Wings & Fate

Wings & Fate
Believe



Callum! Aku tahu kau bisa mendengarkanku! Jawab aku!


Namun, aku tidak mendengar apa-apa. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara atau tanda-tanda.


"Apa kau sedang mengujinya?" Rupanya Jesca sedari tadi memerhatikanku dengan mata birunya. Ditataplah aku lekat-lekat. "Apa itu berhasil?"


"Sepertinya tidak," aku menggeleng pasrah. "Atau mungkin Callum tidak mau menjawab panggilanku."


Gadis di sebelahku itu tampak termenung. Ia membolak-balikkan belati yang semula ada ditanganku. Kemudian diraba lah batu rubi yang ada disana.


"Atau mungkin cara kerjanya sedikit berbeda dengan kalung Gardian. Aku hanya pernah memakai salah satu benda Gardian."


"Apa yang harus kita lakukan?" Aku menyandarkan kepala ke batang pohon. Mataku tertuju ke langit biru yang terbentang di atas sana. Itu lagi-lagi mengingatkanku dengan mata biru sang pangeran.


"Karena kita tak ada kerjaan lain, aku akan kembali ke Fae Hall dan mempelajari cara kerja belati ini."


Sesaat setelah Jesca bangkit berdiri, tanah lagi-lagi bergoyang. Angin kencang meniup daun pada pepohonan, membuat suara gemerisik yang amat menakutkan.


Aku tahu siapa yang datang. Namun aku terlambat menyadarinya. Dalam sekejap mata, tubuh Jesca langsung terangkat oleh makhluk buas itu.


"Jesca!"


Egleans itu sekarang sudah mencengkeram tubuh kecil Jesca. Gadis itu sibuk meronta-ronta. Belati yang semula digenggamnya sampai terjatuh ke tanah.


Suara raungan monster itu menulikan telingaku. Ia berkepala singa, namun tubuhnya berbentuk aneh dan dua kali lipat lebih besar. Ia membuka mulutnya, memperlihatkan taring nya yang berlendir.


"Jangan!" Aku langsung menciptakan cahayaku dan menyerang makhluk itu. Namun, diluar bayanganku, sepertinya Egleans itu paham betul bahwa aku ini Fae God dan mempunyai mana sihir yang jauh lebih kuat dibanding Fae lainnya.


Sial! Mereka semakin cerdas saja! Aku memusatkan seluruh tenagaku, kemudian menghantam tubuh si Egleans. Sementara monster itu teralihkan untuk sesaat, Jesca mencoba melepas cakar tangan besar itu.


Slash! Makhluk itu sadar bahwa tangkapannya berusaha untuk meloloskan diri. Maka ia mencakar punggung Jesca, hingga suara lirihan keluar dari mulut gadis bisu itu. Pupil matanya membesar, lalu kelopak matanya perlahan menutup.


Ternyata salah satu sayapnya terlepas dari punggungnya, dan genangan darah segar langsung terbentuk.


"Tidakkk!!" Aku terbang tepat di atas kepala makhluk itu, kemudian menyerangnya kembali. Aku tak memberinya kesempatan. Dengan penuh amarah aku rela menyiksanya hingga membunuhnya.


"Uaarrghh!!" Makhluk itu menengadah, dan menatapku penuh dendam. Kemudian, sayap lebarnya yang ternyata disembunyikan muncul tiba-tiba.


Bruukk!! Makhluk itu melempar tubuh Jesca begitu saja, sehingga membanting bebatuan keras dan tajam. Gadis itu masih tak sadarkan diri, dan tubuh kecilnya sudah terluka parah.


Aku hendak menolongnya, namun makhluk ini malah menghadangku. Tak kusangka, ia justru menyeringai. Tubuhku seketika merinding.


"Arrrr....lena.....hisss," makhluk itu mengeluarkan suara mengerikan yang seperti perpaduan antara raungan singa dan desisan ular. "Kauuu...i...kutt...aku..."


"Apa?!" Enak saja! Tak kuberi kesempatan makhluk itu untuk menangkapku. Saat ia hendak meraihku dengan tangan besarnya, aku langsung menunduk secepatnya dan terbang berlawanan arah. Kedua tanganku sudah diletakkan di samping tubuh. Aku menyipitkan mata dan fokus mengambil jalan.


Sebenarnya siapa yang mengutus makhluk ini? Aku tak boleh meremehkan mereka, karena meskipun mereka datang ke wilayah Fae dalam jumlah kecil, mereka sudah termasuk berbahaya.


Mereka benar-benar sudah berevolusi. Selain suaranya yang menyerupai manusia sekaligus hewan liar, mereka juga mampu menunjukkan ekspresi wajah. Selain itu, sepertinya mereka tak lagi tertarik dengan sayap Fae.


Benar, kenapa baru kepikiran?! Pikirku, sekaligus memperhatikan jalan di depan. Aku menoleh sebentar dan masih melihat makhluk itu yang mengejarku.


Tadi, ia sengaja merobek sayap Jesca untuk membuatku marah.


Aku menukik ke bawah, sengaja memancing makhluk itu. Saat tangan itu hampir saja menangkapku, aku buru-buru menyampingkan badanku, dan terbang berliku-liku diantara pepohonan.


Waktu itu, aku sempat melihat mereka menyerang hewan Fae. Mereka tidak lagi tertarik pada kita.


Angin masih menghantam langsung wajahku, sekaligus menerbangkan rambut pirangku. Aku terbelalak saat melihat gedung Fae Hall yang sudah nampak.


