Wings & Fate

Wings & Fate
The Power of Love



Sepanjang perjalanan antar dimensi, aku terus berpikir kemana tubuhku akan dibawa.


Aku mengingat penjelasan Chrys. Katanya aku bisa mati kalau aku berhasil menghancurkan sisi gelapku.


Selama empat minggu, aku tahu tubuh fisikku kian melemah. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Rasanya seperti jiwaku terperangkap di alam mimpi. Aku tidak hidup, aku tidak mati.


Setelah kupikirkan berulang kali, aku baru paham maksud Chrys. Ternyata yang dimaksudnya mati adalah Sang Fae God. Aku tak akan lagi memiliki kekuatan Fae God, karena aku sudah membakar semuanya dari dalam diriku.


"Seorang Fae God hanya bisa dikalahkan oleh Fae God lainnya."


Itu adalah ucapan Chrys kepadaku. Ini adalah konsekuensinya. Saat aku menghancurkan setengah diriku, otomatis setengah diriku yang lain juga akan ikut hancur. Ibaratnya fondasi rumah yang ditahan oleh pilar. Saat satu pilar runtuh, otomatis tak ada yang mampu menahan fondasi rumah seperti sedia kala. Lama kelamaan seluruh bagian rumah akan hancur.


Aku bukan lagi seorang Fae God, pikirku. Aku akan kembali lagi menjadi seorang Fae dengan sayap cacat.


Bedanya, kali ini aku bisa terbang. Aku menoleh ke belakang punggungku dan tersenyum saat melihat sayap kecilku yang kini membawaku melayang di udara.


Karena kini Sang Ratu telah tiada, otomatis seluruh kekuatan gelap ciptaannya akan hancur. Termasuk kekuatanku. Karena kekuatan sebesar itu seharusnya tidak dimiliki oleh siapapun.


Aku ingat bagaimana Sang Ratu mengatakan kepadaku, bahwa ia adalah buah kegagalan.


Mungkin, bisa dibilang aku juga buah kegagalan?


Ah, aku menggeleng-geleng. Aku tidak mau menyibukkan diri untuk sekedar memikirkan siapa diriku yang sebenarnya. Aku hanya ingin tahu, kemana sayap ini akan membawa diriku. Apakah aku akan kembali ke dunia nyata, atau malah, ke alam kematian?


Tiba-tiba aku merasakan bobot sebuah cincin pada salah satu jemari tanganku. Aku mengangkat tanganku dan berkedip.



Tak salah lagi. Ini adalah salah satu cincin Gardian, cincin penguat sekaligus benda penghubung. Darimana asalnya cincin Gardian ini?! Batinku terkejut.


"Alena."


Aku mendengar suara Callum dalam pikiranku. Saking terkejutnya, sayapku menjadi kaku dan aku jatuh tersungkur ke tanah.


"Alena, sebenarnya setelah memutuskan hubunganku dengan Lucia, aku ingin meminangmu. Tapi aku masih takut. Aku takut kau tidak akan menerimaku, karena sebetulnya, aku bukan seorang Pangeran."


Apakah Callum sedang berbicara padaku lewat cincin ini? Tapi bagaimana caranya? Jelas-jelas aku sedang tak sadarkan diri.


Callum kembali berbicara. Semakin aku mendengar isi hatinya, semakin sakit lah perasaan hatiku. Ia terus berbicara kepadaku, sesekali terisak. Itu membuatku semakin gelisah. Akhirnya terpaksa aku berdiam diri dan mendengarnya untuk sejenak.


Callum sedang berbicara kepadaku, pikirku tak percaya. Sepertinya ia tak dapat mendengar isi pikiranku. Tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas.


Dapat mendengar suaranya lagi membuat perasaanku tenang. Suaranya begitu lembut dan melodis. Rasanya aku bisa jatuh tertidur kapan saja.


"Meski aku bukan seorang pangeran seperti bayanganmu, bersediakah kau menjadi pendamping hidupku?"


Aku tersenyum, kemudian tanpa sadar mengiyakannya dalam hati. Tentu saja aku mau. Aku juga akan mencintaimu sampai selama-lamanya, meski aku tak dapat lagi bertemu denganmu.


Tepat di saat itu, tubuhku menjadi hangat, seolah-olah ada yang memelukku. Aku memejamkan mata, dan suara Callum menjadi penuntun jalanku.


Akhirnya aku membuka mata setelah empat minggu lamanya terjebak di alam mimpi.


