
Saat akhirnya aku keluar dari bangunan istana dan disambut oleh teriknya sinar matahari, seseorang memanggilku.
"Alena!" Itu adalah Abi. Putri itu langsung memelukku. Ia tampak cantik dan elegan dalam busana serba putih.
"Abi!" Aku membalas pelukannya. "Kau tampak sangat cantik!"
"Begitu juga diriku." Aku bahkan tak sadar sudah ada Putri Lucia disampingnya. Memang betul, harus kuakui bahwa gaun putihnya itu terlihat cocok jika dipadukan dengan rambut keperakannya.
Aku membalasnya dengan senyuman canggung. Walau aku tak sempat berdamai dengannya, aku telah mencoba melupakan hal yang pernah diperbuatnya kepadaku. Luka di hatiku memang tak bisa disembuhkan begitu saja, tapi mau tak mau aku harus memaafkan perbuatannya. Lagipula Lucia adalah cinta pertama Callum. Wajar kalau ia mencoba merebutnya lagi dariku.
Kami berjalan beriringan ke halaman istana. Upacara resmi akan segera diadakan di sana. Upacara peringatan kematian semua orang yang telah berjasa, yang kematiannya tak akan pernah terlupakan, yang kematiannya tak sia-sia.
Ya, salah satunya adalah Ledion. Fae Ripper yang pertama kali menyambutku di Hutan Greensia, dan membawaku menjelajahi wilayah Fae. Awalnya aku merasa sangat terpukul saat mengetahui bahwa ia telah tiada, terlebih lagi di tangan adikku sendiri. Namun Ledion telah berjasa. Ia sudah menyelamatkan nyawa Ella waktu itu dan masih setia mendampingi Callum walau ia bukan lagi pengawal pribadinya.
Orang pertama yang kulihat berdiri diantara batu nisan adalah Sana. Wanita itu ternyata adalah istri dari Ledion. Ia sempat bercerita kepadaku mengenai suaminya serta anaknya yang gugur dalam kandungan.
Anastasia. Aku membaca dalam hati tulisan yang terukir pada batu nisan milik Ledion. Itu adalah nama anak mereka.
"Ledion telah bahagia bersama Anastasia di atas sana," ujarku kepada Sana sambil menyentuh pundaknya. Wanita itu terkejut saat melihatku, dan buru-buru menghapus air matanya.
Ia hendak membungkuk kepadaku, namun aku mencegahnya. "Tak usah, Sana," ucapku sambil tersenyum. Ia sempat ingin menolak, namun pada akhirnya menurut.
"Anda benar. Ledion... Ia sudah bahagia," bisiknya sambil menangis. Tiba-tiba aku merasa iba terhadapnya. Dadaku juga menjadi sesak.
"Andaikan aku memaafkannya waktu itu," lanjut Sana lagi. "Seharusnya aku tak lebih mementingkan diriku sendiri. Seharusnya aku tak memaksanya untuk mengerti perasaanku, karena pada akhirnya, aku yang tak pernah berusaha untuk mengerti perasaan dirinya."
Aku tak mengatakan apa-apa, karena aku tahu aku ini payah kalau soal menghibur orang lain.
"Ia pasti bangga memiliki istri sepertimu. Sana, kau telah berjasa. Kau sudah berkali-kali menyelamatkan nyawaku," ujarku lagi. "Semua orang membutuhkan kehadiran Fae Healer yang berbakat seperti dirimu."
"Terima kasih." Akhirnya ia tersenyum. "Terima kasih juga sudah bersedia mendengarkan ceritaku mengenai Ledion."
Aku tertawa kecil. "Aku memang suka mendengar ceritamu, Sana." Setelah itu, aku pamit dan menghampiri kedua temanku yang lainnya.
Tentu saja. Itu adalah Naomi dan Xiela. Hari ini mereka juga mengenakan gaun putih. Warna resmi untuk upacara peringatan kematian.
"Lihatlah siapa ini. Sang Ratu Fae." Naomi tertawa girang melihatku. Kali ini ia bahkan membungkuk hormat kepadaku.
Aku mengangkat tanganku, merasa malu atas perkataannya. "Sudah kubilang, jangan sebut gelarku! Aku masih belum terbiasa!"
"Kenapa?" Kali ini, Xiela sudah berani menggodaku. "Itu kan, kenyataan."
Akhirnya aku menyerah dan hanya mengangguk pasrah. Saat aku hendak menanyakan kepada mereka mengenai keberadaan Callum, seseorang sudah menepuk pundakku.
"Lexy!" Aku langsung memeluknya seerat mungkin. "Kau... Sudah darimana saja?"
Anehnya Lexy tersipu, tak berani menatap pandangan mataku. Aku mulai mengerti saat melihat Val di belakangnya. Aku tak bisa melepas pandangan dari kaki palsunya.
