Wings & Fate

Wings & Fate
Doppelgänger



Aku terus mematung, bahkan saat Ratu itu mengambil langkah dan mendekatiku.


"Callum, harusnya aku tak memercayaimu begitu saja." Ia kini mengangkat dagunya, dan menatap kami dengan rendah. "Harusnya aku tahu bahwa kau mengambil kesempatan ini untuk tidur bersamanya!"


Secepat kilat, tangan Ratu mulai mencekik leherku. Aku terbelalak dan mulai kehilangan oksigen.


Callum belum sempat membantuku saat tubuhnya terhempas ke belakang begitu saja, mengenai meja kayu yang terletak di tengah ruangan. Saking kencangnya, kaki meja jadi patah. Callum terbatuk-batuk dan menekan tangannya ke lantai.


"Tidak. Cal-" Ratu di hadapanku itu semakin erat mencengkeram leherku.


Ia ingin membunuhku. Ia ingin membunuhku.


Tiba-tiba sekelebat cahaya kuning dari arah pintu masuk menyerang wajah cantik Ratu. Bola-bola cahaya terus terarahkan ke tubuh wanita itu tanpa ampun. Itu membuat cengkeramannya pada leherku terlepas.


"Alena! Bawa temanmu pergi dari sini!" Chrys masih sibuk menyerang Ratu yang teralihkan.


Tanpa membuang-buang waktu, aku segera berlari ke arah Callum yang terkapar di lantai dan menarik lengannya.


"Awas!" Tiba-tiba Callum berguling, menarik serta tubuhku. Ia lalu menekan tubuhku ke lantai dan melindungiku dengan tubuhnya sendiri.


Syut! Bola cahaya lain tertangkap dari sudut mataku. Aku tak percaya apa yang baru saja kulihat.


Itu adalah cahaya pelangi, cahayaku sendiri.


"Bella," lirih Ratu dengan lemah. Aku mengintip di balik bahu Callum dan melihat wanita itu yang kini berdarah-darah di lantai.


Ada yang aneh. Kenapa ia jadi sangat lemah? Chrys masih terus menyerang Ratu dengan sihirnya. Ia lalu meninju wajah mungilnya berkali-kali tanpa memberinya kesempatan sedetikpun.


Darimana sumber cahaya tadi? Aku yakin sekali sudah melihatnya. Bahkan Callum juga sudah berusaha melindungiku dari serangan dadakan itu.


Aku langsung mendapat jawaban saat seseorang memasuki ruangan. Itu adalah diriku sendiri, diriku yang sedang mengenakan gaun hitam yang mengilap di bawah cahaya lampu. Gadis itu bahkan memiliki warna rambut yang sama, serta tinggi tubuh dan caranya berjalan. Semua persis seperti diriku.


Gadis yang menyerupai diriku itu merentangkan tangan, dan hendak mengeluarkan sihirnya lagi.


"Chrys!" Teriakku. Pria itu langsung menoleh dan menghindar secepatnya. Namun, ia terlambat. Hantaman telak sihir gadis itu membuatnya tak sadarkan diri.


"Hyaa!!" Clara muncul dan memukul kepala belakang gadis itu dengan sebuah papan kayu. Namun kembaranku itu terlalu kuat. Tangannya secepat kilat menyambar leher Clara, membuat tubuhnya terangkat, lalu melemparnya begitu saja dan menghantam dinding.


Ini gawat. Ini sungguh gawat. Callum langsung menarik tanganku untuk bangkit berdiri.


"Alena, gunakan sihirmu sekarang," perintahnya kepadaku. Saking paniknya, aku jadi gelagapan dan tak mampu menjelaskan bahwa aku masih terlalu lemah dan tak bisa melakukan itu.


"Tak apa-apa." Ia kini meraup kedua pipiku. Namun itu tetap tak membuatku tenang. Kembaranku yang beraura gelap itu kini sudah memperhatikan kami dengan bola mata hitamnya yang menyeramkan, kemudian berjalan mendekati kami.


