
Segalanya kacau balau bak kapal pecah. Saat aku dan Callum kembali ke wilayah Fae dan mendarat di tengah-tengah Hutan Greensia, tiba-tiba saja aku melihat tombak panjang yang sedang terlempar tepat di atas kepalaku.
Ugh. Aku hanya bisa membawa diriku serta Callum sejauh ini, karena mana sihirku yang masih sangat lemah. Ditambah kedua kakiku yang sebenarnya belum pulih total.
Apa yang kulihat di hadapanku sekarang benar-benar menggambarkan suasana perang. Bau amis darah Egleans, Fae, serta para Peri Lebah tercium dimana-mana, serta suara teriakan nyaring orang-orang yang bercampur dengan raungan makhluk mengerikan itu.
Perkataan Callum benar. Sang Ratu telah menyembunyikan Egleans di dalam rumah orangtuaku sendiri. Sebetulnya aku masih setengah tak percaya. Bagaimana mungkin aku tak dapat menemukan keberadaan mereka saat aku kembali ke rumah lamaku beberapa hari yang lalu?
Suara keras pedang membuyarkan lamunanku, dan pikiranku segera kembali ke masa kini. Callum sudah berada di depanku, menahan salah satu Egleans yang ingin menyerangku. Entah sejak kapan ia memiliki sebuah pedang.
Aku terpana melihat gerakannya yang lincah. Callum memutarkan tubuhnya dan mengayunkan pedang, kemudian menancapnya tepat di daerah jantung monster itu. Ia bisa melakukan itu semua tanpa mengandalkan sayapnya.
Aku tak ingin berdiri tanpa melakukan apa-apa sementara yang lainnya sibuk bertarung melawan pasukan Egleans. Maka aku menjentikkan jari, dan sebuah pedang yang cukup berguna muncul di telapak tanganku, membantuku untuk membasmi makhluk-makhluk yang ada di hadapanku.
***
Dugaan Lexy benar. Pasukan Egleans ternyata sudah mengepung seluruh area hutan. Ia bisa melihat beberapa makhluk mengerikan itu di atas langit. Mereka memanfaatkan sayap lebar mereka untuk menciptakan semacam tornado angin yang bisa menghempaskan tubuh Fae.
Beberapa peri lebah sibuk terbang di atas langit, menyerang Egleans dengan cara memanggil hewan lebah yang bisa menyengat mereka dengan racun. Lexy bisa melihat salah satunya adalah tangan kanan Sang Raja. Pria tua itu bahkan menggunakan kakinya untuk menendang perut besar Egleans, kemudian mengontrol hewan lebah agar bisa menyerang bagian kepala makhluk itu.
Lexy mendengar suara hentakan kaki. Secepat kilat ia membuka lebar-lebar sayap kecilnya, yang memampukannya untuk terbang ke atas.
Ia menundukkan kepala dan melihat ke bawah. Benar saja. Salah satu Egleans hampir saja menerkamnya dari belakang, kalau bukan karena telinga Faenya yang mampu mendengar dari kejauhan.
"Kita kekurangan jumlah," kata Val yang melayang disampingnya. Pria itu merentangkan tangannya dan menyerang beberapa Egleans dengan sihirnya, namun Lexy tahu ini tak bisa bertahan lama. "Aku akan memanggil bala bantuan dari Bougenville. Sementara itu, bisakah kau membasmi mereka dengan kekuatanmu, Lexy?"
"Kau tahu kan aku pasti sudah menggunakan kekuatanku? Tapi masalahnya aku tak bisa menjelma tanpa bantuanmu!" Balas Lexy mulai panik.
Tanpa membuang-buang waktu, Val langsung meraup pipi Lexy dan mendaratkan ciuman ke bibir dengan mulus.
"Trik ini tak lagi berguna!" Bentak Lexy yang bisa merasakan pipinya yang mulai merona. "Kau harus bisa menarik emosiku!"