Apa yang harus kulakukan sekarang?! Meminta bantuan-kah?!


"Ja...ngan...ka...buurrrghhh!!!" Suara raungan monster itu semakin menjadi-jadi. Aku menggigit bibir bawah, dan tersadar bahwa pergi ke tempat keramaian bukanlah pilihan yang tepat.


Jesca? Aku menyentuh kalung Gardian yang masih berwarna merah darah. Jesca, kumohon. Kau harus sadar.


Aku tetap mencoba berkomunikasi dengannya. Oksigen mulai mengalir dengan lambat di peredaran darahku. Aku mulai kehabisan napas dan energi.


Namun aku tak akan menyerah. Sekuat tenaga aku berputar arah, tidak ingin membawa makhluk ini ke gedung Fae Hall.


Miss? Terdengar suara yang amat lemah, dan pelan. Aku mendengarmu.


Jesca! Baguslah! Rasanya seperti Dewa meneteskan sedikit harapan padaku.


Jesca! Dengarkan aku!


Maka aku menghela napas, kemudian sengaja berhenti di depan pohon itu. Aku berbalik badan dan menghadap makhluk itu.


Jantungku bertalu. Saat tangannya hampir saja mencakarku, aku mengepakkan sayapku dan terbang ke atas. Kemudian...Bruukk!! Makhluk itu tak sempat berbelok arah karena tubuhnya yang besar. Ia tertabrak dahan pohon yang berduri itu.


Aku tahu ini kesempatanku. Maka aku buru-buru bersembunyi diantara semak.


Jesca? Aku kembali terhubung dengannya.


Ya...


Maafkan aku sudah meninggalkanmu. Apa kau masih bisa berdiri?


Haha, terdengar suara tawa yang amat lembut. Aku hanya kehilangan salah satu sayap. Tentu aku masih bisa menggunakan kedua kakiku.


Tapi kau...aku melihatmu pingsan tadi.


Aku sengaja melakukan itu hanya untuk memuaskan makhluk itu.


Oh, syukurlah! Dalam hati berdoa kepada Dewa yang ada di atas sana. Jesca ternyata tidak pingsan, meskipun tubuhnya pasti masih terluka parah. Apalagi dengan kondisi sayapnya yang seperti itu, tentu ia kehilangan banyak darah.


Aku tahu apa yang kau pikirkan, terdengar suara Jesca lagi. Tapi tak apa-apa. Aku pernah tersesat di hutan saat aku masih sangat kecil. Kelaparan, kehilangan banyak darah. Tapi buktinya aku bisa hidup sampai sekarang.


Entah kenapa itu malah semakin mengkhawatirkanku. Jesca tak pernah menceritakan kehidupan masa lalunya padaku.


Alena, dengarkan aku. Kata Jesca lagi. Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Makhluk itu menginginkanmu. Aku takut dalangnya adalah Sang Ratu Lebah.


Benar juga. Ratu itu sempat menginginkan diriku. Kalau begitu apa yang harus kulakukan?


Kau harus ke dunia manusia. Kau tak bisa melakukan apa-apa jika harus tinggal disini.


Tiba-tiba, terdengar suara batuk berdahak dari seberang sana.


Jesca? Jesca! Apa kau baik-baik saja?!


Uhuk! Ya... Uhuk! Jangan pedulikan aku...Miss. Kau...harus menyelamatkan dirimu. Pergi ke dunia manusia.


Tidak, Jesca. Aku tak akan meninggalkanmu seorang diri dengan makhluk ini. Kau terluka parah.


Miss! Baru kali ini Jesca membentakku. Aku bukan siapa-siapa! Kaum Fae tidak akan berjaya kalau kau mati, Miss! Kumohon! Ini satu-satunya permintaanku kepadamu...


Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Jesca... Bagaimana mungkin gadis itu begitu baik hati dan pemberani? Aku masih kalah jauh dengannya. Gadis itu pandai mengatur emosi. Gadis itu tidak pantas kehilangan salah satu sayapnya.


"Uuaarrghhh!!"


Sial. Makhluk itu pasti sedang mencariku.


Jesca! Kumohon! Pikirkan rencana lain!


Miss. Aku ingin bertanya satu hal padamu sebelum kau pergi.


Air mataku mengalir semakin deras. Oh, Jesca... kenapa kau berkata seperti kita akan berpisah untuk selamanya? Katakan saja apa itu.


Waktu itu... kau mengumumkan di depan umum, bahwa permintaanmu kepada Dewa saat itu adalah penobatanmu sebagai Fae God. Apa itu benar?


Tidak sepenuhnya benar, kataku dalam hati.


Permintaanku yang sebenarnya adalah agar aku dapat menobatkan diri sendiri sebagai Fae God, tanpa campur tangan atau ambisi orang lain. Karena hanya aku yang berhak memutuskan aku ingin menjadi siapa.


Aneh. Aku tak mendengar balasan dari Jesca. Apa gadis itu sudah pingsan?


"Ke...te...mu..."


Aku mematung, tak mampu mengeluarkan suara. Tatapan makhluk itu sekarang sudah mendarat padaku. Karena aku tak memperhatikannya, alhasil aku jadi tertangkap.


Miss, ketahuilah, bahwa aku selalu percaya padamu.


Setelah itu, sambungan terputus.


***


Jangan pernah jadikan omongan orang lain sebagai alasan. Karena hanya kamu yang berhak memutuskan kamu ingin menjadi orang yang seperti apa.


Sampai jumpa di eps berikutnya 😁