
"Alena?"
"Alena!"
"Ya!" Aku berkedip, tersadar dari lamunanku. Sekarang aku sedang berjalan kembali ke kamarku, ditemani oleh Abigail. Pesta itu ternyata tidak membutuhkan waktu lama, karena aku sudah merengek kepada Abi. Untungnya ia tidak menolak permintaanku.
"Kau kenapa sih? Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ah, tidak apa-apa," balasku sambil tersenyum. "Aku hanya kelelahan."
"Begitukah? Kalau begitu beristirahatlah. Aku akan menemuimu besok pagi."
Setelah mengucap salam perpisahan, akhirnya aku dapat kembali ke kamar. Namun jalanku terhalang oleh seseorang.
"Kau?" Sebuah tangan menghalangi gagang pintu. Aku menoleh dan melihat wanita itu lagi. Wanita yang sempat muncul di hadapanku. Ia masih menyembunyikan wajahnya dengan topi.
"Si-siapa kau?! Apa maumu?!"
"Aku perlu bicara denganmu," katanya sebelum melepaskan gagang pintu. Ia langsung masuk ke dalam kamarku begitu saja.
Setelah yakin tidak ada yang berkeliaran di lorong dan melihat wanita itu, aku menutup pintu dengan rapat. "Jadi, bisakah kau menunjukkan wajahmu?"
Wanita itu menghentikan langkahnya, dengan punggung yang masih membelakangiku. "Sayangnya, aku tidak bisa."
"Kalau begitu, aku tak ada urusannya denganmu."
"Alena."
Aku hanya terdiam.
Ia mendesah dan menunduk. "Baiklah. Lagipula aku memercayaimu." Ia membuka topinya, yang membuatku terkejut.
Wanita itu memiliki rambut coklat terang yang sama persis dengan Abigail. Wajahnya sangat cantik dan terlihat muda, padahal dari gaya bicaranya ia pasti sudah sangat berumur. Dan matanya... matanya membuatku teringat dengan Callum.
Ia tersenyum saat melihatku yang hanya melongo. "Jadi kau orangnya. Gadis yang dipilih menjadi pasangan Callum."
"Ya..." jawabku tidak yakin. "Kenapa memangnya?"
"Aku tak punya banyak waktu," katanya tiba-tiba. "Aku hanya ingin memintamu, untuk menjaga Callum dengan baik. Hanya itu permintaanku."
Aku mengerutkan dahi. "Apa maksud-"
Dia tiba-tiba menghilang dengan cahaya emasnya. Tepat pada saat itu, seseorang masuk ke dalam ruanganku.
"Putri Alena." Ternyata itu Miss Dorothea. "Apa yang sedang kau lakukan disini? Setahuku, kau harusnya sedang berkumpul bersama Abigail dan Putri Raja lainnya."
Aku mengangkat bahuku. "Badanku tiba-tiba letih. Aku mau tidur."
"Hemm, wajar sih karena sudah malam. Kau tak ingin pergi ke ruang spa?"
"Ruang spa? Apa itu?"
"Biasanya para putri suka menghabiskan waktu malam mereka di ruangan itu. Katanya ada pemijat dan penghangat ruangan. Cocok sekali untukmu, karena tubuhmu sedang pegal-pegal."
"Aku tak bilang tubuhku sedang pegal-"
"Sudah, ayo cepat!" Ia sudah memberiku handuk yang entah muncul darimana. "Pelayan! Bawa Sang Putri ke ruang spa!"
Semenit kemudian, aku sudah sampai di ruang spa. Dua pelayan yang sudah membawakanku kesini langsung menanggalkan bajuku tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Hei!" Aku langsung merampas kembali jubahku. Enak saja! Aku perlu ini untuk menyembunyikan sayapku!
"Tapi...putri-"
"Tidak ada tapi-tapian! Aku bisa buka bajuku sendiri!"
"Alena?" Lucia sudah menghampiriku. Gadis itu sudah membalutkan tubuhnya dengan handuk. "Ada apa?"