"Royal. Kita akan menghilang bersama," jelasnya sekali lagi.


Aku buru-buru menggeleng. "Ga-Gak! Aku gak bisa! Aku masih terlalu lemah!"


Bibir Callum mendarat dengan mulus. Ia mengecup singkat bibirku, membuang seluruh rasa ketakutanku.


"Wilayah Fae. Kita bisa melakukan ini," bisiknya pada mulutku.


Aku mengerti maksud ucapannya. Maka aku memejamkan mata, dan mengepalkan tanganku. Aliran sihir mulai menyeruak dari dalam diriku, perasaannya sama seperti setiap kali aku dibangkitkan. Cahaya milikku langsung meledak, menyelimuti tubuh kami sepenuhnya.


Tepat saat sihir gadis itu menghantam tubuh kami seperti meteor jatuh, aku dan Sang Pangeran sudah menghilang.


***


Semenjak kematian Raja lebah, seisi istana dibuat heboh, dan Lexy tak bisa lagi tidur dengan nyenyak.


Untung ia masih bergelar sebagai Ratu, sehingga tak ada yang berani menjatuhkannya hukuman karena sudah membunuh Raja mereka sendiri.


Ratu. Lexy menelan ludah. Sekarang gelar itu menjadi nyata untuknya. Tidak ada lagi duduk santai di singgasana, memperhatikan Raja di sampingnya yang sibuk mengurusi kehidupan rakyatnya dan memerintahkan pelayannya. Tak ada lagi rasa jenuh karena tak melakukan apa-apa selain mengistirahatkan tubuh di atas kursi empuk.


Karena sekarang Lexy adalah pemimpin kaum peri lebah yang tersisa.


"Ratuku." Salah satu pria tua yang Lexy ingat sebagai tangan kanan Raja menghampirinya dengan wajah panik. Ia bahkan tak sempat membungkuk untuk memberi hormat. "Kita ada masalah."


"Ada apa?" Lexy langsung bangkit dari singgasananya dan menuruni anak tangga yang rasanya berjumlah ratusan. Sambil mengangkat rok kuningnya yang panjang, ia mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya di atas sepatu hak emas miliknya. Tentu saja semua ini adalah pemberian mendiang Raja.


Deg! Lexy mengedipkan matanya berkali-kali, lalu merampas benda itu dari tangan pria itu. Ini adalah sebuah piala, salah satu benda koleksi milik Ibunya. Kenapa benda seperti ini sampai berada di tengah-tengah hutan?


"Aku bisa mencium bau manusia dari benda itu. Sebenarnya, ada banyak benda-benda aneh yang kami temukan."


"Hanya ini? Lalu apa maksudmu hal yang menyeramkan tadi?" Tanya Lexy sambil mengerutkan dahinya.


"Suara raungan yang amat memekakkan telinga," jawab pria itu dengan sedikit rasa gugup. Tak biasanya pria pemberani ini menunjukkan sisi ketakutannya.


Lexy mencengkeram kuat-kuat piala di tangannya. Itu pasti adalah Egleans. Tak salah lagi.


"Kerahkan sebagian pasukan pengawal untuk menjaga dengan ketat istana ini, dan sisanya ikut aku ke Hutan Greensia." Lexy lalu berjalan cepat ke bawah tanah, tempat Val dikurung.


Sesampainya disana, ia langsung meminta kunci selnya dari para penjaga. Mereka langsung memberikan kunci kepada Ratu mereka tanpa menolak.


"Ada apa?" Val menatapnya penuh kebingungan.


"Tak ada waktu untuk menjelaskan." Lexy hendak menarik lengan pria itu, namun tangannya tiba-tiba ditepis dengan kasar.


"Val, kita harus-"


"Aku tak ingin ikut denganmu, Ratu." Val sengaja menekankan kata terakhir penuh ejekan. Ratu.


