
Callum pernah melihatnya sekali, saat ia datang ke Fae Hall untuk mencari Alena. Gadis Royal ini bernama Jesca, seingatnya. Ia adalah pemimpin para Fae Royal penjaga di Fae Hall, sekaligus orang yang dipercayai Bora untuk mengurus upacara Sang Fae God.
Jesca tergeletak begitu saja di tanah. Genangan darah miliknya sampai bercampur dengan lumpur. Callum tak dapat melihat sumber lukanya sampai gadis itu membalik badan, memperlihatkan punggungnya yang terluka secara mengerikan.
Sayapnya! Callum bergidik ngeri melihatnya. Apa sebelumnya ia diserang oleh Egleans?!
"Permisi, Miss." Callum berlutut di samping tubuh gadis itu dan menggerakkan bahunya. Gadis itu membuka sedikit mulutnya yang sudah kering, namun hanya suara lirihan yang terdengar.
Bagaimana ini? Aku tak bisa menyembuhkannya. Callum lalu menaruh jarinya pada lubang hidungnya, mengecek pernapasannya.
Ia masih bernapas, pikirnya lega. Namun sangat lemah.
Akhirnya Callum membopong tubuh gadis itu sekuat tenaga. Karena ia masih sangat lemah, aksi ini jadi jauh lebih sulit dibanding biasanya.
Tak pernah aku kesulitan setiap kali membopong tubuh seorang gadis, pikirnya.
Ketika akhirnya ia sudah menyandarkan gadis itu pada sebuah batang pohon, lagi-lagi Jesca membuka sedikit mulutnya. "Hhh."
"Miss. Aku akan mencari bantuan. Tunggu sebentar lagi." Callum hendak berdiri lalu mencari pertolongan di Fae Hall, tempat terdekat dari lokasinya saat ini. Tapi gadis itu buru-buru menahan ujung kaos bajunya dengan amat lemah.
"Ada apa?"
Jesca hanya membuka mulut, tanpa mengeluarkan suara.
"Apa kau tak bisa berbicara?"
Ia tersenyum kecil. Matanya lalu mendarat ke belati yang masih tersimpan di saku baju Callum.
Walau tingkah laku gadis itu aneh, Callum tetap bisa mengertinya. Entah kenapa setiap kali ia memandangi rambut hitam dan mata biru itu, ia merasakan suatu perasaan rindu yang amat mendalam. Rasanya seperti gadis ini telah lama hilang, dan kini telah kembali di hadapannya.
Dengan perlahan Callum mengeluarkan belati miliknya yang masih ada bercak darah lama Alena. "Ini belati Gardian. Kau tentu mengenalinya karena sudah mempelajarinya di Fae Hall."
Jesca mengangguk sedikit, kemudian menggeleng-geleng.
"Maksudmu, kau tidak terlalu memahaminya?"
Satu kali anggukan.
Callum mendesah. "Ini bukan suatu hal penting. Sekarang kau harus lebih mengkhawatirkan kondisimu sendiri. Aku tidak akan lama-lama."
Tapi gadis itu masih bersikeras agar ia tidak pergi meninggalkannya. Sedalam apapun Callum berusaha mengertinya, komunikasi mereka tetap akan sulit karena gadis itu tidak bisa berbicara.
Tiba-tiba Jesca terisak. Gadis itu berusaha mati-matian untuk menjelaskan sesuatu. Ia kembali lagi melirik belati itu.
Apa yang mau dikatakannya terkait dengan belati ini? Ini pasti bukan rasa penasarannya dengan cara kerja belati ini.
"Jesca," kata Callum. "Apa yang mau kau katakan?"
Apa yang kira-kira punya hubungan dengan belati ini? Ini adalah salah satu benda Gardian, benda magis penguat kekuatan sekaligus penghubung. Benda suci yang konon diberikan langsung oleh sang Dewa kepada kaum Fae, agar terjaminnya kesejahteraan dan kedamaian hidup kaum Fae.
Beda dengan kalung Gardian yang dikenakan oleh Jesca. Belati ini tak bisa hanya digunakan lewat sentuhan sihir Royal.
Tapi lewat sentuhan darah.
"Alena," bisik Callum yang baru menyadarinya. Sontak Jesca langsung mengangguk dengan cepat.
