
Wilayah manusia jauh lebih luas dibanding wilayah Fae. Dan apa yang kulihat di hadapanku sekarang membuatku tercengang.
Tempat ini bukan desa. Tidak ada pondok kecil seperti di Amalthea Halley. Tidak ada kendaraan seperti kuda yang suka digunakan oleh Ayah. Tidak ada rumah mansion mewah seperti rumah milikku, tapi bangunan yang amat tinggi serta lampu-lampu di jalanan yang sudah seperti bintang.
Aneh. Kenapa disini sudah malam saja? Mungkin ini ada hubungannya dengan sihir Light yang bekerja di dunia Fae, sehingga ada perbedaan waktu.
Tin! Tin! Suara aneh langsung terdengar dari jalanan, dan aku berteriak karena terkejut. Namun bukan benda berkecepatan tinggi yang segera membuatku bangkit dan berlari tanpa arah.
Keberadaan monster mengerikan itulah yang membuatku menggunakan sayap, bahkan setelah aku mendarat di tempat asing ini.
Bagaimana ini?! Jangan sampai ia menyerang manusia!
"Hey! Kau!" Aku sengaja menarik perhatian monster itu yang sepertinya juga kebingungan saat sudah mendarat di tengah jalan. Makhluk itu celingak-celinguk, dan ia kembali meraung saat sudah melihatku.
Sial! Kau merepotkanku! Aku terpaksa menggunakan sihirku untuk menyembunyikan keberadaan kami, dan juga meredam suara raungannya. Ini semua membutuhkan banyak energi.
Aku harus segera mencari rumah Miss Gray, sekaligus bersembunyi dari makhluk itu. Tapi aku juga tak boleh melepaskannya. Bagaimana jika ia malah menyerang manusia dan menghebohkan semua orang?
Ayo, Alena! Pikir!
Mataku menangkap cahaya yang memantul dari kalung yang masih menggantung di leherku. Aku hampir lupa bahwa aku masih memiliki benda penguat ini. Pantas saja aku masih ada cukup energi untuk melakukan ini semua.
Ctass!! Aku melepas kalung itu, kemudian menggenggamnya erat dalam telapak tanganku. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Mungkin aku sudah terlalu frustrasi dan tidak bisa berpikir jernih.
"Aarrhghhh!!" Makhluk itu masih mengejarku. Namun aku tidak peduli.
Ayo, Alena. Kau tak boleh menyerah! Kau seorang Fae God!
Maka aku menengadah, dan terbang menukik ke atas. Sayapku membawaku ke atas langit, hampir menyentuh awan. Aku terus terbang mengitari gedung bangunan yang amat tinggi ini.
Dari luar jendela, aku dapat melihat para manusia. Ada yang sedang bercengkerama bersama keluarga, ada yang sedang tertidur di kamarnya.
Semuanya tampak damai dan berbahagia, pikirku mulai tersadar. Manusia... mereka yang telah menghancurkan kehidupan para Fae. Mereka yang menciptakan Egleans. Tapi kenapa?
Angin malam berembus sangat kencang. Tubuhku yang sedang melayang hampir tertiup angin kalau bukan karena kekuatan sayapku yang lumayan tebal. Untung aku berlatih keras saat masih menjadi murid di Faedemy. Dalam hati aku berterima kasih kepada guru pelatihku yang sudah mengajariku penuh kesabaran.
Dimana makhluk itu sekarang? Aku menoleh ke belakang, namun tak dapat melihatnya.
Tidak! Aku tak boleh kehilangan dia! Akhirnya giliran aku yang mencarinya. Aku sampai harus menggunakan tanganku untuk melindungi diri dari terpaan angin malam.
Huft. Terpaksa aku beristirahat sebentar karena sayapku sudah pegal luar biasa. Aku duduk bersandar di salah satu bangku panjang dekat pepohonan. Sepertinya ini adalah sebuah taman.
Tempat ini indah juga ya, pikirku saat menatap gedung pencakar langit itu. Sangat berbeda. Jauh lebih modern dibanding wilayah Fae.
Aku mendesah, kemudian membuka telapak tanganku. Syukurlah kalung itu masih aman dalam genggamanku.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Pikirku sambil menatap lekat-lekat kalung pemberian Jesca ini. Aku sudah seperti anak tersesat.
Aku tak mengenali tempat ini. Percuma saja.
Aku merogoh sakuku, dan membuka kembali amplop itu. Meski aku bisa membaca alamatnya, aku tak bisa menemukan tempatnya karena masih tidak familiar.
Duk! Belum sempat aku berkedip, kepalaku sudah dihantam dari belakang. Aku hendak menoleh, namun sebuah tangan besar sudah menutup hidungku dengan kain. Hal selanjutnya yang kutahu adalah lubang hidungku sudah dipenuhi oleh semacam serbuk, sebelum akhirnya aku pingsan dan tak sadarkan diri.
***
Alena? Alena!
Sial, sial!
Callum melempar tinju ke dinding yang kaku, berusaha menyalurkan seluruh emosinya. Napasnya memburu, dan ia kembali berteriak penuh amarah.
Baru saja ia menemukan sebuah rumah besar berwarna hitam. Rumah yang sempat menjadi tempatnya ditahan oleh kedua orangtua Alena.
Ya. Dua manusia memang sempat menyanderanya karena ketertarikan mereka dengan sayap Fae. Callum menduga bahwa inilah alasan Alena dan Lexy kabur dari rumah mereka. Untuk menyelamatkan diri dari manusia gila yang ingin memotong sayap mereka.
Dan sekarang, ia terlambat. Saat ia memasuki rumah besar ini, seluruh perabotan sudah hancur. Ia bisa melihat jam bandul yang rusak parah, kemudian ada jejak darah seseorang di lantai.
Awalnya ia tak mau berpikir macam-macam. Ia tak mau menebak siapa pemilik darah itu. Namun suara Alena dalam pikirannya terlanjur membuatnya panik.
Ia tahu, bahwa gadis itu telah berpindah tempat bersama makhluk mengerikan itu. Tapi saat ia hendak mencari tahu lebih lanjut, ikatan kalungnya tiba-tiba terputus dengan sengaja.
Ctass!! Kini, tak ada lagi penghubung yang bisa dipakai olehnya. Callum tak bisa lagi melacak keberadaan gadis itu, karena Alena tak lagi mengenakan kalung itu.