
Sinar terik matahari mengakibatkan keringat Callum keluar terus menerus. Tak sampai disitu, ia menduga luka di bagian perutnya malah semakin parah, karena ia terlalu lama bergerak.
Sudah berjam-jam ia hanya bergantung pada kedua kakinya. Karena mana sihirnya lemah, dan itu mengakibatkan sayapnya tak cukup kuat untuk menerbangkannya.
Callum menyeka keringatnya. Masih sambil menekan perutnya, ia menyipitkan mata untuk melanjutkan jejak tanaman itu.
Ia tersenyum. Tanaman indah berwarna hijau ini memiliki bentuk unik, yaitu daunnya yang seperti hati. Ia membungkukkan badannya dan mencabuti salah satu sulur tanaman.
Baunya seperti Alena, pikirnya saat aroma tanaman itu tak sengaja memasuki lubang hidungnya. Dadanya langsung sesak begitu ia mengingat gadis itu. Gadis dengan aroma tubuh manis sekaligus menggoda, mirip seperti harumnya bunga Asoka.
"Kamu dimana, Alena?" Callum mendesah dan menatap langit yang masih bisa terlihat begitu cerah saat suasana hatinya sedang mendung.
Ia kembali melanjutkan perjalanan, tidak peduli dengan kondisi tubuhnya sendiri yang kian detik makin melemah.
***
Bagian hutan ini terlihat sama persis seperti waktu itu, seperti saat aku dan Lexy melakukan pelarian.
Benar. Sekarang aku sudah kembali ke Hutan Greensia. Lebih tepatnya, bagian perbatasan dengan wilayah manusia.
Saat makhluk Egleans itu menemukanku dibalik rerimbunan semak, tentu saja aku langsung menghilangkan diri. Aku bertekad untuk menuruti nasehat Jesca, yaitu pergi ke wilayah manusia. Dan satu tempat yang langsung terlintas di otakku begitu aku mendengar kata 'manusia' adalah area ini.
Rumah lamaku.
***
Srag! Srag! Callum menggunakan tangannya untuk menepis daun-daun yang menghalanginya. Bagian hutan di luar tembok raksasa Bougenville memang paling berbeda. Pohon-pohonnya kelewat besar, dan duri bahkan tumbuh mencuat ke jalan setapak.
Sepertinya tempat ini cocok dinamakan Hutan Berduri, batin Callum. Kakinya tiba-tiba tersangkut belukar dan ia harus bersusah payah menariknya kembali.
Splash! Karena aksinya yang ceroboh itulah, tubuhnya terjatuh ke dalam rawa lumpur.
Callum mengumpat atas kecerobohannya sendiri, lalu menggunakan sikunya untuk naik kembali ke tanah yang becek. Ia menatap pasrah kaos bajunya yang sekarang mungkin lebih cocok digunakan sebagai kain tikar usang. Bau, basah, dan tipis.
Ia kembali menghabiskan waktu berjam-jam tanpa menemukan suatu hal yang baru. Tanaman yang sekarang ia sebut sebagai Asoka itu hanya meninggalkan jejak sampai luar dinding istana. Alasan sekarang ia memilih tempat ini karena Alena tak mungkin kembali ke Fae Hall.
Yah, semoga saja dia tidak kembali ke Fae Hall, karena ia benci dengan Bora.
Tapi ia sudah pasti tidak berada di sana kan? Pikiran Callum mulai terpecah menjadi dua suara. Sebagian dirinya ingin kembali ke gedung prasejarah itu, karena akan lebih mudah jika seseorang disana sudah menemukan Alena.
Sepertinya tidak mungkin, pikirnya yakin. Dengan kondisi Alena yang saat itu sangat buruk, ia tidak mungkin mendarat sejauh itu.
Callum mengusir jauh-jauh pikiran negatif itu. Kau harus baik-baik saja. Jangan sampai kau kenapa-kenapa.
Tapi memori malam itu kembali berputar dalam pikirannya.
"Aku benci kau! Aku menyesal sudah jatuh cinta kepadamu!"
Gadis yang dihadapannya itu menatapnya penuh amarah sekaligus kesedihan. Callum tak memercayai apa yang baru saja dilihatnya. Nadi tangannya sekarang terluka parah. Darah segar mengalir keluar, dan untuk setiap tetes yang mengotori lantai, semakin perihlah hatinya.
Bagaimana caranya gadis itu baik-baik saja setelah ia melukai dirinya sendiri? Ini salahnya. Semuanya salahnya.
Benar, pikir Callum sambil menundukkan kepalanya. Meski ia menatap kosong ke arah tanah berbecek, pikirannya tetap dipenuhi oleh wajah Alena yang sudah menatapnya penuh kebencian.
