
Setelah Clara menyembuhkanku dengan peralatan seadanya, aku bisa rileks sedikit. Kini, aku duduk bersandar di atas lantai, ditemani olehnya.
"Berapa lama kira-kira sampai suamimu berhasil menyelamatkan temanku?" Tanyaku, masih dengan suara lemas.
Clara bahkan tak berani menatapku. Tapi pada akhirnya ia menjawab. "Aku tidak tahu."
Waktu rasanya berjalan sangat lambat. Padahal aku sudah memfokuskan pendengaranku, tapi tak mendengar apa-apa dari luar ruangan.
Ayo, Alena! Pikir! Kira-kira dimana Callum akan ditahan?
Walau aku tak punya bukti apa-apa, aku yakin sekali ia juga ditahan. Mungkin Sang Ratu akan memaksanya dan memintanya untuk menceritakan segalanya yang ia ketahui tentang benda Gardian.
Tanganku disentuh oleh tangan lembut Clara. "Tenanglah. Aku percaya pada Chrys," katanya sambil tersenyum, walau ekspresinya terlihat khawatir.
"Tapi ini sudah terlalu lama. Aku takut Cal bakal kenapa-kenapa..."
Clara mendesah. "Kau benar. Tunggu disini. Aku akan mengeceknya." Ia lalu membuka pintu dengan perlahan, dan mengintip di balik celah.
"Ada apa?" Tanyaku dengan suara kecil. Aku susah payah menggunakan dinding untuk berdiri. Luka di kakiku masih belum pulih total.
"Ini aneh." Clara menoleh kepadaku lalu menggigit bibir bawahnya. "Aku harus mengecek kondisinya. Kalau Chrys sampai kenapa-kenapa-"
Suara teriakan familiar terdengar dari luar ruangan. Walau hanya sebentar, aku bisa mengenali siapa pemilik suara itu.
"Cal!" Sambil mengabaikan lukaku, aku memaksa kedua kakiku untuk bergerak.
"Cal!" Aku berkali-kali meneriaki namanya. Lorong terlihat sangat gelap, namun ini menguntungkanku karena aku bisa dengan mudahnya mencari ruangan yang sedang dihuni. Ruangan satu-satunya yang memiliki penerangan.
Suara teriakan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Saat aku ingin mendobrak pintu, seseorang menahan tanganku.
Awalnya aku kebingungan dan menoleh kesana kemari, tapi akhirnya menyadari siapa yang sedang menahanku. Chrys ternyata pandai bersembunyi dengan sihirnya.
"Nanti dulu, Alena," kata suara Chrys, walau ia masih belum menampakkan tubuhnya. "Belum saatnya."
Aku hendak memprotes. Setidaknya aku ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sang Ratu terhadap Callum. Tapi ia tetap mencegatku.
Cahaya Light kembali bersinar. Kali ini Chrys menyelimuti tubuhku lagi dengan sihirnya.
Bagus. Dengan begini aku bisa langsung menerobos.
Braakk!! Pintu terbuka lebar, namun itu bukan karenaku ataupun Chrys. Seseorang dari dalam sampai menghancurkan pintu kayu, membuatnya terlepas dari engsel dan terbelah menjadi dua bagian.
Saking paniknya, aku tak lagi memperdulikan nasehat dari Chrys. Aku sudah memasuki ruangan dan tanpa sengaja menginjak genangan darah.
Di hadapanku, ada Callum. Callum, pria yang kini sedang berlutut. Tangannya memegang sebuah belati, belati familiar yang kukenal sebagai belati Gardian. Dia sedang menikam seseorang dengan raut wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya.
"Alena?" Chrys sudah menyusulku. Saat melihat hal yang sama denganku, ia buru-buru mengangkat tangannya untuk menghalangi pandangan mataku. Percuma. Aku sudah terlanjur melihatnya.
"Kenapa?" Aku bertanya-tanya dalam hati. Bukankah seharusnya ia menikam Sang Ratu? Kenapa malah menikam seseorang yang menggunakan tubuhku?
Itu benar. Gadis yang ditikam oleh Callum itu adalah diriku. Darah merah sampai menodai gaun pendeknya yang berwarna putih.
Aku bahkan tak menyadari Sang Ratu yang kini sudah menepuk pelan pundak Callum. "Anak pintar. Sekarang, serahkan benda itu padaku."
Bruukk!! Tubuh gadis itu melemah dan akhirnya terjatuh ke lantai. Aku tahu ia sudah tidak bernyawa, karena perutnya tak lagi bergerak.