"Tidakkah kau merasa marah saat melihat pertumpahan darah yang sedang terjadi sekarang?!" Teriak Val ditengah-tengah kericuhan. "Kau harusnya sudah menjelma!"
Lexy sendiri juga kebingungan. Ia memang bukan tipe orang yang mudah terpancing emosinya, beda dari Alena. Kenapa ia tidak merasa marah saat melihat teman-temannya yang terluka?
"Sudah kubilang, kau ini terlalu lembut," kata Val sesaat sebelum dirinya menghilang, terbang berlawanan arah menuju kerajaan nun jauh di pusat sana.
Aku harus bisa menjelma. Lexy memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan keringat yang mengucur pada dahinya, namun tubuhnya tetap tak melakukan kehendaknya. Tak ada bulu-bulu putih yang tumbuh keluar dari pori-pori kulitnya.
Suara teriakan familiar membuat jantung Lexy jatuh ke perutnya. Ia membuka mata dan segera terbang ke sumber suara. Ia mengenali suara teriakan itu.
Alena. Dimana kamu?
***
Ledion sibuk menghunuskan pedangnya ke arah Egleans. Sekarang ini dirinya dikepung oleh tiga makhluk itu. Ia mengepakkan sayap hitamnya dan memijakkan kakinya pada salah satu kepala makhluk itu. Kemudian, ia mendorongnya agar bisa melompat dan menerjang Egleans lainnya yang berada di belakangnya.
Ia mengerang, dan mempererat cengkeramannya pada gagang pedangnya. Meskipun ia sudah terbiasa menyerang Egleans, kali ini rasanya berbeda. Makhluk ini bisa berevolusi setiap kali tubuhnya terluka. Bahkan luka tikaman dalam pada perutnya bisa tertutup kembali, bagaikan jarum benang tak terlihat yang sedang menjahit kulitnya.
Ia ingat terakhir kalinya saat Egleans dalam jumlah besar menyerang wilayah Fae. Waktu itu mereka menyerang wilayah Amarilis, dan dikalahkan berkat sihir golongan penjiwaan alias sihir milik Ripper dan Healer.
Tapi sepertinya kali ini mustahil. Pasukan Fae ini semuanya Ripper, semuanya bawahannya. Meskipun kaum peri lebah dari Alther Suliris telah datang dan membantu mereka, mereka tetap kalah jumlah.
Semua orang harus bersatu, pikir Ledion. Fae masing-masing golongan. Kita juga butuh Fae Healer seperti waktu itu.
Sambil fokus menghunuskan pedangnya dan meloloskan diri dari terkaman Egleans, Ledion sibuk berpikir. Sebenarnya ia juga pernah berperang di saat dadakan, persis seperti saat ini. Berperang melawan Egleans tanpa adanya rencana persiapan. Berperang untuk yang pertama kalinya tanpa bantuan dari pusat pemerintahan.
Suara nyaring Egleans yang sekilas mirip seperti suara jeritan manusia membuat perhatiannya teralihkan. Salah satu Egleans sibuk menyerang seorang pria muda bersayap emas. Saat Ledion menyipitkan matanya, barulah ia menyadari bahwa pria itu tak lain adalah Pangeran Callum.
"Sudah berapa lama mereka menyerang?!" Teriak Callum kepadanya saat Ledion sudah berada di dekatnya untuk melindunginya. Sekarang punggung mereka saling berdekatan, yang membuat Ledion teringat dengan pelatihannya bersama pangeran muda ini bertahun-tahun yang lalu. Ini adalah salah satu trik mereka jikalau tiba saatnya harus berperang. Saling menjaga satu sama lain.
"Sekitar sepuluh menit yang lalu saat aku dan bawahanku tiba," jelas Ledion. Ia ingin bertanya kepadanya mengenai bantuan tambahan dari pusat, namun sebelumnya ia harus mengurusi Egleans yang sibuk menyerang mereka.
"Darimana saja kau?" Tanya Ledion lagi. Ia menoleh kepada pangeran itu yang wajahnya sekarang sudah terciprat darah.
