
Makhluk-makhluk itu terus berdatangan, namun aku tak sedikitpun merasa kewalahan. Aku tidak tahu apakah ini berkat sayapku, karena Egleans yang menyerangku hanya sedikit.
Aku menggunakan sayapku dan mengambil ancang-ancang, lalu kembali menghunuskan pedang di tanganku. Rambut panjangku yang tidak terikat jadi berkibar-kibar. Hanya dengan sekali hunusan, aku sudah mampu membunuh makhluk itu.
Tiba-tiba kakiku kembali merengek kesakitan. Luka gigitan Egleans ternyata tidak main-main. Sambil menggigit bibir bawahku, aku kembali memainkan pedangku tanpa menghiraukan lenganku yang pegal.
Seharusnya aku menggunakan sihirku. Tapi Ratu licik itu sudah menyiksaku selama berhari-hari, sengaja menguras seluruh tenagaku meskipun ramuan itu memulihkan lukaku setiap kali aku mati. Aku juga sudah menggunakan mana sihir yang cukup besar saat membawa serta Callum kembali ke wilayah Fae.
Callum. Dimana dia? Aku terbang mengelilingi hutan, mengedarkan pandangan untuk mencari pria bersayap emas itu. Tapi aku tak dapat menemukannya.
Seseorang berteriak di dekatku. Aku menoleh dan melihat Lotus yang sudah dikepung oleh tiga Egleans. Gadis itu bahkan sudah kelelahan dan tak mampu mengeluarkan sihirnya.
Aku terbang ke arahnya. Saat salah satu makhluk itu membuka mulutnya lebar-lebar, aku memenggal kepalanya dari belakang. Semburan darah memercik, mengotori tanah serta rambutku.
Tubuh Lotus masih bergetar ketakutan. Namun aku melihatnya mengangguk tanda terima kasih.
Aku menengadah dan tersadar bahwa bukan hanya pasukan milik Ledion yang sibuk melawan Egleans. Ada juga kaum peri lebah yang belum pernah kulihat sebelumnya, serta beberapa Ketua yang jarang terlihat olehku.
Kemudian ada teman-teman lamaku. Naomi, gadis yang selalu tampil ceria, kini terlihat kewalahan karena makhluk-makhluk ini terus berdatangan. Meskipun ada Xiela di sisinya, mereka tetap tak bisa melakukan ini semua sendirian.
Saat aku hendak membantu mereka, tanganku tiba-tiba ditahan oleh seseorang. Belum sempat aku menoleh, wajahku sudah ditinju, menyebabkan tubuhku terhempas ke belakang, mengenai salah satu tubuh mayat Egleans yang tergeletak begitu saja di tanah.
Aku terbatuk-batuk, dan tersadar bahwa air liurku telah bercampur dengan darah. Saat aku menengadah, aku melihat gadis yang menyerupai diriku.
Jantungku seperti telah berhenti berfungsi. Baru kali ini aku melihatnya dari dekat. Matanya masih menatapku dengan kosong. Semua bentuk wajahnya sama persis dengan diriku. Bibirnya semerah darah, serta dagunya yang lancip.
Oh? Apa aku memang secantik ini?
"Bella," bisikku padanya. "Jangan lakukan ini."
"Bella." Gadis itu mengulangi kata-kataku dengan nada yang sama persis. "Siapa Bella?" Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya, benda tajam dengan rubi merah.
"Aku adalah Alena, sang Fae God," katanya, kemudian menyeringai. Bulu kudukku seketika naik.
Aku menggeleng-geleng dan berusaha menyerangnya dengan pedangku, namun ia jauh lebih kuat dariku. Ia telah mengenakan kalung, cincin, dan belati itu secara bersamaan.
Dimana benda pasangan lainnya? Batinku saat lenganku terlukai oleh belati itu. Aku sudah terbiasa dengan ini semua sampai tak lagi merasa kesakitan, walau darah telah banyak keluar.
"Apa yang kau inginkan?!" Tanyaku pada Bella. Ia tetap tak menjawabku dan malah menyodorkan belatinya di bawah daguku.
Saat ia hendak melukai leherku, aku memejamkan mata. Tapi serangannya tak kunjung datang.
Suara raungan, mirip seperti suara Egleans, yang disusul oleh suara nyaring teriakan gadis itu yang sama persis dengan suaraku.
