
Sementara itu di istana Amarilis...
Ledion sedang berjaga di pintu gerbang seperti biasa. Ini sudah dua hari semenjak kepergian Val dan Lexy, dan sudah dua hari pula ia menyimpan rahasia itu sendiri.
"Kau tak mau beristirahat?"
Ledion melirik ke arah Xiela, gadis berambut merah yang sebenarnya juga mengetahui rahasia itu.
Ia masih menutup mulut dan berusaha untuk tidak menghiraukan bujukannya.
"Ayolah." Teman satunya lagi yang bernama Naomi itu tiba-tiba muncul. "Kau tak pegal apa berdiri selama dua hari?"
"Aku mendapat perintah dari Sang Pangeran untuk menjaga istananya selama kepergiannya," balasnya dingin.
"Pfftt!" Naomi malah tertawa. "Tapi dia tak pernah menyuruhmu untuk berdiri terus, kan?"
"Aku seorang Ripper. Itu tugas dan kewajibanku."
"Huh! Memang benar kata Alena. Kau ini sedingin es." Naomi langsung menarik lengan Xiela. "Ayo tinggalkan saja dia. Gak ada gunanya membujuk pria berkeras kepala."
Ledion hanya mempererat genggamannya pada pedangnya. Untungnya ia pandai menahan emosi. Saat dua gadis muda itu pergi, tanpa disadari ia menghela napas lega.
"Lelah?" Seorang wanita berambut pirang menghampirinya. Ledion sampai harus menahan napasnya. Sudah berpuluhan tahun ia mengenalnya, dan sampai saat ini pula, ia masih terpana dengan kecantikannya.
Terlihat dengan jelas kantung mata yang menghiasi mata indah wanita itu. Sebagai seorang Healer, tentu ia memiliki pekerjaan sama beratnya dengan Ripper. Setiap hari Ledion tak bisa membayangkan berapa jumlah orang yang harus Sana sembuhkan.
Tapi kenapa mulutnya masih tak mau terbuka? Sudah lama sekali ia tak bertemu dengan wanita ini, dan sudah lama pula mereka tak berbincang karena kesibukan masing-masing.
Wanita yang bernama Sana itu juga tampaknya sama tidak pedulinya. Ini semua berkat kehidupan masa lalu mereka yang saling berkelindan, dan karena tak ada satupun yang memulai, maka mereka terpaksa bersikap acuh tak acuh terhadap satu sama lain.
"Tunggu."
Wanita itu memasang ekspresi terkejut. Ledion sendiri juga tak memahami kenapa ia sampai menghalangi jalannya.
Apa yang harus kukatakan sekarang? Wajar jika perasaannya tercampur aduk. Ia tak ingat kapan terakhir kali mereka mengobrol santai.
Otaknya masih berproses, dan itu membuat Sana kehilangan kesabaran. Saat wanita itu hendak berjalan pergi, Ledion akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Temui aku. Nanti malam."
Wanita itu hanya terdiam. Kemudian, "Kenapa?"
Ledion tak dapat menemukan alasan yang tepat. Ia sendiri juga tak tahu kenapa ia ingin bertemu dan berbicara empat mata dengannya.
"Pukul 10 malam. Di taman belakang." Setelah itu, ia membungkuk dan pamit, tidak berani memandang wajah itu. Wajah yang ternyata masih ia ingat dengan jelas hingga saat ini.
***
Angin malam meniupkan jubah panjangnya. Ledion mempercepat langkahnya, sampai akhirnya ia melihat wanita bersayap putih yang sudah familiar itu.
"Ehem." Ledion berdeham, tidak tahu kenapa malah memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kau telat setengah jam," kata Sana dengan nada dingin, masih tidak menoleh kepadanya.
"Sana." Tubuh wanita itu terlihat tegang. Sudah lama sekali ia tidak menyebut namanya.
"Cepat katakan apa maumu," gumamnya. "Aku masih harus mengurus banyak hal."
"Sebanyak tugasku?" Ledion berusaha mencairkan suasana, namun usahanya nihil. Wanita itu masih tidak menunjukkan senyumnya seperti biasa.
"Sana itu asyik orangnya." Alena pernah berkata seperti itu. "Ia ceria, mudah tertawa."
Memang benar. Ledion paham betul sifat asli wanita ini. Namun ia masih ragu akankah ia menunjukkan itu semua kepadanya.
"Kau masih tidak berubah," kata wanita itu tiba-tiba. "Masih sangat diam. Dan dingin."
"Mungkin."
"Kenapa kau melakukan itu?"
Ledion tak perlu bertanya apa maksud perkataannya. Ia tahu ujung-ujungnya akan menjadi seperti ini. Mereka masih terjebak di dalam masalah hubungan pribadi.
Wanita itu menggeleng kepalanya. "Aku setuju bertemu denganmu bukan untuk membahas masa lalu kita. Jangan salah paham."
Ledion menatap langit malam yang berbintang ini. Langit yang setiap hari menjadi atapnya saat ia mendapat giliran berjaga malam-malam. Namun rasanya kali ini langit terlihat berbeda.
Terlihat lebih indah berkat wanita yang ada disampingnya.
"Kau masih belum melupakanku, kan?"
Sungguh aneh wanita ini, batinnya. Ia tak ingin membahas masa lalu, tapi ia terus mengungkitnya tanpa disadari.
"Belum," jawabnya dengan jujur.
"Huh." Sana sudah membalikkan tubuhnya. "Aku selamanya tak akan pernah mengertimu, Ledion. Kalau kau masih menutup mulutmu seperti ini, aku pamit dulu. Ini hanya membuang-buang waktu."
"Aku ingin bertemu denganmu untuk memohon suatu hal."
Sana menghentikan langkahnya.
"Ayo mulai semuanya dari awal," lanjutnya lagi penuh penyesalan. "Aku minta maaf... Jadi bisakah kita-"
"Apa kau sudah lupa dengan jawabanku waktu itu?" Wanita itu sekarang menatapnya penuh dendam. "Apa yang sudah terjadi, itulah yang terjadi. Roda kehidupan terus berputar.
Aku sudah memiliki jalan hidup sendiri. Begitu juga kau, Ledion.
Jadi, selamat tinggal."