
Aku kembali memasuki alam mimpi. Namun kali ini aku tak menjumpai Callum, melainkan seorang wanita dewasa yang tengah menatapku dengan khawatir.
"Alena!" Clara memanggilku. Di sampingnya ada suaminya yaitu Chrys. "Alena! Dengarkan aku!"
"Kalian... kenapa kalian bisa-"
"Tak ada waktu untuk menjelaskan!" Potong Chrys. "Clara tak punya banyak waktu untuk menggunakan kemampuannya dan mendatangi mimpimu. Kau hanya harus mendengar kami."
Meski aku dilanda oleh rasa kebingungan, aku tetap mengangguk dan akhirnya memasang telingaku.
"Apa yang kau hadapi tadi, bukanlah Bella. Itu adalah sisi gelapmu, yang terbentuk sebagai akibat ketamakan dan keserakahan Ratu dalam menggabungkan semua kekuatan suci Gardian serta sihir ketiga kaum," jelas Clara.
"Ini akan berbahaya sekali, Alena. Tapi hanya ada satu cara, sebuah kemungkinan yang mungkin bisa dipakai untuk melawan dia," jelas Clara lagi sambil menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat seperti sedang menahan tangis.
"Cara apa itu? Aku bersedia menggunakannya meski itu sulit!" Jawabku dengan mantap. Namun ekspresi wajahnya berkata lain.
Tangisan Clara meledak, dan ia menguburkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Chrys hanya menepuk-nepuk pundak istrinya, dan terpaksa bergiliran dengannya untuk melanjutkan penjelasannya.
"Saat kau terbangun dari kematianmu nantinya, kau harus melawan sisi gelapmu dengan seluruh kemampuan sihirmu, Alena. Seorang Fae God hanya bisa dikalahkan oleh Fae God lainnya."
Aku mengangguk. "Aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Tapi, Alena." Chrys melangkah dan menghela napas. Matanya bahkan tak bertemu pandanganku. Ia seperti menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu. "Kau mungkin bisa mati."
Aku ternganga, lalu mengepalkan tanganku. "Kenapa bisa demikian?" Tanyaku dengan suara lirih.
"Setelah ini mungkin kau bisa bangkit, karena tubuhmu sudah terbiasa dibangunkan dari kematian. Namun pada saat kau mengalahkan sisi jahatmu, itu sama saja dengan membunuh dirimu sendiri."
Seumur hidupku, tak pernah aku bayangkan harus berhadapan dengan hal seperti ini. Ternyata ucapan gadis itu benar. Ia memang bukan Bella, melainkan Alena. Tampaknya Sang Ratu pun juga tak menyangka bisa menciptakan Alena lainnya.
"Apa aku harus merampas ketiga benda penguat itu?" Tanyaku kepada mereka, namun cahaya yang amat menyilaukan sudah membutakan mataku.
Aku mencoba menggapai mereka, namun mereka hanya membentuk bahasa bibir.
'Kami akan selalu berada di pihakmu, Alena.'
***
Aku terkesiap, lalu tiba-tiba saja sudah bangkit berdiri hanya dengan menggunakan tumit kakiku.
Di depan sana, aku bisa melihat Callum yang sibuk bertarung dengan sisi gelapku. Kondisinya terlihat sangat buruk. Ia sudah berdarah-darah dan terpojok. Aku tak bisa membayangkan kalau aku telat sedetik saja.
Tidak ada yang bisa melawan Fae God. Kecuali diriku sendiri. Tentu aku bisa melawan diriku sendiri.
Aku membuka telapak tanganku, mulai memanggil sihir dari segala arah. Rasanya seperti melakukan pemanggilan. Fae God. Golongan Pencipta. Aku akan menciptakan seluruh kekuatan Fae dan menyerang gadis itu.
Rasanya benar-benar menyegarkan sekaligus baru untukku. Sudah berapa lama aku tidak menggunakan sihirku semenjak Ratu menahanku?
Cahayaku meledak-ledak, kemudian bagaikan meteor, aku menghantam punggung gadis itu.
Ia menjerit kesakitan. Tubuhnya terhempas ke dinding sehingga menimbulkan retakan. Saat ia hendak menyerangku, perabotan laci yang semula tergantung di dinding jatuh dan menimpa kepalanya.