Itu adalah Lexy, yang kini sudah menjelma. Ia sibuk mencakar wajah cantik gadis itu dengan kukunya yang panjang dan tajam. Lalu tanpa memberinya kesempatan, ia hendak merobek sayap pelanginya. Namun Bella malah menghunuskan belatinya, mencorengkan wajah Lexy sampai ia mundur ke belakang.
"Lexy!" Teriakku dan mulai merangkak mendekatinya. Namun adikku itu tetap tak menyerah. Ia mengabaikan wajahnya yang sudah terluka, dan membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan gigi taringnya yang berlendir.
Aku terkesiap. Wajahnya bahkan sudah berevolusi menjadi Egleans seutuhnya. Tubuhnya terlihat lebih kekar dibanding yang kulihat saat ia masih ditahan di penjara.
Salah satu peri lebah langsung turun ke daratan dan membantu Lexy. Aku tak habis pikir kenapa ia mau membantu Lexy. Samar-samar aku mendengar kata 'Ratu' sebelum peri lebah lainnya ikut turun dan membantu Lexy.
Sekarang Lexy dan beberapa peri lebah lainnya sudah mengepung Bella. Tapi tiba-tiba cahaya emas menyelimuti mereka semua, dan aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bella muncul kembali di hadapanku, dan dalam sekejap sudah menahan tanganku dan kembali mengeluarkan sihir emasnya.
Aku dibawa olehnya ke suatu tempat.
***
Slash! Callum baru saja membunuh dua makhluk ini dengan sekali gerakan. Sudah bermenit-menit ia berpindah tempat, dengan tujuan agar bisa segera mencari Alena.
Matanya menangkap Ledion yang sibuk menyelamatkan Fae perempuan bersayap kuning. Namun Egleans itu terlalu cepat, ia sudah menancapkan kukunya langsung ke perutnya, dan akhirnya Fae Light itu tak lagi bergerak.
"Hei! Bangun!" Ledion menggoyangkan bahu perempuan itu, tapi ia sudah terlanjur mati.
Callum mengerang, kemudian membelah tubuh Egleans yang tadi menjadi dua bagian.
"Yang Mulia, ini gawat," kata Ledion dengan panik. "Saat kita berhasil membunuh satu, akan ada lima yang datang lagi. Ibaratnya mereka tak habis bermunculan."
Perkataan Ledion benar. Sekarang ini mereka hanya bisa berharap bahwa Val kembali secepatnya dengan bantuan. Callum juga berharap kedua kakaknya bisa terjun langsung ke lapangan. Abi dan Dexter.
Syut! Panah melesat, hampir saja mengenai Callum. Ia berbalik badan dan terbelalak saat melihat pemandangan di atas langit.
Seseorang tengah menaiki naga bersisik putih. Naga yang identik dengan naga milik Alena, namun Callum masih bisa melihat sedikit perbedaan. Ada kerah yang terpasang pada lehernya, kerah dengan lambang mahkota kekerajaan.
Itu adalah kakak laki-lakinya, pangeran Dexter.
"Cal!" Teriak seseorang dari kejauhan. Abi menghampirinya dengan senyuman lebarnya seperti biasa. Ia mengenakan baju khusus perang, dengan celana panjang yang ketat. Namun tiba-tiba salah satu Egleans menerkamnya hingga ia terdorong ke samping.
"Abi!" Teriak Callum panik. Tapi kakak perempuannya itu menikam perut Egleans sambil mengerang, lalu menggunakan sihirnya untuk menghilang.
"Abi!" Callum langsung memeluk kakaknya itu. "Syukurlah kamu datang."
Abi tertawa. "Aku gak telat, kan?" Ia lalu mengacak rambut hitam adiknya. "Seorang pria menerobos masuk istana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Katanya ia pengawal pribadimu, dan ia langsung menjelaskan kepada kami mengenai pasukan Egleans di hutan Greensia."
"Ya," balas Callum sambil mengangguk. "Omong-omong, apa kau melihat Alena?"
"Alena?!" Tepat pada saat itu, Callum mendengar suara teriakan Lexy dari kejauhan. "Alena!"
Sial. Apa yang terjadi?! Callum buru-buru menghampiri Lexy. "Apa yang terjadi padanya?"
