
Beberapa saat sebelumnya...
"Pangeranku, bolehkah aku mengetahui alasan keberangkatan Anda ke Bougenville?" Tanya Ledion sesudah mereka mengadakan latihan olahraga rutin setiap paginya. Memang, jika mereka tidak melakukan proses pembersihan dan perbaikan wilayah, kelompok Ripper ini akan berlatih pedang, sebagai bagian dari keseharian mereka dalam meningkatkan kekuatan fisik.
Sebenarnya jika dibandingkan dengan kemampuan bertarung Fae Ripper ini, tentu Callum akan kalah. Saat mereka berlari mengitari pusat kota Amarilis pun, Callum tak dapat menyaingi kecepatan Ledion. Meski begitu, semua ini mengingatkannya pada memori masa lalu, saat Callum masih jauh lebih muda, dan saat Fae Ripper ini menjadi guru pelatih bela dirinya sekaligus pengawal pribadinya...
"Aku harus meminta kerjasama dengan Ayahanda, terkait dengan kejahatan Ratu Peri Lebah, sekaligus nasib kaum peri lebah," jawabnya dengan jujur. "Lagipula, sudah lama aku tidak kembali ke kota asalku, bukan?" Katanya sambil tersenyum. Bayang-bayang memori langsung muncul di benaknya, istana megah Bougenville yang dikelilingi oleh taman hijau berpuluh-puluh hektar, serta aliran sungai kecil yang mengelilingi bangunan. Kemudian ada dua kakaknya, putri Abigail dan pangeran Dexter, kakak yang sudah lama sekali tidak ia lihat.
Ledion mengangguk. "Aku mengerti."
Callum melirik ke arah Fae tersebut. Fae yang sebenarnya berkali-kali lipat lebih tua dibanding dirinya. Seingatnya, Ledion sudah pernah ikut berpartisipasi dalam perang besar antara kaum Fae dan umat manusia beratus-ratus tahun yang lalu. Wajar saja jika ia sekarang menjabat sebagai Ketua Ripper.
"Ada apa, pangeranku?" Ledion ternyata menyadari tatapannya. "Apa Anda butuh sesuatu?"
"Tidak." Callum buru-buru melepaskan pandangannya. Ini canggung sekali, pikirnya. "Aku cuma memperhatikan cara kamu bertarung tadi..."
"Apakah ini karena aku mengalahkan Anda, Yang Mulia?" Ledion tersenyum kecil. Sebenarnya pria tua ini jarang sekali tersenyum. Ia dikenal sangat dingin dan tidak banyak berbicara. Namun karena ia sudah mengenal Callum sejak lahir, mereka sudah saling berbagi tawa dan keceriaan.
"Tak usah khawatir, Yang Mulia. Aku bisa mengajarkanmu ilmuku," lanjutnya lagi.
"Huh," Callum mendengus. "Andai dadaku bisa sebidang dadamu, Ledion." Berkat pujiannya, Fae itu langsung memalingkan wajahnya. Callum tahu ia paling tidak suka dipuji secara terang-terangan seperti itu.
"Tapi Anda lebih tampan, uhm, Yang Mulia," katanya malu-malu dan salah tingkah. Callum tertawa geli. "Selama ini, banyak gadis yang terpikat dengan Anda."
"Tak usah mengingatkanku lagi," Callum melambaikan tangannya. "Aku sudah tahu kalau aku ini tampan."
"Aku senang melihat kepercayaan dirimu yang masih tinggi."
"Begitulah," balasnya sambil tertawa. Mereka sekarang sudah hampir sampai di istana Amarilis. Callum sudah menguras banyak tenaga pagi ini, jadi ia tak ingin menggunakan sihirnya. "Akhirnya," katanya sambil tersenyum puas saat melihat penampakan istananya. "Aku sampai."
Semuanya tak seperti yang dibayangkannya. Luar istana tampak sepi, padahal biasanya banyak Fae yang berkumpul untuk menikmati pemandangan musim dingin seperti sekarang. Rasanya seperti ada sesuatu yang janggal.
Callum buru-buru melewati penjaga gerbang, kemudian ia dapat mendengar suara kerumunan orang-orang dari lantai atas. Akhirnya ia mengepakkan sayapnya dan melihat kerumunan itu.
