Wings & Fate

Wings & Fate
Sorry, Mom



Kembali ke masa kini...


"Jangan asal omong kau!" Hardik Sang Raja. Pria itu kembali menuruni undakan tangga singgasana, dan mendekati anaknya yang masih terbaring lemah di lantai.


"Apa kau masih belum cukup puas sudah terlahir sebagai seorang Fae Royal?! Kau sudah berstatus menjadi pangeran! Seharusnya kau berterima kasih padaku karena melepaskanmu, bukannya membunuhmu!"


"Sudahlah," kata Sang Ratu sambil menggeleng-geleng pasrah. Ia lalu segera mengusir Fae Healer yang sedari tadi sempat mendengar ucapan pribadi mereka.


Setelah pintu tertutup dan mereka benar-benar sudah sendirian, Sang Ratu kembali memandangi wajah Rajanya. "Baginda Raja-"


"Kalau begitu bunuh aku sekarang!" Teriak Callum yang mengejutkan semua orang, bahkan Ayahnya sendiri. Pangeran itu sudah tidak peduli dengan harga dirinya. Ia tak pernah menunjukkan air matanya didepan banyak orang seperti ini.


"Kenapa?" Tanya Callum saat ia melihat ekspresi terkejut Ayahnya. Ia sengaja memancing amarahnya. Ia sudah tak peduli apa-apa lagi. Yang tersisa dalam dirinya adalah rasa kekecewaan terhadap Ayahnya karena tak membunuhnya malam itu. "Bukannya Ayah tak pernah mencintaiku? Kenapa tidak membunuhku malam itu?"


"Diam kau, anak h*r*m," umpat Ayahnya mulai tak tahan.


"Kenapa memangnya?" Callum tertawa terbahak-bahak, tak menghiraukan perkataan Ayahnya. "Kau takut, Ayah? Aku kan hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa. Kenapa kau tak langsung membunuhku saja?! Kenapa aku masih hidup?! Kenapa aku tidak mati saja?!"


"Aarrghh!!" Emosi Sang Raja sudah melewati batasnya. Ia kembali mengayunkan pedangnya dengan cepat.


Callum memejamkan matanya, masih dapat merasakan air matanya yang berlinang. Namun setelah beberapa detik, tubuhnya tak terlukai sedikitpun.


Ia membuka mata dan terbelalak karena rupanya Sang Ratu menghalangi serangan Ayahnya.


"Ti...tidak..."


Darah mulai menetes keluar dari mulut wanita itu. Sang Ratu menyunggingkan senyumnya yang paling indah, kemudian ambruklah ia ke lantai.


"Ibu." Tanpa sadar, kata itu keluar dari mulut Callum. Kata yang ia kira tak akan digunakannya lagi. Sebetulnya apa arti kata Ibu? Wanita yang sudah melahirkannya kah? Atau seseorang yang menyayangimu sepenuh hati, tanpa memperdulikan bahwa ia sedarah denganmu?


Pedang Sang Raja langsung terlepas dari genggamannya. Pria yang semula dipenuhi oleh amarah, langsung tergantikan ekspresinya begitu melihat Ratunya yang bersimbah darah.


Terluka akibat perbuatannya sendiri.


"Bangun..." Callum memperhatikan pria itu yang terus saja menggumamkan kata yang sama. "Bangun, Ratuku. Bangun. Kau tak boleh mati."


"Hhh." Wanita yang punggungnya terluka parah itu hanya bisa memberi senyuman. Tubuhnya dipeluk oleh Rajanya, yang mulai menangis karena menyesali perbuatannya.


"Rajaku... kenapa kau... Uhuk! Uhuk! Mungkin ini memang sudah ajalku."


"Tidak," pria mengerikan itu ternyata juga bisa bersedih. "Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku."


"Rajaku..." Bisik Sang Ratu dengan suara serak. "Kau masih ingat hari pertama aku bertemu denganmu? Itu adalah hari terindah yang pernah kulalui."


Sang Raja terus menangis. Ia menggunakan jarinya untuk menghapus air mata Ratunya.


"Sudahlah...Rajaku," lanjut Sang Ratu lagi. Ia kembali terbatuk, dan darah semakin banyak keluar dari mulutnya. "Masih ada para selirmu yang akan menemanimu."


Ini seperti tamparan telak untuk pria itu. Ia tak pernah menyadari seberapa luas cintanya untuk wanita ini. Wanita satu-satunya yang ternyata telah menjadi pendamping hidupnya selama ratusan tahun. Selama berpuluhan abad. Wanita yang masih setia dengannya, bahkan disaat ia berganti-ganti selir yang masih muda.


