Wings & Fate

Wings & Fate
Peace



Di kamar Alena...


"Jadi, bisa kau jelaskan kepadaku kenapa penampilanmu acak-acakan seperti itu?" Tanyaku sambil menyilangkan tangan.


Sekarang di hadapanku ada Callum. Ia duduk di tepi ranjangku, masih tidak menatapku. Kepalanya tertunduk dan ia hanya memainkan tangannya sendiri. Rasanya seperti aku sedang memarahi anak kecil yang tidak mendengarkan nasehat orangtuanya dan pergi main terlalu malam.


"Ya...umm...cuma kecelakaan kecil," katanya ragu-ragu.


"Kecelakaan kecil," gumamku sambil mengangguk-ngangguk. "Lalu apa ini?" Aku mencabuti daun hijau yang menempel di rambut hitamnya. "Kau seperti habis terjatuh dari atas langit lalu ketiban pohon."


"Mungkin iya. Aku kan malaikat yang jatuh dari langit," katanya sambil menunjukkan gigi putihnya.


"Gak lucu."


"Ow! Kenapa mukul?!"


"Karena aku tahu kau berbohong!" Hardikku. "Jangan kemana-mana! Aku mau ambil air untuk membersihkan tubuhmu itu!"


Di toilet, aku segera mengambil ember kecil dan mengisinya dengan air hangat. Sambil menunggu air terisi penuh, aku diam-diam mengintip dari balik celah pintu. Lelaki itu masih terduduk diam dan tenang. Rambut hitamnya kusut, dan ia dipenuhi oleh bercak darah serta lumpur dari tanah. Bajunya sudah menyerap banyak air, memperlihatkan otot dadanya yang timbul di balik kain. Matanya sedang menjelajahi kamar baruku.


Sesudah ia mendarat di hadapanku waktu itu, aku langsung jatuh berlutut karena tak kuasa menahan air mata yang terjatuh. Kami saling berbagi kehangatan tubuh selama beberapa detik. Hanya selama beberapa detik, karena Bora sudah tampak geram dengan kehadiran Callum yang mengganggu prosesnya upacara.


"Secara tertulis," kata Jesca lewat tulisannya. "Miss Alena sudah menyelesaikan upacara dengan baik. Jadi ia tidak mengganggu."


Setelah itu, aku ingat bagaimana wajah Bora menjadi merah padam, mungkin karena marah atau malu. Untung saja kita masih berada di tempat suci pada saat itu, maka Bora tak berani mengeluarkan sihirnya untuk memisahkan kami.


Dan setelah itu, tibalah saat ini. Aku harus mendengar semua penjelasan dari mulut sang pangeran.


Aku tidak berkata apa-apa saat aku mencelupkan handuk ke dalam air dan memeraskannya, lalu membersihkan kotoran di lengan Callum. Ia tampak terperanjat saat tanganku menyentuhnya.


"Jangan bergerak," kataku, masih tetap mengelap kotoran di lengannya. Aku lalu menggosok bagian leher serta wajahnya, dan ia tiba-tiba saja meringis kesakitan.


"Huh," kataku sambil menghela napas. "Selesai."


"Selesai?"


"Sekarang buka bajumu."


"Apa?" Callum terbelalak. "Uhm, Alena. Aku tahu kau memiliki hasrat untuk me-meraba dadaku yang indah ini." Ia sudah memeluk dadanya sendiri dengan protektif.


"Bukan seperti itu!" Aku buru-buru menjelaskan. "Seberapa tampan dirimu itu, aku tidak akan kebablasan."


"Kebablasan untuk apa?" Ia sudah cengar-cengir seperti orang gila. Matanya menaruh harapan padaku. "Asal kau tahu, aku seratus persen terbuka untukmu-"


Aku spontan menutup mulutnya dengan tanganku. "Aku hanya ingin membersihkan tubuhmu," bisikku di telinganya. Ia malah menatap wajahku dengan mata birunya lekat-lekat.


"Oh." Callum langsung melepaskan baju putihnya, kemudian melemparkannya begitu saja di lantai. "Silahkan, tuan putri. Lakukan apa yang kau mau."


Tubuhnya tidak sekotor lengan dan wajahnya, namun terdapat luka goresan kecil. Tanpa kusadari, aku sudah meraba dadanya yang berotot dengan jariku. Aku meraba luka-luka barunya, bagaimana kulit putih semulus ini dapat ternodai seperti ini.


Aku buru-buru memalingkan wajah saat Callum menatapku sambil tersenyum. "Luka ini," kataku sambil membersihkannya. "Jelaskan semuanya kepadaku."


