Wings & Fate

Wings & Fate
Gardian



"Miss Alena."


"Akh!" Teriakku karena terkejut. Aku berbalik badan dan terbelalak saat melihat pria berambut merah itu.


"Bora..."


"Kenapa reaksimu seperti habis melihat hantu?" Ia berjalan mendekatiku, dengan kedua tangannya di belakang punggung. "Aku tidak tahu kau suka mengunjungi perpustakaan dan membaca buku malam-malam."


"Ah," aku berusaha menyembunyikan perasaan terkejutku. "Ya, eum... begitulah."


Untungnya Bora tidak mencurigaiku. Mungkin aku memang terlihat seperti kutu buku, maka ia percaya dengan omonganku.


"Kalau Anda sendiri, suka ke perpustakaan juga malam-malam?" Aku berjalan ke arah salah satu rak dan pura-pura merasa tertarik dengan buku yang ada di sana.


"Aku tak bisa tidur, karena besok adalah hari yang sangat kunantikan." Suara langkah kakinya terdengar jelas, mungkin karena ini malam hari dan tidak ada siapa-siapa lagi selain kita berdua.


Saat ia sudah berada tepat di belakangku, aku tiba-tiba merasa waswas. Aku tidak tahu kenapa, tapi wajahku jadi berkeringat. Aku benci kehadirannya di dekatku, karena jadi teringat dengan-


Bukh! Buku-buku dari rak sebelah tiba-tiba berjatuhan. Kami berdua menoleh dan aku melihat buku-buku sudah berserakan di lantai, seperti ada sesuatu tak kasat mata yang sengaja membuat kegaduhan.


"Apa-apaan!" Bora langsung mengangkat satu persatu buku-buku itu. "Kenapa tiba-tiba jatuh?!"


Aku melongo, dan butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa itu ternyata ulah Callum. Ternyata aku masih menyelimutinya dengan sihir Light. Senyuman lebar mengembang di wajahku saat melihat Bora yang sudah kewalahan.


"Miss Alena, jangan cuma berdiri disana! Cepat bantu aku!"


"Iya!" Meski begitu, aku tetap membantunya. Setidaknya perhatiannya teralihkan, jadi ia tak lagi memperhatikanku dengan tatapannya yang aneh. Dalam hati aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Callum.


Saat aku hendak mengambil buku-buku yang berjatuhan, tiba-tiba mataku terpaku oleh buku berjudulkan Blossomary.


Sesuai judulnya, ini pasti memuat tentang segala jenis tanaman yang mampu diciptakan oleh Fae Blossom.


"Besok, pukul kembang malam."


Aku tak sempat menanyakannya apa itu pukul kembang malam. Mungkinkah itu nama jenis tanaman yang hanya tumbuh esok hari? Aku menghitung menggunakan jariku, dan tersadar bahwa besok sudah memasuki fase musim semi.


"Kenapa berhenti, Miss?" Bora menaikkan alisnya kepadaku.


"Tidak apa-apa," aku langsung menggeleng-geleng dan menaruh buku itu di belakang punggungku. "Aku tiba-tiba mengantuk lagi, jadi aku akan pamit."


"Baiklah." Untungnya Bora tak bermacam-macam denganku. Sepertinya pria itu juga tak memiliki banyak tenaga untuk berdebat denganku.


Setelah sudah menjauhi ruang perpustakaan dan yakin Bora tak dapat lagi mendengarku, aku buru-buru membisikkan nama Callum.


"Callum! Kau sudah boleh keluar!" Tapi, aku masih mempertahankan sihir Light yang ada pada tubuh Callum, hanya untuk berjaga-jaga jika ia masih berkeliaran di dekat ruang perpustakaan.


Tidak ada jawaban.


"Callum, jangan main-main dan beri aku tanda!"


Aku bernapas lega saat melihat bunga yang terletak di dalam vas mulai terangkat. Ia sudah memberiku tanda.


"Ayo." Aku akhirnya melepaskan sihirku, dan perlahan-lahan wujud Callum yang sedang tersenyum kembali hadir di depanku.


"Sial," aku menggosok-gosok wajahku.


