Wings & Fate

Wings & Fate
Bougenville (2)



"Selamat datang di Bougenville, kampung halamanku," bisik Callum di telingaku.


Bulu kudukku naik. Bangunan ini memang luas, tapi jauh lebih luas dari perkiraanku.



"Bahan apa itu?" Tanyaku sembari menunjuk ke hiasan dekor yang berglitter.


"Chrysos, tentu saja," jawab Callum tanpa ragu.


"Tapi... kukira Chysos itu emas."


"Ya, tapi itu bahan langka. Chrysos yang dicampur dengan serbuk sayap Royals."


Aku terkesiap, dan tak mampu melepas pandangan dari istana yang super megah itu. Aku bahkan tak menyadarinya saat Callum sudah menarik-narik rokku.


"Turun. Mau sampai kapan duduk di kuda?"


"Eh?" Aku menoleh ke arahnya. Di saat itulah aku baru melihat dua sosok pria yang sedang berjalan ke arah kami. Mereka mengenakan seragam prajurit dengan lambang mahkota.


Tanpa aba-aba, Callum sudah melingkarkan lengannya pada pinggangku, lalu menarikku untuk turun. Kepalaku sampai tertabrak dadanya, sementara ia hanya cengar-cengir.


"Pagi, umm..." Dua prajurit tadi sudah berada tepat di belakangnya. "Siapa Anda?"


"Ya ampun, Robert." Callum pura-pura terkejut. "Kau tak mengenali pangeranmu sendiri?"


Pria Ripper yang bernama Robert itu mengernyitkan dahi. Ia lalu bertukar pandang dengan temannya. "Eum, apakah Anda... pangeran Dexter?"


Callum mendesah kecewa, kemudian melepas jubahnya dengan dramatis. Beberapa detik kemudian, Robert membelalakkan matanya. Ia buru-buru memberi hormat. "Pa-pangeran Callum-"


"Kau harus memperbaiki penglihatanmu," ujar Callum lagi sambil menggeleng-geleng.


"Dan omong-omong, aku belum pernah melihat dia." Callum menunjuk ke prajurit di sebelah Robert. Setelah kuamati, pria itu terlihat jauh lebih muda dibanding Robert. Ia memiliki bentuk muka yang sama, serta mata dan hidungnya.


"Anakmu, ya?" Tanya Callum lagi.


"Y-ya, Yang Mulia. Rupert namanya." Robert berusaha menyembunyikan senyumnya.


"Begitukah?" Callum malah terlihat lebih bangga. Ia menepuk pundak lelaki muda itu.


"Rupert. Jadilah anak baik dan rawat kuda ini. Aku sedang ada urusan bersama pasanganku." Ia lalu menarik tanganku seenaknya, dan tiba-tiba saja mencium bibirku!


"Callum, apa yang sedang kau-"


"Ssshhh." Ia kembali mel*mat bibirku, di depan dua prajurit ini. Kemudian, ia meninggalkan kecupan di pipiku.


"Pa...sangan?" Robert dan Rupert langsung memberi hormat juga kepadaku. "Yang Mulia Putri."


"Callum!" Aku mempercepat langkahku, sembari menaikkan rokku. Ia masih saja menggandeng tanganku. "Apa yang sedang kau lakukan?"


"Seperti yang kubilang," ujarnya. "Tak boleh ada yang melihat sayapmu."


"Jadi aku harus berpura-pura menjadi seorang putri?"


"Lebih tepatnya, menjadi pasanganku. Dengan begitu, tidak ada yang berani menyentuhmu." Ia kemudian menghentikan langkahnya, membuatku menabrak punggungnya.


"Aduh!" Aku mengusap kepalaku, kemudian mengintip di balik punggungnya.


Tepat di hadapan kami, ada kain keemasan yang menghalangi pandangan kami dengan singgasana. Aku bisa melihat bayangan seseorang di balik kain. Dua pasang Fae. Raja dan Ratu Fae.


Beberapa gadis pelayan menyambut kami saat melihat sayap emas milik Callum. Mereka tentu tak akan mengizinkan sembarangan Fae untuk memasuki ruang singgasana.


"Siapa itu?" Terdengar suara berat di balik kain. Aku refleks menunduk, menarik tudung kepala agar bisa lebih menutupi wajahku. Callum meremas sedikit tanganku, kemudian membungkuk.


"Ayahanda, ini aku. Pangeran Callum Lantski."


Pria itu terdiam. Yang berbicara selanjutnya adalah wanita di sampingnya. Rambutnya dikonde, dan beberapa keriting rambut terlepas dari ikatannya, mempercantik penampilannya. Meski aku belum melihat wajahnya, aku tahu Sang Ratu pasti sangat cantik.


"Callum?" Wanita itu bangkit dari kursinya, kemudian terdengarlah suara hak sepatu tinggi yang menggema. Ia hanya berdiri persis di belakang kain, masih tidak menunjukkan wajahnya. "Apakah itu benar kau?"


"Ya, Ibunda," jawab Callum. Aku meliriknya sedikit, dan melihat raut wajahnya yang tak biasa. Ia memasang wajah datar.


"Ada apa sampai kau kemari mengunjungi kedua orangtuamu, nak?" Tanya Ratu. Aku heran karena ia tidak menunjukkan sedikit rasa rindu pada Callum. Aku sendiri tidak tahu sudah berapa lama ia pergi dari wilayah ini dan tinggal di Amarilis.


"Untuk membahas masalah terkait Ratu Peri Lebah," jawab Callum. "Namun saya rasa, ini perlu ditunda hingga esok hari, kan?"


"Sayangnya begitu," desah Ratu. "Aku masih memiliki banyak kerjaan. Mungkin bukan besok. Aku tidak tahu sampai kapan, tapi besok aku ada pertemuan dengan Fae Royals lainnya."


"Begitu," gumam Callum dengan nada datar. "Kalau begitu, saya dan pasanganku akan pamit."


"Pasangan?!" Kali ini Raja yang mengangkat bicara. "Bicara apa kau, Callum?!"


Tubuhku bergetar. Entah kenapa aku takut mendengar suara Raja.


"Sudah kubilang, gadis ini pasanganku," jawabnya tanpa rasa takut. "Maka dari itu ia akan tidur bersamaku, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya."


Setelah itu, Callum memberi hormat dan menarik tanganku lagi. Aku hampir tersandung, untungnya ia dengan sigap menahanku.


Aku tak mendengar balasan apa-apa lagi dari Raja dan Ratu Fae. Aku juga tak berani bertanya kepada Callum. Pria yang sekarang berjalan disampingku ini jelas sudah berubah. Wajahnya tidak lagi tersenyum, dan aku melihat rahangnya yang menegang.


Sebenarnya seperti apa hubungannya dengan kedua orangtuanya?