Wings & Fate

Wings & Fate
What Is Love?



Seorang gadis muda sedang menduduki singgasana yang terletak tinggi di tengah ruangan. Roknya sampai menutupi seluruh permukaan kursi, sementara wajahnya menatap rakyatnya tanpa ekspresi.


Gadis itu bernama Lexy, yang sekarang sudah menjadi Ratu Peri Lebah. Ia tak harus mengubah penampilannya seperti saran Ledion atau teman-temannya, karena Sang Raja lebih menyukai wajah aslinya.


Awalnya semua orang dibuat terkejut. Bagaimana tidak? Raja mereka memilih seorang Fae sebagai pendampingnya, sebagai pemimpin kaum peri lebah yang masih tersisa di Alther Suliris.


"Kenapa, Ratuku? Apa kau sedang tidak enak badan?" Tanya pria disampingnya itu.


"Tidak," jawab Lexy dengan singkat. "Tidak apa-apa."


Raja itu terdiam, kemudian mengusir semua pengawalnya yang berada satu ruangan dengan mereka.


"Kau bisa cerita padaku." Pria itu bangkit dari singgasananya, dan tiba-tiba sudah berlutut di dekat kaki Lexy.


Cerita?! Aku hanya mau pergi dari sini! Lexy memaksakan sebuah senyuman, dan menggelengkan kepalanya.


Namun Sang Raja tahu isi hatinya. Pria itu menegangkan rahangnya, dan tahu-tahu tangannya sudah menyelinap di bawah rok Lexy.


Lexy terkesiap dan membelalak. Kakinya refleks menghindar, namun tangan Sang Raja meremasnya dengan kuat.


Lepaskan! Ia hendak berteriak, namun yang keluar hanyalah air matanya. Tubuhnya bergetar, dan ia bahkan tak mampu memasang senyuman saat mata pria itu bebas menjelajahi tubuhnya.


Aku tidak mau ini. Aku benci ini. Kalimat itu terus terulang dalam pikiran Lexy. Selama beberapa hari ini, kerjaannya hanyalah memajangkan diri di atas singgasana. Menjadi seorang Ratu sangat melelahkan sekaligus membosankan. Lexy rindu masa-masanya saat ia dikurung di dalam sel tanpa ada seseorang yang mengawasinya di bawah tanah. Itu jauh lebih baik dibanding nasibnya di atas sini.


Tangan pria itu berhenti bergerak. Sang Raja segera melepaskan tangannya dari paha Lexy. "Mungkin kau masih merasa tak nyaman denganku. Tapi lama kelamaan kau akan terbiasa, dan pada akhirnya jatuh cinta kepadaku."


Lexy hanya melototinya. Pria ini sama saja dengan Ratu jahat yang semula menginginkannya sebagai pelayannya. Mereka sama-sama tertarik dengan kecantikan wajahnya, tidak lebih. Mungkin inilah sebabnya mereka cocok satu sama lain.


"Apa kau tidak merindukan Ratu lamamu?" Tanya Lexy tiba-tiba. Pria itu sedikit terbelalak, dan tersenyum miring. "Buat apa kalau aku sudah ada yang baru?"


Jadi ia tidak tulus mencintai Sang Ratu, pikir Lexy.


Pria itu kembali duduk di sampingnya. "Wanita itu yang mengkhianatiku. Ia rela pergi meninggalkan tempat ini dan hidup di wilayah Fae demi pasangannya."


Siapa pasangannya yang berada di wilayah Fae? Pikir Lexy mulai penasaran.


"Aku tidak tahu ia begitu tertarik dengan pria Fae." Pria itu tertawa kecil. "Padahal ia adalah wanita yang baik. Aku tahu ia tak pernah memandang pria lain, yang sudah lama menaruh hati padanya karena kecantikannya yang luar biasa."


Apa pria ini sungguh mengenal Ratu lamanya? Sepertinya ia memang pernah tulus mencintainya, didengar dari nada bicaranya saat ini.


"Apa itu cinta?" Tanya pria itu lagi, sambil menatap kosong ke arah lantai yang mengilap di bawah sinar lampu. "Sudah lama aku mempertanyakannya semenjak diriku kehilangannya. Sudah berpuluhan tahun lamanya, namun aku masih tidak melupakannya."


Lexy mencoba mengingat-ngingat kembali siapa pria ini. Sang Raja peri lebah yang sudah kehilangan banyak rakyatnya, dan yang sudah menyiksa para gadis muda. Mungkinkah ia menjadi seperti ini karena kehilangan Sang Ratu?


