
"Konflik antar pasangan?" Tiba-tiba Bora muncul di hadapanku. Aku tidak dapat lagi melihat keberadaan Callum.
Aku mengepalkan tangan dan meninju wajah tuanya. Ia terbelalak dan menghindar, namun kali ini ia tidak lebih cepat. Alhasil ia jatuh tersungkur ke tanah.
"Ini semua gara-garamu," kataku geram. "Kalau kau tak menyentuhku sembarangan-"
"Harusnya kau berterima kasih padaku," katanya tenang, meskipun pipinya mulai bengkak akibat ulahku. "Aku hanya ingin melihat, seberapa dalam emosi yang bisa ditahan oleh pangeran kecil itu."
"Dasar orang gila!" Aku meninjunya lagi, namun malah mengenai tembok. Ia tertawa melihat ekspresi wajahku yang menyedihkan. "Ckckck, aku tak habis pikir kenapa kau jatuh cinta dengannya. Anak-anak muda jaman sekarang hanya tertarik dengan wajah rupawan."
"Diam kau!" Aku mengeluarkan cahaya dan menyerangnya. Ia melakukan salto dan menghindari seranganku yang bertubi-tubi.
"Mau sampai kapan kau melakukan ini?!" Teriaknya saat cahayaku hampir menghantam kepalanya.
"Sampai kau mati!" Aku mengambil ancang-ancang, dan menggunakan tenaga dalamku untuk menciptakan cahaya pelangi. Amarah mulai mengalir dari dalam diriku, dan aku tersenyum puas saat melihat ekspresi ketakutannya.
"Alena!" Tiba-tiba Xiela dan Naomi sudah memasuki kamarku. "Jangan lakukan ini!"
Teriakan mereka membuatku berpaling sedikit, membuyarkan fokusku. Alhasil, cahayaku meledak dan memantul ke segala arah.
Tubuhku terpental ke dinding. Debu-debu halus berjatuhan dari atas, sementara cahayaku yang memantul hampir membutakan mataku.
"Tahan dia," kata Bora yang sudah terbebas dari belenggu sihirku. Aku bergidik ngeri saat kedua temanku menuruti perintahnya.
"Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!" Kedua tanganku diikat agar aku tak lagi menyerang Bora. Xiela hanya terdiam, raut wajahnya penuh penyesalan, sementara Naomi sudah berbisik di telingaku. "Maaf, Alena, tapi tolong percaya kepada kami."
"Bawa dia. Kita sudah tak punya banyak waktu," kata Bora sebelum ia melangkah keluar dari ruangan.
"Bawa aku kemana, hah?!" Aku melototi kedua temanku, ingin diberi penjelasan. "Jangan cuma diam saja!"
"Sabar," desis Xiela. "Kau selalu banyak bicara."
Sekarang, aku sudah ditarik keluar ruangan. "Jangan dengarkan Bora! Kalian sudah kehilangan akal, ya?!"
Aku terus memprotes, tidak memerhatikan kemana aku sedang dibawa. Akhirnya Naomi mengangkat bicara. "Bora bersikeras untuk mempercepat pelaksanaan upacara penobatanmu sebagai seorang Fae God."
"Dan kalian menurutinya begitu saja?!"
Xiela melirik Bora yang sedang memimpin jalan. Setelah ia berada cukup jauh, Naomi langsung menyelimuti kami dengan gelembung suaranya.
"Kami tidak tahu apa yang akan diperbuatnya," jelas Naomi kepadaku. "Kalau kau berhasil dinobatkan secara resmi, kau akan makin terikat dengan apparat hukum. Tentu kita tak menginginkan hal itu terjadi."
"Jadi apa yang harus kulakukan?" Bisikku pasrah. Pikiranku masih dipenuhi oleh Callum. Callum yang menghilang begitu saja setelah aku praktis mengusirnya.
Naomi mendesah. "Kami akan coba buat keributan. Sementara itu, cobalah untuk pergi keluar dari gedung."
***
Seseorang menahan mulut serta kedua lengan Callum. Tubuhnya kemudian diseret ke sebuah ruangan gelap. Ia hendak menyerang siapapun yang mencoba melukainya saat tangan itu sudah melepaskannya.
Tiba-tiba lampu penerangan menyala, menyilaukan pandangannya. Ia menyipitkan mata dan melihat beberapa gadis Fae. Salah satunya tampak familiar karena ia sering bertemu dengannya.
"Kejutan untuk Sang Pangeran!" Semua orang bersorak-sorak di dalam ruangan sempit tak berjendela ini. Kemudian ia melihat gadis Aqua berambut hitam lebat itu. Tangannya memegang sekuntum bunga, dan disodorkannya kearahnya.
"Kamu-"
"Callum," kata Fae itu lembut, sambil memandanginya penuh harapan. Seketika ruangan menjadi hening. Callum bisa melihat ekspresi semua orang yang tampak sedang menunggu-nunggu. Beberapa sibuk berbisik, sementara yang lain cekikikan.
"Maaf, tapi aku tak mengerti." Callum menggeleng-geleng. "Ada apa ini?"
Gadis itu tersenyum manis, kemudian semakin mendekatkan langkahnya. Ia menaruh bunga itu di tangannya, padahal Callum belum menerimanya. "Ada yang harus kusampaikan kepadamu."
"Ayo, katakan saja padanya, Lotus!" Sorak beberapa gadis di pojok ruangan. Semuanya memandang mereka penuh harapan. Callum tiba-tiba merasa aneh. Belum pernah ia dikejutkan secara dadakan seperti ini, tidak sampai disekap dan dibawa secara paksa seperti ini.
Pipi gadis itu merona saat mata Callum menatapnya lekat-lekat. "Sepertinya akan berhasil," Callum mendengar salah seorang berbisik kepada yang lain.
