Wings & Fate

Wings & Fate
A Promise Is Still A Promise



Jantungku berdetak cepat, sementara napasku makin membara. Aku menelan ludah, lalu membuang napas sebanyak-banyaknya.


Kau pasti bisa, Alena, kataku dalam hati. Aku menatap pagar hitam yang menjulang tinggi di hadapanku. Aku harus bisa melewatinya bagaimanapun caranya.


Maka aku ikat rambut panjangku, kemudian mulai memanjat. Aku sampai menggigit bibir bawahku saat kedua tanganku mencengkeram pagar besi yang dingin, lalu kedua kakiku sudah tidak lagi menyentuh tanah.


Hup! Aku melompat, dan akhirnya berhasil memasuki area rumahku.


"Oke," bisikku pada diri sendiri. Aku menepuk-nepuk telapak tanganku yang masih ada bekas kotoran tanah.


Rumah ini masih terlihat sama persis seperti waktu itu. Tak terasa sudah berbulan-bulan semenjak pelarianku bersama Lexy waktu itu. Aku kembali mengenang hal apa saja yang sudah kami berdua lalui. Bertemu banyak teman baru, hingga pada akhirnya mendapat kekuatan baru yang sama sekali tak disangka.


Meski dadaku jadi sesak, aku tetap menjalankan ide gila ini. Mungkin saatnya kau melupakan semua hal yang telah terjadi selama ini, pikirku.


Aku memandangi pintu rumah bercat hitam ini. Kalau aku masuk, akan ada kemungkinan aku tak akan kembali lagi ke wilayah Fae. Mungkin aku akan kembali menjalani kehidupan lamaku sebagai anak dari dua orang manusia kejam.


Saat aku hendak menarik gagang pintu, sebuah kalimat kembali muncul di kepalaku, mengingatkanku atas semua janji yang pernah kuucapkan sebelumnya.


"Ketahuilah ini, rakyatku!" Teriakku sebelum aku menghilang. "Bahwa aku tidak pernah kabur dari tugas dan tanggung jawabku!"


Waktu itu jelas adalah pengumumanku kepada seluruh rakyat yang hadir pada saat upacara. Bayang memori yang semula terkubur mulai kembali muncul. Saat mereka menuduhku sebagai pengkhianat karena telah merusak proses upacara, aku berjanji kepada mereka akan berani bertaruh nyawa demi menyelamatkan mereka dari Sang Ratu yang jahat.


Dan sekarang...aku telah sampai pada titik ini. Aku sudah mengabulkan permintaan Jesca, yaitu membawa diriku sendiri ke tempat aman.


Tapi aku tidak boleh kabur seperti ini saja. Ini sama seperti kabur dari masalah dan meninggalkan rakyatku yang masih memerlukan bantuanku.


Maka aku menekan gagang pintu dengan kuat, lalu menariknya.


Ya, rencanaku sekarang adalah mencari Sang Ratu yang masih berkeliaran di dunia manusia dan membasminya seorang diri.


***


"Kau sudah gila," ucap Callum saat ia mendengar suara-suara Alena dalam kepalanya.


Kenapa kau mau melakukan itu semua seorang diri? Batinnya lagi.


Karena sekarang ia mempunyai dua benda penguat, mana sihirnya jadi lebih kuat dan tubuhnya tidak selemah sebelumnya.


Sedari tadi ia mengheningkan diri, menfokuskan pikirannya agar bisa terus mendengar suara gadis itu. Rasanya seperti permohonannya dikabulkan, dan tak pernah sekalipun ia merasa takut karena kemunculan suara-suara lain yang bukan miliknya dalam kepalanya.


Semakin Callum mendengarnya, semakin sakit lah hatinya. Rasanya seperti ada hantaman telak di ulu hatinya.


Bagaimana tidak? Ia sudah mendengar semua isi hati gadis yang dicintainya itu. Kini ia mengerti benar bagaimana perasaannya. Apa yang sudah ditanggung olehnya seorang diri. Apa yang telah terjadi di Fae Hall yang tidak sempat ia saksikan sebelumnya.


Dan Callum bahkan tidak menanyai perasaannya sedikitpun. Waktu itu ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri karena hubungannya dengan kedua orangtuanya, hingga lupa bahwa masih ada seseorang di sisinya.


Waktu itu jelas sekali gadis itu mengkhawatirkan dirinya, namun Callum tetap ingin merahasiakan masalah pribadinya. Ia pikir gadis ini tak perlu ikut bersedih dengannya.


Ini semua hal baru baginya. Callum kini benar-benar menyesal. Ia memang selalu merasa keberatan apabila perlu menceritakan masalah pribadinya kepada orang lain. Ia takut mereka akan menertawakannya, takut ia tidak akan didengar dan tidak dipedulikan.


Callum mendesah, dan menatap langit biru lagi. Sudah hari ke berapa ia mengejar Alena? Berdasarkan suara hatinya, gadis itu sedang berada di rumah lamanya.


Maka ia mengusap sebentar rubi merah pada gagang belati itu. Rumah manusia. Seharusnya ada di pedalaman hutan.


***


Detak jarum jam dinding adalah satu-satunya suara yang menemaniku. Aku sampai menggunakan ujung kakiku untuk berjalan. Meskipun aku menggunakan sihirku agar tidak terlihat, aku harus tetap waspada. Karena bisa saja aku ketahuan.


Lorong rumahku untungnya gelap. Aku melewati ruang tamu yang terdapat sofa-sofa mewah serta tempat perapian yang tidak sedang menyala.


Aku mengingat tempat itu. Ayah suka sekali menonton televisi. Ruang ini juga tempat para klien Ayah berkumpul bersama untuk membahas tentang pekerjaan mereka. Hal-hal yang tidak akan bisa kupahami. Semua tentang dunia bisnis dan ekonomi.


Kemudian ada ruang dapur. Aku paling banyak menghabiskan waktu disini untuk membantu Ibu melakukan pekerjaan rumah tangga.


Tanpa sadar aku tersenyum. Meski kedua orangtuaku tidak bepengertian, mereka tetaplah dua orang yang sudah menyediakan tempat tinggal untuk kami.


Mungkin aku harus berterimakasih sedikit kepada mereka, karena sudah mengajarkanku cara hidup mandiri.


Senyumanku sirna saat mataku akhirnya mendarat ke tangga berkarpet yang terletak di tengah ruangan utama.


Apa yang akan kutemui di atas sana?


Aku tahu akan ada ruang kamarku dan Lexy. Tapi yang menjadi pertanyaannya, kemana kedua orangtuaku sekarang? Aku belum melihat mereka sejak tadi.