"Kau malu membuka bajumu di sini?" Tanyanya lagi. "Atau kau belum terbiasa dilayani sebagai seorang putri?"
"Aku..." Sial. Timingnya jelek sekali.
"Ah, aku mengerti," katanya sambil tersenyum. "Tak apa-apa, pelayan. Alena ini sebenarnya orang baru di Bougenville. Wajar saja perilakunya agak... berbeda dengan kita."
Berbeda? Maksudmu lebih buruk darimu? Aku sudah mengepalkan tanganku. Ternyata aku tak bisa meremehkan gadis ini.
"Ah. Maaf, Putri Alena."
"Tak apa-apa," kataku terpaksa.
"Kalian boleh pergi." Lucia bahkan sudah mengusir mereka. "Baik, Putri Lucia."
"Kau tahu kan mereka pelayanku?" Aku melirik Lucia dengan tatapan tajam. Ia hanya tersenyum seperti biasa. "Tahu."
"Lalu, kenapa kau mengusir mereka?"
"Memangnya aku tak boleh melakukan itu?" Ia mengangkat dagunya, dan menatapku rendah. "Omong-omong, apa kau tidak kepanasan masih memakai bajumu? Dan kenapa selalu memakai jubah kumal itu? Untuk menutupi sayapmu?"
Apa?! Gadis ini benar-benar!
"Kalian sedang apa?" Abigail untungnya sudah menghampiri kami. "Ayo! Air hangat sudah siap!"
***
Terdapat beberapa bilik ruang pemijatan, masing-masing ditempati oleh dua orang.
Sialnya, aku kebagian ruangan dengan Lucia. Abigail ternyata sudah lebih dulu memesan tempat bersama temannya yang lain. Karena aku orang baru, aku kebagian ruangan sisa bersama Lucia.
Sekarang mataku ditutupi lapisan buah mentimum, sedangkan cairan berwarna ungu muda sudah mengolesi wajahku.
Ini pasti akan terasa nyaman dan rileks kalau bukan karena keberadaan gadis di sampingku.
"Jadi, Alena. Kau berasal dari mana?"
Kenapa semua orang bertanya seperti itu kepadaku? Apa aku harus menjawab aku ini salah satu anak selir?
"Yang pasti bukan dari dimensi lain."
"Huh. Yang benar saja."
"Kenapa?" Tanyaku. "Apa kau sedang menyelidiki latar belakang keluarga pasangan Sang Pangeran?"
"Kau ini!" Aku mendengar suara kursi. Lucia pasti sudah bangkit duduk. Untungnya pelayan yang sedang memijatnya sedang memintanya untuk berbaring kembali.
"Aku hanya ingin memperingatimu. Jangan macam-macam dengan Callum."
"Ya ya," jawabku tak peduli. "Memangnya aku ini Egleans?"
"Jaga ucapanmu, Putri," katanya dengan geram. "Kau bisa membawa musibah kalau berani mengucap kata itu."
"Musibah, ya?" Gumamku. Ini malah membuatku teringat dengan Lexy. Adikku yang ternyata adalah Egleans.
Benar juga. Bagaimana dengan Egleans yang waktu itu kulihat di dekat gedung Fae Hall? Sepertinya aku harus memata-matai mereka lagi.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Terdengar suara gadis itu lagi.
"Memangnya apa pedulimu?"
"Dengar ya, Alena. Awalnya aku pikir kau ini gadis baik. Ternyata kau sama dengan yang lain. Jangan harap bisa bersamanya hanya karena kau sukses merayunya."
Pintu tiba-tiba dibuka dari luar. Aku tidak lagi merasakan jemari sang pelayan yang sibuk merawat wajahku.
"Ada apa?" Tanya Lucia. Rupanya pelayannya juga berhenti mengoleskan cairan pada wajahnya. Aku langsung membuka penutup mataku, dan terkesiap saat melihat Callum di ambang pintu.