"Callum, pangeranku," katanya, tidak berani menatap langsung matanya. "Saat pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh hati. Pada wajahmu yang begitu menawan, serta cara berjalanmu yang anggun. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu."
Callum menahan tawa jengkelnya. "Tentu. Aku memang menawan."
Sepertinya Callum salah berbicara. Gadis itu malah semakin salah tingkah dan, sepertinya juga salah paham. Gadis itu melanjutkan ucapannya sambil tersenyum. "Aku juga sudah memerhatikan caramu memperlakukanku. Penuh kebaikan dan perhatian. Maka dari itu aku melakukan ini."
Melakukan apa? Callum hendak melontarkan pertanyaan itu, namun beberapa orang lagi-lagi berteriak kegirangan. "Jangan buat kami menunggu! Kejadian penuh momen ini perlu diceritakan kepada semua orang!"
Gadis itu tertawa, dan dengan percaya dirinya berjalan mendekatinya. Roknya berkibar-kibar. "Aku punya perasaan padamu, Callum. Setahuku, kau belum memiliki pasangan seumur hidup. Maukah kau menerimaku dan menjalani 100 hari bersamaku?"
Kini, ia dibuat tercengang olehnya. Gadis ini baru saja mengutarakan perasaannya. Semua orang kembali bersorak ria, beberapa bertepuk tangan, sementara yang lainnya merasa cemburu dan iri hati.
Untuk menjadi pasangan, Fae yang saling mencintai harus menjalani masa hidup bersama selama 100 hari, kemudian diadakan upacara pengikatan dan pernikahan secara resmi.
"Jadi? A-apakah kau bersedia?" Gumamnya sambil menggigit bibirnya. Callum tahu ia sedang diperhatikan oleh semua orang, jadi ia harus berhati-hati dalam mengambil tindakan.
Callum memaksakan sebuah senyuman, kemudian menarik lengan gadis itu kearahnya. Gadis itu terbelalak saat tubuhnya sudah berada di dekatnya.
"Maaf, tapi sebelumnya, siapa namamu?" Bisiknya di telinga gadis itu. Ia masih bisa mendengar suara sorakan orang-orang, namun jika berada di jarak sedekat ini, suara-suara itu tidak akan menghambatnya.
"Lo-Lotus, pangeranku," katanya terbata-bata. Callum tersenyum miring. "Lotus, nama yang indah."
Gadis itu menengadah dan menatap langsung matanya. "Ja-jadi, kau akan menerimaku?"
"Hmm, bagaimana ya?" Callum pura-pura sedang berpikir dan menggarukkan kepalanya. "Aku saja lupa siapa namamu. Memangnya aku mengenalmu, ya?"
Wajah gadis itu memerah karena malu. Ia menepis tangan Callum yang masih mengekang pergelangan tangannya. "A-aku... kita pernah bertemu sebelumnya! Bahkan pernah berbagi ran-"
"Oh ya? Maaf, tapi aku lupa kamu wanita ke berapa yang sudah berbagi ranjang denganku," hinanya dengan halus.
Air mata mulai menggenangi pelupuk mata gadis itu. "Mustahil... aku lihat bagaimana kau memperhatikanku-"
"Aku tak suka melihat air mata perempuan, jadi kuluruskan saja ini semua." Callum tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi pipi gadis itu. "Aku tidak tertarik denganmu."
Hanya sesimpel itu harapan gadis itu pupus. "Ini pasti karena Alena."
Callum terdiam.
"Ternyata dugaanku benar." Gadis itu tertawa tanpa rasa humor. Ia menghapus sendiri air matanya dan menatap Callum penuh kecewa. "Kau tertarik dengannya. Kenapa?"
"Bukan urusanmu," katanya, hendak berbalik badan dan meninggalkannya. Namun ia masih saja berbicara. "Apa karena ia seorang Fae God?! Fae terkuat yang pernah ada?! Karena itu kau memilihnya sebagai pasanganmu?!"
"Sudah kubilang, ini bukan urusanmu," kata Callum sambil mengepalkan tangannya.
"Mungkin ini memang bukan urusanku." Mereka tidak sadar ruangan berubah menjadi hening. Ekspresi di wajah Lotus jelas menggambarkan isi percakapan mereka. "Kupikir waktu itu aku salah lihat. Tidak, kupikir itu untukku." Gadis itu menggeleng-geleng. "Ternyata untuk Alena."
"Kau sudah melewati batas."
"Kalau begitu jelaskan kepadaku! Jelaskan kepada kita semua kenapa kau memiliki sepasang belati kembar itu?!"
Tali amarah serta kesabaran Callum terputus saat mendengar ucapannya itu. Ia langsung berbalik badan dan menatap mereka semua dengan geram. Para gadis Fae yang sudah membongkar privasinya. "Darimana kau mengetahuinya, padahal aku sembunyikan di kamarku?"
Gadis itu tak bisa berkata-kata. "A-aku...waktu itu aku tak sengaja-"
"Kau memasuki kamarku tanpa izin?!" Callum mengepalkan tangannya penuh amarah. "Siapa lagi yang telah memasuki kamarku tanpa izin?! Apa ada lagi selain gadis ini?!"
Tiada satupun yang menjawab. Mereka semua memalingkan muka karena malu.
"Tak bisa kupercaya," katanya geram. "Aku hanya meninggalkan istana ini selama sebulan, dan ini akibatnya?" Callum menatap seisi ruangan dengan tajam. Gadis-gadis fanatik yang selalu memuja-muja dirinya. Totalnya mungkin hampir dua puluh. Tak pernah ia menunjukkan amarahnya ke orang lain. "Mulai hari ini, aku tak mau melihat kelompokmu lagi, Lotus."