
Aku bangun tengah malam, ditemani oleh suara detak jarum jam dan suara napas seseorang di dekatku. Aku menoleh dan melihat Callum. Lelaki itu sudah tertidur pulas. Aku tersenyum saat melihat rambutnya yang sudah dipangkas dengan rapi olehku. Kini, penampilannya sudah jauh lebih rapi dibanding semula.
Callum bergerak sedikit, dan aku langsung mematung, tidak ingin membangunkannya. Untungnya ia masih berada di alam mimpi. Aku lagi-lagi tak bisa menahan senyumku dan gemas melihatnya bergumam sendiri.
Aku melingkarkan sebelah kakiku dan memeluknya. Tanganku lagi-lagi menyentuh sayapnya, namun kali ini aku memang sengaja ingin menyentuhnya. Karena tubuhnya sedang rileks, sayapnya juga melakukan hal yang sama.
"Callum," aku membisikkan namanya. Ini bukan mimpi. Ini memang Callum.
Aku menyentuh kumis yang tumbuh di sekitar mulutnya, tapi aksiku itu tiba-tiba membuat ujung bibirnya terangkat.
"Ngapain kau?" Tiba-tiba ia membuka matanya.
Aku terkesiap dan langsung merasa malu, tapi ia berhasil menangkap pergelangan tanganku dan mencium punggungnya. "Mmhhmm, Alena."
Aku tertawa kecil. "Maaf sudah membangunkanmu."
"Oh?" Ia mempererat dekapannya dan mencium kedua kelopak mataku. "Tidur lagi, yuk."
"Aku belum mengantuk." Lebih tepatnya, aku masih belum puas menatap wajahnya. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya sedekat ini.
Callum ternyata bisa membaca pikiranku. "Kau memang belum mengantuk, ya?" Ia mengecup singkat bibirku, kemudian bangkit untuk duduk.
"Mau kemana kau?" Aku juga ikut bangkit dari kasur, tapi Callum sudah menaruh jari telunjuknya di bibirku.
"Sshh!" Aku menaikkan alisku, tidak mengerti kenapa aku harus tetap tenang.
"Mumpung ini masih tengah malam dan tidak ada siapa-siapa yang mengawasi, maukah kau menghabiskan waktu bersamaku?" Tanyanya dengan suara kecil.
Senyum mengembang di wajahku. "Tentu saja! Tapi, kita mau kemana emangnya?"
"Kemana ya?" Callum lagi-lagi membuat pipiku merona saat memamerkan giginya. Ia meraup kedua pipiku dan tiba-tiba saja matanya menatapku dengan setengah terpejam. "Sebenarnya aku tak peduli mau kemana saja, asal ada kamu di sisiku. Sayang kalau menghabiskan malam ini hanya untuk tidur. Aku masih ingin melihat wajah cantikmu."
Itu juga yang kurasakan padanya sekarang. Rasanya seperti aku berbagi ikatan dengannya, karena jalan pikirannya sama denganku.
"Kalau begitu, kita coba keluar dulu yuk?"
Callum mengangguk layaknya anak kecil yang siap mematuhi perintah ibunya. Aku lagi-lagi dibuat gemas dengan sikapnya yang seperti itu.
***
Lorong kamar hanya diterangi oleh lampion yang digantung di dinding. Suara yang terdengar selain detak jarum jam adalah suara langkah kaki kami yang seirama. Aku menggigit bibir bawahku, terus merasa waswas kalau-kalau ada yang terbangun karena suara sepatuku.
Untungnya Callum menggandeng tanganku, jadi aku bisa bernapas lega sedikit. Kami tidak menggunakan sihir kami untuk berpindah tempat, karena tujuan kami memang hanya untuk bersantai. Aku tak ingin terlalu terburu-buru jika ingin menghabiskan waktu bersamanya.
"Fae Hall ini...adalah tempat dimana aku dimandikan beberapa jam setelah terlahir di kamar Ibuku," jelas Callum kepadaku. Sekarang ia menuntunku ke sebuah ruangan di lantai satu. Ruangan itu seperti tempat pemandian. Ada bak mandi besar yang terbuat dari kayu, dan uap air sampai mengembun di kaca jendela.
"Apakah ini tempatnya?" Callum mengangguk. "Iya."
Kami tidak berlama-lama di tempat pemandian, karena masih ada banyak tempat di lantai satu yang belum kujelajahi. Callum ternyata sudah mengenal seluk beluk tempat ini. Mungkin karena ia sendiri adalah Fae Royal, jadi ia memiliki akses untuk memasuki tempat ini kapan saja.
Kami terus mengobrol hingga lupa waktu. Setelah berjam-jam memasuki setiap ruangan, akhirnya kami tiba di perpustakaan besar. Fae Hall terkenal akan perpustakaannya yang begitu besar dan buku-bukunya yang komplit.
Aku duduk di salah satu meja, sedangkan Callum sibuk memilah buku di salah satu rak.
"Alena." Aku tak sadar sudah memperhatikan lelaki itu. Aku berkedip, berusaha mengusir rasa malu di hatiku. "Ya?"
"Kemarin, saat aku melihatmu dengan jubah putih itu..." Ia berjalan mendekatiku. Aksinya itu membuat rambut hitamnya bergoyang. Ia tampak sangat elegan hari ini.
Ia terlihat seperti seorang pangeran sejati.
Jantungku kembali berdebar.
"Kau terlihat sangat berbeda. Aku jadi teringat dengan Ibuku," gumamnya, lalu duduk di sampingku. Aku menunduk, tidak berani menatap langsung wajahnya karena aku masih sibuk menenangkan dan mengontrol diriku sendiri.
