Wings & Fate

Wings & Fate
Understanding You



Lexy dengan mudahnya menyingkirkan puing-puing bangunan yang menghalangi jalannya, dan tak lama ia sudah sampai di tempat tujuannya.


Suara napasnya terdengar sangat berat, dan ia memicingkan matanya. Aku harus menemukan setidaknya satu botol.


Maka ia terus mengobrak-abrik metal yang berat. Tiba-tiba saja tangannya tertancap oleh benda tajam. Paku.


Ia merintih kesakitan, dan suaranya sudah seperti lolongan serigala.


Sial! Untung kulit baruku tebal, jadi tak mengeluarkan darah.


Ya, Lexy masih belum terbiasa dengan tubuh barunya ini, meski sudah sebulan lamanya ia memiliki kemampuan ini.


"Lexy! Cepatlah!" Teriak Val dari kejauhan.


Ya! Teriaknya, namun yang keluar adalah suara hewan buas.


Ugh, aku masih benci dengan suaraku.


Setelah bermenit-menit bermandikan keringat, akhirnya matanya menangkap beling kaca yang memantulkan cahaya matahari.


Seperti mencari jarum diantara tumpukan jerami, akhirnya Lexy menemukan botol madu itu.


Yes! Matanya sudah berbinar-binar. Namun saat ia mengulurkan tangannya, suara lebah yang berdengung langsung memenuhi gendang telinganya.


"Aarrghh!!" Ia refleks menggerakkan tangannya di sekitar telinga untuk mengusir para lebah yang mungkin sedang menyerangnya. Namun ia tidak melihat satupun hewan bersayap itu.


"Sedang apa kau?" Val ternyata sudah berjongkok di sampingnya. "Kerasukan?"


Diam! Balas Lexy dalam hati. Karena kesal, ia hendak mencabik wajah pria itu dengan cakarnya.


Ha! Tangan pria itu dengan cekatan menahan tangannya yang berbulu itu. "Sudah, sudah. Ambilkan botol itu untukku."


Kenapa aku harus melakukannya untukmu?! Balasnya dengan suara hewani yang tak jelas.


Pria itu mengerutkan dahinya. Jelas sekali ia tidak mengerti bahasa hewan.


Ha! Rasakan! Dasar pria tak tahu untung! Semena-mena! Jahana-


"Aku bukan pria yang seperti itu," balasnya yang disusul dengan cengiran. Itu membuat Lexy melongo.


Bagaimana caranya ia mengertiku-


"Sudahlah." Val melambaikan tangannya. "Siapapun bisa mengerti isi hatimu kalau melihat ekspresi yang tergambarkan di wajahmu."


Lexy menegangkan rahangnya. Val akhirnya kehilangan kesabaran dan mengambil sendiri botol itu.


Saat akhirnya mereka kembali ke jalan setapak Alther Suavis, tubuh Lexy perlahan mengecil. Mengecil, mengecil, mengecil, sampai akhirnya tidak ada lagi bulu-bulu putih yang tersisa. Ia juga dapat merasakan wajahnya yang berkedut kembali seperti semula.


"Tunggu aku!" Lexy berusaha menyamakan langkahnya dengan pria itu. "Val, berhenti!"


Pria itu mengangkat alisnya. "Kenapa?"


"Kau..." Katanya sambil ngos-ngosan. "Apa kau bisa... membaca pikiranku?"


Sontak itu membuatnya tertawa.


"Jangan tertawa. Itu menggangguku."


Val hanya menggeleng-geleng puas. Pria itu berusaha menahan senyumnya. Rasanya aneh melihat pria itu begitu ceria, padahal dulunya mereka saling benci. Jarang sekali wajah pria ini terlihat begitu bersinar.


"Val, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan kepadamu," lanjut Lexy lagi. Ia lalu menyeka keringatnya karena sinar matahari yang sangat terik.


"Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti itu?"


"Kau mau aku mati penasaran?" Lexy menghentikan langkahnya. "Atau aku harus menjelma kembali, kalau itu satu-satunya cara untuk mendapat jawaban dari mulutmu?"


"Kau tahu itu membutuhkan ciuman dariku," balas Val dengan polosnya.


Lexy tak menghiraukan pernyataannya. "Awalnya aku pikir kau punya masalah hidup. Jelas sekali kau dulu sangat kasar. Bukan hanya kepadaku, namun juga kepada semua orang."


"Asal kau tahu, aku tidak seperti itu di depan teman-temanku. Tanyai saja Naomi, Xiela, atau Callum."


"Jadi, itu artinya kau sengaja menunjukkan bahwa kau itu kasar saat di depanku?"


Val mengangguk. "Dan juga Alena."


Ternyata selama ini, pria ini mampu menyembunyikan watak sebenarnya. Sebenarnya Val itu humoris, dan enak diajak bicara. Ia tidak jahil seperti Callum, dan juga tidak seceria Naomi. Ia juga tidak secuek Xiela. Ia hanyalah seorang Val yang memiliki sikap seperti seorang Val.


Tunggu. Kenapa aku jadi peduli dengannya? Aku pasti sudah gila.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dalam diam. Sebenarnya masih ada hal lain yang ingin diketahui Lexy, maka ia membuka mulutnya.


"Lexy, saat-"


"Tapi kau masih-"


Mereka saling bertukar pandang.


"Kau dulu-"


"Aku dulu-"


Ya ampun. Situasi macam apa ini?! Lexy memalingkan wajah karena malu.


"Silahkan berbicara, Lexy."


"Aku ingin tahu, apa perilakumu yang kasar itu termasuk sifat aslimu."


Val masih memperhatikan jalan. Di tangannya ia menggenggam pedang miliknya. "Sepertinya aku kurang memahami maksudmu, Lexy."


"Aku dapat merasakannya saat itu. Saat kita sempat salah paham, dan kau melukaiku dengan tinjumu. Waktu itu pukulanmu tak main-main."


"Apa masih sakit?"


"Huh? Eum, tentu saja tidak. Bukan itu yang mau kutekankan."


Tangan pria itu tiba-tiba menariknya. Lexy terkesiap, lalu menggigit bibir bawahnya. Ditataplah pria berambut pirang itu.


"Cih." Lexy berusaha melepaskan tangannya. "Jangan kebiasaan sentuh aku-"


Lagi-lagi, pria ini mendaratkan ciuman pada bibirnya. Lexy mematung. Entah kenapa kali ini ia tidak mendorongnya.


Bibirnya terasa manis dan lembut. Jantungnya bertalu dalam dadanya. Akhirnya pria itu membuka matanya kembali, dan dengan pelan melepaskan bibirnya.


"Eum..." Lexy menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah merah habis. "Kau mau aku menjelma lagi?"


"Kau terlalu berisik. Lebih baik pertahankan tubuh berbulumu itu."


"Tapi jangan asal cium aku!" Lexy mengepalkan tangannya. Untung saja ia mulai bisa mengendalikan amarahnya. "Kau ini kebanyakan bergaul dengan pangeran nakal itu!"


"Oh. Bisa jadi," balas pria itu dengan polosnya. "Mungkin aku terlalu sering melihatnya merayu wanita, jadi-"


"Gak usah banyak alasan!" Lexy menghentakkan kakinya, meninggalkan pria bodoh itu yang masih mematung di tengah jalan.


Enak saja! Aku harus bisa mengontrol emosiku agar tidak menjelma kembali! Tak akan kubiarkan pria itu merasa puas!