
"Euurrghhh!!"
Suara raungan keras mengejutkanku. Rasa sakit di tanganku semakin tidak terkendali, dan aku jatuh berlutut.
Sial. Sekarang kepalaku berdenyut. Tak sampai semenit, aku pasti sudah mati karena kehabisan darah.
"Uaarrghh!!!" Suara raungan itu kembali terdengar, kali ini membuatku menoleh ke belakang. Samar-samar aku dapat melihat seorang gadis yang sedang menyerang monster dengan sihirnya.
Slash! Monster yang kuduga adalah Egleans langsung terbelah menjadi dua bagian. Aku ingin mengamati lebih lanjut, namun kegelapan segera menarikku dalam dekapannya.
***
"Alena, bangun."
Aneh. Aku seperti mendengar suara seseorang dalam pikiranku.
"Itu memang benar. Ini aku, Jesca."
"Jesca?" Aku hendak membisikkan nama itu, namun suaraku tak keluar.
"Tenang saja. Kau tak perlu menggunakan suaramu. Kau bisa berkomunikasi denganku lewat pikiranmu. Kau ingat, kan?"
"Oh ya?"
"Iya." Aku bisa membayangkan senyum yang disusul dengan belaian lembut pada rambutku. "Maka dari itu kau harus buka matamu, dan lihatlah keindahan ini semua."
Keindahan apa? Aku membuka mata, sudah bersiap untuk mendapat hantaman rasa sakit atau apapun akibatnya karena sudah melukai tanganku sendiri. Namun lagi-lagi aku tidak merasakan apa-apa. Tanganku kembali utuh dan tak terluka sedikitpun.
Ini seperti déjà vu. Tapi aku lupa kapan aku pernah merasakan hal seperti ini juga.
"Uhh." Aku refleks memegang kepalaku, namun aku sudah tidak merasa pusing.
"Merasa baikan?"
Ternyata aku masih menyentuh Gardian di tangan kananku. Pantas saja terdengar suara Jesca.
Kalau begitu, dimana dia sekarang?
"Aku disini." Gadis itu berlutut di sampingku. "Aku menemukanmu dalam keadaan terluka, Miss."
"Jesca..." Kataku lalu memeluknya. "Aku merindukanmu."
Kami saling berbagi kehangatan tubuh. Setelah itu Jesca menjelaskan semuanya. Ternyata selama ini ia menyusulku ke Bougenville. Namun karena penjagaan yang begitu ketat di dinding terluar, membutuhkan waktu lebih lama dibanding perkiraannya.
"Aku tak menyangka kau akan memaafkanku, Jesca."
"Haha. Lagipula sudah lama aku tak mengunjungi kampung halamanku. Rasanya sudah kangen sekali dengan keluargaku."
Ia kembali tersenyum. Senyuman yang tanpa sadar sudah membangkitkan semangat hidupku. Tak pernah kulihat senyum yang begitu tulus.
Tapi aku jadi salah fokus dengan rambut hitam serta mata birunya. Itu jadi mengingatkanku dengan pangeran itu.
"Ukh."
"Kenapa, Miss?"
"Bukan apa-apa." Aku menarik lengannya dan mulai menuntun jalan. "Omong-omong, ini dimana?"
"Karena tadi aku sempat panik, aku membawamu ke luar wilayah Bougenville..."
"Apa?! Jangan bilang hanya dengan sihirmu?! Itu bisa berakibat fatal! Kau kan, bukan sepertiku!"
"Aku punya penguat sihirku." Ia mengamati kalung yang tergantung di lehernya.
"Tapi tetap saja." Perasaan salah mulai merambatiku. Aku tak tega membayangkan gadis kecil ini yang susah payah menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri, bahkan sampai ke luar gerbang wilayah.
Setelah beberapa menit, aku baru tersadar ini adalah area hutan dekat Fae Hall. Lebih sialnya lagi, jubah yang biasa menutup sayapku sudah tidak ada padaku.
Pasti terjatuh saat aku berada di kamar Callum, pikirku kesal.
"Jesca, bisakah aku meminta bantuanmu?"
"Katakan saja apa itu."
"Bagaimana keadaan Fae Hall selama aku menghilang?"
"Buruk sekali." Raut wajahnya langsung berubah.
"Untungnya Bora tidak sampai mengutus seseorang untuk mencarimu. Ia hanya menyebarkan berita ini, mungkin sengaja agar tersampai ke telingamu. Menurutku, ia ingin kau tersadar dan kembali atas kemauan sendiri."
Sungguh, aku tak akan pernah mengerti jalan pikiran pria tua itu.