"Kau tak mengerti." Lexy berusaha untuk menjelaskan kepadanya tanpa memperdulikan ucapan Val barusan yang menurutnya cukup menyakitkan. "Aku duga Egleans dalam jumlah besar sudah kembali menyerang wilayah Fae. Kemudian tim pengawal menemukan benda-benda yang berserakan di sekitar hutan. Benda itu memiliki bau manusia."


Val tak menunjukkan ekspresi khawatir sedikitpun. Dengan alis datar, ia menyilangkan tangan. "Jadi kau membutuhkan bantuanku?"


"Tentu saja, ya!" Mata Lexy mulai menatapnya penuh harapan. Ia sampai mengatupkan telapak tangannya dan memohon.


Pria itu tampak menimbang-nimbang, kemudian mengangguk perlahan. "Tapi aku butuh pedang. Yang panjang dan tajam."


***


Ledion masih terkurung di dalam sel. Ternyata ini rasanya menjadi Lexy saat ditahan di tempat sesak dan berbau tanah. Tak ada udara segar yang masuk, dan penerangan lentera di dinding sangat minim.


Pria itu sudah mulai frustrasi. Ia berkali-kali membalikkan badan, namun tetap tak bisa tidur nyenyak. Akhirnya ia mencoba untuk melepaskan baju zirahnya yang tebal dan pedang yang selalu tergantung di pinggangnya.


Kini, hanya dengan berbalut baju kaos tipis, Ledion menyandarkan kepalanya ke dinding. Pikirannya masih dipenuhi oleh Sana. Wanita yang sekaligus adalah mantan istrinya sekaligus pasangannya.


Mungkin waktu itu memang kesalahannya. Waktu itu ia ingat dengan jelas, saat ia pulang kembali ke rumah sederhananya dan langsung memanggil nama istri tercintanya.


Ledion mendesah dan memejamkan matanya. Ia ingat bagaimana ia menemukan istrinya yang tergeletak begitu saja di ubin toilet yang dingin. Tubuhnya menggigil, bibirnya membiru. Sebelah tangannya memegangi perutnya yang sedikit membesar.


Waktu itu ia sangat panik dan langsung memanggil Fae Healer. Ternyata istrinya hamil, dan telah mengalami keguguran.


Kenapa ia baru menyadari bahwa ini semua adalah kesalahannya? Benar kata Sana. Andaikan waktu itu ia pulang lebih awal dan tidak ikut minum-minum bersama teman-temannya, ia pasti bisa membantu istrinya, agar ia tak perlu mengalami itu semua sendirian.


Ya, waktu itu sebenarnya ia baru saja dijabatkan sebagai seorang Ketua Ripper. Pekerjaan yang sangat mulia setelah dirinya dipecat dari istana Amarilis karena sebuah kesalahpahaman. Tragedi yang melibatkan Callum.


"Callum," bisiknya pada udara. Ia masih ingat pangeran itu sebagai seorang anak muda. Anak yang memiliki cita-cita mulia sejak kecil, yaitu menjadi Raja Fae yang bisa memimpin rakyatnya dengan baik, dan melindungi wilayah Fae dari ancaman bahaya.


Ledion tersenyum. Ia yakin anak itu adalah orang yang paling tepat yang bisa menjadi seorang Raja. Anak dengan hati lembut dan penyayang.


Suara besi tangga terdengar, dan tiba-tiba saja salah seorang pengawal membukakan pintu selnya.


Karena kebingungan, Ledion tidak bergerak dari tempatnya sedikitpun, bahkan saat pintu terbuka lebar.


"Ada apa ini?" Tanya Ledion.


"Sir, kami membutuhkan Anda," jelas pria itu sambil menunduk tanda hormat.


Aneh. Statusnya sekarang adalah seorang tahanan. Buat apa ia dibebaskan? Kecuali kalau memang terjadi sesuatu, bahaya yang bahkan harus membutuhkan bantuan tambahan dari sang Ketua sendiri. Ketua Ripper seperti dirinya.


"Ada masalah di Hutan Greensia," jelas pria itu lagi. "Kami membutuhkan Anda, Ketua."