"Haah." Pria itu mengusap wajahnya sendiri. "Gara-gara kau, aku jadi kembali membahas wanita itu. Pergilah. Aku ingin sendiri."


Aneh. Baru kali ini pria itu mengusirnya pergi dari singgasananya sendiri. Tapi Lexy tentu tak menolak. Ia memang ingin pergi jauh-jauh dari sisinya.


Sambil berjalan di lorong kembali ke kamarnya, ucapan Sang Raja masih terngiang-ngiang dalam pikirannya. Semakin ia pikirkan, semakin mudah ia menarik suatu kesimpulan.


Pria itu hanya haus perhatian dan kasih sayang. Lexy tak bisa membayangkan jika dirinya ditinggal oleh seseorang amat ia cintai, seperti nasib pria itu.


"Kau melamun." Terdengar suara familiar di dekatnya. Lexy mengedipkan mata dan melihat Val yang masih ditahan di balik jeruji besi. Pria itu seperti biasa duduk dengan tenang dan santainya.


"Tumben mengunjungiku. Aku pikir kamu sudah melupakanku sepenuhnya."


Ha. Aku tak sadar sudah berjalan ke tempat ini, pikir Lexy.


"Kau hanya ingin menatapku? Untuk mengasihaniku?" Val masih menatapnya dengan dingin. "Kudengar kau telah dinobatkan menjadi Ratu beberapa hari sebelumnya. Selamat ya. Kau memang pantas menjadi pendamping hidup pria gila itu."


Deg! Lagi-lagi, Val berbicara penuh sarkasme. "Selamat? Asal kau tahu, aku tidak menginginkannya."


Val menaikkan sedikit alisnya. "Tapi kelihatannya iya."


Lexy mulai kesal. Saat ia hendak berbalik badan dan meninggalkannya, pria itu kembali bersuara.


"Aku masih belum bertanya satu hal kepadamu."


Jantung Lexy serasa copot. Hal apa lagi yang mau ditanyakan olehnya? Apa ia akan meminta maaf karena sudah membuatnya kehilangan kendali dan menjelma waktu itu? Atau ia akhirnya tersadar bahwa perbuatannya itu salah?


"Kau tidak pernah sekalipun mencoba untuk membunuhnya saat kalian tidur bersama? Misalnya, mencabut jantungnya dengan cakar Egleansmu?"


Lexy menatapnya tak percaya. Sejujurnya ia tidak pernah memikirkan hal itu. Ia tak pernah ada niat untuk membunuh lagi. Ia tak mau menjadi seorang pembunuh. Ia tak mau menggunakan tubuh seorang monster lagi.


Val mengangkat dagunya. "Sepertinya belum, ya?"


"Kenapa memangnya?"


Val bergeleng pelan, kali ini tidak menatapnya. Kemudian, tanpa mengatakan apa-apa, pria itu kembali berbaring di atas tanah, dengan punggung yang membelakanginya.


***


Musim semi sedang berada pada puncaknya. Sekarang Ledion bisa melihat bunga yang sudah bermekaran, menghiasi pohon-pohon yang tumbuh subur di sekitar bangunan istana.


Ia mulai merasa khawatir dengan mereka. Kini, semua orang termasuk bawahannya sampai menanyakan kabar mereka kepadanya.


Meskipun tidak banyak orang yang mengetahui berita ini, tapi tetap saja. Lama kelamaan pasti semua orang mulai curiga.


Ia mendesah dan kembali berjalan mengitari pagar istana. Hal yang harus selalu dilakukannya sebagai seorang pengawal. Matanya tiba-tiba menangkap sesosok wanita elegan bersayap putih. Wanita itu sedang mengobrol dan tertawa bersama Xiela dan Naomi.


Ledion tanpa sadar sudah terlalu lama menatapnya, sampai wanita itu menyadari kehadirannya. Senyum indah Sana langsung menghilang, dan segera tergantikan oleh ekspresi dingin.


"Kami pergi dulu." Naomi sepertinya mengerti. Gadis periang itu berkedip ke arah Ledion, kemudian menarik pergi lengan Xiela.


"Apa maumu?" Tanya Sana sambil menyilangkan tangannya.


Ledion tak yakin harus membalas apa. Ia teringat dengan bunga-bunga yang bermekaran di halaman istana, jadi sekalian saja ia mengajak Sana.