"Sebelum kau memikirkan itu, Miss, lebih baik kau menjelaskan kepadaku mengenai luka sayatan di tanganmu. Itu tidak main-main dan sangat dalam."
Aku menghembuskan napas. "Bukan apa-apa."
Ia tiba-tiba menghalangi jalanku. "Je. Las. Kan."
Oke, karena sifatnya mengingatkanku dengan Lexy, maka ia berhasil meluluhkan hatiku. "Aku bertengkar hebat dengan Callum."
Ia ternganga. "Bukankah kalian sudah menjadi pasangan? Aku dengar berita itu sewaktu tiba di Bougenville."
"Ya, ya," balasku sambil memutar bola mata. "Ia sudah ada wanita lain rupanya. Tunangan pula," bisikku pilu.
Jesca terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Akhirnya sepanjang perjalanan kami larut dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya aku kembali mengangkat bicara.
"Egleans. Tadi kau sempat membunuhnya."
Ia mengangguk.
"Tapi waktu itu... aku hanya berada di luar gedung. Artinya, me-mereka sudah-"
Tatapan mata semrawutnya sudah mampu menjelaskan semuanya. Bahwa makhluk itu sudah berhasil menembus perbatasan Bougenville.
***
[Author: Ada yang kangen sama Lexy-Val? Nih, aku kasih tunjuk mereka lagi ngapain 😂]
Tak disangka akhirnya Lexy kembali berpijak di tanah ini. Bangunan yang didepannya itu bahkan sudah menyamakan keadaan sekitar. Persis seperti namanya, Alther Suavis ini adalah kota reruntuhan akibat perang besar yang terjadi antara Fae dan manusia.
"Ini istana para Lebah? Sungguh di luar dugaan dan deskripsimu," sahut pria di sebelahnya itu.
"Ledion dan kelompoknya benar-benar menghancurkan tempat ini," balas Lexy sambil bergidik.
"Tunggu apa lagi? Ayo."
"Val." Ia sampai menahan pergelangan tangannya. "Bagaimana dengan jubahnya?"
"Sudah tak sabaran, ya? Nanti saja. Sekarang keadaannya masih terlihat aman."
"Maksudmu aku harus menunggu sampai kau mati dan tak bisa lagi melindungiku?" Tanya Lexy lagi saat mereka sudah memasuki istana. Sebagian pilar telah runtuh, membuat atap langit-langit menjadi miring. Lexy curiga yang sempat menyerang istana ini bukan hanya Ripper. Siapa yang bisa meledakkan bangunan luas seperti ini?
"Kau benar. Beberapa Fae selain Ripper ikut dalam pembantaian besar-besaran para Peri Lebah." Val seolah-olah bisa membaca pikirannya.
Mereka bersusah payah memerhatikan jalan. Selain puing-puing bangunan, ternyata terdapat banyak cairan kental dan lengket.
"Madu. Sayang sekali," gumam Lexy saat ia menyentuh setetes cairan yang melumuri sebuah balok kayu. Ia jadi teringat saat ia masih menjadi pelayan Ratu. Tidak mudah memproduksi madu sendiri, apalagi saat ia teringat berapa banyak pekerja yang dibutuhkan dalam menghasilkan ramuan madu yang hebat itu.
"Kau bilang kau mengetahui tempatnya kan?" Val sudah menghampirinya. "Dimana letak madu itu?"
"Seharusnya disana," jawabnya seraya menunjuk ke arah kanan. "Tapi bagaimana caranya kita melewati puing-puing ini?"
"Kau tahu hanya ada satu orang yang bisa," jawab Val dengan santai.
"Huh. Kalau mau menyombongkan diri, jangan disini."
"Siapa bilang orangnya aku?" Pria itu tiba-tiba menatapnya dengan serius. Tangannya menahan bahunya.
"Apa yang kau-"
Bibir pria itu tiba-tiba bersentuhan dengannya. Lexy syok berat, otaknya masih berproses. Seperti gunung berapi, ia bisa merasakan otot tangannya yang mulai menegang karena amarah.
Ia berteriak histeris. Kemudian ditataplah pria menyebalkan di hadapannya itu.
Tidak, tidak! Ia sudah terlambat. Bulu-bulu putih mulai tumbuh di sekujur tubuhnya. Lagi-lagi ia sedang menjelma.
Val tersenyum bangga. "Amarah memancingmu ya. Sekarang, ambillah madu itu untukku."
***
Jesca (Bayangin aja matanya biru yah 😭)
Callum dan Alena
Lexy dan Val