"Kenapa?" Tanyanya sambil cekikikan.


"Emangnya harus ya, tersenyum seperti itu?"


"Kenapa? Aku terlihat tampan ya?"


Aku melipat tangan dan melotot.


"Apa itu?"


"Bersiaplah untuk besok. Jangan lupa untuk membaca buku itu," ia melirik ke belakang punggungku, ke tempat dimana aku menyembunyikan buku yang tadi.


"Apa maksud-"


Ia sudah menghilang. Aku tak mengerti kenapa ia terburu-buru sekali. Saat aku ingin menggunakan sihirku juga untuk mengikutinya, seseorang sudah memegang lenganku.


"Aaa!!"


Jesca menggeleng-geleng sambil menaruh telunjuknya di bibir.


"Jesca! Aku sudah dibuat jantungan dua kali hari ini!" Aku mengelus-ngelus dadaku, sambil membuang napas lega karena rupanya itu hanyalah Jesca.


Gadis itu segera berkomunikasi kepadaku lewat pikirannya. "Halo Miss."


Aku terkesiap. Aku mendengar sebuah suara yang lembut di pikiranku, tapi Jesca tidak membuka mulutnya dan hanya tersenyum.


"Kau... apa yang baru saja kau lakukan?"


"Berkat Gardian." Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan Gardian lainnya dengan bentuk serupa denganku. Kemudian, ia memakainya di lehernya. "Ingat saat aku memberitahumu bahwa ini juga kalung penghubung?"


Aku mengangguk, mulai memahami perkataannya.


"Aku bisa berkomunikasi denganmu lewat pikiran kita. Hanya kita yang dapat mendengarnya."


"Lalu bagaimana caranya aku menggunakannya?"


"Simpel." Jesca mengajariku caranya. Ia menaruh ujung Gardian di telapak tangannya, kemudian menutupnya dengan jemarinya.


"Hanya seperti itu?"


"Tidak, tentu saja. Kau harus mengaktifkan Gardian dengan sihir Royal. Hanya sihir emas milik Royal."


Aku mulai mengikuti arahannya, dan benar saja. Aku menelan ludah, kemudian mulai berbicara lewat pikiranku juga. "Jesca?"


"Ya?" Balasnya tanpa harus membuka mulut.


"Wah!" Aku tersenyum gembira. "Kalau begini, kau tak harus menggunakan kertas lagi! Apakah kita harus menggunakannya dalam jarak radius tertentu?"


"Sebenarnya iya. Tergantung seberapa kuat sihir Royal Fae yang pertama mencoba berkomunikasi lewat pikiran. Aku rasa kalau Miss yang mencobanya terlebih dahulu, suara Miss akan tersampai kepadaku, bahkan jika itu di belahan dunia lainnya."


"Apa ini karena aku seorang Fae God?"


"Ya."


Tak pernah seumur hidup aku dibuat tercengang hanya karena suatu benda kecil. Benda yang sangat berharga, benda pemberian dari Raja Fae sendiri. Seandainya Callum juga memiliki Gardian, mungkin aku bisa menyelinap dari sini tanpa ketahuan-


Raut wajah Jesca tiba-tiba berubah. Aku lupa bahwa ia bisa mendengar isi pikiranku, karena aku masih mengatup ujung kalung dengan telapak tanganku.


"Jesca... aku-"


"Apakah itu benar?" Bisik suara di pikiranku dengan sendu. "Jadi, semua hal yang sudah kulakukan padamu, itu sia-sia?"


Aku melepas Gardian dari tanganku. Aku tak ingin mendengar balasan dari Jesca yang pastinya berisi tentang rasa kekecewaannya kepadaku.


"Jesca," kataku dengan suaraku. "Tekadku sudah bulat. Aku dan Callum tidak memercayai Bora. Kau harus tahu itu." Aku lalu melangkah pergi, tapi tiba-tiba teringat oleh sesuatu.


"Sebelum aku pergi nantinya, tolong antar Ella dan Flora kembali ke Amalthea Halley, tempat tinggal mereka yang seharusnya." Setelah itu, aku sudah kembali ke dalam kamarku menggunakan sihirku.