"Kau!" Seseorang tiba-tiba menahannya. Itu adalah Bora. "Ledion. Kau ditahan karena sudah melanggar aturan resmi yang dibuat oleh para Ketua Golongan."


Ledion mengernyitkan dahinya. "Apa maksud-"


"Jangan berpura-pura! Sebenarnya aku sudah curiga denganmu sejak awal. Pagi tadi aku pergi ke bawah tanah, dan tidak menemukan keberadaan Lexy di penjara."


Gawat. Ledion memang lupa untuk menjaga ruangan bawah tanah hari ini, karena pikirannya sibuk dipenuhi oleh Callum.


Dua orang Ripper bawahannya langsung menahan tangannya ke belakang.


"Bora. Siapa yang mengizinkanmu masuk ke wilayah Amarilis?" Tanya Ledion dengan tegas, walau tangannya sudah diikat. "Apa itu kalian?"


Dua bawahannya itu bahkan tidak berani menatap matanya. Ledion merasa terpukul dan kecewa. Ternyata dua temannya ini sudah mengkhianatinya.


"Sana..." Ia kembali mengucapkan nama itu saat dirinya dibawa ke ruang tahanan. Namun wanita itu masih memalingkan wajah, tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.


"Roda kehidupan terus berputar." Wanita itu pernah berkata seperti itu. "Aku sudah memiliki jalan hidup sendiri, begitu juga kau. Jadi, selamat tinggal."


Tidak, Ledion yakin hubungan mereka tidak akan berakhir seperti ini.


Setelah ia dilempar ke dalam sel, pikirannya masih dipenuhi oleh wanita itu.


Ia tahu kenapa ia tidak bisa dimaafkan. Waktu itu adalah kesalahannya. Hanya kesalahpahaman soal cinta.


Benar. Waktu itu mereka sudah bahagia. Mereka sempat memiliki anak, namun Sana tidak berhasil membawanya ke dunia ini. Anak yang bahkan belum sempat memiliki nama sudah gugur dalam kandungan.


Sejak saat itu, hubungan mereka mulai memburuk. Ini semua terjadi akibat rasa kesedihan karena kehilangan anak mereka. Ledion mengira istrinya itu hanya merasa stres untuk sesaat, namun rasa kehilangan dalam hatinya tentu tak bisa hilang begitu saja.


Terdengar suara tangga dari kejauhan, dan yang mengunjunginya tidak lain adalah Sana, wanita yang dulu pernah menjadi pasangannya.


"Bagaimana rasanya ditahan di dalam sel?" Wanita itu membuka pintu besi, dan sudah masuk ke dalam.


"Apa yang kau-"


"Kau pantas menerimanya, Ledion." Kali ini wanita itu tersenyum, namun bukan senyuman yang diinginkan oleh Ledion.



Sana mengangkat dagunya dengan pelan. "Ini juga akibat yang harus kau tanggung karena telah melanggar titah para Ketua."


Ledion menatap lekat mata indah wanita itu. Jantungnya sudah berdegup kencang, namun ia masih bisa menahan dirinya. "Apa kau tidak diberitahu oleh Naomi dan Xiela? Itu perintah dari Callum."


"Aku sudah tahu," gumamnya. "Namun bukan ini yang mau kutekankan."


"Lalu apa?"


Sana mendengus kesal. "Kau belum berubah. Kau terlalu lurus dan bodoh. Itulah sebabnya kau sampai kehilangan diriku."


Ledion hanya menganga, tak yakin harus mengatakan apa.


"Aku pergi dulu."


"Tunggu, Sa-"


"Jangan sebut namaku lagi." Wanita itu melototinya, memberinya peringatan. "Aku masih belum memaafkanmu, dan tidak akan pernah. Ini salahmu karena sudah menghancurkan kehidupan rumah tangga kita. Andaikan waktu itu kau pulang lebih awal, maka aku tak harus-"


Sana tak melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba air mata mulai keluar. Ia hendak pergi, namun Ledion tetap memintanya untuk berhenti.


"Sana... aku tak mengerti maksudmu."


"Kalau begitu tak usah mengerti! Kau memang tak pernah mengertiku!" Ia buru-buru menghapus air matanya, dan kembali mengunci pintu sel. "Aku tak akan melihatmu lagi, Ledion. Ini benar-benar yang terakhir kalinya."


"Tapi-"


Terlambat. Wanita itu sudah terbang meninggalkannya, menyisakan Ledion dengan pikirannya yang tak tenang.