"Inilah sebabnya ia masih hidup," Callum berbicara kepada dirinya sendiri. "Karena darahnya mengaktifkan kekuatan belati ini, dan menguatkan sihir besarnya."
Tanpa membuang waktu lagi, Callum segera merogoh saku lainnya lagi. Ia mendesah lega saat menemukan pasang belati lainnya.
Seharusnya aku juga langsung mengambil darahku waktu itu, agar bisa terhubung dengannya, pikir Callum mulai menyesal.
Gadis itu tersenyum lagi, seolah-olah ingin memberitahunya untuk pergi menyelamatkan Alena dan melupakannya.
"Faeries de adverseris. Amal baikmu akan terbalaskan suatu saat nanti, Jesca." Callum membungkuk dalam-dalam, ingin menghormati gadis ini yang begitu mulia hatinya.
Sreett!! Callum lalu mengambil sedikit darah dari telapak tangannya, membiarkannya menetes di atas batu rubi itu.
Apa ini akan berhasil? Pikirnya. Setahunya, jika seseorang ingin terhubung dengan seorang lagi, mereka masing-masing harus menyimpan belati itu. Tapi sekarang Callum malah memiliki dua-duanya.
Alena? Ia tetap mencobanya, tak peduli jika itu berhasil atau tidak. Alena, apa kau disana?
Tak ada jawaban. Callum mencobanya lagi, namun tetap tidak ada suara Alena dalam kepalanya.
"Hhh." Jesca mengeluarkan suara lirihan lagi. Rasa sakitnya kembali kambuh, dan ia berangsur-angsur jatuh kembali ke tanah.
"Jesca." Callum lalu memiliki ide. "Kalungmu. Biarkan aku memakainya. Aku akan mengantarmu ke tempat aman."
Gadis itu menggeleng-geleng, berusaha mendorongnya agar segera pergi dan meninggalkannya.
"Aku tak akan meninggalkan siapapun sampai mati." Callum terpaksa melepas kalung yang semula dikenakan oleh Jesca. Dalam sekejap, ia sudah membopongnya kembali ke Fae Hall.
"Pangeran?!" Sialnya, yang pertama kali menyambut mereka adalah Bora. "Kenapa kau-"
"Aku tak punya banyak waktu! Panggil Fae Healer! Gadis ini terluka parah!"
Bora mengerutkan keningnya, namun tetap menuruti perintahnya. "Baik, Yang Mulia."
Untungnya Fae Healer tiba dalam waktu singkat. Callum dapat melihat beberapa Fae Royal yang mungkin adalah teman Jesca.
"Aku percaya kalian semua bisa merawatnya," kata Callum dengan nada serius. Ia lalu hendak melepaskan kalung milik Jesca, namun terdengarlah suara familiar di kepalanya.
"Oh, Dewa! Haruskah aku melakukan ini?!"
Callum mematung. Tidak yakin jika itu benar-benar suara milik Alena.
"Ya ampun! Bisa-bisanya kamu memikirkan itu, Alena! Masa aku harus memanjat tembok rumah sendiri, sih?!"
"Pfft." Ia tak mampu menahan senyumnya. Alena. Gadis itu masih hidup di luar sana. Ia dapat mendengar pikirannya. Ia pasti juga sedang mengenakan kalung Gardian, dan tanpa sengaja mengaktifkannya sehingga suaranya terdengar sampai sini.
Ini memberikannya secercah harapan. Setidaknya ia bisa mencari tahu dimana keberadaan gadis itu sekarang.
"Jesca..."
Gadis itu mengangguk dengan lemah, dan menutupkan telapak tangan Callum yang masih memegang kalungnya.
"Terima kasih. Aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu."
Callum membungkuk lagi, yang membuat semua orang terperanjat. Bisa-bisanya seorang pangeran menghormati gadis biasa? Tapi Callum tak memperdulikannya. Baginya, ia sudah seperti penyelamatnya, sekaligus pemberi harapan.
Aku harap kita bisa bertemu lagi, pikirnya dalam hati saat ia sudah pergi menjauh dari Fae Hall. Jesca. Siapapun kamu, aku tahu kamu adalah orang baik.
.
.
.
Ada yang udah bisa tebak sesuatu terkait dengan Jesca? ðŸ¤