Wings & Fate

Wings & Fate
Ledion's Decision



Lexy terbangun dari tidurnya yang rasanya sudah sangat panjang. Ia dapat merasakan tangan seseorang pada perutnya. Saat ia mengerjapkan mata, ia melihat atap langit berwarna kuning keemasan.


Ugh. Dimana aku? Tubuhnya sekarang terbaring di atas kasur yang sangat empuk. Ia lalu menoleh untuk melihat siapa yang ada disampingnya.


Lexy berteriak ketakutan, dan tahu-tahu sudah terjatuh dari atas ranjang. Disampingnya tadi ada seorang pria asing bertelanjang dada. Pria itu masih tertidur pulas, tidak terganggu dengan teriakan Lexy.


Butuh waktu untuk berproses sampai akhirnya ia mengingat kembali. Pria itu tak lain adalah Sang Raja.


"Lexy." Pria itu tiba-tiba sudah membuka mata dan melempar senyum ke arahnya. "Lexy. Ratuku. Bagaimana kabarmu pagi ini?"


Lexy terdiam, dapat merasakan tubuhnya sendiri yang bergemetar. Ia melirik ke bawah dan melihat bentuk tubuhnya yang sudah seperti semula. Ia bernapas lega.


Tapi, bukannya aku sudah dilukai oleh tombak?


Seolah bisa membaca pikirannya, pria itu menjawab, "Berterima kasihlah kepadaku, karena aku yang telah menyelamatkanmu."


"Menyelamatkanku dari apa?!"


"Dari serangan para penjagaku tentu saja," jawabnya dengan santai. "Aku juga sudah mencabut nyawa mereka sebagai hukuman karena telah berusaha membunuh Ratuku."


"Apa?!" Lexy menggeleng-geleng. "Ka-kau... kau barusan bilang apa?!"


Pria itu bangkit dari kasurnya, kemudian menatapnya dengan matanya yang berwarna kecoklatan. "Ratuku, kau harus mulai terbiasa menyikapi perilaku Rajamu. Kau mengerti?"


Lexy masih melongo, masih terlalu syok. Ia bahkan tak mampu menepis tangan pria itu yang sudah meraup kedua pipinya.


"Bersiaplah," bisiknya di telinganya. "Hari ini hari pertamamu sebagai seorang Ratu peri lebah."


***


Setelah memikirkan segala macam kemungkinan, kuputuskan untuk menyelinap ke dalam rumah besarku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku perlu lihat bagaimana kondisinya sekarang. Bagaimana kondisi rumahku, dan juga kondisi kedua orangtuaku.


Apa yang harus kulakukan semisal mereka menyadari kehadiranku? Aku mengusir jauh-jauh pikiran negatif itu. Kamu adalah Fae God, Alena, bukan gadis lemah seperti dulu lagi. Kau bisa mengatasinya.


Tapi, bagaimana caranya memasuki rumah tanpa ketahuan? Aku tak mungkin melewati gerbang yang sedang terkunci. Aku juga tak mau mengambil resiko menggunakan sayapku.


Satu-satunya pilihan adalah...


Oh, Dewa, haruskah aku melakukan ini?! Aku jadi meminta pertolongan dengan langit. Baru saja terlintas ide di pikiranku untuk memanjat tembok. Karena aku bisa menyembunyikan diri dengan sihirku, tentu akan sangat mudah.


"Baiklah," kataku kepada diri sendiri. Aku sengaja menggerakkan leherku untuk melakukan peregangan otot. "Ayo, Alena."


***


Sementara itu di istana Amarilis...


Semenjak kejadian pada malam itu, Ledion tak fokus melakukan pekerjaannya. Ia bahkan tak menjawab sahutan dari anggota Ripper lainnya. Ia langsung mengedipkan mata dan kembali memfokuskan pandangan.


Di depan sana, lebih tepatnya di luar tembok raksasa wilayah Amarilis, ia bisa melihat Sang Ketua Fire yang memiliki rambut merah yang mencolok.


Untuk apa ia datang kembali kesini? Bukannya ia harus mengurusi masalah di Fae Hall karena Alena kabur dan menghilang?


Saat pria itu akhirnya bertemu pandangannya, ia tersenyum secara terpaksa dan lanjut berjalan tanpa menghiraukannya.


"Maaf, Mister," ucap salah satu Ripper yang berjaga. "Untuk apa Anda kemari?"


"Apa aku tak boleh memasuki wilayah ini?"


"Barusan pagi ini kita sudah menjaga ketat tembok ini. Karena kekacauan yang disebabkan oleh sang Fae God sendiri, sudah ada lebih banyak pengawal yang tersebar dimana-mana."


"Huh. Merepotkan." Bora melipat tangannya. "Aku ini Ketua Fire. Buat apa kalian melarangku masuk juga?"


"Apa Anda tahu kekacauan di istana Bougenville sendiri?" Tanya Ledion yang ikut menimbrung. "Sang Ratu telah tiada, karena tangan Sang Raja sendiri."


