
"Alena, aku bisa jelaskan semuanya."
Pangeran itu berlari, mengejar gadis yang amat dicintainya itu. Baru saja ia melakukan sebuah kesalahan yang sukar dimaafkan. Kesalahan yang sampai membuat hubungannya dengan gadis itu retak.
"Tidak, Callum. Tak ada yang perlu dijelaskan. Kau bohong kepadaku. Sebenarnya kau tidak mencintaiku. Aku ini hanya salah satu simpananmu saja."
"Kau tahu itu tidak benar!" Callum malah membentak. "Alena! Mau kemana kau?! Jangan pergi!"
"Aku benci padamu." Itulah balasan yang didapatkannya. Balasan yang sebenarnya pantas diterimanya karena telah menyakiti hati gadis itu.
Callum tak lagi melihat keberadaan gadis itu. Tubuhnya yang bercahaya perlahan-lahan menghilang, dan memudar dari jangkauannya.
Ia mengepalkan tangannya. "Alena. Aku akan tetap menemukanmu. Dimanapun kau berada."
***
"Yang Mulia."
Callum mendengar suara lembut seseorang.
"Yang Mulia!"
"Hah!" Ia terbangun dan segera membelalakkan matanya. Saat matanya sudah kembali fokus, ia melihat pergerakan yang amat cepat di depannya. Pengasuhnya yang bernama Dorothea itu masih sibuk menyerang Sang Raja. Anehnya lagi, tak ada satupun penjaga yang melerai mereka. Mungkin dalam hati mereka tak menerima bahwa Pangeran mereka sendiri hampir saja dibunuh oleh Raja.
"Yang Mulia." Rupanya itu pria Healer yang sempat menyembuhkannya. "Untunglah." Katanya sambil menghela napas. "Kau sudah terbangun."
Callum berhati-hati dan menggunakan sikunya untuk bangkit duduk. "Aw!"
Sial. Ia lupa bahwa perutnya masih terluka.
"Tenang saja, Pangeran. Untungnya aku menyembuhkanmu tepat waktu. Hampir saja kau mati."
"Haha," Callum menemukan sebagian dirinya kembali, yaitu tertawa di saat keadaan genting. Entah kenapa beban di pundaknya sudah berkurang. Mungkin karena Sang Ratu yang akhirnya mengakui bahwa Ibunya bernama Cindy.
Sang Ratu yang ternyata bukan Ibunya, namun masih tetap mencintainya hingga akhir hayatnya.
"Ibuku. Aku-"
"Pangeran, kau tak punya banyak waktu," kata pria Healer itu memotong pembicaraannya. "Kau tak punya waktu untuk mengunjungi pemakaman Sang Ratu. Kau harus pergi dari sini. Kau sudah tak aman, Sang Raja bisa saja melukaimu lagi."
"Maaf?" Callum mengangkat alisnya. "Anda ini sedang mengusir Pangeranmu dari istananya sendiri?"
"Bukan begitu." Pria itu langsung menggeleng-geleng. "Pasalnya tadi setelah aku keluar ruangan, aku diberi kabar oleh salah satu pengawal terkait pasanganmu yang bernama Alena itu."
Ajaibnya, kaki Callum langsung kembali berfungsi. Ia sudah bisa berdiri, walau perutnya masih agak nyeri. Pria itu sudah menghentikan pendarahannya, sama seperti yang dilakukannya sebelumnya. Ia bahkan sudah menjahit kembali kulitnya. Namun karena butuh lebih banyak waktu dan lukanya bertambah besar, jahitannya tidak rapi dan seadanya saja.
"Dimana Alena?"
Pria itu menggeleng-geleng dan tersenyum melihat tingkah laku pangeran ini yang masih saja seperti anak kecil. "Setelah kuamati, Anda memang benar tulus mencintainya ya."
"Cepat katakan dimana dia!"
"Ba-Baik!" Pria itu kembali memasang muka serius. "Salah satu pengawal telah menemukan jenis tanaman aneh yang tiba-tiba tumbuh di dekat gedung istana. Setelah diamati dan dipelajari oleh spesialis Blossom kerajaan, itu adalah jenis tanaman yang hanya tumbuh dari darah seseorang yang suci. Fae God."
Callum menggigit bibirnya terlalu keras. Akhirnya ada sesuatu yang mungkin bisa jadi petunjuk untuk melacak gadis itu.
