Wings & Fate

Wings & Fate
Callum's Past



Beberapa tahun yang lalu...


Tampak seorang bocah kecil yang sedang berlari di halaman istana. Ia masih sangat muda, dan belum bisa terbang menggunakan sayapnya. Ia adalah Sang Pangeran Termuda, atau biasa dipanggil Pangeran Callum.


"Cal! Berhenti!" Teriak seorang gadis remaja berambut coklat terang. Ia sibuk mengejar bocah kecil itu. "Itu punyaku!"


"Kau salah, Abi! Ini kueku!" Bocah itu menjulurkan lidahnya, kemudian tertawa mengejek. "Tangkap aku kalau bisa~"


"Uurrghh!!" Gadis itu mengepalkan tangannya. "Awas saja kau."


"Haha!" Bocah itu menambah kecepatannya. Rambut hitamnya sampai beterbangan. Saat ia berbalik wajah dan kembali menoleh ke depan, ia langsung berteriak. Rupanya kakaknya berbuat curang dan menggunakan sihirnya.


"Tertangkap kau!" Abi langsung merebut kue dari tangan kecil Callum, kemudian memakannya. "Muehehe, rasakan!"


"Iihh!!" Callum mulai merengek. Kenapa ia selalu kalah setiap kali main kejar-kejaran dengan Abi?


"Ini tidak adil! Kenapa aku tidak bisa sepertimu?!"


"Humm," Abi masih sibuk memakan kue kecil itu. Ada sisa krim di sekitar mulutnya. "Siaha suhu maas?" (Siapa suruh malas?)


"Ugh!" Callum hanya menyilangkan tangannya. "Kata Dexter, aku masih terlalu muda. Jadi belum bisa berteleport sepertimu."


"Yup!" Balas Abi sambil menepuk-nepuk tangannya. "Dan juga, kamu masih ditempatkan di Kelas Awal. Wajar saja belum bisa terbang sebaikku."


"Cal! Abi!" Terdengar suara teriakan wanita dari jendela istana. Sontak dua anak kecil itu langsung menoleh. Seorang wanita yang kira-kira hampir separuh baya usia Fae memanggil mereka.


"Gawat! Mak lampir memanggil kita!" Callum langsung berbalik badan dan lari menjauhi istana, namun tiba-tiba tubuhnya melayang. Seseorang sudah menarik bajunya.


"Halo, pangeran Callum," sapa Miss Dorothea yang berhasil menangkapnya. "Mau kemana Anda?"


"Huh! Lepaskan aku, nenek lampir!" Callum meronta-ronta, namun usahanya nihil. Ia tentu tak bisa melawan seorang wanita yang sudah berusia 500 tahun.


"Kakak kalian baru saja kembali dari perjalanan berburu. Kalian tak mau menyapanya?"


Itu membuat Abigail semakin bersemangat. "Benarkah?! Dexterr!!" Gadis itu langsung menghilang dalam sekejap mata.


"Ayo, Cal," lanjut wanita itu, masih sambil menggendongnya.


Yasudah. Sebenarnya dalam hati Callum juga merindukan kakak tertuanya itu. Ia suka sekali berburu Egleans di hutan. Katanya ia suka hal-hal yang berbahaya dan menantang. Menurut kakak laki-lakinya itu, tinggal di istana sangat membosankan.


Callum tak bisa lebih setuju dibanding kakaknya. Diantara tiga bersaudara ini, hanya Abi yang senang tinggal di istana, dikelilingi oleh banyak makanan dan hidup mewah sebagai anak Raja. Kakak perempuannya itu juga suka sekali bergaul dengan teman-temannya dan berbelanja gaun.


Sesampainya di ruang keluarga, ia dapat melihat Abi yang sedang memeluk Dexter. Kakak laki-lakinya itu sudah dewasa, usianya sekitar 20 tahunan. Sama seperti Abi, Dexter juga memiliki warna rambut coklat.


Hanya Callum sendiri yang memiliki warna rambut hitam.


"Callum." Dexter segera membangunkan adik kecilnya dari lamunannya. "Sudah lama ya."


"Iya..." balas Callum, namun matanya tiba-tiba mendarat ke benda di atas meja. Mayat Egleans yang dibawa pulang oleh kakaknya.


"Keren," gumamnya tanpa sadar. Kakinya sudah melangkah, mendekati mayat itu.


"Callum, jangan sentuh itu," perintah Ibunya yang sudah menghalanginya. Ia menengadah dan menelan ludah. Ibunya, yang sekaligus adalah Ratu Fae, juga memiliki warna rambut coklat. Wajahnya cantik dan mungil.


"Tapi Ibu-"


"Dorothea. Callum sudah kelelahan. Bawa dia ke kamarnya."


