
Aku terbangun tengah malam, tiba-tiba tak lagi mengantuk. Bukan tengah malam lebih tepatnya, karena ruang tempat aku ditahan tidak berjendela. Namun aku tahu aku sudah terlelap selama beberapa jam.
Disampingku sekarang ada Callum. Ia masih tertidur pulas, dengan sebelah tangannya yang memeluk tubuhku dengan erat.
Aku tersenyum dan berbalik badan ke arahnya, lalu balas memeluknya. Tiba-tiba saja ia bergerak dan mempererat dekapanku.
"Alena?" Tanyanya dengan suara polos. Itu langsung membuatku tertawa gemas. Bagaimana tidak, suaranya saat baru bangun tidur benar-benar seperti anak kecil.
Aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya fokus menempelkan hidungku pada dadanya, berusaha meresapi aroma tubuhnya.
Callum tertawa kecil, kemudian tangan nakalnya meraba sayap di punggungku.
Rasanya seperti ada yang menggelitik. Wajahku jadi merah padam saat salah satu jarinya menelusuri ujung sayapku dari atas ke bawah, kemudian tiba-tiba...
"Hah!" Aku terkesiap dan langsung bergetar, tanpa disadari sudah kembali menusuk punggungnya dengan kuku jariku. Cahaya lemah dari telapak tanganku mulai muncul, dan menyelimuti tubuh kami dengan kehangatan.
Aku mengeluarkan suara lirihan yang terdengar aneh di telingaku sendiri. "Apa... yang sedang... kau-"
Sial! Aku jadi terbuai oleh sentuhannya yang ternyata sangat lembut. Padahal ia hanya membelai kedua sayapku dengan seluruh jemarinya, tapi kenapa rasanya seperti...
"Sudah kujelaskan sebelumnya, bahwa sayap itu bagian privasi dari tubuh seorang Fae," bisiknya pada telingaku. Aku menelan ludah, tak bisa berpikir jernih. Pantas rasanya berbeda saat ia menyentuh sayapku.
"Mau lagi?" Bisiknya lagi sambil menyeringai. Belum sempat aku menjawab, ia tiba-tiba menggosok sayapku dengan buku-buku jarinya.
"Cal! Hentikan!" Ucapku susah payah. Namun tubuhku berkehendak lain dan malah tenggelam dalam godaannya. "Cal..."
"Haha! Sudah, sudah." Ia mendorong sedikit kedua bahuku dan mengunci tubuhku sepenuhnya dengan kedua kakinya.
Callum mencium bibirku dengan lembut, kemudian mendaratkan kecupan yang bertubi-tubi pada pipiku, leher, serta tenggorokan. "Aku bisa terus melakukan ini bersamamu tanpa henti," gumamnya sambil membuat tanda pada samping leherku. "Tapi sebelumnya, kita memiliki masalah yang jauh lebih penting."
Ia bangkit berdiri dari kasur begitu saja. Aku langsung berteriak saat melihat tubuhnya yang tak mengenakan apa-apa, kemudian menutup mataku dengan tanganku.
"Kau sangat polos, Lenaku," katanya sambil tertawa. "Padahal kemarin kau sangat menikmatinya. Desahanmu itu membuatku semangat untuk terus-"
"Aa...sudah sudah!" Sambil menahan rasa malu, aku juga bangkit dari kasur dan menyambar gaunku di atas lantai.
Setelah kami berganti pakaian, Callum mulai menjelaskan semuanya kepadaku. "Aku harus berpura-pura menuruti kehendaknya, agar bisa mendapat kepercayaannya."
Aku menatapnya penuh kekhawatiran.
"Jangan khawatir. Ia tak melukaiku sedikitpun," lanjut Callum lagi.
Aku menghela napas lega. "Apa kau telah memberikannya semua? Ketiga pasang benda Gardian?"
Ia terdiam, dan menundukkan wajahnya. Mungkin sekarang ia mulai menyesal sudah berbuat demikian. "Awalnya aku tak bisa berpikir jernih, Alena. Saat wanita itu menikammu, aku pikir..." Ia menggeleng-geleng.
Aku tersenyum dan menyentuh kepalan tangannya yang sudah bergetar. "Ratu itu telah menceritakan kepadaku segalanya. Mengenai ramuannya, kemudian..."
Kemudian kenyataan bahwa aku hanyalah mayat yang dibangkitkan.
"Kemudian apa?" Tanyanya sambil menatapku dengan penasaran.
Aku memaksakan sebuah senyuman, tidak memperdulikan keringat yang mulai mengucur. "Alena yang kau lihat tadi bukanlah diriku yang sebenarnya. Ia pasti mengubah penampilan Bella agar bisa mengelabuimu."
"Ah," balasnya sambil mengangguk. "Sebenarnya, aku sudah tahu bahwa itu bukanlah dirimu."
Aku terbelalak. "Bagaimana caranya? Kau kan, tidak tahu apa-apa mengenai ramuan berbahaya itu!"
"Ya, aku memang belum memahaminya." Ia mengangkat tangannya dan meraup kedua pipiku. "Tapi aku mengenalimu."
Satu kalimat itu sukses membuatku merona.
"Cal... apa itu darah milikmu?"
"Ya." Ia mengangguk, lalu membuka kepalan tangannya. Benar saja. Ada bekas luka sayatan yang melintang di atas sana. Ia telah mengambil darahnya sendiri. "Belati lainnya lagi memiliki darah Bella. Meskipun hanya sesaat, aku bisa mendapatkan informasi yang sangat berguna."