Apa yang sedang terjadi? Callum berusaha untuk melihat lebih jelas. Ia menggunakan kedua tangannya untuk membuka jalan, tapi seseorang sudah menyadari keberadaannya.
Seorang gadis dengan warna rambut baby pink sampai terkesiap. "A-anda, pangeran-"
"Ini juga suara dari rakyat. Silahkan menyangkal keputusan ini." Sebuah suara berat yang lantang terdengar, sepertinya berasal dari tengah kerumunan. "Siapa diantara kalian yang tidak setuju bahwa Fae God pantas untuk dipuja?"
Callum mengenali suara itu. Suara milik Sang Ketua Fire. Ia berjinjit dan menaikkan kepalanya, namun seorang pria yang jauh lebih tinggi menghalangi pandangannya. "Permisi," katanya sambil menyentuh lengannya. Pria itu bahkan tidak bergeming dan tetap sibuk memerhatikan keributan di depan.
Beberapa orang di sekitarnya mulai berbisik. Callum bisa mendengar kata-kata yang diucapkan berulang kali, seperti 'Fae God'. Ada juga yang menyebutkan nama Alena. Hatinya langsung berdebar-debar saat nama itu terngiang-ngiang dalam otaknya.
Aneh. Meskipun semua berbisik satu sama lain, tetap tidak ada yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bora sebelumnya.
"Bagus," Bora berbicara lagi. "Kita akan adakan upacara penobatan Alena sebagai Fae God di Fae Hall nantinya." Setelah itu, disusul suara sorakan orang-orang.
Penobatan sebagai Fae God? Pikir Callum panik. Apa yang terjadi di istanaku selama sebulan ini?
Ia baru ingin bersiap-siap dan menggunakan sihirnya saat lengannya ditarik oleh seseorang. "Callum!" Ternyata itu Lotus. Sial, pikirnya.
Berkat Fae Aqua itu lah, orang-orang sekarang mengerumuninya. Sebenarnya ia bisa saja menghilang menggunakan sihirnya, namun ia tidak mau berbuat demikian terhadap rakyatnya. "Maaf semua, tapi hari ini aku sibuk. Mohon pengertiannya." Untung mereka mengerti, dan akhirnya dengan wajah kecewa, Lotus melepaskan tangannya.
Ia menemukan Alena di ujung lorong. Gadis itu terbelalak saat melihat dirinya yang tiba-tiba muncul, disusul oleh cahaya emasnya yang memudar. Tak lama, matanya menyaksikan kejadian yang amat mengerikan, yaitu saat Bora menyentuh bibir gadis itu.
***
"Callum!" Aku mengejarnya, namun ia tetap menghiraukanku. "Berhenti!"
Pangeran itu makin mempercepat langkahnya. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang, dan tidak menyadari tatapan yang kini diarahkan kepadanya dan juga aku. Pikirannya pasti sudah melayang.
Aku tak tahan lagi. Akhirnya aku menggunakan kemampuan sihirku, dan muncul tiba-tiba di hadapannya. Callum langsung menghentikan langkahnya.
Aku melihat langsung pupil matanya yang membesar, jelas tampak terkejut melihat aku yang muncul tiba-tiba. Wajahnya tampak berbeda dari yang terakhir kulihat sebulan lalu. Kumis dan rambut kecil mulai tumbuh di sekitar mulut manisnya, dan warna kulitnya semakin gelap. Rambutnya tidak terawat dan semakin panjang, sampai menutupi leher dan matanya.
Jantungku berdebar-debar tak karuan melihat wajahnya yang semakin tampan karena rambut gondrongnya. Tapi karena ini masih di area publik, akhirnya aku menggenggam tangannya dan memindahkan kita berdua ke kamarnya.
Aku memang bisa menggunakan sihir Royal, tapi belum pernah mengajak seseorang untuk berpindah tempat. Ekspektasiku adalah, tubuhku akan melemah dan aku akan jatuh sakit, sama seperti yang dialami Callum waktu itu.
Untungnya segalanya terasa normal.
"Alena." Akhirnya ia mengeluarkan suara. Sekarang kami sudah berada di kamarnya, hanya berduaan, tanpa seorangpun yang dapat mengganggu pembicaraan kami.