Wings & Fate

Wings & Fate
Jesca



Sesuai judul epsnya, ini adalah bab peralihan, jadi ditunda dulu ya adegan Alena dan Callum. Disini author bakal fokus ke karakter terbaru kita, yang nanti akan memiliki peran penting. Jangan marah ya kalau isinya sedikit...hehe 😁 Nanti eps selanjutnya bakal up secepetnya kok...


.


.


.


Fae Royals. Golongan bangsawan. Fae berpangkat tinggi, dan dihormati oleh berbagai kalangan. Fae Royals memiliki sayap emas, sayap yang jarang ditemui kecuali di wilayah pusat, lebih tepatnya Kerajaan Bougenville.


Jesca terlahir di sana, di wilayah pusat kerajaan. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya sejak ia mengunjungi wilayah itu, namun ia masih mengingat dengan jelas tembok raksasa yang memisahkan wilayah Bougenville dengan dunia luar. Bagaimana menara tinggi dijadikan tempat tinggal bagi Fae berpangkat tinggi. Sebagian besar Ketua Golongan memiliki rumah disana.


Dan tentunya, Fae Royals seperti dirinya.


Orangtua Jesca bukanlah Fae Royals. Ibunya adalah Fae Ventus, sedangkan Ayahnya adalah seorang Fae Fire. Berdasarkan penjelasan kedua Fae yang merawatnya, Jesca ditemukan sendirian di hutan belantara, tanpa makanan ataupun pelindung.


Kejadian itu terjadi saat Jesca masih balita, bahkan saat sayapnya belum berfungsi dengan baik. Siapapun orangtua Jesca, ia tahu mereka pasti membuangnya karena kekurangan pada dirinya.


Ia bisu dan tak bisa berbicara. Bahkan kadang ia harus menyembunyikan sayap emasnya karena terlalu malu. Seorang Fae Royal yang bisu? Jesca harus menanggung rasa malu ini selama sisa hidupnya.


Sekarang, ia harus menjalani kehidupan barunya di luar wilayah Bougenville, lebih tepatnya di gedung prasejarah yang bernama Fae Hall. Tempat yang terkenal dengan perpustakaan besarnya dan juga tempat berkumpulnya para Fae yang dihormati. Semua upacara penting diselenggarakan disini, termasuk upacara penobatan putra-putri kerajaan dan juga Raja Ratu Fae.


Jesca harus bertanggung jawab atas keamanan tempat ini.


Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya mengemban tugas ini. Yang ia ingat adalah bagaimana ia menyambut wajah Ketua Fire didepan rumahnya suatu pagi, mengatakan bahwa ia terpilih menjadi pengurus Fae Hall dan akan dibayar dengan Chrysos.


Kedua orangtuanya sangat bangga terhadap dirinya. Mereka tidak peduli akan nasib Jesca saat ia sudah melepas kehidupannya disini, dan harus menjalankan kehidupan baru yang tak menentu nantinya.


Sehari-hari ia harus bekerja giat. Pekerjaannya bukan sebagai pembersih. Lagipula, ia adalah seorang Fae Royal, jadi tugasnya tentu berbeda dan pastinya mulia.


Ia bertanggung jawab atas penyucian Fae, semacam upacara pembaptisan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dewa Pengampun.


Setelah itu, disusul oleh pengepasan jubah. Kegiatan ini bertujuan agar Fae yang dinobatkan bisa merasakan kehidupan yang lebih sederhana. Mereka hanya akan makan sekali, kemudian bersemedi di ruang meditasi. Pikiran batin mereka harus terarah ke jalan yang benar. Semua ini sangat diperlukan. Ketika Fae menjadi pemimpin, mereka harus mempunyai iman dan mental yang kuat.


Hari ini adalah hari yang spesial, karena tak biasanya pria berkumis itu tergesa-gesa. Saat Jesca melihat Bora memasuki aula utama, pandangannya langsung terarahkan ke gadis cantik itu.


Seumur hidup Jesca tak pernah melihat seorang Fae God. Sayapnya berwarna pelangi, dan itu tidak sesuai ekspektasinya. Ia selalu berpikir sayapnya akan terlihat aneh, karena saking banyaknya warna yang tercampur sehingga menjadi pelangi.


Ia tak bisa menahan dirinya sendiri, apalagi saat mereka hanya berduaan di dalam kamar Alena. Ia terus memandangi sayap itu. Ingin rasanya ia menyentuhnya, ingin merasakan betapa lembutnya sayapnya itu. Namun sayap Fae tak bisa disentuh sembarangan. Itu bagian fisik yang bersifat privasi. Hanya orang-orang terdekat saja yang diperbolehkan untuk melakukan itu.


"Jadi, namamu Jesca?"


Betapa terkejutnya ia saat seorang Fae God menyebut namanya. Fae yang dikatakan merupakan hadiah dari Sang Dewa, sekaligus juru selamat yang akan membebaskan kaum Fae dari serangan Ratu peri lebah.


Iya, ucapnya, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.


"Jadi, kira-kira bagaimana proses upacaranya?" Gadis ini sampai menanyakan hal umum yang seharusnya sudah diketahui oleh semua orang.


Apa ia belum pernah menjadi murid di Faedemy? Kenapa hal umum seperti itu saja ia masih bertanya kepadaku?


Alena ternyata memerhatikannya sedari tadi. Jesca buru-buru membungkuk, padahal ia tahu tidak perlu melakukan hal formal seperti itu. Fae yang akan dibaptis akan setara derajatnya dengan Fae yang akan membaptisnya.


Mungkin Jesca tidak melihatnya sebagai seorang Fae, melainkan Ratu. Calon pemimpin. Gadis ini memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi pemimpin kerajaan, apalagi sekarang sudah ada upacara penobatannya.


Ia diam-diam memerhatikan Alena, bahkan saat dua teman Faenya berhamburan masuk ke kamarnya, dan saling berbagi pelukan. Gadis ini baik hati. Ia penyayang dan pemaaf. Jesca sudah menyukainya.


Tapi menyukainya bukan berarti mengiyakan permintaannya. Gadis ini gila, batinnya. Ia rela menjalani tugasnya sebagai mata-mata saat keadaan bahaya sedang berada di puncak-puncaknya.


Tidak boleh, ucapnya dalam hati. Ia kemudian tersadar dan buru-buru menuliskannya di kertas. Ini caranya berkomunikasi dengan sesama. Lewat tulisan.


"Tidak boleh?" Alis Alena berkerut. "Apa pendapat para Ketua jika melihatmu menentangku, Jesca?"


Ruangan menjadi hening. Fae God ini menunjukkan sisinya sebagai seorang pemimpin. Meskipun suaranya halus dan tidak kasar, Jesca sudah bisa merasakan bulu-bulu di tangannya yang naik.


Ia juga heran pada dirinya sendiri, kenapa ia sampai melarang gadis ini, padahal ia memiliki hak untuk melakukan tugas itu kapan saja.


"Secara tertulis, aku bebas menjalani tugasku sebagai mata-mata sesudah Fae Ripper menemukan sarang Egleans. Mereka sudah menemukannya lebih dari sebulan yang lalu. Jadi tinggal menungguku untuk beraksi, kan?"


"Iya, Miss. Kau benar." Jesca kembali menuliskannya di atas kertas. "Berhati-hatilah."


"Aku akan berhati-hati," kata Alena sebelum ia bersiap-siap. "Aku bisa teleport seperti kalian. Aku tidak akan terlihat."