"Aku melihat dia diculik!" Potong Naomi yang ternyata juga menghampiri mereka saat mendengar teriakan Lexy. Baju serta rambut gadis itu sudah amburadul.
"Oleh siapa?" Callum sudah menegangkan rahangnya. Ia tahu siapa yang kira-kira akan mengambil Alena darinya. Siapa lagi kalau bukan doppelganger-nya sendiri?
"Kau pergilah! Kita akan mengurus mereka!" Perintah Abi, lalu sudah kembali terjun ke medan perang.
"Tapi-"
"Cal, Alena membutuhkanmu," kata Lexy sambil menatapnya lekat-lekat. "Siapa lagi yang akan menyelamatkannya kalau bukan kamu?"
Semua tanpa mengangguk setuju. Sebetulnya Callum tak tega meninggalkan teman-temannya, tapi Alena hanya seorang diri.
"Baiklah." Ia lalu menghilang dengan sihirnya. Semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan selamat.
***
Aku dibawa kembali ke rumah orangtuaku. Lebih tepatnya, gudang bawah tanah tempat Ayah menyimpan kardusnya.
Dugaanku benar. Semua kardus yang semula tersusun rapi, sudah terbuka dan berserakan dimana-mana. Ada yang hancur, ada yang sudah terbolongi.
"Ratu menyimpan mereka disini," jelas Bella dengan nada datar. Aku menelan ludah. "Bisa dibilang, ini tempat segalanya dilaksanakan. Ini juga tempat percobaan."
Aku tak mengatakan apa-apa karena aku juga sudah menebaknya sejak awal.
"Kenapa kau membawaku kesini?" Tanyaku padanya. Gadis itu memutarkan kepalanya secepat kilat ke arahku. Ia terlihat menyeramkan seperti robot yang berbicara.
"Untuk membunuhmu," jawabnya dengan dingin.
"Tu-Tunggu!" Aku mencoba untuk mengulurkan waktu dan menyeret tubuhku ke belakang saat ia berjalan mendekatiku.
"A-Aku ada pertanyaan!"
"Katakan saja." Bella sudah mengeluarkan belati itu lagi, siap menggunakannya untuk membunuhku.
"Apa kalian bekerjasama dengan kedua orangtuaku?" Tanyaku. Ia berkedip sekali, lalu membuka mulutnya. "Tidak. Ratu sudah membunuh mereka."
Deg! Aku berkomat-kamit kepada diri sendiri. Entah kenapa aku tidak merasa bersedih atau berduka cita. Mungkin karena tahu mereka sebenarnya bukan orangtua kandungku, dan mereka tidak menyayangiku sama sekali.
"Sudah puas mendengar jawabannya?" Bella meletakkan ujung belati pada leherku. Tubuhku gemetar, namun kupaksakan untuk terus bertanya.
"Kenapa kau melakukan ini, Bella?"
"Sudah kubilang, aku Alena." Di saat itu aku melihat alisnya yang berkerut. Ia telah menunjukkan sedikit ekspresi. Bola matanya tiba-tiba berubah menjadi hitam.
"Bagaimana dengan Ratu? Kenapa dia menjadi lemah?"
Gadis yang menyerupai diriku itu semakin menekan belatinya, secara perlahan menggores leherku. "Dia terlalu bersemangat untuk memberikanku kekuatan, sehingga aku menyerap semua sihirnya dan membunuhnya."
"Kau menyerap semua-"
"Cukup!" Slash!
Aku berkedip sekali, kemudian menyentuh leherku dengan ujung jariku yang gemetaran. Cairan kental berwarna merah segar.
Tiba-tiba napasku menjadi berat. Aku bisa merasakan rasa nyeri yang luar biasa pada leherku.
"Bella..." Kepalaku mulai layu seperti bunga, dan tahu-tahu hidungku hanya berjarak beberapa inci saja dari sepatunya.
Bruukk!! Kepalaku menghantam lantai yang keras. Pandanganku menjadi buram, dan aku bisa merasakan leherku yang perlahan tersobek.
Tepat di saat aku menutup kelopak mataku, cahaya emas memenuhi ruangan. Sesosok familiar datang dan menghunuskan pedangnya ke arah Bella.
Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi kecuali Callum yang meneriaki namaku.