"Mencari Alena. Dan beruntungnya aku sudah menemukannya. Bahkan kita sudah...ehem." Sekarang raut wajah Callum menjadi bersinar. Aneh, pikir Ledion. Ia tak pernah bertemu seseorang yang sempat-sempatnya menunjukkan wajah sumringah di tengah medan perang.
"Pangeran, aku perlu memberi sinyal agar Raja dan Ratu Fae tahu apa yang sedang terjadi disini. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan Anda sendirian disini," jelas Ledion.
Ledion sedikit terkejut saat pedang Callum mengenai Egleans yang ternyata diam-diam ingin menerkamnya dari belakang. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Tidak usah berterima kasih," balas Callum sambil menunjukkan barisan giginya. Ia lalu menggunakan sayapnya dan terbang semakin jauh ke tengah-tengah, sampai akhirnya hilang ditelan massa.
Sebetulnya Ledion ingin menyusul Callum. Ia tak mau meninggalkannya sendirian. Tapi ia sudah kenal betul pangeran itu. Bahkan kemampuannya tadi sudah meningkat jauh. Callum tampak santai-santai saja mengayunkan pedangnya. Ia terlihat seperti seorang pangeran sejati.
Maka Ledion terus menyerang para Egleans ini tanpa ampun. Ia hanya berharap Val bisa tiba secepatnya dan kembali dengan bantuan dari Raja.
Matanya tiba-tiba menangkap wanita bersayap putih itu. Sejak kapan Sana sudah tiba di dalam hutan?
Tidak, Ledion menggeleng-geleng. Bukan hanya dia, namun semua Fae bersayap putih yang telah menjadi pengikutnya. Ia lalu berganti pandangan dan melihat banyak rombongan Fae. Semua adalah para Ketua, yang sudah dilengkapi oleh baju dan peralatan perang.
"Ledion!" Teriak sebuah suara yang melengking. Naomi melambaikan tangannya dari kejauhan, kemudian meniupkan siulan sekencang mungkin. Rasanya seperti sepenjuru hutan terbangun dan membuka matanya. Semua hewan Fae mulai bermunculan. Ada yang muncul dari semak-semak, ada yang muncul dari dalam batang pohon.
Semua hewan Fae bekerjasama dengan para Fae Melody. Ledion juga bisa melihat teman Naomi yaitu Xiela. Ia bersama para Fae Fire sibuk membakar pepohonan agar tumbang dan bisa dijadikan senjata untuk melawan para Egleans.
Terima kasih, ucap Ledion dalam hati. Ternyata yang meminta bantuan dari para Ketua Golongan serta Fae berpangkat tinggi lainnya adalah kedua gadis itu. Ia tahu ia bisa mengandalkan mereka. Tak salah mereka menjadi orang kepercayaan Callum. Bahkan gadis Aqua yang bernama Lotus itu juga ikut terjun ke lapangan. Ia memerintahkan teman-temannya untuk menggunakan air dari arus sungai Lakuta sebagai alat serangan mereka.
Itu membuat Ledion bersemangat. Meskipun Egleans ini sudah sangat kuat, ia tahu ia bisa mengalahkan mereka jika semua orang bersatu. Semua orang, termasuk anak-anak muda yang seharusnya masih bersekolah di Faedemy. Tapi karena gedung itu sudah tak lagi beroperasi, mereka tak memiliki lagi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan serta bakat mereka.
"Awas!" Ledion segera terbang ke arah salah satu anak Fae yang sudah dikepung oleh dua makhluk mengerikan itu. Ia mengayunkan pedangnya dan memenggal langsung kepala Egleans itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Ledion menoleh dan menyadari bahwa anak itu tak lain adalah Ella, anak Fae Ventus yang seharusnya bersembunyi di Amalthea Halley.
"Kenapa kau malah disini? Dimana Flora yang seharusnya menjagamu?"
