
Ini sudah hari ke-dua aku melarikan diri dari istana Bougenville. Lebih tepatnya, dari pangeran yang ternyata selama ini sudah membohongiku.
Sekarang ini aku sedang menghadapi situasi yang membingungkan sekaligus menantang. Pasalnya, aku dan Jesca sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk berpikir dimana kami harus bersembunyi.
"Tentu bukan di Fae Hall. Amarilis juga terlalu berisiko," kataku. Sekarang aku kembali bercakap dengannya lewat Gardian.
Jesca tersenyum, yang menanamkan firasat buruk padaku. "Satu-satunya pilihan adalah-"
"Jangan sebut Bougenville," potongku dengan tegas. "Karena aku tak akan kembali ke sana."
Jesca menatapku penuh kesedihan dan kecewa. "Tapi Miss... Kita harus kemana lagi?"
"Terserah." [Author: Aduh, perempuan memang banyak maunya! Eh, aku sendiri juga cewe sih, haha ðŸ¤]
"Miss." Jesca mengusap-ngusap wajahnya penuh frustasi. "Akan sangat tidak sopan kalau aku menanyai hubungan Anda dengan Sang Pangeran... tapi aku sungguh penasaran."
Tanpa kusadari, senyum mengembang di wajahku. "Kau selalu mengingatkanku dengan Lexy, Jesca. Baiklah. Karena kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, aku akan menceritakannya padamu."
"Benarkah?" Mata Jesca sudah berbinar-binar. Aku mengangguk, kemudian menarik lengannya ke arah sebuah pohon besar. Disana, kami berteduh, sekalian merentangkan kaki untuk beristirahat sejenak.
"Heumm...aku ceritakan dari mana ya?"
"Dari mana saja boleh. Aku bersedia mendengarkan semuanya."
"Jesca," kataku sambil mendesah. "Coba kalau kau menjadi adikku, aku pasti sudah menyayangimu sepenuh hati."
"Haha! Kalau begitu, mulai sekarang aku adalah adikmu. Alena."
Aku terbelalak, merasa terharu karena gadis polos ini sekarang memanggilku dengan nama asliku.
Kemudian, aku mulai bercerita. Tentang bagaimana aku bertemu dengan Callum. Saat itu adalah malam yang tak bisa kulupakan. Waktu itu adalah malam saat aku tersesat di lorong, dan nyaris memasuki kamarnya.
Kemudian, sejak saat itu, aku jadi lebih sering menemuinya. Entah sejak kapan, kami jadi berteman baik. Ia sudah berkali-kali menolongku. Saat kelompok Ledion hampir saja menangkapku di Hutan Greensia, lalu saat aku dipermalukan di ruang rapat para Ketua Golongan.
"Waktu itu aku hampir mati, kalau bukan ia yang menyelamatkanku dari serangan Egleans."
"Itu pasti sangat berat ya, Alena. Saat kalian terjebak di Goa Kora."
"Ya..."
Aku hendak melanjutkan ucapanku, namun tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Aku menoleh ke arah Jesca, dan oh! Ia malah menatapku balik dengan wajah khawatir.
Ternyata aku lah yang sedang menangis!
"Miss, Miss! Apa kau baik-baik saja?!" Jesca sudah mengelap air mataku dengan lengan bajunya. "Apa aku berbuat salah? Kenapa kau menangis?"
"Bukan apa-apa," balasku dengan suara serak. "Aku hanya..."
Tangisanku semakin menjadi-jadi. Lirihan tawa keluar bebas dari mulutku, tanpa diundang. "Hahhh."
Aku tidak tahu apakah aku sedang menangis atau tertawa. "Andaikan kau berada di sana pada saat itu, Jesca." Kemudian, Hiks! "Callum... aku jadi teringat saat ia tertidur. Wajahnya polos sekali... seperti anak bayi."
Jesca tidak mengatakan apa-apa, hanya menepuk-nepuk pundakku.
"Kalau tidak salah, kaulah yang merawatnya. Kau juga menyelamatkannya dari maut."
"Mungkin," balasku tidak yakin.
"A...pa?" Hiks!
Jesca tersenyum. Senyum yang saat ini paling menenangkan perasaanku. "Kalian memang ditakdirkan untuk satu sama lain."
"Omong kosong," ucapku mulai kehilangan pandangan. Mataku telah benar-benar terhalang oleh air mata yang tak henti-hentinya keluar. "Ia memiliki tunangan. Ia bahkan sudah mengaku perasaannya pada Lucia. Mereka sudah saling mencintai."
"Apa kau yakin bahwa itu bukan suatu kebohongan?"
"Aku mengamati mereka diam-diam. Mana mungkin itu bohongan?"
"Apa kau tak mengamati hal lainnya yang janggal? Mungkin saja Callum sedang mempermainkan hati gadis itu."
"Sama seperti ia memainkan hatiku?" Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Tubuhku gemetaran tak karuan. "Sakit...Hiks! Hatiku sakit...Jesca..."
Jesca lagi-lagi tidak mengatakan apa-apa. Kemudian, aku merasakan suatu benda familiar yang keras di saku bajuku. Jesca tampaknya juga menyadari hal yang sama. Dikeluarkanlah benda itu tanpa izinku.
"Ini...be-belati Gardian..."
"Huh?" Aku mengeringkan air mataku sendiri. "Apa?"
"Alena...jangan bilang...kau melukai tanganmu dengan belati ini?"
"Ya." Aku mengerutkan dahiku. "Kenapa memangnya? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?"
"Apa ini... milik Callum?"
"Sepertinya iya. Aku pernah menemukannya sebelum itu. Dan setelah kuingat-ingat, ia memang selalu menyimpan senjata berharganya di dalam lemari kamarnya."
Jesca menggeleng-geleng. "Batu rubi ini... tak salah lagi. Ini memang asli."
"Jesca, kau kenapa?"
"Coba perhatikan kalungmu, Alena."
"Kenapa sih?" Aku mulai tak sabaran. Saat aku menundukkan kepala dan membuka telapak tanganku yang semula menggenggam erat ujung kalung, aku terkesiap.
Warna merah darah menodai kalung yang semula warna putih ini. Aku mengedipkan mata, dan tersadar bahwa ini adalah warna yang sama dengan batu rubi yang terdapat pada gagang belati.
"Apa artinya?" Bisikku. "Jesca, jelaskan kepadaku apa artinya."
"Ini artinya kau terhubung dengan siapapun pemilik belati ini."
"Kenapa bisa?"
"Ini adalah Gardian. Salah satu benda penghubung, sekaligus penguat kekuatan. Mungkin ini juga bisa menjelaskan kenapa kamu tidak mati, bahkan setelah kamu melukai nadimu."
"Sebenarnya ada berapa banyak benda Gardian ini?!"
"Hanya tiga. Kalung, belati, dan cincin."
"Kalau begitu..."
Callum? Aku langsung menguji belati itu. Apa kau disana?