"Maksudmu, aku terlihat seperti Ratu Fae?"
"Bukan," ia menggeleng-geleng. Lalu apa? Batinku mulai kecewa. Namun, ia malah tersenyum.
"Wanita yang bisa menaklukkan segalanya, termasuk hatiku." Ia menarik tubuhku semakin dekat ke arahnya, lalu mencium bibirku yang kedinginan. Udara malam memasuki celah jendela, membuatku menggigil. Ia segera membuka jubahnya dan memasangkannya di pundakku.
Aku membelalak, tak mampu menahan detak jantungku yang semakin tak terkendali.
Kami lagi-lagi menukar ciuman di dalam perpustakaan. Rasanya aku tak akan bisa melepaskan bibirnya yang sudah menjadi candu untukku.
"Alena, bagaimana proses upacaranya tadi?" Sekarang kami sudah kembali duduk di bangku, kali ini menghadap ke luar jendela untuk melihat bintang malam di langit.
"Umm... menurutku biasa saja. Untung ada Jesca yang sudah setia membantuku mempersiapkan segalanya."
"Jesca?" Callum sepertinya tidak mengenali nama gadis itu. "Apakah ia pemimpinnya?"
"Iya," aku mengangguk. "Dia juga Fae Royal, pastinya. Tapi ia bisu dan tak bisa berbicara." Aku menunduk dan menyentuh kalung Gardian pemberian Jesca. Gadis itu bahkan sudah memercayaiku, dan menaruh harapannya padaku. Dadaku lagi-lagi sesak karena tahu aku akan segera mengecewakan orang-orang.
"Ada apa?" Rupanya Callum dapat membaca ekspresiku. "Kenapa mukamu bersedih seperti itu?"
"Ah." Aku buru-buru memasang senyum palsu. "Tak apa-apa."
"Yakin?" Ia menggenggam tanganku yang kedinginan.
Aku hanya terdiam. Sebetulnya aku ingin menceritakan semuanya kepadanya, tapi aku takut ia juga akan kecewa denganku, meskipun ia sudah tahu rencana Xiela dan Naomi untuk mengalihkan perhatian besok saat upacara terakhir berlangsung.
"Besok, kau akan menyelinap keluar dari sini ya?" Pertanyaan yang dilontarkan olehnya serasa menjelaskan semua keluhan di hatiku.
"Ya, tapi aku masih ragu bagaimana caranya. Aku belum membahas ini lebih lanjut dengan Xiela dan Naomi."
"Tenang saja." Callum bangkit dari bangku panjang dan berlutut di hadapanku. "Ada aku disini."
"Aku gak mau melibatkanmu dalam masalah besar, Callum," aku menggeleng-geleng. "Yang benar saja? Seorang gadis yang kabur dari upacara penobatannya sebagai Fae God, dan ternyata dibantu oleh pangeran Fae? Apa kata orang-orang nanti?"
Ia malah tersenyum lebar, tampaknya senang mendengarkan hal itu. "Masih ingatkah saat aku menolak bantuanmu dengan pekerjaanku? Aku sibuk memikirkan resiko yang akan kau dapatkan, padahal sebenarnya kau hanya ingin membantuku."
"Iya, aku ingat. Tapi, apa hubungannya?"
Callum mendesah panjang. "Aku tak ingin menyembunyikan apapun lagi darimu. Biar bagaimanapun, kau juga rekan kerjaku, yang setara denganku."
Rekan kerja. Artinya ia tak lagi memandangku sebagai gadis yang butuh perlindungan. Tapi juga sebagai teman yang selalu saling mendukung di setiap situasi. "Seharusnya aku tahu bahwa banyak orang yang akan memanfaatkan kekuatan barumu. Maaf baru menyadarinya."
"Tidak apa-apa, Callum," kataku menenangkannya. Sekarang tidak ada lagi amarah atau kekesalan yang tersisa di hatiku, karena kini Callum sudah mengerti perasaanku yang sesungguhnya.
"Pekerjaanku yang kumaksud kemarin, adalah keberangkatanku ke Bougenville."
"Bougenville? Artinya kau akan menghadap ke Raja Ratu Fae?"
"Ya, untuk bekerjasama mencari Ratu peri lebah yang masih berkeliaran di luar sana."
Aku mengangguk tanda memahami. "Kalau begitu, kapan kamu akan pergi ke sana? Apa kau hanya akan menggunakan sihirmu, atau alat kendaraan?"
Callum tidak sempat membalas karena tiba-tiba lampu kandelir di tengah ruangan menyala. Seseorang sudah memasuki ruang perpustakaan.
"Gawat." Pupil matanya membesar. "Kalau itu Bora, dan ia tahu aku masih berada disini-"
"Cepat, cepat!" Bisikku sambil mendorong tubuhnya. Ia langsung mengerti maksudku.
Aku mengeluarkan cahaya Light, dan membiarkannya menyelimuti tubuh Callum. Lelaki itu jadi tak terlihat, bahkan oleh mataku.
"Besok, pukul kembang malam. Cari kuda hitam di dekat semak-semak," bisiknya sebelum menghilang dengan sihirnya sendiri.
.
.
.
Mau baca lebih banyak lagi cerita tentang Fae? Baca ceritaku yang lain tentang misteri pembunuhan di wilayah Fae 😱 dan juga kemampuan bermimpi seorang manusia yang tak biasa. Update rutin 🤣✌