"Apa kalian sudah berkencan?" Celetuk Naomi. "Wow, Val. Aku tak menyangka... Aku pikir kau hanya tertarik dengan pria-"
Duk! Xiela buru-buru meninju lengan temannya itu. "Ayo, Naomi. Lebih baik kau jahili Putri Lucia saja." Setelah Xiela memberiku hormat, ia menarik tangan temannya dan membawanya pergi jauh.
"Bagaimana kehidupan barumu sekarang, Alena?" Tanya Lexy dengan lembut. Aku baru menyadari apa yang sedang dipeluknya. Tubuh Cashew, anjing peliharaan kesayangannya.
"Sangat... melelahkan. Tapi juga asyik, karena aku menyukai pengalaman baru," jawabku sambil menatap lurus ke depan. "Omong-omong, kau disini untuk mengenang siapa, Lexy?"
"Bella. Teman lamaku. Dan juga Raja Peri Lebah," jawabnya sambil tersenyum. "Aku juga ingin mengenang Mella, wanita yang rela mengorbankan dirinya demi mengungkapkan rahasia Ratu."
Lexy mendesah dan memeluk Cashew semakin erat. "Meskipun Bella telah disesatkan dan memilih Ratunya sendiri, bagiku ia tetap teman pertamaku. Sementara untuk Raja, ia hanya merindukan Ratunya." Setelah itu, Lexy menggandeng tangan Val dan hendak pergi meninggalkanku. Tapi aku menahannya.
"Lexy. Selama ini kalian kemana saja? Aku benar-benar penasaran," kataku dengan nada sedikit memelas.
Lexy berusaha menyembunyikan senyumnya yang mulai mengembang. Diliriklah Val, namun pria itu hanya berkedip kepadanya.
"Kami sebetulnya sibuk mengurusi istana di Alther Suliris," kata Lexy lagi. Aku langsung tersedak air liurku sendiri. Benar juga. Aku hampir lupa. Lexy kini telah menjadi Ratu peri lebah.
"Kami pergi dulu," kata Val kepadaku sambil tersenyum. "Dan omong-omong, kau terlihat mengagumkan hari ini, Alena."
"Terima kasih, Val," balasku sambil tertawa. Tak biasanya ia memuji diriku.
Banyak hal telah terjadi selama beberapa bulan ini. Setelah aku dan Callum mengumumkan kepada semua orang bahwa kami telah berpasangan dan saling bertukar janji, aku mendapat banyak reaksi. Sebagian yang telah mengenalku dengan baik langsung menyorakiku, sementara sebagian lagi, termasuk beberapa Ketua Golongan tentu saja, tidak setuju atas hal itu.
Tapi kami tidak menyerah dan akan terus memperjuangkan hubungan kami. Callum menjelaskan banyak hal yang telah kulewatkan saat aku tak sadarkan diri. Ayahnya telah jatuh sakit, dan akhirnya mati karena penyakitnya sendiri.
"Kuduga karena ia menyesal telah membunuh Ratu Fae, kemudian ia juga hampir membunuhku," jelas Callum. "Itu semua terjadi tak lama setelah aku pergi dan mencarimu. Bora ternyata sempat mengambil alih takhta."
Tentu saja perkataannya itu membuatku marah. Aku ingat kisah masa lalu Ratu jahat itu. Bora harus bertanggung jawab karena pernah bekerjasama dengannya. Maka atas titah Sang Pangeran, Bora berhasil dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup, hukuman yang bahkan juga disetujui oleh para anggota Ketua tanpa harus mengambil suara, karena tidak ada yang menyanggah.
Bekerjasama. Aku kembali mengingat kisah masa lalu Sang Ratu. Aku juga ingin mengenang Jelita, anak manusia yang berambisi dan pintar. Anak yang hanya berusia 8 tahun, namun sudah bisa membuat kekacauan sebesar ini.
"Aku adalah buah kegagalan. Aku adalah Ibumu."
Ya, aku juga akan mengenang jasamu, karena telah menciptakanku dan membawaku ke dunia ini. Kau juga adalah salah satunya yang membantuku bertemu kembali dengan Callum.
Kemudian aku dan Callum juga menghabiskan masa bersama selama 100 hari. Katanya itu adalah tradisi Fae, untuk menghabiskan waktu bersama pasangan yang mereka cintai.
"Sedang memikirkan apa?" Bisik sebuah suara familiar di telingaku. Aku membalikkan badan. Callum sedang mengenakan setelan jas berwarna putih. Rambut hitamnya ditata rapi sehingga menambah paras rupawannya. Mata birunya menatapku penuh perasaan, dan sudut bibirnya perlahan mengembang saat melihat diriku yang sedang tersenyum kepadanya.
"Ayo, Ratuku." Callum melingkarkan lengannya di pinggangku. "Upacara akan segera dimulai," katanya sambil tersenyum.
Kami melewati upacara dengan baik. Kadang dilanjutkan oleh suara isakan dan tangisan orang-orang. Semua orang merasakan duka. Merasakan kehilangan akibat perang yang terjadi beberapa bulan yang lalu.