"Alena!" Callum melemparkan pedangnya padaku. Aku langsung menangkapnya saat pedangnya melayang di udara, kemudian menoleh ke diri lainku yang sedang terpojok.
"Kau bisa mati." Ucapan Chrys terngiang-ngiang di kepalaku.
Apa aku siap mengambil resiko ini? Membunuh gadis ini sama saja membunuh sebagian jiwaku. Gadis ini terikat padaku, karena ia juga memiliki kekuatan yang sama bandingnya denganku.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil belati Gardian miliknya yang terletak beberapa senti saja dari tempatnya.
Bagus. Kini aku sudah mengambil belati. Sisa dua pasang benda lagi, agar kekuatannya berkurang.
Gadis itu menatapku penuh amarah. Kini aku bisa melihat dengan jelas emosinya. Itu mengingatkanku dengan diriku sendiri, perempuan dengan sejuta emosi.
Ia menyerangku dengan sihirnya, namun aku mampu menghindar dengan baik. Perasaan semangat membara dalam diriku, mendorongku untuk terus menyerangnya tanpa henti. Aku hanya terus fokus kepada diri lainku itu, tanpa memperdulikan luka pada tubuhku.
Ini adalah kesempatan terakhir, karena kalau aku mati lagi, aku tak akan bisa bangkit. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Alena, orang yang akan menyelamatkan kaum Fae dan berani bertaruh nyawa demi mewujudkan itu.
Haha. Rasanya aku ingin menertawakan diri sendiri. Aku ingat dengan jelas saat mengumumkam pidato itu di Fae Hall. Aku praktis mengucapkan hal yang sama, yaitu berani bertaruh nyawa.
Sraatt!! Alena di depanku itu mendorong tubuhku ke dinding, dan aku mengambil kesempatan itu untuk merampas kalung di lehernya.
Sekarang, hanya sisa cincin. Setelah itu, aku akan membunuh diriku sendiri-
Suara erangan terdengar dari seberang ruangan, dan tahu-tahu Callum sudah bangkit berdiri. Ia melingkarkan lengannya pada pinggang gadis itu, kemudian menghilang bersamanya.
"Cal!" Jeritku dengan histeris. Oh, tidak! Apa ia sudah gila?! Ia mau melakukan hal yang sama seperti waktu itu, yaitu menyelamatkanku dengan sihir Royalnya!
"Cal! Dimana kamu?!"
Sial, sial! Seharusnya aku yang mengorbankan diriku, bukan dia! Apa ia sudah gila?! Ia mau membunuh dirinya sendiri demi menyelamatkanku?! Bukankah ia sudah berjanji padaku sebelumnya untuk tidak mengulangi hal yang sama?!
Namun, aku berbeda. Karena aku baru saja dibangkitkan, tubuhku sudah pulih total. Maka aku berlari ke arah gadis itu, kemudian menjambak rambutnya hingga tubuhnya terlepas dari Callum.
Gadis ini mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya. Ia menyikutku, membuatku jatuh berlutut. Kemudian ia meninju wajahku berulang kali.
Api tiba-tiba menyambar tubuh gadis itu seperti petir. Aku berkedip, dan barulah tersadar bahwa itu akibat ulahku.
Wow. Baru kali ini aku dapat merasakan kekuatan Gardian yang begitu luas, yang begitu menggoda sekaligus menggiurkan. Aku bahkan tak perlu bersusah payah untuk menyerangnya dengan sihirku. Cukup menjentikkan jari, gadis ini sudah berteriak-teriak kesakitan.
Aku tertawa puas melihatnya tersiksa seperti itu. Tiba-tiba rasa sakit menyambar diriku, dan aku juga jatuh berlutut.
"Alena..." Callum berusaha untuk menggapaiku, namun ia sudah tak kuat.
Ada apa ini? Kenapa aku juga ikut tumbang-
Aku berteriak sangat nyaring, kemudian ikut tumbang. Sekarang kami bertiga sudah hampir tak bernyawa. Tinggal tunggu waktu saja sebelum ajal menjemput kami.
Aku ingin bangkit dari lantai, namun rasa sakit ini kembali datang sehingga tubuhku kembali berbaring. Rasanya berbeda. Ini seperti kekuatan dalam diriku mau meledak, membakar serta tubuh fisikku bersamanya.
