
Bora membisikkan sesuatu langsung di telinganya. "Beberapa bulan yang lalu tanpa sengaja aku bertemu dengan sepasang manusia. Saat melihatku, mereka berpikir aku ini semacam dewa atau roh yang bisa mengabulkan permintaan mereka."
Tentu saja Jelita tahu manusia yang dibicarakan tak lain adalah orangtuanya sendiri.
"Karena kepercayaan merekalah, aku mendapat ide yang sangat brilian. Maka aku melakukan penelitian."
"Penelitian apa?" Tanya Jelita mulai tak sabaran.
Bora tersenyum puas. "Bayangkan. Jika kekuatan Peri Lebah dan Fae digabungkan. Apa yang bisa kita peroleh dari itu?"
Malam itu Jelita tak bisa tidur. Kini, berbalut gaun sutra milik Sang Ratu, ia berbaring di atas ranjang mewah yang bukan miliknya.
Sambil menatap langit-langit dinding, perkataan Bora terus terngiang-ngiang di pikirannya.
Setahuku kekuatan peri lebah adalah tongkat yang dimilikinya dan Elixir perombak penampilan. Namun kekuatan apa yang dimiliki oleh Fae?
"Tidak bisa begini," gumam Jelita pada dirinya sendiri. "Aku harus segera pergi ke wilayah Fae. Aku tak akan mendapat keuntungan jika terus berada disini."
Maka keesokan harinya, ia mengumumkan kepada semua orang bahwa ia telah menjadi pasangan seorang Fae. Tentu saja Sang Raja marah besar.
"Ratuku! Aku bisa memberikanmu semua yang kau inginkan! Kenapa malah minggat dari Alther Suliris dan hidup diantara kaum Fae?!"
"Huh." Jelita menyilangkan tangan, tidak memperdulikan tatapan semua orang. "Aku memberikanmu semua pilihan. Barangsiapa yang ikut aku ke wilayah baru, kujamin akan mendapat kekuatan besar yang tak pernah dimiliki oleh orang lain sebelumnya."
Sesuai dugaannya. Karena ia adalah Jelita, gadis cantik yang populer, tentu banyak yang akan menjadi pengikutnya. Maka pada hari itu secara resmi, kaum peri lebah terbagi menjadi dua kubu.
Karena kekesalan, Sang Raja sampai menyiksa semua gadis pelayan di istananya. Ia melecehkannya, karena frustrasi sudah kehilangan Ratunya serta anak angkatnya yang cantik jelita. Ia membuat semua gadis bermimpi buruk dan trauma, sampai pada akhirnya tidak ada lagi perempuan yang tersisa di istananya.
Kembali ke Alther Suavis, wilayah baru yang kini telah dibangun sendiri oleh Jelita dengan bantuan Bora. Berminggu-minggu ia menyelidiki kekuatan Fae, sampai akhirnya memahami betul seluk beluk sihir dan cahaya masing-masing golongan.
"Mungkinkah, kita harus menyatukan seluruh sihir Fae?" Tanya Jelita kepada Bora suatu hari. Pria yang sedang tidur bersamanya itu tersenyum mendengarnya.
"Ratuku. Kau memang berambisi besar dan cerdas. Aku juga tahu ada tiga benda penguat. Kita bisa menguji seluruh dugaan kita besok."
"Ya," balas Jelita sebelum tubuhnya dimainkan oleh Bora seperti biasanya.
Keesokan harinya dan seterusnya, ia bersama Bora melakukan percobaannya. Setiap tahun, Bora selalu membantunya untuk mencarikan pelayan seorang Fae agar Jelita bisa menjalankan misinya.
Yaitu mencuri serbuk sayap mereka dan menggabungkannya menjadi satu.
"Kau yakin ini berhasil?" Tanya Bora suatu hari. "Sepertinya kita butuh sesuatu untuk mencampurkannya. Bagaimana kalau kita coba menggabungkan seluruh serbuk yang berwarna-warni ini dengan Elixir-mu?"
Jelita setuju. Ini bukan ide yang buruk. Maka pada malam itu, di kamarnya seorang diri, ia menguji ramuam itu. Elixir perombak penampilan yang masih ia simpan sampai sekarang.
"Kyaa!!" Teriak seseorang dari belakangnya. Jelita menoleh dan mendapati pelayannya yang bernama Mella itu.
"Ma-Manusia-"
"Apa yang sedang kau lakukan di kamar pribadiku?!" Jelita hendak menyerangnya dengan tongkatnya, namun Mella langsung mengangkat tangannya.
"Kumohon. Jangan bu-bunuh aku. Aku akan melakukan apapun yang ka-kau suruh."
"Bagaimana caranya aku bisa memercayaimu?! Kau hanya seorang pelayan rendahan. Jangan anggap aku mengampunimu karena aku terus-terusan memuji kecantikanmu."
Wajah Mella kini pucat pasi. Wanita malang itu sudah bermandikan keringat. "Ba-bagaimana kalau aku membantumu mencarikan pelayan Fae untukmu setiap tahunnya?"
"Jadi kau menguping pembicaraanku dengan Bora. Kau tahu seluruh rencana kami."
