Wings & Fate

Wings & Fate
Broken Inside



"Callum!" Tentu saja, Lucia sudah bangkit dan berlari menghampiri pangeran itu. Gadis itu kemudian memeluknya erat-erat, sampai akhirnya Callum kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang.


Aku mendengus melihat tingkah laku Lucia.



"Callum, sudah lama sekali aku tidak melihatmu," katanya dengan nada memelas. Nada yang sama sekali berbeda saat ia berbicara denganku barusan. "Terakhir kali kau masih lebih pendek dariku, haha!"


Oh. Mereka sudah kenal lama. Perasaan cemburu mulai menjalariku. Apa mereka sudah dijodohkan juga dari dulu?


"Ah, benar. Sudah lama sekali, Lucia," balas Callum sambil tersenyum. Itu membuat gadis itu salah tingkah dan akhirnya merona.


"Kenapa kau kesini?" Tanyaku dengan dingin. Aku tidak tahu kenapa aku berbicara seperti itu.


"Iya, Cal. Ini padahal spa khusus wanita loh~" Lucia mulai merayunya. Aku spontan memalingkan wajah, tak mampu melihat pemandangan itu.


Tak kusangka, Callum malah tertawa. Apa perasaannya sudah membaik? Atau ia tiba-tiba menjadi senang karena bertemu dengan Lucia?


"Sebenarnya, aku kesini untuk melihat Alena." Terdengar suara langkah kaki, dan tahu-tahu ia sudah berlutut di samping ranjangku. Aku memalingkan wajah lagi, tapi ia dengan sigap menyentuh pipiku.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Bisikku.


Ia melihatku sangat lama, membuat jantungku berdegup kencang. Kenapa dia harus menatapku seperti itu? Apa aku harus bersikap layaknya seorang pasangan? Apa ia akan menciumku sekarang juga?


Balasannya sama sekali tidak kusangka. "Cairan apa ini? Aku jadi tak bisa melihat dengan jelas wajahmu."


"Huh." Aku menyilangkan tangan, yang menggambarkan senyuman di wajahnya. Setidaknya ia sudah bisa tertawa seperti sedia kala.


"Ehem, Callum." Aku hampir melupakan gadis itu. "Aku dan Alena sebenarnya masih belum selesai. Bagaimana kalau kau tunggu di luar?"


Aku menatap tajam gadis itu. Beraninya ia mengusirnya sekarang.


"Tidak." Aku menahan tangan Callum. "Aku sudah selesai."


Saat aku berjalan keluar bersama Callum, aku menyengir ke arah Lucia yang sudah terlihat kesal.


***


"Kau sudah kemana saja?" Tanyaku saat kami sedang berjalan santai di lorong. Beberapa pelayan menunduk ke arah kami, mungkin karena mereka melihat Sang Pangeran. Namun Callum hanya melambai dan menyuruh mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Ia mendesah lesu. "Banyak hal yang terjadi di istana ini semenjak kepergianku. Aku harus mengurus banyak hal."


"Apa kau sudah menemui Ayah Ibumu? Dan membicarakan tentang Ratu Lebah?"


"Sayangnya belum. Mereka tak ingin terlalu tergesa-gesa."


"Huh! Teganya mereka berpikir seperti itu! Bagaimana dengan Egleans yang sudah hampir memasuki wilayah pusat?"


"Mereka sudah mengetahuinya, dan menyuruhku mengurusinya."


"Menyuruhmu?" Aku menahan tangannya, memaksanya untuk memandangiku. "Kalau begitu bagaimana kelanjutannya? Siapa saja yang akan membantumu?"


Apa aku harus memberitahunya hal yang sudah kulihat saat itu? Bahwa makhluk mengerikan itu juga sempat menyerang hewan Fae. Tapi kalau aku memberitahunya, ia pasti akan menanyaiku.


"Ada apa?" Tanyanya khawatir. "Bagaimana denganmu selama ini? Apa kakakku memperlakukanmu dengan baik?"


"Huh? Ya, tentu saja," aku mengangguk sambil tersenyum. "Omong-omong soal Lucia..."


"Ini sudah malam." Callum melirik ke arah jendela besar di sampingnya. "Kau harus tidur."


"Kenapa kau malah memotong perkataanku?" Aku mulai merajuk. "Callum, selama ini kau bertingkah aneh. Semenjak kau bertemu dengan Ayah Ibumu."


"Aneh?" Ia tertawa kecil, lalu melingkarkan lengannya di pinggangku. "Itu hanya stres biasa. Tak usah dipikirkan."


"Kita berdua tahu itu bohong." Aku menatapnya dengan sedih, lalu melepaskan pelukannya. Ia tampak sedikit terkejut.


"Apa kau benar mencintaiku?"


"Apa? Tentu saja, Alena. Kenapa kau bertanya-"


"Kalau iya, kenapa kau tak pernah membahas tentang perjodohanmu dengan Lucia? Kenapa menyembunyikannya dariku?"


"Aku ingin memberitahumu. Maaf karena terlambat."


"Begitu ya." Rasanya aku kurang memercayai ucapannya. "Jadi, itu memang benar. Kau telah dijodohkan dengannya." Aku hendak berjalan meninggalkannya, namun ia menghentikan langkahku.


"Alena, aku-"


"Kalian sedang apa?" Aku menoleh ke sumber suara. Rupanya itu Lucia.


Sejak kapan ia mengikuti kami?


Gadis itu melempar senyum. "Ini sudah malam. Bukankah kalian harus kembali ke kamar masing-masing?


Oh ya, aku lupa. Kalian satu kamar." Ia mendesah dan langsung cemberut. "Cal... Teganya kau sekamar dengannya. Bagaimana denganku? Aku kan, tunanganmu."


Ugh, awas saja, Lucia! Tunggu sampai Callum menyemprotmu habis-habisan!


"Aku melakukan itu karena tak ada lagi kamar yang tersisa."


Rasanya seperti hatiku baru saja ditikam oleh pedang yang amat tajam. Aku mematung, tidak mampu mengeluarkan suara.


Lucia terkesiap. "Benarkah? Kasihan sekali, pangeranku!" Ia sudah menggandeng tangan Callum. "Kalau begitu, ayo. Aku antar kamu ke kamarmu. Aku bisa suruh pelayanku mencarikan kamar lain untuk gadis itu."


Aku bergumam, "Tidak terimakasih-"


"Ide bagus," potong Callum. "Alena pasti akan lebih nyaman kalau memiliki kamar sendiri."


Seperti itulah hatiku ditusuk berkali-kali. Aku tidak menengadah, bahkan saat mereka berdua berjalan meninggalkanku.


"Mari, Putri Alena." Seorang pelayan menghampiriku, persis seperti kata Lucia. "Akan kuantar kamu ke kamar barumu."