
Beberapa Tahun yang Lalu...
"Istriku, anak kita cantik sekali." Seorang pria yang baru saja menjadi seorang Ayah membelai pipi lembut anaknya.
"Ya." Istrinya tersenyum, masih menggendong anak bayi dalam rangkulannya.
"Ini berkatmu, istriku. Kecantikanmu menurun pada anak kita," lanjut sang Ayah lagi.
Itu membuat istrinya tersenyum malu-malu. Bayi perempuan dalam dekapannya juga tersenyum manis. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak bahagia sudah dilahirkan ke dalam keluarga yang amat menyayanginya?
Bertahun-tahun bayi kecil itu tumbuh. Karena parasnya sangat cantik dan kulitnya seputih susu, orang-orang memanggilnya Jelita.
Ia menjadi primadona, sekaligus kembang desa. Ia sangat populer di sekolah dan kampung asalnya. Ia juga dikenal baik dan sangat pintar. Ditambah lagi suatu ketika saat Ayahnya yang miskin mulai diterima di sebuah perusahaan di kota terbesar dan mendapat banyak uang.
Hidupnya benar-benar bahagia. Ia yakin tak pernah ada orang yang hidupnya se-perfect dirinya. Ia bisa mendapatkan apa yang ia mau dengan mudah.
Sampai suatu malam saat ia menemukan sebuah fakta di ruang kerja Ayahnya. Ia menemukan sebuah catatan jurnal berisi kumpulan tulisan-tulisan aneh bak cakar ayam.
Ternyata selama ini kekayaan Ayahnya bukanlah hasil usaha kerja kerasnya, melainkan berkat sihir magis dan suatu kekuatan yang dipercayainya.
Karena Jelita adalah anak dengan rasa penasaran yang tinggi, maka pada malam itu ia pergi dari rumah mewahnya. Ia melewati pagar hitam tinggi yang membatasi rumahnya dengan hutan terlarang, sampai pada akhirnya tersesat sendirian di dalam hutan.
Disana ia bertemu dengan makhluk aneh dalam jurnal Ayahnya. Berdasarkan deskripsi dalam tulisan, wanita bersayap kuning itu adalah seorang Peri Lebah.
Kedengkian dan iri hati langsung timbul saat melihat seseorang yang jauh lebih cantik dibanding dirinya.
"Diatas langit masih ada langit." Itu kata salah satu temannya. Namun ia tak memercayainya sampai sekarang. Kenapa makhluk mistis ini bisa sampai mengalahkan dirinya?
"Aku adalah Ratu Peri Lebah," kata wanita cantik dengan senyum manisnya itu. "Anak manusia malang. Kau pasti sedang tersesat. Ikutlah aku ke tempat aman."
Karena Jelita ini anak yang pintar, ia menurut saja. Ia ingin belajar lebih lanjut mengenai makhluk aneh ini yang katanya sampai bisa membawakan hidup abadi dan kekayaan tujuh turunan.
Ia harus menggali rahasia dibalik kesuksesan Ayahnya sendiri.
Begitulah perjalanan hidupnya yang sesungguhnya dimulai. Kata Sang Raja, yang merupakan suami yang amat dicintai oleh Sang Ratu, tak pernah sekalipun ia menemukan seorang manusia secantik dirinya. Maka ia diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri. Diberi makanan dan baju mewah, sampai hadiah yang tak terhitung jumlahnya.
"Kau bebas kemana saja. Asal tidak bertemu dengan kaum Fae," jelas Sang Ratu padanya suatu hari. "Karena kaummu sudah bermusuhan sejak lama dengan mereka."
"Kenapa?" Tanya gadis yang rasa penasarannya amat tinggi itu.
"Karena beratus-ratus tahun yang lalu, sudah ada perang besar antara mereka. Penyebabnya sangat simpel. Manusia iri dengan mereka, sedangkan kaum Fae terlalu merendahkan mereka."
Sang Ratu menghembuskan napas lelah. "Hanya beberapa Fae yang masih memiliki hati dan orang-orangku yang sukses menghentikan perang itu."
"Bagaimana dengan para manusia?" Tanya Jelita.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan mereka, karena yang pertama mendeklarasi perang adalah kaum Fae. Maka setelah perang itu, mereka membuat kesepakatan. Mereka tidak boleh lagi saling bertemu dan saling menyakiti. Dan mereka juga menggunakan wilayah Peri Lebah yaitu Hutan Greensia sebagai pembatas wilayah mereka."
Sang Ratu juga menjelaskan bagaimana para Fae Healer sampai menciptakan kabut untuk berjaga-jaga jikalau ada ancaman bahaya dari manusia.
Jelita sepertinya mengerti perasaan Sang Ratu. Menjadi pihak ketiga antara dua kaum yang saling bermusuhan tentu tidak nyaman.
Tapi Ayahku berhasil menemukan mereka. Seharusnya manusia tak boleh tahu kalau Fae itu ada.
"Jelita," panggil Sang Ratu. "Kau adalah anak baik. Aku beruntung sudah menjadikanmu anak angkatku."
Jelita tersenyum. Akhirnya ia berhasil mendapatkan hati wanita ini.