Sebetulnya Ledion ingin bertanya sesuatu kepada Bora. Hari ini ia mendapat kabar dari bawahannya bahwa Callum sempat membopong salah satu penjaga Fae Hall yang terluka. Ia ingin memastikan bahwa pangeran itu baik-baik saja.


Mengetahui bahwa Callum sempat menjalankan tugasnya sebagai seorang pangeran, bahkan saat ia merasa terbebani karena sudah kembali ke kampung halamannya, membuat perasaan Ledion bangga. Pangeran muda itu memang tak dapat dikalahkan.


"Yang Mulia Pangeran bahkan sudah memasang pengawal di dinding luar Bougenville," lanjut Ledion lagi. "Maaf, Mister, tapi saat ini Anda tidak boleh memasuki wilayah Amarilis terlebih dahulu."


Pria itu menegangkan rahangnya, dan menatapnya tajam. "Apa kau lupa aku yang semula menjaga wilayah ini?"


"Tentu saja tidak," balas Ledion. "Tapi itu sudah berlalu, kan? Sekarang akulah yang mendapat perintah langsung dari Sang Pangeran untuk menjaga tempat ini."


Bora mendengus kesal. "Begitu, ya?" Bisiknya. "Baiklah. Lakukan sesukamu."


Setelah itu, pria itu melangkah pergi begitu saja.


"Kapten," panggil temannya yang daritadi juga ikut menyaksikan adu mulut mereka. "Menurutmu, pria itu tak akan bermacam-macam, kan?"


"Apa maksudmu?" Ledion pura-pura bertanya, padahal sebetulnya dalam hati ia tahu bahwa pria Fire itu tidak bisa dipercaya.


"Sejauh ini aku sudah memperhatikannya. Ia tidak melakukan apa-apa," lanjut Ledion lagi. Yah, setidaknya itu benar. Ia sudah melakukan persis apa yang diperintahkan oleh Callum, dengan bantuan mata-mata bawahannya tentu saja. Namun Bora nampak baik-baik saja.


"Kuharap begitu," balas temannya. "Akhir-akhir ini, keadaan semakin kacau. Kita belum bisa melawan Egleans. Tahu-tahu mereka bertambah kuat saja."


"Lihat saja sisi positifnya," balas Ledion. "Setidaknya sekarang mereka tidak lagi mengancam kita. Mereka hanya datang dalam jumlah kecil, bahkan kadang hanya satu."


"Tapi bukannya itu aneh?" Tanya temannya. "Waktu itu Sang Ratu yang membiarkan mereka masuk ke wilayah kita, kan?"


Ledion mengakui perkataan temannya itu ada benarnya. Apalagi wanita kejam itu masih tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang.


"Kapten!" Seseorang tiba-tiba meneriakinya. Namun yang datang ke arah mereka bukanlah Bora, melainkan salah satu Ripper bawahannya.


"Kau?! Bukannya kau seharusnya sedang bertugas di Bougenville?"


"Ya, tapi ada yang harus kau ketahui," jawab pria itu sambil ngos-ngosan. "Ternyata pasangan Callum adalah Sang Fae God. Ia sempat berada di dalam istana, tapi sekarang mereka berdua malah menghilang."


"Apa?!" Ledion lagi-lagi harus berakting. Ia tahu Alena memang sudah berangkat ke sana untuk bersembunyi, tapi pasangan? Itu pasti rencana si pangeran gila itu.


"Tunggu, tunggu. Menghilang ya?" Ini membuatnya teringat dengan kejadian di masa lalu, saat dua sejoli itu menghilang secara bersamaan.


Tapi kali ini ia yakin mereka berdua dapat mengatasi apapun masalah yang akan dihadapinya.


"Haruskah kita mengirim orang untuk mencari mereka lagi?" Tanya bawahannya lagi.


"Apa Bora sudah mencurigai hal ini?" Ledion malah bertanya balik.


"Aku kurang yakin. Tapi kalaupun ia tahu, ia tak akan menyebarkannya ke semua orang di Fae Hall. Ia tak akan membuat semua orang panik. Ia sudah cukup kewalahan saat mencoba menjelaskan kepada semua orang terkait insiden upacara Fae God waktu itu."


Untunglah. Setidaknya pria itu masih waras, pikir Ledion.


"Kalau begitu, biarkan mereka saja dulu," kata Ledion dengan berat hati.


"Y-Ya?"


"Aku tahu perasaan Callum. Ia pasti lebih setuju jika para Ripper melanjutkan tugas mereka untuk menjaga setiap perbatasan wilayah, karena ancaman bahaya dari Egleans.


Jadi untuk masalah itu, biarkan mereka mencari solusinya sendiri."



Maaf buat yang udah menunggu lama eps selanjutnya...harusnya eps ini terupload kemarin tgl 20. Ada gangguan dari pihak MT soalnya...😢🙏


Sampai jumpa di eps berikutnya!