Wings & Fate

Wings & Fate
My Old House



Aku hampir saja berteriak saat terdengar suara lantai kayu. Untungnya, itu hanya bunyi yang dihasilkan saat kakiku berpijak pada tangga.


Sial! Aku lupa tangga ini sudah lama usianya, batinku. Sekarang aku sudah berada di lantai teratas, dan lagi-lagi disambut oleh keheningan dan kegelapan.


Bagaimana jika kedua orangtuaku sedang tidur di kamar mereka? Aku mencoba berpikir segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Walau aku sudah menyihir diriku sendiri, tetap saja ini memiliki resiko.


Aku tetap berjalan mengikuti pola suara detak jarum jam, sampai pada akhirnya menemukan pintu ruangan yang dulu menjadi kelas tempat Miss Gray mengajar.


Kreeekk!! Aku sempat mematung dan menajamkan pendengaran. Untungnya suara pintu tidak menarik perhatian kedua orangtuaku.


Ruangan ini masih tampak sama persis. Aku ingat terakhir kalinya aku berada di dalam sini, pada hari yang sama saat aku melakukan pelarian.


Aku menyentuh meja yang pernah kugunakan, lalu melihat-lihat ke sekitar. Ayah dan Ibu sepertinya tidak terlalu tertarik pada ruangan ini. Aku pikir mereka akan membuang semuanya karena sudah membenci kami.


Nyatanya tidak. Ruangan tidak dirombak. Bahkan buku-buku pelajaranku masih tersusun rapi di rak buku. Tanpa sadar senyumku mengembang.


Ayo, Alena. Kau tak boleh berlama-lama disini, pikirku mulai tersadar. Kau harus cari apapun yang bisa jadi petunjuk.


Tapi, apa yang akan kutemukan di ruangan ini? Sepertinya tidak akan ada apa-apa. Aku harus mengeceknya dari tempat yang tidak pernah kumasuki sebelumnya, lebih tepatnya, ruangan tertutup yang dilarang kumasuki seperti ruang bawah tanah tempat gudang milik Ayah.


Mataku menangkap sebuah amplop surat berwarna putih yang ditaruh di atas meja. Penasaran, aku segera membukanya. Hatiku langsung bergelojak saat menyadari siapa pemilik tulisan rapi ini.


Miss Gray, aku menyebutkan nama itu sekali lagi di dalam hatiku, nama yang sudah seperti sosok malaikat bagiku. Dan isi suratnya...


Aku tak dapat menahan rasa kepedihan dalam hatiku. Ternyata saat kami pergi dari rumah kami, Miss Gray sampai mengundurkan diri dan hendak mencari kami.


Ini salahku, pikirku dalam hati. Seharusnya aku memberitahunya. Aku bahkan tak mengucapkan selamat tinggal padanya.


Setelah aku menghapus air mata, barulah aku melihat tulisan kecil di bawahnya.


Alamat rumah? Saat aku memfokuskan mataku lagi, mulutku terbuka. Benar! Ini alamat rumahnya!


Apa aku harus bertemu dengannya? Bagaimana kalau ini jebakan dan palsu?


Prraaangg!! Suara pecahan piring terdengar dari luar. Saking terkejutnya, aku sampai menjatuhkan kertas amplop itu.


Tidak. Apa aku sudah ketahuan?! Batinku panik. Aku buru-buru menyimpan amplop itu di saku baju, kemudian mengecek sumber suara.


"Kkeeeekkk!!" Suara aneh terdengar dari ruang dapur. "Keluarr! Jaaangannn bersembunyi lagi..."


Tubuhku mulai bergemetar. Jantungku sudah seperti mau meledak.


Itu jelas-jelas suara Egleans yang sebelumnya mau menyerangku.


Jadi selama ini... targetnya bukan kaum Fae lagi, melainkan aku?


Suara endusan terdengar dengan jelas. Aku tetap menutup mulut serta hidungku, dan mempertahankan sihir Light.


Pokoknya keluar dari rumah ini secepatnya, pikirku, berusaha untuk menenangkan diri.


"Haaaloooo....hallooo...dimana dirimuuuhhh?"


Kumohon, jangan sampai tertangkap, pikirku berulang kali. Aku sampai menoleh kesana kemari, berpikir keras apa yang sebaiknya harus kulakukan.


Suara hentakan kaki yang sangat keras kembali terdengar. Dan aku bisa melihat makhluk itu dengan jelas. Saat matanya menatap langsung wajahku, di saat itulah aku tak bisa bernapas. Rasanya seperti aku bertemu dengan malaikat maut yang ingin mencabuti nyawaku.


"Akuuu bisaa menciummuuu..." Katanya lagi.


Phew. Mungkin yang tadi cuma kebetulan, pikirku lega.


Prraaangg!! Tanpa sengaja, aku menjatuhkan vas bunga di sampingku. Sontak makhluk itu tidak lagi bersuara, dan langsung tertawa menyeramkan.


Deg! Oh tidak.


"Ketemuuuu!!" Katanya sebelum terbang ke arahku dan menerkamku.


"Kyaa!!" Aku berteriak, dan tidak lagi memegang kendali atas sihir yang membuatku tak terlihat. Kini, tamatlah riwayatku. Makhluk itu kini benar-benar sudah menemukanku.


"Jangann kaburr!!"


Karena aku sudah tertangkap, sekalian saja aku mengepakkan sayapku. Tidak ada lagi yang namanya diam-diam. Suasana menjadi amat menakutkan, ditambah jeritan nyaring yang tak henti-hentinya keluar dari tenggorokanku.


"Kesinii kauu!!"


Tanpa menoleh ke belakang, aku terus terbang ke arah jam bandul raksasa. Setelah itu aku mendorongnya sekuat tenaga.


Suara keras memenuhi gendang telingaku. Jam mahal milik Ayah sekarang sudah hancur parah. Makhluk itu teralihkan untuk sesaat, sebelum akhirnya marah besar dan semakin ingin menangkapku.


Aku terus terbang, menjauhi makhluk itu. Tapi karena kelelahan tenaga, aku tahu hanya tinggal menunggu waktu sampai tangan besar makhluk itu menggapaiku.


Akhirnya aku mengepalkan tangan dan hendak menggunakan sihir Royal dan berteleport. Tapi makhluk itu sudah terlalu dekat. Sreett!! Seperti merobek kertas, cakar tajamnya melukai kakiku cukup dalam.


"Aaa!!" Teriakku karena kesakitan. Namun cahaya emas milikku tetap bekerja, menyelimuti kami berdua sepenuhnya.


Aku berhasil teleport. Aku tahu itu sebelum aku membuka mata.


"Hehehe..."


Namun suara menyeramkan itu masih terdengar. Lebih parahnya lagi, suara itu langsung dibisikkan di telingaku.


Aku berhasil teleport ke dunia manusia. Bersama makhluk itu.



Mohon bersabar untuk menunggu eps selanjutnya. Karena ada masalah dari pihak MT, jadi updatenya terhambat.