"Aku akan memberimu suatu hadiah," katanya lagi. Sang Ratu kemudian membuka telapak tangan Jelita, dan menaruh suatu benda diatasnya.
Mata Jelita berbinar-binar dan jantungnya berdetak cepat saat benda dingin itu menyentuh permukaan kulitnya.
Apa yang kira-kira akan kudapatkan? Apakah akhirnya aku bisa mengetahui cara Ayah mendapat kekayaan berlimpah? Atau aku mendapat semacam ramuan agar bisa hidup abadi?
"Kau tak mengerti." Sang Ratu menggelengkan kepalanya. "Ini adalah benda penghubung, yang diberi langsung oleh Raja dan Ratu Fae. Sebagai bentuk persahabatan antara kaum kami."
Karena Jelita anak yang cerdas, ia tahu cincin ini bukan sekedar benda penghubung yang bisa membuat seseorang berkomunikasi lewat pikiran dengan seorang lagi.
Akhirnya Jelita kembali melarang aturan, yaitu pergi ke wilayah Fae. Disana ia menemukan seorang pria bersayap merah. Karena masih belum mempunyai jawaban atas catatan jurnal Ayahnya, Jelita hendak menggali informasi dari Fae itu.
Tapi sepertinya ia tak perlu berusaha. Karena sebuah suara terdengar dalam pikirannya.
Ratuku. Temanku.
Ternyata ia telah membuntuti Fae yang tepat.
Ratu Peri Lebah. Kau pasti bingung siapa yang sedang berkomunikasi denganmu. Aku memang bukan Raja Fae. Namaku Bora, seorang Fae Fire yang amat mencintaimu.
Ratu. Aku tahu kau sudah memiliki Raja Peri Lebah. Tapi ketahuilah ini, bahwa aku memiliki sesuatu yang bahkan tak pernah dimiliki oleh seorang Raja dan Ratu Fae sekalipun.
Ratuku. Pagi tadi aku menemukan cincin Gardian ini diantara semak-semak. Aku juga menemukan mayat tubuh seorang wanita Fae. Setelah kuselidiki, ia adalah salah satu selir Baginda Raja Fae.
Ratuku. Kau lihat? Betapa berbahayanya dan bermuka dua kaum Fae. Tapi aku tidak seperti mereka. Aku memiliki hati yang tulus. Bersediakah kau menjadi pasanganku?
Jelita tak membalas panggilannya. Ia sibuk berpikir apa yang harus ia lakukan saat Fae itu sudah terbang pergi.
"Tunggu!" Teriak Jelita, namun ia terlambat. Padahal ia masih ingin menanyakan hal apa yang dimiliki Bora yang tak pernah dimiliki oleh Raja dan Ratu Fae sekalipun. Akhirnya dengan kesal ia kembali pulang ke Alther Suliris.
Malam itu ia mencuri Elixir milik Sang Ratu yang bisa merombak penampilan seseorang. Kemudian, Jelita membunuh Ratu itu dan melumurinya dengan madu itu sehingga tubuhnya berubah menjadi wujud rupa dirinya.
Wujud rupa seorang gadis manusia.
Glek! Baru pertama kali gadis yang bahkan belum berusia 8 tahun itu membunuh seseorang. Ia meminum beberapa teguk Elixir itu, dan berhasil merubah penampilannya menjadi Sang Ratu Peri Lebah.
Bora? Apa kau mendengarku? Ia sudah memakai cincin pemberian Sang Ratu.
Tak sampai sedetik, panggilannya terjawab. Ratuku! Syukurlah, kau menjawabku!
Bora, sayangku, pikir gadis itu sambil cekikikan. Aku perlu bantuanmu.
Ia lalu melirik mayat Sang Ratu yang masih berwujud rupa manusia. Tadi aku menemukan mayat manusia di dekat istanaku. Bisakah kau membantuku dan membakar habis mayatnya?
Jelita bisa membayangkan raut wajah Bora saat itu. Pria itu langsung setuju dan tanpa basa-basi, ia langsung berangkat ke istana miliknya.
"Selesai," kata Bora setelah penantian yang cukup lama. "Aku telah membakar tubuhnya, Ratuku."
"Bagus," kata Jelita yang meniru suara lembut Sang Ratu. Ia tersenyum puas saat melihat abu mayat itu yang tak tersisa sedikitpun. "Karena kau telah membantuku, aku bersedia menjadi pasanganmu."
Itu membuat Bora terkejut, namun akhirnya ia tersenyum bahagia.
"Ratuku," katanya sambil mengecup pundak tangannya. "Terima kasih. Terima kasih banyak. Aku-"
"Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya kepadamu," potong Jelita.
"Apa itu? Tanya sesuka hatimu. Aku pasti akan menjawabnya."
"Tadi kau bilang kau memiliki sesuatu yang bahkan tak dimiliki oleh Raja dan Ratu Fae sekalipun. Apa itu?"
Bora berjalan mendekat ke arahnya, dan memegangi pundaknya. "Aku tahu cara mendapat kekuatan besar. Kekuatan yang bahkan lebih hebat dari seorang Fae Royal sekalipun."
Ini dia, batin Jelita. Hal yang kuincar sejak awal.
"Katakan apa itu."