Wings & Fate

Wings & Fate
Spying (2)



Aku terus mengikuti monster itu selama bermenit-menit. Kadang ia akan menoleh ke belakang, membuat jantungku semakin berdegup kencang. Aku harus menjaga jarak sekaligus tetap tenang agar ia tak melihatku.


Sekarang aku bersembunyi di balik pohon. Mengabaikan rasa sakit akibat duri, aku menunggunya untuk tetap bergerak. Makhluk itu kembali mengendus di udara, dan berbalik badan secara perlahan.


Apa aku sudah ketahuan? Batinku panik. Padahal aku sudah menyembunyikan aroma tubuhku. Aku juga tidak menggunakan sayapku.


Suara lirihan terdengar dari monster itu. Gerak-geriknya terlihat aneh. Sebenarnya aku menunggunya hingga membuka sayap dan terbang kembali ke sarangnya, tapi ia tidak melakukan itu. Ia tampak sedang menunggu sesuatu.


Benar saja. Tiba-tiba aku melihat gerakan sayap dari kejauhan. Burung rajawali, yang bertengger di atas dahan pohon, dekat dengan tempat Egleans itu berpijak.


Apakah itu Egleans yang sedang menjelma? Pikirku. Tapi aku tidak melihat adanya tanda-tanda bahwa burung itu jelmaan Egleans.


Apa aku harus mencobanya? Menggunakan cahaya putih milik Healer untuk membakar tubuh organnya? Tapi kalau tebakanku salah, aku akan melukai hewan Fae.


Aku tidak berpikir lama karena sesuatu sudah terjadi. Egleans itu berteriak sangat nyaring, dan seketika burung besar itu juga membuka paruhnya. Melihat keberadaan burung itu di atas pohon, Egleans itu segera membuka sayapnya dan terbang untuk menyerang burung itu.


Khhaaakk!!! Burung malang itu langsung terjatuh karena satu cakaran dalam si monster. Mereka saling menyerang. Aku menutup mulutku yang ternganga saat darah memercik keluar dari tubuh si rajawali.


Aku tetap menahan isakan tangisku, bahkan saat Egleans itu mulai merobek sayap indah si burung. Sekarang tubuh burung itu sudah tercabik-cabik. Organnya sampai terlihat. Genangan darah membanjiri tanah yang berlumpur.


Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh Egleans itu. Ia tetap menyerang si burung, bahkan setelah burung itu tewas. Ia menginjak-nginjak mayat si burung dengan kakinya yang mengerikan, sehingga tubuhnya tenggelam ke dasar lumpur. Setelah itu, bunyi robekan yang membuat tubuhku merinding.


Egleans itu sibuk mengunyah sayap si burung. Namun selang beberapa saat, ia memuntahkannya kembali. Aku menyipitkan mata, namun tetap tak dapat melihat tubuh si burung. Lumpur sudah menariknya.


Kenapa ini? Kenapa Egleans menyerang hewan Fae juga? Aku harus segera melaporkan hal yang kutemui ini.


Aku memundurkan langkah kakiku, dan lagi-lagi mengumpat dalam hati saat suara daun kering terdengar berkat pijakanku. Egleans itu berkoar-koar, dan secepat kilat menoleh ke arahku.


Tak ada cara lain lagi saat aku sudah terlihat. Aku berlari secepat mungkin, menghiraukan telapak kakiku yang sudah terluka. Lenganku pun sampai tergores dahan pohon.


Saat bunyi kepakan sayapnya makin terdengar, tak ada cara lain lagi selain menggunakan sihirku. Aku menutup mata, merasakan tubuhku yang ditarik-tarik oleh energi tak kasat mata. Sedetik kemudian, aku tak dapat lagi mendengar suara jeritan menyeramkan si Egleans. Kakiku tidak lagi menginjak lumpur, melainkan lantai yang keras.


***


Untungnya aku muncul kembali di dalam kamarku, sehingga tak membuat banyak keributan. Jesca sedang menungguku di dekat jendela. Saat melihatku, ia langsung menaikkan rok jubah panjangnya dan berlari menghampiriku.


"Pelan-pelan, Jesca!" Gadis itu sudah menanggalkan pakaianku, kemudian membunyikan bel. Tak butuh waktu lama saat dua orang memasuki kamarku, sudah membawa perlengkapan alat kebersihan.


Aku dibersihkan dengan terburu-buru, dan meringis saat luka goresan di lenganku digosok oleh handuk.


"Tak apa-apa, lanjutkan," kataku saat Jesca lagi-lagi melihatku dengan tatapan khawatir.


Puff!! Kertas muncul di depan mataku. "Kenapa banyak sekali luka di tubuhmu?!"


"Aku terjatuh ke dalam rawa-rawa tadi," balasku setengah berbohong. Itu benar. Aku hampir terjatuh ke dalam rawa-rawa, kalau bukan karena sihirku yang membuat tubuhku menghilang.


"Tetap saja, tubuhmu sudah ternodai!" Aku membaca tulisan yang tertulis di atas kertas. "Maaf, Jesca. Aku memang ceroboh."


"Ceroboh sekali." Jesca melempar handuk yang sudah kotor, kemudian memberikanku jubah putih yang baru. Aku memakainya dan tersadar bahwa matahari sudah terbenam. Upacara resmi pertamaku sebentar lagi akan dimulai.


Jantung ini kembali berpacu. Bagaimana reaksi orang-orang saat menemui luka-luka baru pada tubuhku? Seharusnya aku lebih berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Bora.


Sesudah aku bersiap, aku dituntun melalui lorong gedung. Di tengah jalan, aku melepaskan kalung Gardian dan mengembalikannya kepada Jesca, namun ia menggeleng-geleng.


"Untukku?"


Ia mengangguk.


"Tapi ini milikmu. Lagipula, aku bukan penjaga Fae Hall."


Jesca tetap bersikeras. "Oke kalau begitu. Akan kusimpan baik-baik."


Jesca menahan pergelangan tanganku, kemudian tersenyum. Wajahnya terlihat lebih cantik saat ia melakukan itu. Lagi-lagi aku jadi teringat dengan Callum. Mata birunya benar-benar mirip dengan matanya. Aku memerhatikan lebih dalam lagi, tapi ia sudah menundukkan kepala.


"Kau pantas mendapat kalung ini," aku membaca tulisan di kertas seperti biasa. "Saat kau menjadi Fae God nantinya, jangan lupakan aku."


Rasanya aku ingin menangis karena terharu. "Apa maksudmu? Tentu saja aku tidak akan melupakanmu, Jesca." Gadis itu menatapku sambil merapatkan bibirnya. Tersirat cahaya harapan di matanya, harapan kepadaku.


Jangan lihat aku seperti itu, pikirku bersedih. Karena kau akan kecewa denganku saat aku melarikan diri dari semua ini.