Haish! Ia lupa bahwa Ibunya ini super protektif pada dirinya. Ia tak pernah diijinkan untuk menyentuh hasil buruan Dexter, padahal ia paling suka dan tertarik dengan hal-hal seperti itu.


***


Callum bangun tengah malam. Ia mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kamarnya sudah gelap, yang berarti tidak ada lagi sinar matahari.


Kreekk!! Ia membuka pintu perlahan, namun seseorang sudah berdiri di hadapannya.


"Kau lagi, Ledion?!" Balasnya sambil berkacak pinggang. "Aku mau ke toilet! Sudah kebelet!"


"Tapi bukankah Anda sudah memiliki ruang toilet sendiri di dalam kamar Anda?"


Aduh! Susah sekali menipu dia!


"Huft." Callum mendesah. "Oke, Ledion. Aku akan membisikkan sesuatu padamu."


Pria di hadapannya itu mengerutkan dahinya. Tapi ia tetap menurut dan membungkuk.


"Aku mau melihat Egleans. Jangan halangi aku atau aku sebarkan ke seluruh istana bahwa kau sudah berpasangan dengan salah satu Fae Healer."


"Kau!" Ledion terbelalak, namun segera berdeham. "Maaf, maksudku, Yang Mulia. Aku..."


Hehe, kena kau!


"Kenapa, Ledion? Jadi kau lebih rela aku menyebarkan rahasiamu itu?"


"Bukan seperti itu." Ledion menggeleng-geleng pasrah. "Aku tak mau kau terluka."


"Yang benar saja!" Teriak Callum tanpa disadari. "Terluka apanya?!"


"Baiklah, baiklah." Ledion mencoba menenangkannya. "Tapi hanya sepuluh menit. Apa kau bisa melakukan itu?"


"Tentu bisa," balas Callum dengan senang hati. Ia lalu melompat kegirangan dan balas memeluk pria itu. "Trims, Ledion! Semoga langgeng dengan Sana!"


Callum segera meninggalkan pria itu yang masih mematung di lorong kamar.


Hihi. Dia pasti bingung kenapa aku bisa sampai tahu nama pasangannya.


Untungnya lorong sepi dan tak ada yang berjaga selain Ledion. Callum mengikuti suara pola detak jarum jam dan melangkah diam-diam.


Saat kakinya hampir membawanya masuk ke ruang keluarga, terdengar suara familiar seorang wanita.


Apa aku sudah tertangkap?!


Untungnya tebakannya salah. Rupanya Ibunya sedang berbicara dengan seseorang di ruang keluarga. Callum mengintip di balik pintu dan melihat Ayahnya.


"...sudah memberitahu dia?" Bisik Ibunya, namun Callum masih bisa mendengar dengan jelas. Jangan ragukan lagi kemampuan telinga seorang Fae.


"Belum," jawab Ayahnya. "Lagipula, kau bilang kau sudah membunuh Ibunya. Seharusnya urusannya sudah beres."


Apa?! Siapa yang telah Ibuku bunuh? Dan Ibunya siapa?!


Sang Ratu mendesah panjang. "Aku telah melakukan apa yang kau suruh. Jadi bisakah kau melepaskannya?"


"Maksudmu, Callum?" Suara berat Ayahnya sampai membuatnya merinding. "Kenapa kau sangat menyayanginya meskipun ia bukan anak kandungmu?"


Ini bagaikan tersambar petir. Tubuhnya mulai gemetaran. Callum yakin telinganya sudah tidak berfungsi dengan baik.


"Kau tak akan pernah mengerti." Ibunya mulai terisak. "Setelah kau menyuruhku membunuh sahabatku sendiri, sekarang kau ingin menyingkirkan putranya juga?! Kau juga telah memutuskan hubunganku dengan Cindy! Kau sengaja menidurinya agar aku benci padanya!"


Plaak!!


Callum terkesiap, dan buru-buru menutup mulutnya yang terbuka. Ia tak pernah melihat Ibunya sendiri yang direndahkan seperti itu.


"Jaga mulutmu!" Pria menyeramkan itu melangkah ke arah berlawanan. Di saat itulah Callum melihat seseorang. Seorang gadis kecil berambut putih keabuan. Matanya semerah darah, dan dilihat dari bajunya, dia pasti seorang Putri.


"Apa ini anak kedua Cindy?" Bisik Ibunya. Ayahnya menggeleng tanpa melihat ke arahnya. "Bukan. Ini Lucia, anak dari Valerie."


"Apa rencanamu sebenarnya?!" Tanya Ibunya lagi. Ia sama sekali tidak memperdulikan gadis kecil itu yang sudah ketakutan setengah mati. Callum tiba-tiba merasa iba terhadapnya. Ia sudah menyaksikan sendiri pertengkaran orang dewasa.


"Malam itu sebuah kesalahan. Aku salah mengenali Cindy sebagaimu. Jangan sampai orang lain tahu bahwa wanita itu menghamili dua anakku."