Wings & Fate

Wings & Fate
Kidnapped



Aku sedang memakai sebuah gaun yang sangat indah. Gaun berwarna merah muda peach. Rok panjangku berkilauan, memantulkan cahaya dari lampu emas yang tergantung di atas sana.


"Alena?" Seseorang memanggil namaku. Aku memutarkan badan dan tersenyum kepada Callum.


"Hari ini kau sangat cantik," bisiknya di telingaku. Senyumku makin mengembang, dan ia melingkarkan tangannya pada pinggangku.


Untuk sejenak, hanya ada suara alat musik yang memainkan melodi sangat pelan. Tidak ada hadirin yang juga mengikuti pesta. Hanya ada kami. Ya, hanya ada aku dan Sang Pangeran yang sedang berbahagia.



"Cal," bisikku saat kami saling menatap. "Kau telat."


Suara tawanya entah kenapa membuat hatiku perih. Mungkin karena aku jarang mendengarnya beberapa waktu ini, atau aku tanpa sadar telah merindukan suara itu.


"Alena," gumamnya kepadaku. "Maaf. Tadi aku sibuk mempersiapkan diriku agar tampil semaksimal mungkin karena ingin berdansa denganmu."


"Buat apa? Kau tahu aku tidak terlalu memperdulikan penampilanmu."


Ia tersenyum kepadaku, lalu memutarkan tubuhku. Rok gaunku juga ikut berputar, dan seperti bola gasing, aku kembali dalam dekapannya.


Kali ini kaki kami tidak lagi bergerak. Aku sudah terlalu fokus menatap wajah tampannya, sampai tak menyadari mata birunya yang juga sedang menatapku.


"Karena ini yang pertama kalinya aku berdansa denganmu. Dengan Alena, gadis yang kucintai."


Setelah itu, aku mendapat ciuman darinya. Bibirnya lagi-lagi terasa lembut dan manis.


"Cal..." Mendengar suara bisikanku, ia semakin nakal melakukan permainannya. Ia membuka bibirku dengan lidahnya, kemudian memelukku semakin erat.


Belum sempat aku mendengar balasannya, cahaya yang amat menyilaukan tiba-tiba menusuk mataku. Aku segera terbangun ke dunia nyata.


***


Aku membuka mata dan refleks menaikkan tanganku untuk menghalangi sinar terang yang sekarang masih menusuk mataku. Tapi anehnya tanganku tertahan dan tak bisa digerakkan.


Ada apa ini? Dimana aku? Aku berkedip beberapa kali, dan berusaha beradaptasi dengan cahaya sekitar. Akhirnya setelah terfokus aku tersadar bahwa cahaya yang amat menyilaukan ini tak lain adalah cahaya kuning milik Fae Light.


Deg! Siapa yang-


Belum sempat aku melihat siapa yang sengaja membangunkanku, pintu sudah dibuka. Seorang gadis manusia memasuki ruanganku.


Aneh. Tepat saat pintu dibuka, Fae Light misterius itu menghilang bagai ditelan bumi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!


"Kau sudah bangun rupanya," kata gadis itu. Aku mematung, tidak yakin suara siapa yang telah kudengar. Karena ruangan sudah gelap total, aku tak dapat melihat wajahnya sama sekali.


Tunggu dulu. Aku ini Fae, jadi seharusnya bisa melihat dalam kegelapan.


"Siapa kau dan apa maumu?!"


Gadis itu tertawa imut. "Oh, Alena. Masa kau lupa kepadaku?"


Ia menyalakan lenteranya yang semula digenggamnya. Cahaya kembali membutakan mataku, dan akhirnya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Sang Ratu. Ratu untuk kaum peri lebah.


Ia tersenyum manis. Aku masih ingat dia. Wajahnya. Wajah yang kulihat sesaat sebelum ia melarikan diri keluar gua.


"Bagaimana caranya kau menemukanku?!" Hardikku.


"Oh, itu mudah." Ia meniupkan angin dari mulutnya, sengaja memadamkan lilin lentera. Kini aku benar-benar tak bisa melihat apa-apa.