"A-Alena?" Callum terbelalak saat melihatku terbangun. Matanya bengkak, dan tanganku masih digenggamnya dengan erat. Ia langsung memelukku dan membisikkan namaku berulang kali.


"Halo, Cal," balasku kepadanya sambil tersenyum.


Pintu didobrak, kemudian, masuklah beberapa orang yang kukenal. Semua teman-teman seperjuanganku, kemudian ada Lexy, adik kembarku. Tapi ia terlihat berbeda. Rambutnya kini telah berubah warna menjadi seputih salju, warna yang sama persis kutemui setiap kali tubuhnya berubah bentuk.


"Ba-Bagaimana caranya ia terbangun?" Semua orang tampak mempertanyakan hal yang sama. Termasuk diriku, sebenarnya.


"Tidak tahu," ucapku saat aku sudah bangkit duduk. "Namun yang kutahu pasti, suara Callum lah yang menuntunku kembali."


"Alena..." Callum menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum, kemudian melirik tangan kami yang terpaut. Cincin Gardian itu kini menyala-nyala.


"Mungkinkah... masih ada kekuatan yang tersisa di dalam cincin tersebut?" Tanya Lexy. "Selain sihir Royal dan darah, kira-kira apa yang dibutuhkan untuk mengaktifkan kekuatan cincin ini?"


Semua tampak berpikir, kecuali aku. Karena aku tahu jawabannya. Aku tahu saat aku mendengar suara Callum, saat ia meminangku menjadi istrinya.


"Cinta," jawabku tanpa ragu. "Seberapa kuat dirimu, seberapa hebatnya bakat dan sihirmu, tidak akan lengkap tanpa adanya cinta dan kasih sayang dalam hatimu. Inilah sebabnya masih ada sisa kekuatan di dalam cincin tersebut, bahkan setelah cincin ini dihancurkan dan kekuatannya diserap oleh energi jahat itu."


Aku menatap Callum. Callum, pria yang kini telah menjadi pasanganku. Pria yang tak diragukan lagi kekuatan cintanya padaku.


Aku tersenyum. "Sang Ratu tidak memahami cinta. Inilah sebabnya aku masih bisa dibangkitkan oleh benda Gardian ini."


***


Beberapa Bulan Kemudian...


Musim gugur telah tiba, menggantikan musim panas yang terjadi pada pertengahan tahun. Aku menoleh ke arah jendela dan mendapati kelopak bunga yang mulai berguguran.


"Selesai," kata Lilies. Aku menoleh ke depan dan menganga saat melihat pantulanku di kaca. Wanita itu telah menaruh mahkota indah di atas kepalaku, dan ia lagi-lagi menggerai rambut pirangku yang panjangnya sudah melebihi dadaku.


"Wow," ucapku sambil memutarkan kepalaku, hendak melihat lebih jelas seluruh manik-manik perhiasan yang telah disematkan di sela-sela rambutku. "Aku tak pernah menyangka hasilnya akan sebagus ini."


Lilies berkacak pinggang. "Kau mengejekku?!"


Sontak itu membuatku tertawa. "Tidak, tidak! Aku hanya..." Aku mulai tersenyum nakal. "Pasti ini berkat wajahku yang semakin hari semakin cantik."


Perkataanku itu membuat Lilies mendengus. "Semakin hari kau jadi semakin gila. Aku gak menyangka Callum akan menularkan penyakit sombongnya padamu juga."


"Aku juga tak menyangka," balasku, masih tak bisa menahan senyum pada wajahku. "Terima kasih, Lilies. Tak salah aku memilihmu sebagai pelayan pribadiku."


"Sama-sama," katanya sambil menyilangkan tangannya. Namun yang membuatku terkejut adalah dirinya yang tiba-tiba tersenyum. "Sudah sana, cepat. Semua orang menunggumu."


"Ya ya." Aku menaikkan gaun putihku, kemudian berjalan dengan cepat meskipun aku mengenakan sepatu hak.


Aku disambut oleh dua sosok malaikat begitu membuka pintu ruangan. Ella, yang terakhir kali kutemui beberapa bulan yang lalu, sesaat sebelum aku mengikuti upacara penobatanku sebagai Fae God. Kemudian perempuan Blossom yang selalu setia mendampinginya. Flora.


"Alena!" Pekiknya kegirangan. Ia langsung memelukku. Sontak itu membuat para penjaga yang berjaga di sekitar kamarku bersiap siaga. Mereka sudah menyentuh gagang pedang mereka.