Callum bangkit berdiri tanpa ekspresi. Ia lalu mengangguk kepada Ratu dan langsung memberikan belati tadi kepadanya.
"Tidak!" Tanpa sadar aku sudah berteriak. Mereka langsung terkejut dan mencari sumber suara.
Sial! Aku lupa Chrys masih menggunakan sihirnya padaku!
"Alena?" Sang Ratu mengepalkan tangannya, dan mengeluarkan botol ramuannya. Aku tak sempat berkedip saat cairan itu tumpah dan mulai melemahkan sihir Chrys. Akibatnya tubuhku tak lagi tembus pandang.
"Kau!" Sang Ratu terlihat sangat murka saat melihatku dan Chrys. "Callum, tangkap mereka!"
Apa-apaan?!
Pangeran itu awalnya terbelalak saat melihatku. Kami saling bertukar pandang, namun alisnya kembali datar dan ia tak menghiraukan ekspresiku yang sedang ketakutan.
Selanjutnya aku tak ingin mengingatnya. Ini seperti perumpaan satu batu dua burung. Apa yang dilakukan oleh Callum tidak hanya membuat hatiku terluka, namun juga kepercayaanku kepadanya.
"Jangan lakukan ini!" Aku meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan tanganku yang sedang ditahan. Ditahan oleh Callum sendiri, pria yang kukira akan sangat kucintai.
Apa ia tidak peduli lagi padaku? Tidakkah ia melihat tubuhku yang masih memiliki bekas luka?
"Kurung dia," perintah Sang Ratu yang sudah sangat puas, puas saat melihat seseorang yang sudah mengikuti titahnya.
Suara erangan terdengar, dan Chrys sudah menyerang Ratu dengan sihirnya. Namun aku tahu ia bukan tandingannya. Mungkin karena ia kini memiliki dua benda penguat, dengan mudahnya ia menumbangkan Chrys.
"Ayo, Alena." Callum kini sudah menyeretku keluar. Aku marah besar tentu saja. Kuinjak kakinya sekuat tenaga, sampai membuatnya menahan napas. Namun ia tetap menahanku dan menarikku dengan paksa.
"Chrys!" Clara berlari melewatiku, dan memasuki ruangan tadi. Aku tak dapat melihat kelanjutannya karena Callum sudah sukses membawaku masuk ke ruangan lain.
***
Hari sudah malam. Tiada lagi sinar matahari yang menembus gorden emas kamar Sang Raja. Lexy kini sedang berbaring di atas ranjang, sambil menatap langit-langit.
Di sampingnya ada seorang pria. Seperti biasa, ia berbagi ranjang dengan Raja peri lebah. Pria itu sedang tertidur pulas. Ia mengenakan baju piyama tipis, tanpa pengaman apa-apa. Mungkin orang-orang akan salah mengira dan tak pernah berpikir bahwa pria ini sebenarnya berbahaya.
Lexy terus menatap langit, kemudian membuang napas karena resah. Semenjak pertemuannya dengan Val di bawah tanah, ia terus mengulangi perkataan pria itu dalam pikirannya.
"Kau tidak pernah sekalipun mencoba untuk membunuhnya saat kalian tidur bersama? Misalnya, mencabut jantungnya dengan cakar Egleansmu?"
Lexy tidak pernah berpikir sejauh itu. Sebenarnya itu bukan ide yang buruk, dan ia mau melakukannya sekarang kalau disuruh. Tapi masalahnya, ia tidak bisa mengubah diri tanpa bantuan Val.
"Haha," tawanya dalam hati. Memang benar. Ia tak bisa menjelma tanpa bantuan orang lain yang akan memancing emosinya. Dan satu-satunya orang yang bisa melakukan itu adalah Val, tapi itu tak mungkin karena ia sekarang berada di penjara bawah tanah.
"Haruskah aku mencobanya sekarang?" Bisiknya pada kegelapan. Ia bangkit duduk dan memutarkan kepala ke arah pria yang masih tertidur disampingnya itu. Ia menatapnya lama, mungkin saja ia bisa menjelma kalau terlalu lama memperhatikannya.
Tidak bisa begini, Lexy menertawakan dirinya sendiri yang sempat berpikiran konyol.
Ia ingat cerita dan pembahasan Alena, bagaimana kakaknya itu akhirnya memahami cara kerja sihirnya yang sangat rumit dan membingungkan. "Cukup terbuka saja, biarkan kekuatanmu mengalir dengan sendirinya. Niscaya kamu akan tahu sendiri cara kerjanya."
