggung-tanggung kalau mau menghabisi lawan.
"Kau juga butuh senjata." Val sudah melemparkan sesuatu ke arahnya, dan Lexy sigap menangkapnya.
Sebuah kotak yang menyimpan lipatan jubah panjang yang mengilap.
"Apa ini?"
"Jubah Light," jawab Val. "Terbuat dari serbuk Light."
"Jangan bilang... ini bisa membuatku-"
"Menghilang." Rahang Lexy terbuka lebar. "Seperti diriku," lanjut Val lagi. Saat Lexy menengadah, ia sudah tidak melihat keberadaan Val.
"Huh. Kalau begitu, kenapa aku perlu berangkat ke Alther Suliris," desah Lexy. Ia kemudian hendak memakai jubah itu, namun Val mencegatnya.
"Efeknya tidak akan lama, karena serbuknya terbatas. Kau bisa memakainya nanti kalau diperlukan."
Lexy mengangguk tanda mengerti. Hatinya sedikit kecewa karena belum diperbolehkan untuk mencoba jubah ajaib itu.
Suara siulan terdengar oleh telinga Lexy, dan ia buru-buru memasang kembali tudung hitamnya.
Sesudah menghela napas, ia berbisik. "Ayo."
***
Aku terus mengangkat kepala, sesekali melambai ke arah para penonton. Senyumanku membuat banyak pria memalingkan muka, dan aku tidak tahu kenapa. Bora terus menuntunku, dan sepertinya ia lebih percaya diri dibandingkan diriku sendiri.
Orang-orang seakan-akan seperti lautan yang membelah saat aku berjalan. Beberapa sibuk menatap sayapku, sedangkan yang lainnya terpana dengan wajahku.
Aku jadi teringat dengan Pesta Topeng Amarilis, saat pandangan semua orang tertuju kepadaku. Namun kali ini aku tidak menyembunyikan wajahku dibalik topeng. Semua orang, bahkan Fae berpangkat tinggi yang belum pernah menemuiku di istana Amarilis akan benar-benar melihat sosok Fae God.
Termasuk dua Fae paling berkuasa.
"Kau bilang akan ada Raja dan Ratu Fae?" Tanyaku kepada Bora. Pria itu tersenyum geli melihatku. "Maksudku, mereka akan mendapat laporan penobatanmu. Tentu kau tak berpikir mereka akan benar-benar hadir di tempat sesak seperti ini kan?"