Tepat di saat itu, terdengar suara cambukan. Ledion menoleh lagi dan melihat wanita berambut hijau itu. Ternyata Flora juga sedang kewalahan.
"Tak usah mengkhawatirkanku!" Bentak Ella, walau salah satu lengannya sudah kena cakaran Egleans. "Aku juga ingin membantu! Aku tak mau tinggal diam di rumah!"
Ledion tahu tak ada gunanya berdebat. Maka ia berlutut dan menghadap bocah kecil itu. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan? Aku tak bisa terus mengawasimu."
Ella mengangguk. "Ya! Tenang saja! Aku bisa menjadi kuat seperti Alena!" Bocah itu kemudian berlari ke arah berlawanan, dan menghunuskan belati kecil yang sedang dipegangnya.
Anak itu pemberani, pikirnya sambil menggelengkan wajah.
***
Lexy yakin sekali sempat mendengar suara teriakan kakaknya. Ia terus mengepakkan sayapnya, melewati orang-orang yang sibuk menggunakan segala cara untuk menyerang Egleans. Ada yang menggunakan pedang, tombak dan busur panah. Ada juga yang mengandalkan sihir mereka. Wajah Lexy pun sampai terciprat air yang diciptakan oleh Fae Aqua.
Duk! Tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita bersayap pink. Itu adalah Lilies, Ketua Cosmos. Matanya terbelalak saat menatap wajah Lexy, tapi wanita itu tampaknya tak lagi memperdulikan penampilan dirinya yang benar-benar sudah seperti seorang peri lebah.
Baru kali ini Lexy melihat Lilies menggunakan pedang. Meski asal-asalan dan tanpa teknik, Lexy tahu wanita itu tidak ingin tinggal diam, sama seperti dirinya. Meski Lilies dulu sempat berniat buruk terhadap Alena, pada akhirnya ia yang menyelamatkannya dari hukuman mati beberapa minggu yang lalu, saat diadakan sidang mengenai penentuan nasibnya sebagai seorang Egleans. Satu suara darinya telah berhasil menyelamatkan nasibnya.
Lexy tersenyum dan mengucapkan terima kasih dalam hati. Ternyata wanita itu sudah berubah dan tak lagi memandang buruk dirinya serta Alena.
Alena. Dirinya tiba-tiba teringat apa yang harus dilakukannya. Maka ia menggunakan tangannya untuk membuka jalan, sampai pada akhirnya matanya menangkap seorang gadis Fae bersayap pelangi.
Uh. Ia terus berusaha untuk maju ke depan. Tapi ini terlalu ramai. Ia bahkan bisa melihat Bora dari kejauhan yang sibuk menyerang Egleans dengan sihir apinya.
Saat Lexy terbang mendekati Alena, dirinya dibuat tercengang. Bagaimana tidak? Rupanya yang bersayap pelangi bukan hanya satu orang, melainkan dua.
Lexy menutup mulutnya yang terbuka. Bagaimana tidak? Yang satu adalah Alena dengan gaun putih, gaun robek yang sudah kumal dan dipenuhi darah. Rambut pirangnya pun sudah kusut dan ia bisa melihat banyak luka di sekujur tubuhnya.
Sedangkan Alena yang satu lagi berbaju serba hitam. Gadis itu mengeluarkan aura menyeramkan, meskipun ia tak memiliki ekspresi. Lexy menyipitkan mata dan bisa melihat sebuah kalung yang sedang tergantung pada lehernya, kemudian cincin pada salah satu jarinya saat gadis itu menyerang kembarannya sendiri.
Alena bergaun putih berteriak kesakitan. Kakinya sama sekali tak mampu menopang tubuhnya. Sedangkan tangan satunya lagi sibuk menahan pendarahan pada lengan kirinya.
"Alena!" Teriak Lexy. Ternyata Alena bergaun hitam itu sudah melukainya dengan sebuah belati dengan batu rubi merah.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!
Eps kali ini terasa lebih panjang kan? 🤣