Lexy tak yakin bisa mengerti ucapan kakaknya itu. Maka hanya ada satu pilihan, yaitu berusaha sendiri.
Setelah menghela napas, ia mengerang. Nadi di tangannya sampai terlihat saat ia mengepalkan tangannya dan mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya. Namun tetap tak terjadi apa-apa.
Aku harus menggunakan cara lain untuk membunuhnya. Sambil berjinjit, Lexy meraih pedang milik Sang Raja yang sedang duduk manis di atas meja.
Tangannya sudah memegang dengan erat pedang itu. Ditataplah wajah pria tampan itu. Lalu tanpa ragu, ia menancapkan ujung pedang dalam-dalam, tepat di area jantung.
Suara terkesiap terdengar, dan mata hitam Sang Raja terbelalak lebar. Ditataplah wajah Lexy dengan heran, lalu matanya berganti pandangan ke pedang itu.
"Lexy..."
"Maaf," bisik Lexy tanpa rasa bersalah.
Selama beberapa detik, Sang Raja terus menatap pedang itu. Darah hitam sudah mengalir, menembus baju piyamanya. Suasana keheningan langsung pecah oleh suara tawaannya yang tiba-tiba.
"Kau..." Sang Raja bergeleng pelan, kemudian ia kembali memandang wajah Lexy. "Aku pikir aku bisa memercayaimu, tapi nyatanya..."
Lexy buru-buru mencabut bilah pedang itu, yang membuat Sang Raja semakin kesakitan.
Disela suara batuknya, Sang Raja masih terus berusaha untuk berbicara. "Terima kasih...Lexy."
"A-Apa?" Apa pria ini sudah gila? Kenapa malah berterima kasih?
Ia tersenyum, kemudian kembali merebahkan diri di atas ranjangnya, tak memerdulikan darah hitam miliknya yang sudah menetes hingga ke lantai. "Berkatmu, aku bisa kembali bertemu Ratuku di alam kematian."
Pasti Sang Raja bisa merasakan ekspresi kebingungan pada Lexy. "Haah...sudah kubilang sebelumnya, bahwa ia sudah pergi meninggalkanku selama berpuluhan tahun lamanya."
Ternyata itu maksud Sang Raja. Selama berpuluhan tahun, ia tahu bahwa wanita pasangannya itu telah mati.
"Awalnya kupikir itu tidak mungkin. Kebetulan sekali anak manusiaku dan Ratuku meninggalkanku dalam rentang waktu yang dekat."
Pria itu masih terus bercerita, padahal ia sudah kehilangan banyak darah. "Sudah sebulan istanaku didatangi oleh seorang Fae bersayap emas. Ia dan beberapa pengawal lainnya terus menanyakan kepadaku mengenai Sang Ratu yang telah menghilang, dan sempat merubah diri menjadi seorang anak manusia."
Pria itu terbatuk, memuncratkan banyak darah. Merasa iba, Lexy segera menggunakan kain putih untuk mengelap bibirnya.
Ia paham mengenai cerita itu. Ia yakin sekali Fae yang dimaksud adalah Callum. Ternyata pekerjaannya selama sebulan ini bukan main-main.
"Seharusnya aku tak memercayai Jelita, anakku yang telah mengkhianatiku," gumam Sang Raja sebelum matanya terbelalak.
"Kubur aku didekatnya." Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir.
Lexy mengepalkan tangannya, dan memejamkan mata Sang Raja. Karena ia tidak termasuk kaum Fae, Lexy tak bisa mengucapkan kalimat doa khusus Fae. Maka ia hanya berdoa sendiri dalam hati.
Ya. Pria ini juga berhak untuk berbahagia. Pria yang sudah dipandang buruk oleh rakyatnya sendiri karena sempat menyiksa dan melecehkan para gadis, tanpa mereka ketahui alasan sebenarnya ia melakukan ini.
Sang Raja yang bahkan sampai akhir hayatnya tak bisa dibalas jasanya. Jasanya sebagai seorang pemimpin, yang sudah bersusah payah membangun kembali dan menyatukan dua kubu peri lebah yang sempat runtuh akibat ulah seseorang.
Sang Raja yang dikhianati. Sang Raja yang disakiti. Sang Raja yang telah kehilangan. Dan Sang Raja yang kini telah terbunuh di tangannya sendiri.
Semoga kau berbahagia bersama Ratumu di alam sana.