Ia menghembuskan napas, dan akhirnya mulai menjelaskan semuanya. "Saat aku mendengar kau dibawa kesini, aku sempat berdebat dengan diriku sendiri. Apakah aku harus menunggu hingga dua hari seperti yang dikatakan oleh Xiela dan Naomi, atau mendatangimu sendirian, tanpa ketahuan oleh siapapun di istanaku."


Aku terdiam, pura-pura mengelap punggungnya, padahal di pikiranku aku sibuk memproses semua perkataannya.


"Selama berjam-jam pikiranku hanya dipenuhi olehmu. Aku tahu kau sudah aman disini, karena sudah ada para penjaga yang pastinya akan membuatmu aman.


Tapi pikiranku tetap tak tenang. Aku takut kau akan bertemu bahaya, apalagi dengan Egleans yang masih berkeliaran di luar sana. Kau tak berada dalam jangkauanku, dan itu artinya segala hal bisa terjadi padamu kapan saja."


Tanganku berhenti bergerak. "Tapi kau meninggalkanku waktu itu," gumamku tanpa sadar.


Callum mencengkeram lenganku dengan lembut, kemudian memundurkan tubuhnya sedikit untuk menatapku. "Waktu itu aku diculik oleh penggemarku."


"Diculik?!"


"Ya. Benar-benar diculik. Dalam artian dibekap lalu diseret ke sebuah ruangan gelap. Diculik."


Aku terbelalak. "Dan apa yang mereka lakukan kepadamu?!"


"Tidak melakukan apa-apa, sebenarnya, yang tentunya mengecewakanku, karena aku mengharapkan sedikit perlawanan, agar lebih seru."


"Kau memang suka melibatkan dirimu dalam bahaya, ya?"


"Aku ingin melihat sejauh apa mereka memujaku, sampai tega menyeretku seperti itu."


"Apa yang sudah mereka lakukan kepadamu?"


"Oh, kau tak perlu tahu. Bukan hal yang penting," jawabnya sambil menggeleng-geleng pasrah. Ia pasti bisa merasakan tatapan tajamku ke arahnya, karena ia buru-buru melanjutkan perkataannya. "Salah satunya menyatakan cinta kepadaku."


"Hah?" Aku tertawa terbahak-bahak, padahal perasaan cemburu dan marah mulai menjalariku. "Siapa?" Tanyaku sambil mengepalkan tangan.


"Enak aja!" Aku melempar handuk basah langsung ke wajahnya. "Aku akan menyiapkan bak mandi! Lukamu sudah kubersihkan, jadi kau harus mandi dengan air hangat!"


"Aduh!" Ia tiba-tiba memegangi lengannya. "Tanganku pegal, jadi-"


"Jangan malas mandi! Cepat, sana! Ke toilet sekarang!" Aku menarik lengannya dengan kasar ke arah toilet.


Di toilet pun aku harus bisa mengontrol diri saat pria itu terduduk di dalam bak. Air mengalir dari atas, membasahi rambutnya yang gondrong serta celana kulitnya yang masih dikenakan olehnya.


"Katanya kau mau memandikanku?" Tanyanya sambil memasang muka polos.


"Siapa bilang?" Aku hanya meraih sebotol sabun dan memberikannya kepadanya. "Aku akan tunggu di luar."


"Biasanya aku dimandikan oleh pelayan. Tapi karena sekarang tidak ada siapa-siapa..." Ia mulai memelas.


Wajahku jadi merah padam. Mataku sudah melirik celananya, dan tiba-tiba saja ia sudah melepas risletingnya.


"Aa! Jangan!" Aku refleks menutup mataku. Callum tertawa. "Aku gak tahu kau bisa imut seperti ini. Padahal kau yang pertama kali mencuri ciuman dariku."


Cukup sudah. Cukup sudah aku dibuat salah tingkah olehnya hari ini.


"Alena," ia memanggilku. Suaranya disertai oleh air mengalir, dan aku tahu ia sudah membuka celananya dan melemparkannya ke ujung ruangan.


"Buka matamu." Ia menutup kran air, dan aku memfokuskan pendengaranku. Aku mendengar suara langkah kakinya yang mendekatiku.


Tangannya secara perlahan menurunkan tanganku, tapi aku masih memejamkan mataku. "Tidak, Cal. Aku gak mau melihat-"


Ia sudah menempelkan bibirnya padaku. Beda dengan sebelumnya. Ciuman ini terasa lebih lembut dan penuh kasih sayang. Bibirnya terasa asin dan basah. Wajahku jadi basah karena air yang menetes dari ujung rambutnya.


Aku merangkul lehernya, dan berjinjit, ingin menyatukan bibir kami lebih dalam lagi. Ia tidak melakukan apapun selain membiarkan diriku menjelajahi tubuhnya. Aku mendesah lega saat tanganku sudah meraba dadanya yang berotot. Tempat yang paling kusukai.