Napasku mulai menjadi berat, dan aku melirik diriku yang lain. Sepertinya aku telah sukses membunuhnya, karena perutnya tak lagi bergoyang.
Inikah akhirnya? Aku telah membunuhnya, otomatis ajalku juga akan tiba sebentar lagi.
Aku tak melakukan apa-apa selain menatap langit-langit. Lalu aku memejamkan mata.
Alena?
Aku mendengar suara Callum dalam pikiranku.
Callum? Bagaimana caranya?
Terdengar suara tawaan dari seberang sana. Kau lupa? Aku menyimpan belati lainnya. Aku juga berhasil merebut kalung itu saat ia memojokkanku di dinding.
Kalau begitu berarti, sedari tadi ia dapat membaca pikiranku. Selama ini ia telah mengetahui rencanaku yaitu mengorbankan diri. Pantas saja ia langsung membawa gadis itu jauh-jauh dariku.
Alena... Kenapa kau rela melakukan itu? Tanyanya dengan nada sedih. Itu membuatku meneteskan air mata. Kau tahu aku tak akan membiarkanmu meninggalkanku.
Cal... Aku tersenyum, lalu membuka mata dan memutarkan kepala ke tempatnya berbaring. Ternyata ia sudah menatapku lebih dulu. Darah segar mengalir dari mulut serta hidungnya.
Kenapa kau menatapku seperti itu? Tanyaku dalam hati. Karena kami sama-sama tak mampu membebaskan suara dari tenggorokan, terpaksa kami berkomunikasi lewat pikiran.
Sayapmu. Ia mulai terlihat panik lalu mengerang. Untuk sesaat aku pikir sakitnya kambuh, namun ternyata ia sedang berusaha untuk menggapai tanganku.
Alena! Tolonglah. Jangan seperti ini.
Ada apa sebenarnya? Memangnya kenapa dengan sayapku? Kenapa ia menatapku seperti itu?
Saat ujung jari kami bertemu, aku tak dapat lagi menahan tangisanku. Dadaku benar-benar sesak. Tubuhku gemetaran, dan langsung hanyut dalam sentuhannya walau hanya sebatas jari tangan.
Maaf, Cal. Aku terpaksa membunuhnya aagr kita semua selamat.
Ia berusaha untuk menggelengkan kepalanya dan ingin mencapaiku lagi, namun aku malah memalingkan wajah, tak mampu melihat kondisinya yang seperti ini.
Mataku mendapati gadis itu. Sisi lainku yang kelam, sebagian jiwaku yang kini sudah dicabut nyawanya oleh diriku sendiri. Ia tampak mengenaskan. Tubuhnya terbakar sampai hangus dan berwarna hitam kemerahan. Rambut pirang indahnya sampai terlepas dari ubun-ubunnya. Ia mati dengan mulut yang terbuka lebar dan mata yang terbelalak.
Aku tak dapat membayangkan perasaan Callum saat harus menyerang gadis yang menyerupai diriku. Pasti membutuhkan keberanian dan kerelaan hati yang besar.
Alena. Callum terus memanggil diriku. Aku tak sadar sudah memejamkan mata. Saat tangannya sudah mencapai tubuhku, aku tak dapat lagi menggerakkan mulutku. Aku tak dapat lagi membuka kelopak mataku.
Callum tetap memanggil diriku. Rasanya sama seperti saat kami terjebak di Goa Kora. Bedanya, tak ada lagi sihir Fae God yang mampu menyembuhkan dan menutupi lukaku tanpa bekas.
Ya. Aku dapat merasakan kekosongan dalam diriku. Tak ada lagi kekuatan sihir yang mengalir bebas dalam diriku. Tak ada lagi cahaya. Yang ada hanyalah tubuhku yang kembali menjadi mayat, kembali seperti semula.
.
.
.
Tamat.
Tapi bohong.
Tenang! Tenang! Belum tamat kok! 🤣🤣 Masih ada eps selanjutnya! Kita masih belum membahas Jesca, kehidupan kekerajaan Cal-Lena yang sempat ditinggalkan, lalu masih ada Bora yang sempat membantu Sang Ratu 😔 Setelah itu masih ada kelanjutan Lexy-Val dan Ledion-Sana. Dan juga Clara Chrys.
Bukan season 3 ya, tapi masih ada eps selanjutnya, alias lanjut lagi di season 2 🤣