"Ti-Tidak! Aku hanya mengamatinya tanpa sengaja," suara Mella makin mengecil. Tubuhnya sudah bergemetar.
Wanita itu malah terlihat lebih senang dari biasanya. Heran, padahal menjadi pelayanku tentu lebih banyak keuntungan, pikir Jelita.
Yah. Ia sengaja mengusirnya agar ia tidak lagi membongkar rencananya bersama Bora. Mungkin ia akan membunuhnya jika bertemu dengannya lagi.
"Kau sangat beruntung karena aku tidak membunuhmu," kata Jelita sebelum Mella menghilang dan pergi dari istananya. "Namun tentu saja. Kalau kau menyebar rahasiaku, aku tak akan segan melakukannya."
Malam itu ia langsung melupakan Mella, karena ternyata triknya berhasil. Saat ia menggabungkan sepuluh macam serbuk menjadi satu, ia menambahkan Elixir dan mengaduknya.
Sebuah cairan berwarna kuning, mirip seperti madu, langsung terbentuk. Ia langsung menamakannya Madu Susu, sebagai tanda pengingat tubuh lamanya yang memiliki kulit seputih susu.
Kekuatannya tak main-main. Selain memiliki seluruh kekuatan Fae, Madu ini juga memiliki kekuatan dari peri lebah.
"Tapi pemakaiannya terbatas," kata Jelita kecewa. "Masa aku harus mengaduknya terus menerus? Ini bahkan tak cukup untukku jika para pelayanku terus bekerja membuatnya."
Karena rasa ambisinya itulah, ia kembali meneliti lagi. Kali ini, ia tak menceritakannya kepada Bora. Karena ia tahu pria Fae itu tak akan setuju dengan rencananya.
Karena ia telah membunuh pelayan Faenya secara diam-diam, dan mengambil sayapnya. Tujuannya agar ramuannya bisa lebih maksimal.
"Sial!" Jelita melempar botol kaca ke lantai. "Padahal aku hampir berhasil!"
Ia frustrasi karena belum bisa menemukan cara membangkitkan orang mati. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Manusia," bisiknya tiba-tiba. "Aku sudah menggunakan kekuatan peri lebah dan Fae. Bagaimana dengan kaum manusia?"
Hari itu tanpa membuang-buang waktu, ia kembali ke rumah orangtuanya, tentu dengan wujud aslinya sebagai seorang manusia.
Betapa terkejutnya dirinya saat mendapati kedua orangtuanya yang sudah berubah menjadi sangat tua. Ibunya tidak lagi memiliki wajah cantik, sedangkan Ayahnya kini sudah jatuh miskin.
"Haha..." Jelita menertawakan nasib mereka. Ia tahu seperti apa sifat Bora. Ia tentu tak akan menepati janjinya kepada orangtuanya untuk memberikan kekayaan selamanya. Pantas saja mereka jatuh miskin.
Tapi kenapa? Kenapa aku tidak berubah menjadi tua seperti mereka?
Jelita dibutakan oleh hasrat dan ambisinya sendiri. Karena kecanduannya terhadap Elixir dan selalu ingin mempertahankan kecantikannya, wajahnya tak menua sedikitpun.
"Kau bukan Jelita! Kau bukan anakku!" Teriak Ibunya saat melihatnya. "Kau monster! Kau telah merenggut nyawa anakku dan mengambil tubuhnya!"
"Aarrghh!!" Gadis manusia itu marah besar. Namun ia tetap menjalankan rencananya, yaitu memberikan mereka Madu Susu.
"Ugh!" Ayah dan Ibunya kini sudah seperti mayat hidup. Mulut mereka berbusa, dan mereka langsung pingsan. Tak lama, mereka mulai berubah menjadi sesuatu yang amat mengerikan.
"Mo-Monster," bisik Jelita. Apa yang telah kuperbuat?!
Seharusnya ia memahami, bahwa kekuatan sebesar itu tidak akan pernah bekerja dalam tubuh lemah manusia. Mereka menjadi gila, dan sayap besar mulai tumbuh. Kuku mereka juga menjadi tajam dan berlendir.
Monster. Jelita kini tahu, arti dari kata itu. Ia adalah monster yang sesungguhnya, yang telah membunuh puluhan Fae, dan kini menginfeksi seisi desa karena kedua orangtuanya telah menggigit semua orang dan meracuni mereka.
Untungnya kaum Fae telah bersiap siaga. Mereka langsung membasmi makhluk yang mereka namai sebagai Egleans ini sehingga penyakitnya tak menyebar.
Jelita tersenyum licik. Ia tahu tak akan ada yang bisa menghentikannya, karena ia masih memiliki banyak Madu Susu. Ia bisa mengubah manusia menjadi Egleans kapan saja. Caranya simpel, yaitu dengan menggunakan sayap Fae.
"Kalian makhluk Immortal tak bermoral," umpatnya pada kaum Fae. "Kini aku tahu kenapa kaumku membenci kalian. Karena kalian memiliki jiwa abadi yang seharusnya tak kalian miliki. Kini lihat saja. Egleans akan terus bermunculan karena keberadaan kalian para Fae."