Ratu itu menatap wajah Rajanya dengan sendu. Yang ia lihat sekarang bukanlah seorang Raja perkasa yang akan melakukan apa saja demi kesejahteraan kaum Fae. Yang ia lihat hanyalah pria yang ia tulus cintai.


"Alice... Aku hanya mencintai satu wanita. Dan itu adalah kau."


Callum yang daritadi memperhatikan kedua orangtuanya itu kembali dikejutkan. Tak ada yang pernah mengetahui nama dua Fae ini. Dua pemimpin yang sudah menjadi Raja dan Ratu negeri ini. Tidak ada yang pernah mengetahuinya, termasuk anak-anak mereka sendiri.


Sang Ratu menggumamkan sesuatu, namun Callum tak dapat menangkapnya. Mulutnya membentuk sebuah nama. Bisikan nama Raja itu, pria yang sangat ia cintai.


"Cal..." Kali ini Ibunya berpaling dan memandangi wajah putranya yang sudah kusut. Ia kembali tersenyum. "Cal...putraku...pangeranku..."


Uhuk! Uhuk!


"Oh, itu bukan salahmu," jawab Ibunya dengan tenang. "Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Cal. Kau benar. Kau bukan anak kandungku. Kau adalah anak-"


Tenggorokan Ibunya tercekat, dan mata wanita itu terbelalak.


"Ibu!" Callum menyentuh pipi wanita itu. Ia menggeleng-geleng panik. "Kumohon, jangan sampai! Healer! Healer!"


Wanita itu tetap memaksakan diri untuk mengeluarkan suara, namun ia hanya bisa membentuk kata dari bahasa bibir.


Cindy.


Kemudian, gerakannya terhenti dan tangan wanita itu terlepas dari tenggorokannya.


Aku mencintaimu, Callum.


***


Pintu terbuka dari luar, dan beberapa pelayan termasuk seorang Healer sudah memasuki ruang singgasana. Tentu saja mereka terkejut bukan main. Mayat di lantai tak lain adalah Ratu mereka.


"Kubur Ibuku selayaknya. Aku mau kuburannya indah, dan ditanami oleh bunga mawar, tanaman favoritnya," perintah Callum yang masih setengah sadar.


"Kau yang menyebabkan ini semua." Callum belum sempat menoleh ke arah Ayahnya saat tenggorokannya sudah dicekik.


"A...ayah-"


"Jangan panggil aku Ayah!" Kemudian, tamparan sudah mendarat pada pipinya. Raja itu malah semakin tak terkendali. Ia tak menghiraukan orang lain yang sibuk menonton pertengkaran mereka.


Tubuh Callum yang sebenarnya masih terluka dihempaskan ke dinding. Belum sedetik, ia sudah mendapat serangan dari pedang Ayahnya.


"Urgh." Callum terbelalak. Perutnya kembali ditusuk. Ayahnya ini rupanya masih belum mengampuninya.


"Ini yang kau mau, kan?" Ayahnya memutar gagang pedangnya, memperdalam tancapannya. Callum berteriak sejadi-jadinya, tak kuasa menahan rasa sakit luar biasa yang tak pernah dirasakannya.


Slash! Pedang Ayahnya langsung patah karena seseorang sudah mematahkannya dengan sihirnya. Miss Dorothea.


"Yang Mulia. Jangan lakukan ini."


"Berani-beraninya kau!" Bola-bola berwarna emas tercipta, dan langsung menyerang wanita tua itu. Namun Dorothea dengan cepat sudah menghindar, dan melindungi dirinya dengan sihirnya.


Sementara dua orang itu sibuk bertarung, Callum sudah terjatuh ke lantai.


Segalanya terlihat buram, dan saking terlukanya dirinya, ia tak bisa mengeluarkan suara lagi.


Ia menoleh ke lantai dan melihat genangan darah. Bukan miliknya, melainkan bekas Ibunya yang belum dibersihkan.


Ibu, pikir Callum menyesal. Aku belum pernah mengatakan kepadamu bahwa aku mencintaimu.


Saat Callum pikir dirinya hampir mati, ia jadi teringat dengan Alena.


Alena. Kau ada dimana?


Terakhir kali ia melihat gadis itu adalah saat ia menemukannya di dalam kamarnya. Rupanya gadis itu sudah menyaksikan kejadian itu.


"Aku benci kau!" Itulah kalimat yang sudah dilontarkan olehnya. "Aku menyesal sudah jatuh cinta kepadamu!"


Andaikan aku menjelaskan semuanya kepadamu waktu itu. Callum kembali menitikkan air matanya.


Ya. Andaikan ia bisa memutar waktu dan menjelaskan semuanya, bahwa sesungguhnya malam itu, ia ingin memutuskan hubungan pertunangannya dengan Lucia.