Aku melambaikan tangan, mengisyaratkan untuk tetap berdiri di tempat.


"Ella," kataku sambil membelai rambutnya. "Bagaimana kabarmu?"


"Senang. Sedih. Tidak tahu," jawabnya sambil memamerkan giginya. Gadis itu kini telah bertambah tinggi. Kini kepalanya sudah hampir mencapai tinggi dadaku.


"Kalau aku sedih," balasku, berusaha untuk mencairkan suasana. "Sudah lama aku tidak melihatmu, tahu-tahu kau sudah bertumbuh dewasa."


"Haha." Ella bahkan tertawa sambil menutup mulutnya. Ugh. Sepertinya ia memang dicalonkan menjadi seorang putri. Sejak kapan ia mampu memimik gaya elegan macam gadis Royal?


Aku lalu mengalihkan pandanganku ke Flora. Wanita itu juga telah berubah. Rambutnya yang semula ikal menjadi lebih lurus, karena telah mendapat perlakuan khusus dengan baik.


"Bagaimana kondisinya di Amalthea Halley?" Tanyaku. Sekarang kami telah menyusuri lorong istana yang berliku-liku.


Flora membalas. "Baik. Semua orang bekerjasama untuk membangun kembali bangunan yang semula runtuh. Kini, semuanya telah benar-benar pulih. Bahkan, terdapat patung dirimu sebagai simbol desa tersebut."


Aku menghentikan langkahku. "Apa? Tapi... kalian tahu kan, bahwa aku bukan lagi seorang Fae God?" Bisikku.


Ella berkedip, lalu mengangguk. "Ya, Miss. Tapi mereka merasa telah berhutang budi padamu. Itulah sebabnya mereka tetap menghormatimu."


Aku mengangguk, walau dalam hati mulai memperdebatkan kira-kira seperti apa bentuk rupa patung diriku itu.


"Kapan-kapan kalian harus membawaku kesana," sahutku sambil melambaikan tangan ke arah mereka.


"Tentu saja!" Kata Ella setuju. Kemudian, mereka sudah pergi. Saat aku hendak melangkah lagi, aku melihat seseorang yang kukenal. Gadis bersayap biru itu sibuk memperhatikan lukisan yang terpajang di lorong tanpa berkedip.


"Wow, lihat lukisan ini," gumamnya sambil mengaguminya seorang diri.


"Ada apa, Lotus?" Aku pun dibuat terkejut karena lukisan ini tak lain adalah potret diriku.



"Kau benar-benar terlihat seperti seorang Ratu," gumamnya, masih tak menoleh ke arahku. "Aku iri."


"Lotus." Aku mendesah. "Bagaimana kabarmu?"


"Huh? Ya, begitu-begitu saja." Akhirnya ia melepas pandangannya dari lukisan itu dan menghadapku.


"Gaunmu... apakah upacaranya diselenggarakan hari ini?" Tanyanya dengan hati-hati.


Aku tahu maksud ucapannya. "Ya. Apakah kau akan hadir disana juga?"


"Tidak." Ia mengangkat sedikit dagunya. "Aku juga sibuk, sama seperti dirimu. Banyak kerjaan yang harus kuurus di Faedemy."


Faedemy. Aku hampir melupakan bangunan sekolah itu. Kapan aku bisa meluangkan waktu dan mengunjungi bangunan itu yang kini telah dibuka kembali?


"Apa kau menjadi salah satu pelatihnya?" Tanyaku dengan nada bercanda. Namun jawabannya membuatku terkejut. "Bukan hanya pelatih, tapi juga Kepala Sekolah. Mantan Kepala Sekolah sendiri yang memilihku. Katanya ia bangga melihat kemampuanku sewaktu bertarung dengan Egleans tempo hari."


"Baguslah." Aku menepuk tanganku. "Aku turut bangga."


Lotus memutar bola matanya. "Aku harus pergi. Tak punya banyak waktu untuk mengobrol denganmu." Setelah itu ia pergi meninggalkanku begitu saja.


Huh. Aku menggeleng-geleng melihat sikapnya padaku. Aku tahu ia gadis yang sempat melamar Callum. Namun aku tidak lagi menaruh dendam terhadapnya. Ia pantas mendapat gelar sebagai pemimpin di Faedemy. Sekolah itu memang tempat favoritnya. Aku harap ia bisa mendidik murid-murid dengan baik dan benar.