"Kalau ini, kau bersedia kan?" Bisiknya melalui mulutku. Aku membuka mata secara perlahan, dan tak bisa bernapas saat memandang wajahnya dari dekat.


"Tenang saja. Aku sudah menutup bagian bawahku jadi kau tak perlu tegang seperti itu." Ia memiringkan kepalanya dan kembali mencium bibirku, kemudian membuka mulutku dengan lidahnya.


"Kau...benar-benar." Jari tanganku tanpa sengaja menyentuh sayap emasnya. Lembut sekaligus tegang. Sontak ia membuka mata dan menoleh ke belakang.


"Kau tahu, bahwa belum ada seorangpun yang berani menyentuh sayapku? Karena itu termasuk bagian privasi." Katanya, masih melingkarkan tangannya di pinggangku. "Aku suka sisimu yang nakal ini, Alena."


"Oh ya? Maaf, aku tidak tahu-" Aku buru-buru melepaskan sayapnya, namun ia malah tersenyum dan menggeleng-geleng. "Tak apa. Aku mengizinkanmu."


Kami kembali bercumbu, kali ini aku kehilangan jejak akan waktu, karena perasaanku yang berbunga-bunga ini. Aku jadi paham dengan perasaannya saat kami hanya berduaan di kamarnya sewaktu di istana. Ia juga merasa cemburu saat melihatku dengan Bora. Itulah sebabnya kenapa ia tak mau berhenti menciumku.


Ciuman kami lama kelamaan semakin intens, tapi kali ini aku juga menikmatinya. Lenganku tak sengaja menyenggol kran air, sehingga turunlah air yang membasahi tubuh kami.


Kami diam seribu bahasa, saling mengungkapkan perasaan kasih sayang kami lewat sentuhan. Karena tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan betapa rindunya kami terhadap satu sama lain.


Kali ini Callum tak terburu-buru. Walau bibirnya mendarat dengan lembut, aku hanyut dalam setiap kecupannya.


"Kali ini, tak ada satupun yang dapat mengganggu kita," katanya dengan senyuman manisnya. Aku mendaratkan mataku ke bibir pucatnya yang basah karena air.


"Lain kali, jangan libatkan dirimu dalam bahaya untukku."


Ia tersenyum lagi. "Tadi aku terlalu buru-buru, bahkan tak ingat kalau aku tinggal menggunakan sihirku. Aku terus berlari, sampai akhirnya tertabrak pohon dan jatuh ke lumpur."


Aku tertawa tak percaya. "Ya ampun, kok bisa?"


"Tentu saja bisa." Ia mengelus pipiku dengan jempolnya. "Buat kamu, apapun bisa."


Beberapa menit kemudian, kami sudah kembali ke kamar. Sekarang tubuhnya sudah wangi oleh sabun. Aku mengambil gunting dari meja rias untuk memberikan sentuhan terakhir pada penampilannya.


"Gunting? Buat apa?"


"Balik badan." Ia langsung menurutiku tanpa memprotes. Aku mendesah saat mengukur panjang rambutnya yang sudah menyentuh leher. Itu sudah melebihi satu ruas jariku.


Aku mulai menggunting rambutnya yang basah. Helaian rambut hitamnya yang halus terjatuh, mengenai pahaku.


"Waktu itu... aku tak bermaksud untuk membuatmu pergi," kataku menyesal. "Waktu itu aku kesal karena kau tak menceritakan apapun kepadaku terkait dengan pekerjaanmu. Aku pikir kau tidak memercayaiku sepenuhnya sehingga berbuat demikian."


Aku terus menggunting rambutnya dengan teliti dan rapi. Saat sudah selesai, aku kembali menaruh gunting itu pada tempatnya. "Aku minta maaf, Callum. Maaf sudah bersikap kasar waktu itu."


Ia berbalik badan dan menarikku ke arahnya. Aku terkesiap saat ia sengaja menjatuhkanku di atas ranjang.


"Kau tak perlu meminta maaf." Ia menarik selimut dan membungkus tubuh kami. Ini membuatku teringat dengan malam saat kami bersama, sebelum ia pergi menyelesaikan pekerjaannya selama sebulan.


"Ini sudah larut malam. Tidurlah, Alena." Ia menggeliut-liut, menggunakan sebelah kakinya dan menarik tubuhku semakin erat. Tangannya kemudian membelai bagian perutku.


"Oh!" Aku merasakan sensasi yang tak biasa saat ia melakukan itu pada perutku. "Tidurlah," bisiknya, dan kecupan di dahiku adalah hal terakhir yang kurasakan sebelum aku terlelap dalam dekapannya.