"Pangeran. Jangan bilang selama ini... pasanganmu itu adalah Fae God? Karena ternyata nama asli Sang Fae God juga Alena."
Pria itu masih menatapnya penuh kecurigaan. "Apa dugaanku benar?"
Tak ada gunanya menutupi kebenaran saat seseorang sudah mencurigainya. "Ya. Dia memang Fae God yang dirumorkan itu."
Srriingg!! Suara keras pedang masih terdengar. Mereka tak henti-hentinya saling melawan. Kedua Fae yang sudah lanjut usia itu sudah babak belur, namun Callum tahu usia mereka tak berbeda jauh. Miss Dorothea selain menjadi pengasuh juga pandai bertarung.
Callum tak mengatakan apa-apa, dan langsung mengangguk. Tak sampai sedetik, ia sudah berdiri di luar gedung istana.
Karena ia masih belum pulih total, keringat mulai bercucuran. Pandangannya mulai kabur lagi, tapi ia tak akan menyerah.
"Alena. Aku akan tetap menemukanmu. Dimanapun kau berada."
***
Sesudah melewati perjalanan panjang dan bermil-mil, akhirnya Lexy dan Val telah sampai di area Alther Suliris.
Kesan tempat ini sungguh berbeda. Bahkan arsitektur istana Sang Raja Lebah sendiri. Beda dengan istana di Suavis yang penuh ditumbuhi oleh pohon-pohon besar, lahan istana ini kosong melompong, dan lebih diutamakan sebagai area piknik para peri lebah.
"Apa kaum peri ini memiliki dua kubu?" Tanya Lexy. "Yang sebagian pasti mengikuti Sang Ratu, sementara sebagian mengikuti Sang Raja."
"Lebih tepatnya, sebagian besar mengikuti Sang Ratu," balas Val disampingnya. "Banyak yang bilang wanita itu yang menyelamatkan para gadis dari siksaan Sang Raja."
"Siksaan apa?" Lexy tiba-tiba mengingat ucapan Bella, gadis yang sempat menjadi temannya sebelum ia mengkhianatinya. Katanya Sang Raja itu jahat, dan tidak ada yang menyukainya.
"Mana aku tahu." Val mengangkat bahunya. Ia lalu mengeluarkan botol ramuan itu, dan menyodorkannya ke Lexy.
Glek! Glek! Lexy meminumnya tanpa sisa. Ia lalu membuang botol kaca itu ke tanah, menghasilkan bunyi pecahan kaca yang keras.
"Harus ya, dramatis seperti itu?"
Lexy hanya memutar bola matanya.
Tubuhnya kini mulai berubah. Bukan menjelma menjadi Egleans, tapi menjadi bentuk lainnya yang sebetulnya pernah ia gunakan sebelumnya.
Val hanya menganga melihatnya. "Kau... persis seperti pada saat Pesta Topeng."
Lexy tersenyum puas dan mengangguk. Ia melirik ikal rambutnya yang kini menjadi warna coklat.
"Gimana? Lebih baik dari Egleans?"
"Tidak, tentu saja." Val menarik tangannya, memaksanya untuk terus berjalan.
"Hei! Kalau kau melakukan itu, semua orang akan curiga!"
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Val kebingungan.
Orang ini sebetulnya bodoh atau terlalu pintar sih?! Gerutu Lexy dalam hatinya.
"Jangan sentuh aku! Perlakukan aku sebagai Ratumu!"
"Huh," desah Val. "Oke."
Untungnya segalanya berjalan dengan lancar. Tidak ada pengawal sama sekali yang berjaga di depan pintu.
"Kurasa ini semua sia-sia," kata Lexy memprotes. "Tahu begitu, aku gunakan saja wujud Egleansku dan menerobos masuk."
"Sshh!" Val tiba-tiba menghentikan langkahnya, kemudian merentangkan tangannya.
"Ada apa?" Lexy menoleh kesana kemari. Namun yang ia lihat masih sama. Lorong istana gelap yang sunyi. Ini membuatnya merinding ketakutan.
"Kau dengar itu?"
Lexy memfokuskan pendengarannya. Samar-samar ia dapat mendengar suara alunan musik. Musik ini seolah mengundangnya untuk didengarkan.
Kakinya sudah bergerak ke arah sumber musik. Biola. Piano. Semua dipadu menjadi satu.
"Lexy. Jangan." Val sudah menahan pergelangan tangannya. "Aku mempunyai firasat buruk terhadap ini."