Aku melirik pria yang ada di sampingku sekarang. Callum bahkan tak menyadari tatapanku. Ia terus menatap batu nisan yang ada di hadapannya dengan ekspresi datar.
Batu itu berukiran tulisan Raja dan Ratu Fae. Ayah kandung dari Callum, dan Ibu angkat dari Callum.
"Ibu menyukai bunga mawar," bisik Callum dengan nada sedikit gemetar. "Ibu juga yang menghadiahiku sepasang belati itu. Katanya itu bisa melindungiku. Aku hanya tinggal memberikan satu nya lagi ke orang yang paling kupercayai."
Aku ikut menatap batu nisan itu. Batu yang bertuliskan nama Alice, nama asli Sang Ratu.
Callum sempat menunjukkan potret Sang Ratu. Foto pada sebuah bingkai yang ia temukan di kamar pribadinya. Tentu saja aku terkejut. Ternyata wanita yang pernah mendatangiku malam itu adalah Ratu Fae sendiri.
"Jaga Callum baik-baik. Hanya itu permintaanku kepadamu."
Aku menitikkan air mata. Aku kini tahu betapa besar kasih sayang wanita itu kepada Callum, walau ia bukan ibu kandungnya.
"Ibu sempat menyesal, karena telah membunuh Ibu kandungku, Miss Cindy." Callum tiba-tiba berlutut dan membersihkan debu yang mengotori batu nisan tersebut. "Namun setelah kupikirkan, ia melakukannya karena terpaksa. Jadi itu bukan salahnya."
Aku ikut berlutut di sampingnya, dan menggigit bibir bawahku. Sebenarnya aku ingin memeluknya, berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi pada akhirnya aku hanya menggenggam tangannya.
Callum kini menatap tangan kami yang saling terpaut. "Kau tahu, saat akhirnya aku bertemu dengan kakakku, Dexter, ia berkata ia pernah melihat adikku sekali."
"Lalu, apakah kau mengetahui identitas adikmu?"
"Aku kurang yakin." Callum menggeleng pelan. "Kata Dexter, ia hanya melihatnya sekilas. Tapi ia yakin seseorang yang bekerja di istana sengaja meninggalkan seorang balita di tengah-tengah hutan. Adikku perempuan. Ia berambut hitam dan memiliki mata biru, sama sepertiku."
Rasanya bagaikan tersambar petir. Hal yang terlintas di pikiranku adalah Jesca. Ia pernah menceritakan kepadaku, bagaimana ia pernah bertahan hidup sendirian di tengah hutan saat masih sangat kecil.
"Jesca..." Bisikku lirih. Itu membuat Callum mengangguk. "Ya. Aku juga sempat menduga adikku adalah dirinya."
Jesca. Gadis Royal yang ternyata adik kandung Callum. Terakhir aku berkomunikasi dengannya di tengah hutan, saat ia membantuku pergi jauh-jauh dari wilayah Bougenville.
Jesca... Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?
Miss. Ketahuilah, bahwa aku selalu percaya padamu.
Itu adalah kalimat terakhirnya padaku. Kalimat yang telah memberikanku semangat untuk terus berusaha dan tidak pernah menyerah.
"Terakhir aku bertemunya dalam kondisi mengenaskan," kata Callum lagi. "Tapi ia tak berhasil diselamatkan. Luka di punggungnya sudah terlalu parah."
Callum menatap kalung yang tergantung di lehernya. "Ini adalah milik Jesca, adikku yang telah lama hilang. Ia yang memberikan ini padaku."
Aku menengadah dan menatap langit yang berwarna jingga. Matahari telah terbenam, dan upacara telah berakhir. Semua orang mulai meninggalkan tempat ini satu per satu.
Aku mencoba membayangkan seandainya Jesca masih berada disini, bersama kami. Seandainya ia tidak dipisahkan dari kakak laki-lakinya, Callum. Gadis polos sekaligus pemalu. Apa yang akan terjadi seandainya ia diberi waktu lagi untuk bertemu dengan Callum? Mereka pasti akan memiliki hubungan yang baik, sama seperti diriku dan Lexy.
Ya. Kita memang tak bisa memutar kembali waktu. Kita hanya bisa mengenang dan mengingat kembali, apa yang telah kita lalui sampai di titik ini. Karena roda kehidupan terus berputar. Itu adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh Sana.
"Jesca," bisikku pada langit. "Semoga kau tenang disana."
TAMAT
Bonus Visual
...
~Callum dan Jesca~...
~Lexy, sewaktu menjadi pelayan Sang Ratu~
~Dark Alena~
~The Evil Queen Bee Fairy~
Jangan lewatkan Epilog untuk episode selanjutnya! 😁
Oh ya, karya ketiga author baru saja publish hari ini, judulnya Sapphire Blood. Kalo mau mampir, silahkan saja klik profil author! 🤗