
Chrys menatapku dengan heran. "Callum? Apa temanmu juga ditahan oleh wanita itu?"
Aku mengangguk. "Aku tidak tahu. Tapi masih ada kemungkinan. Lebih baik aku tidak pergi dulu." Aku hendak melangkah sendirian, namun tiba-tiba sakitku kambuh. Aku terkesiap dan jatuh berlutut.
"Alena!" Clara dan Chrys mulai panik. Namun aku tak mendengar semua ucapan mereka. Telingaku kembali berdengung, dan aku berteriak karena kesakitan.
Aku melirik sedikit ke bawah dan baru tersadar atas kondisi tubuhku yang sekarang. Karena Sang Ratu belum sempat membangkitkanku dan menutup luka di tubuhku sepenuhnya dengan ramuannya, akibatnya menjadi seperti ini. Luka sayatan dan bekas koyakan pada kedua kakiku, serta tanganku yang sudah kaku karena terlalu lama dirantai. Darah menyembur keluar dari mulutku saat aku terbatuk, mengotori lantai dan kedua tanganku.
"Tidak bisa begini." Clara bergeleng panik. Wajahnya sudah memucat dan ia berkomat-kamit. "Maaf, Alena, tapi keselamatanmu harus lebih diprioritaskan sekarang. Kau adalah penyelamat kami, sekaligus penentu masa depan nasib kaum Fae. Kau tak boleh-"
"Ca-Callum..." Bisikku susah payah. "Ti...dak. Aku tak a...kan-"
Chrys malah kembali memapahku, dengan satu tangannya lagi yang memegang bahuku untuk menyeimbangkan tubuhku. Ia kembali mengeluarkan cahaya Light, yang menghangatkan sedikit tubuhku yang sedang menggigil parah.
"Aku mengerti," bisiknya, berusaha untuk menenangkanku. "Kau tidak akan pergi dari sini tanpa temanmu." Chrys lalu menatap istrinya yang masih syok melihat kondisiku. "Clara, sembuhkan dia dulu. Aku akan mencari temannya."
Wanita itu langsung menggeleng karena tidak setuju. Tubuhnya bergemetar. "Tapi Chrys, dia bukan tandinganmu..."
"Clara." Pria itu meraup dengan lembut wajah istrinya. Ia lalu tersenyum, yang membuat wajah tampannya bersinar. "Apa yang akan kau lakukan seandainya kau berada di posisinya? Kalau misalnya aku yang ditahan sementara kau memiliki kesempatan untuk kabur?"
"Tentu saja aku akan menyelamatkanmu, apapun yang terjadi!" Jawab istrinya tanpa ragu sedikitpun. Itu membuat Chrys tertawa kecil. Ia lalu mengecup singkat dahinya. "Itu juga apa yang akan kulakukan. Teganya kau melarangnya menyelamatkan orang yang ia cintai?"
Aku merasakan diriku yang sedang tersenyum. Aku bisa lihat bahwa mereka orang yang baik. Pria itu pasti sangat mencintai istrinya.
Clara mengangguk, lalu menyentuh pipi suaminya. "Berhati-hatilah." Setelah itu, pria itu menghilang dengan sihirnya.
"Alena." Wanita itu menghapus air matanya dan kembali memapahku. "Tak apa-apa. Aku tahu Chrys akan berhasil membawa kembali temanmu."
"Terima kasih." Kali ini, tak ada keraguan sedikitpun dalam hatiku mengenai mereka.
***
Callum terbangun di sebuah ruangan yang asing baginya. Ia sedang berbaring di atas lantai, dan entah kenapa tubuhnya terasa begitu lemah.
Apa yang terjadi? Sambil berusaha mengingat-ngingat, ia mencoba untuk bangkit, tapi kedua tangannya tak bisa digerakkan.
"Halo, pangeran." Terdengar sebuah suara. Callum menoleh dan melihat seorang gadis kecil yang sedang berbicara dengannya. "Apa kau masih mengingatku?"
"Kau...Sang Ratu yang menghilang," sengal Callum tanpa berkedip.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Callum dengan nada datar. Ia mencoba untuk sedikit rileks agar bisa berpikir jernih. Ia ingat sedang mencari Alena di sebuah tempat terbuka, ketika tiba-tiba ada yang menerkamnya dari belakang.
"Tenang saja, pangeran." Ratu itu tersenyum dan menyentuh pipinya. Terlihat jelas sekali bahwa ia terpana atas ketampanannya. "Karena aku menyukaimu, aku tak akan menyakitimu."
Callum masih mengatup mulutnya, menatapnya tajam. Dalam hati ia sudah berpikir apa yang bisa dilakukannya untuk meloloskan diri.
"Heum," Ratu kembali tersenyum. "Sudah berapa hari kau tidak makan apapun? Meski ada noda lumpur dan luka-luka kecil pada wajah serta tubuhmu, kau masih terlihat tampan seperti biasanya."
"Jangan basa-basi. Langsung ke intinya saja."
"Sayang sekali." Ratu itu mulai kecewa. "Kenapa kau rela mengorbankan banyak hal demi Alena? Padahal kau bisa hidup bahagia di istana bersama seorang putri."
Amarah Callum mulai memuncak ketika wanita itu menyebutkan nama Alena.
"Tenang saja. Karena usahamu terbalaskan. Kau dapat menemui gadis yang sangat kau cintai itu sekarang." Sang Ratu segera menjentikkan jari, dan tak lama terdengar suara sepatu hak yang menggema.
Awalnya Callum tak ingin memercayainya, namun perkataan wanita itu benar. Orang itu kini berdiri tepat di hadapannya, menatapnya tanpa ekspresi. Alena sedang memakai dress mini berwarna putih yang lumayan ketat. Belahan dadanya sampai terekspos, dan itu membuat Callum menjatuhkan rahangnya.
"Alena..." Bisiknya. Jantungnya langsung berdegup kencang begitu melihat gadis itu. Akhirnya. Akhirnya ia menemukannya. Tapi kenapa rasanya ada yang aneh-
"Aaa!!" Belum sempat Callum berkedip, Ratu itu sudah menikam perutnya dengan sebuah pisau tajam. Itu membuat gadis itu terkesiap, dan akhirnya terjatuh ke lantai.
"Tidak!" Callum berkali-kali memanggil namanya, sambil berusaha untuk melepas diri dari belenggu rantai. "Jangan lakukan itu! Kumohon!"
Genangan darah mulai terbentuk. Mata gadis itu masih terbelalak, dan mulutnya terbuka lebar.
"Aku akan menyembuhkannya kalau kau menurutiku, Callum," kata Sang Ratu.
"Katakan apa itu! Aku akan melakukan apa yang kau mau!" Jawabnya tanpa ragu.
Ratu itu tertawa puas. "Aku tahu ini akan berhasil," ia tampak menggumamkan sesuatu.
"Beri aku semua benda Gardian, dan kau bisa pulang bersama Alena," lanjutnya lagi sambil menyeringai.