Wings & Fate

Wings & Fate
His Fiancee



"Sudah kubilang, dia pasanganku."


Rupert hendak menghunuskan pedangnya kepadaku, mungkin untuk menanggalkan jubahku. Tapi seseorang menghalanginya.


"Ya-Yang Mulia-"


"Beraninya kamu menggunakan pedangmu padanya? Apa kau sedang mencurigai pasanganku saat ini?"


Lelaki muda itu membesarkan matanya, lalu buru-buru menggeleng. Timbul ekspresi penyesalan di wajahnya. "Tidak, Yang Mulia. Maafkan aku."


Callum tidak berkata apa-apa lagi, dan langsung menarikku ke dalam istana.


"Kau tak perlu menakutinya seperti itu," kataku sambil tertawa. Sebenarnya aku ingin menghiburnya karena ekspresi mukanya yang tak biasa itu. Namun usahaku gagal.


Ia bahkan tidak melirikku sekalipun, pikirku kecewa. Tidak biasanya ia akan memarahi seseorang seperti itu.


"Callum?"


"Ya?" Balasnya tanpa senyumannya yang biasa. Itu membuat hatiku sakit.


"Apa kau baik-baik saja?"


Ia menoleh ke arahku, dan menaikkan sudut bibirnya. Tapi aku tahu itu senyum palsu. Ia sedang berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.


"Tadi kau pergi kemana, Alena? Seharusnya kalian mengajakku pergi berbelanja."


Akhirnya aku tidak berkata apa-apa lagi. Ia bahkan mengalihkan topik pembicaraan.


Setelah Callum meninggalkanku di kamar seorang diri, aku menemukan sebuah amplop surat di atas meja. Aku telah diundang ke tempat perkumpulan para Putri Raja.


Oh, tidak. Aku mulai panik. Bagaimana kalau mereka sadar bahwa aku ini bukan Putri Raja? Apa aku harus menolak?


Seseorang mengetuk pintu kamarku, dan masuk lah Abigail.


"Ternyata kau sudah menerima undangannya!" Ia menepuk tangannya. "Ini pasti akan seru! Aku suka sekali berkumpul di acara seperti ini! Apalagi kau anak baru, sudah seharusnya semua orang melihatmu."


Aku susah payah menelan ludah. Ini ide buruk. Meskipun para Fae Royals di istana ini masih belum mengenali wajahku sebagai seorang Fae God, aku tetap harus hati-hati.


"Omong-omong, bukankah kau memiliki urusan yang lebih penting? Bagaimana dengan Fae God itu?"


"Memangnya apa yang lebih penting dari acara ini?" Tanyanya sambil terkekeh. "Lagipula itu urusan Ayah Ibuku. Aku ini kan, seorang putri."


"Haha..." Aku pura-pura tertawa.


"Ayo! Jangan lupa kenakan gaun yang baru saja kubeli untukmu!"


***


Masih sambil mengenakan jubah untuk menutupi sayapku, aku dibawa ke sayap timur istana. Ternyata ini adalah sebuah ruangan megah. Di tengah terdapat meja perjamuan yang jauh lebih besar dari meja rapat di istana Amarilis.


Dan semuanya dihiasi oleh bunga lavender.


Huh. Jadi dia yang membuat acara seperti ini.


Di hadapanku terdapat beberapa gadis Royal. Mereka semua berpenampilan cantik dan elegan. Tiba-tiba kepercayaan diriku menurun. Mereka memiliki rasa sopan santun yang tinggi. Bahkan cara berjalan dan duduk mereka sudah seperti putri sejati.


"Teman-temanku!" Abigail sudah memeluk mereka semua. Aku menghitung secara cepat dan ternyata jumlah mereka hanya sekitar 10 orang.


Mereka sibuk bersapa ria, sedangkan aku malah melirik pintu ruangan.


Hehe, pikirku nakal. Ini kesempatan untuk pergi dari si-


"Alena!"


"Y-Ya?" Abigail sudah menarik lenganku. "Mau kemana kau? Kau harus bertemu dengan teman-temanku!"


"Jadi ini katamu yang cantik sekali?" Salah satu putri menatapku lekat-lekat dengan mata merahnya. Entah kenapa tiba-tiba aku berkeringat. Rasanya seperti aku baru saja ditelanjangi. Untungnya mereka hanya tersenyum manis.


"Salam kenal. Aku Lucia," katanya. Gadis itu berambut putih keabuan dan bermata merah. Parasnya sangat bersinar, dan ia sedikit lebih tinggi dariku.


Beberapa orang juga sempat berkenalan denganku, tapi yang paling memikat perhatianku adalah Lucia. Ia paling ramah dan mudah tersenyum. Ia juga bersuara lembut.


Uh, dia pasti lahir di istana, batinku. Dia sangat cantik...Dan kelihatannya lebih pantas menjadi pasangan Callum dibanding diriku.


Aku mendesah. Memangnya sejak kapan aku akan menjadi pasangannya? Aku bukanlah Putri Raja seperti para gadis di ruangan ini.


Memangnya dia mau menjadi pasanganmu? Pikiran negatif mulai bermunculan di benakku. Lihat saja ekspresinya tadi. Mungkin ia sudah muak berpura-pura memiliki pasangan seperti dirimu.


"Cukup," bisikku pada diriku sendiri. Aku sampai meremas rok gaunku. "Callum menyukaiku. Aku tahu itu."


"Oh ya?"


Aku menoleh dan terkejut karena tiba-tiba Lucia sudah ada disampingku. Aku tidak lagi melihat keberadaan Abi. Mungkin ia sudah melupakanku dan bergaul dengan temannya yang lain.


Lucia tersenyum. "Alena, aku tahu Callum sudah memilihmu sebagai pasangannya. Tapi kau harus tahu kemampuanmu sendiri."


Kemampuan? Apa maksud gadis ini?


Ia bangkit berdiri, dan berjalan dengan dagunya yang terangkat. "Aku bukanlah Fae Royal biasa. Aku memiliki darah keturunan Raja, bukan Ratu."


"Kau tahu?" Lanjutnya. "Anak kandung Raja dan Ratu Fae hanyalah tiga. Dexter, pangeran tertua. Lalu Abigail. Dan terakhir Callum."


Lalu masalah apa yang mau diperbesarkannya? Pikirku mulai kesal.


Ia melirik ke arah para gadis Royal itu berkumpul. "Mereka semua anak selir Raja. Aku juga, sebenarnya. Tapi Sang Raja sangat menyayangi Ibuku. Itulah sebabnya aku telah dijodohkan dengan Callum."


Hatiku hancur berkeping-keping. Kenapa Callum tak pernah menceritakan hal itu kepadaku sebelumnya? Berapa banyak lagi rahasia yang disembunyikannya?


"Jadi, Alena." Ia berdiri tepat di hadapanku, kemudian mencondongkan badannya ke depan.


"Menyerahlah dan jangan dekati dia lagi," bisiknya di telingaku.