Aku mengambil tangannya, kemudian meraba bekas luka itu dengan pelan. Itu seketika membuat tangan Callum bergetar hebat.
Aku ingat belati yang sedang ditunjukkannya padaku sekarang. Setelah kuingat-ingat, aku juga sempat melukai nadiku dengan belati yang sama. Dan kalau penjelasan Callum benar, bahwa cara mengaktifkan ini tak lain adalah dengan darah kita sendiri, maka aku juga bisa membaca pikiran Bella.
Aku ikut menyentuh belati itu. Tiba-tiba sebuah suara mulai terdengar, mengisi kepalaku dengan bisikan. Meski hanya sesaat, aku mengenali pemilik suara ini.
"Perang sebentar lagi akan dimulai," ucap wanita yang ada didepannya. Sang Ratu Dunia, sekaligus seorang gadis manusia dengan ambisi yang besar. "Aku akan melepaskan mereka semua ke dunia Fae. Sebentar lagi mereka sudah siap, Bella. Sebentar lagi."
Mereka? Apa yang dimaksud oleh Ratu adalah makhluk bernama Egleans itu? Apa jangan-jangan selama ini ia telah menyembunyikan pasukan besar? Pantas saja, Egleans jadi sangat jarang ditemukan di wilayah Fae. Ternyata wanita licik itu memang sedang merencakan sesuatu yang besar.
"Apa maksudmu, Ratuku?" Tanya Bella yang sudah merinding. "A-Anda tak akan ikut menghancurkan kaum peri lebah, kan?"
"Apa?! Ha!" Sang Ratu tertawa terbahak-bahak. "Kenapa tidak? Toh, aku berencana akan menguasai ketiga kaum."
"Tapi kau sudah berjanji." Kini tubuh Bella bergetar hebat. Air mata mulai tumpah, membasahi permukaan Bumi yang telah menjadi saksi pembicaraan mereka. "Kau berjanji atas kekuatan yang tiada bandingnya di muka Bumi ini. Anda bahkan juga menjanjikanku kehidupan kekal kalau aku melayanimu."
"Aku tidak berbohong, Bella." Sang Ratu mengangkat dagunya. "Aku akan memberikanmu kekuatan seorang Fae God. Bedanya, kali ini jauh lebih kuat karena aku akan menggunakan ketiga pasang Gardian."
"Huhu..." Tangis Bella. Ia tak menyangka hidupnya akan berakhir menjadi seperti ini. "Harusnya aku tak memercayaimu... harusnya aku tak-"
"Diam!" Sang Ratu menendang perutnya, kemudian menjentikkan jarinya. Bella sudah paham betul segala gerakan wanita itu. Kalau ia menjentikkan jari, artinya ia sedang mengontrol sesuatu.
Egleans itu kini sudah mengendus tubuhnya, dan menjilati wajahnya karena kelaparan. "Kau gadis tak tahu diuntung! Kau tahu sudah berapa kali aku menghabiskan cairan berharga ini demi membangkitkanmu?!"
"Bangkit?! Se-Sejak kapan-"
"Aku harus terus merombak penampilanmu, Bella, agar terlihat mirip seperti Alena. Agar aku bisa mengelabui sang pangeran yang sudah tergila-gila padanya. Kau juga mau, kan, dicintai oleh Callum?"
Aku melepaskan belati itu, tak kuat lagi mendengar segala percakapan Bella bersama Sang Ratu di masa lalu. Ini sudah terlalu berlebihan. Ini sudah-
"Alena." Callum membelai rambutku. "Tak masalah kalau kau tak mau mendengarnya lagi. Tapi aku sudah tahu betul rencana Sang Ratu."
"Rencana apa itu?" Tanyaku tanpa memandang wajahnya. Aku dibuat semakin khawatir saat mendapati ekspresi Callum yang tak biasanya.
"Wanita itu selama ini menyembunyikan pasukan besar Egleans di dalam rumah orangtuamu."
Deg! Jantungku seperti terlepas dari tempatnya, dan jatuh ke perut. Sedangkan aliran darahku seperti tak lagi mengalir.
Seharusnya aku mengecek gudang Ayah saat masih berada di dalam rumah itu. Tapi karena Egleans itu sudah terlanjur menemukanku...
"Tapi, memangnya muat ya?" Tanyaku tiba-tiba. "Aku pernah ke gudang Ayah. Itu hanya berisikan kotak-kotak kardus yang sangat berat-"
Oh tidak. Jangan bilang selama ini ia menyembunyikannya di dalam kardus. Kardus yang pernah kuangkat bersama Lexy sebelumnya.
"Cal," bisikku. "Jangan bilang, ia gunakan ramuan itu untuk mengecilkan ukuran tubuh mereka? Itulah sebabnya tak ada satupun yang dapat menemukan sarang mereka, bahkan para Ripper."
"Bisa jadi," balasnya sambil mengangguk. "Kalau begitu, kedua orangtuamu-"
Braak!! Seseorang mendobrak pintu, yang tak lain adalah gadis manusia itu.
Gawat. Ia sekarang melirik kedua tangan kami yang saling terpaut, kemudian rambutku yang berantakan. Jelas sekali terlihat bahwa kami sudah tidur bersama.