"Kau tak boleh melihatnya, agar tidak trauma lagi," bisiknya di telingaku sebelum ia menjentikkan jarinya.


Makhluk itu sekarang berada di sampingku.


"Tenang saja. Ia tak akan menyerangmu karena aku sudah mendapatkanmu."


"Kau," bisikku. "Kau menggunakan makhluk ini untuk melacak keberadaanku."


"Benar!" Ia kembali melakukan kebiasaannya, yaitu menepuk-nepuk tangannya. "Karena aku tak lagi memiliki kekuatan peri lebah, maka kumanfaatkan saja makhluk ini."


Aku hampir lupa orang ini sangat gila. Seharusnya aku langsung menyadarinya bahwa ini adalah Egleans yang sama yang kutemui di hutan dekat Fae Hall. Ini juga Egleans yang sama yang menyerangku, dan juga yang menemukanku di rumah besarku.


"Apa yang telah kau lakukan selama ini?" Bisikku lagi. "Dan kenapa mengincarku?"


"Apa kau tidak merindukanku? Kau kan, pelayanku yang sesungguhnya." Aku mendengar suara langkah kakinya, dan tahu-tahu gadis itu sudah duduk disampingku, di atas lantai yang keras.


Aku sebetulnya bisa langsung menyerangnya dengan sihirku, kalau bukan karena rantai yang memborgol pergelangan tangan serta kakiku. Kegelapan ini juga menghambat pergerakanku.


Apa gadis ini tahu bahwa aku telah menjadi Fae God? Pikirku tiba-tiba.


"Aku tentu tahu kau ini apa." Gadis ini seperti bisa membaca pikiranku. "Jangan bilang selama ini kau menganggap aku bermalas-malasan? Tentu saja aku tahu apa yang telah terjadi di wilayah Fae selama ini."


Mungkin ia tidak berbohong. Ia bisa saja menggunakan Egleans sebagai mata-mata di wilayah Fae.


"Harus kuakui kepintaranmu, Alena. Kau tak menggunakan sayapmu atau sihirmu agar keberadaanmu tak diketahui. Tapi kau tak berpikir panjang," katanya.


Apa maksud perkataannya? Aku hendak menanyakannya itu, tapi ia sudah keburu membalas.


"Aku sudah menemukan cara baru. Makhluk ini sudah tak membutuhkan lagi sayap Fae." Ia merogoh sakunya, dan membuka telapak tanganku. Aku refleks menghindar, namun gadis manusia ini rupanya masih cukup kuat untuk menahan tanganku.


Aku bisa merasakan berat sebuah botol. Namun aku tak dapat melihatnya dalam kegelapan. "Apa ini... ramuan ajaibmu?"


"Ya!" Jawabnya dengan bangga.


"Apa yang telah kau lakukan?" Mau apa lagi dia dengan ramuan aneh ini?


Seingatku, madu ini dapat merombak total penampilan orang. Madu ini juga dapat membangkitkan orang mati. Itu adalah perkataan Sang Ratu saat kami bertemu di gua. Madu ini juga merupakan kunci penemuannya. Aku ingat semua kata-katanya.


"Jelaskan kepadaku semuanya," aku memaksanya. Anehnya gadis ini menuruti saja perkataanku.


"Apa kau tak pernah sekalipun curiga, siapa yang menciptakan Egleans?"


"Tentu saja aku tahu," balasku tak mau kalah. "Manusia lah yang-"


"Ckck. Aku terlalu tinggi menaruh ekspektasi padamu. Rupanya kau hanya gadis lugu yang bodoh."


Aku menggigit bibir bawahku.


"Yang menciptakan Egleans tentu saja seseorang yang sangat pintar. Seperti aku, contohnya," lanjut Sang Ratu lagi.


Apa?!


"Kau." Aku menggeleng-geleng. "Sebetulnya, kau itu apa?" Aku malah balas bertanya.


Betul juga. Sebetulnya siapa dia? Apa dia sedang menyamar menjadi manusia, atau menyamar menjadi Sang Ratu di wilayah Fae? Yang mana yang benar?


"Aku?" Aku dapat merasakan senyumnya padaku. "Aku adalah buah kegagalan. Aku adalah Ibumu."