Ini semua salahku. Andai saja aku memberitahumu lebih cepat, kau tak perlu melakukan hal itu.
Saat ia sibuk memikirkan nasib Alena, kakinya lagi-lagi tersandung oleh sesuatu. Bukan batu besar, ataupun belukar tanaman, melainkan sesuatu yang keras dan kecil.
Benda itu terpental jauh, hampir hilang di balik semak-semak. Kalau bukan karena batu merahnya yang familiar, Callum tak akan menghiraukan benda itu.
***
Apa ini ide yang baik?
Sebetulnya aku tak harus memasuki rumah lamaku. Aku hanya perlu memasuki wilayah manusia, tempat tinggal makhluk-makhluk seperti kedua orangtuaku, lalu bersembunyi.
Dan kalau terpaksa, aku harus bisa beradaptasi disana dan menggunakan sihirku untuk menyamar. Karena aku bisa menggabungkan beberapa sihir sekaligus, akan lebih mudah bagiku untuk menjalankan ide gila ini.
Apa yang harus kupilih? Kembali ke rumah lamaku atau memasuki wilayah manusia yang belum tentu aman?
***
"Belatiku," bisik Callum saat ia mengangkat benda itu. Hatinya langsung merasa tenang saat meraba batu merah itu. Ia bisa langsung tahu ini belati Gardian asli.
Tapi... kenapa benda ini bisa ada di-
Tenggorokannya tiba-tiba tercekat dan ia tak bisa berkata-kata. Ia langsung mengingat kembali memori malam itu, saat belatinya dirampas oleh Alena.
"Tidak salah lagi." Napasnya mulai memburu. "Alena... di-dia! Dia pasti ada di sekitar sini!"
Callum buru-buru menyimpan kembali belati itu di sakunya, dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Hosh, hosh." Tubuhnya sudah terasa sangat lelah. Pandangannya kembali menjadi buram, dan perutnya yang masih terasa tak nyaman tiba-tiba bersuara.
Sial. Aku lupa aku belum makan apa-apa sejak aku keluar dari istana.
Ia menengadah dan melihat matahari yang sudah terbenam. Sebentar lagi hari akan gelap, dan berada sendirian di tengah Hutan Berduri tentu akan berbahaya baginya.
Ia menoleh kesana kemari, berusaha untuk mencari apa saja yang bisa ia konsumsi, namun bunga tentu tak tumbuh di tanah yang berlumpur.
Apa yang harus kulakukan? Saat ia kembali melangkah, kakinya yang bergetar tak mampu lagi menahan berat tubuhnya.
Bruukk!! Callum terjatuh ke tanah, kepalanya lagi-lagi terendam dalam lumpur.
"Haahh," desahnya. Karena kakinya tak mau menurut, maka ia terpaksa menggunakan waktu untuk berbaring sebentar.
Suasana hutan yang sangat hening malah membuatnya tak nyaman, ditambah bajunya yang benar-benar sudah berkeringat.
"Alena..." Ia mencoba mengucapkan nama itu lagi sebagai penyemangatnya. "Dimana kau?"
Suara desiran angin hanyalah satu-satunya yang membalasnya.
"Oh, Dewa. Beri aku petunjuk," bisiknya lagi. Padahal ia sudah mengikuti jejak Asoka. Ia bahkan sudah menemukan belati miliknya. Namun kenapa ia masih tak menemukan keberadaan gadis itu?
"Hhhnnngg." Suara lirihan seseorang membuatnya kembali tersadar. Itu berasal di dekatku, pikirnya.
"Alena?" Ia mencoba bangkit sekuat tenaga, namun kakinya lagi-lagi tak mau menurut. Kali ini perutnya kembali terasa nyeri.
"Alena!" Teriaknya. Ia merintih dan menggunakan bantuan batang pohon untuk berdiri, namun aksinya itu membuat jahitan luka di perutnya semakin parah. Saat ia membuka sedikit kaos bajunya, ia bisa melihat jahitannya yang semula memanjang secara horizontal, mulai kembali terbuka.
"Hhh," suara lirihan itu masih terdengar. Itu suara perempuan, pikirnya yakin. Dan orang itu sedang terluka.
"Alena!" Maka tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya, ia bergegas mencari sumber suara itu.
Betapa terkejutnya dirinya saat melihat seorang gadis Royal yang terbaring lemah di atas genangan darahnya sendiri.
.
.
.
Kalian udah tahu kan kira-kira siapa yang ditemukan oleh Callum? ðŸ¤