Wings & Fate

Wings & Fate
Why?



Ratu. Lexy telah menjadi Ratu Peri Lebah hanya dalam beberapa detik. Awal rencana mereka untuk datang ke sarang Sang Raja adalah demi tempat persembunyian. Sekarang mereka malah benar-benar 'terperangkap' di istana ini. Bukan hanya untuk beberapa hari, bahkan bukan berbulan-bulan. Namun untuk selamanya.


Setelah suara pintu besi tertutup, Lexy bersusah payah menarik rok gaun kuningnya yang super panjang dan menghampiri Val. Sekarang pria itu telah dipenjara di sel tersempit dan terbau.


"Hahh," Lexy mendesah. "Buat apa kita kabur dari penjara kalau ujung-ujungnya ditahan lagi?"


Ia langsung menyesal berucap demikian saat melihat ekspresi Val yang murung. Sebenarnya yang ditahan hanyalah pria ini. Lexy tahu setelah waktu berkunjungnya habis, ia akan menjalani kehidupan barunya di istana peri lebah, sama seperti yang pernah ia alami.


Namun kali ini berbeda, karena ia yang paling berkuasa selain Sang Raja.


"Kau bebas melakukan apapun, dan meminta apapun." Itu kata Sang Raja sebelum ia memohon untuk menemani Val.


"Bebas, tapi masih dibawah pengawasanku. Aku tak akan mengabulkan tiga permintaan ini. Yaitu keluar dari istanaku, melepaskan teman priamu ini karena aku benci kaum Fae, dan yang terakhir, menolak segala hal yang kuberikan padamu."


Lexy tak mengerti maksud perkataannya yang terakhir. Yah, mungkin kalau ia memberikan banyak makanan enak serta gaun-gaun cantik, mana mungkin Lexy menolak?


"Val?" Lexy masih memperhatikan pria malang itu. Sekarang giliran dia yang ditahan di dalam sel, dan Lexy disini hanya menemaninya. Dalam hati Lexy tertawa atas kejadian yang menimpa mereka ini.


Namun, aneh. Pria itu tidak tersenyum sama sekali. Raut wajahnya lagi-lagi mengingatkannya pada Val yang pernah menyiksanya, pria tak kenal ampun dan suka berbuat seenaknya.


"Seharusnya kita tak melakukan ini dari awal," gumam pria itu.


"Ya?"


"Kubilang, kita seharusnya tak mengikuti rencana gila Ledion." Val sudah menatapnya dengan tajam, seolah-olah ingin memangsanya. "Dan seharusnya aku bersikap lebih tegas padamu."


"Mohon maaf, tapi apa maksud ucapanmu tadi?" Lexy menyilangkan tangannya. "Aku tak melihat kesalahanku dalam kejadian yang tak terduga ini."


Val terus menatapnya dengan tajam. Pria itu entah kenapa tiba-tiba bersikap dingin.


"Val," Lexy mulai berkeringat. "Adakah yang harus kau sampaikan padaku?"


Ia memalingkan wajahnya. "Tidak."


Apa-apaan dia?! Lexy mengepalkan tangannya. Kenapa dia kembali seperti di masa lalu?


"Keluar," ucapnya lagi. "Dan jangan pernah temui aku lagi."


"Keluar!" Val tiba-tiba bangkit dan mendorong tubuh Lexy. Akibatnya ia tersandung rok gaunnya sendiri. Kepalanya membentur dinding dengan keras.


"Ow!" Lexy mengusap-ngusap kepalanya, sengaja meringis kesakitan agar pria itu segera menyesal dan meminta maaf. Tapi ia salah. Val malah pergi menjauh dan tidur meringkuk di ujung sel.


"Val..."


Pria itu tetap tidak merespons.


"Kalau aku ada salah, aku minta maaf." Lexy bangkit berdiri susah payah, karena sepatu haknya yang membuatnya kesulitan. "Tapi bisakah kita tunda dulu pertengkarannya? Kita sedang berada di situasi yang sama. Aku tak mau menambah masalah lagi."


Terdengar suara tawa yang amat menyeramkan. Pria itu masih tidak melihat Lexy. "Selama ini aku berpura-pura baik padamu. Aku pikir kau akan membuka suara soal rahasiamu sebagai Egleans, sehingga aku jadi lebih mudah untuk membunuhmu nantinya."


Perkataan itu bagaikan tamparan keras untuk Lexy. Ia yakin telinganya tidak berfungsi dengan baik.


"Kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja?" Akhirnya Val menoleh ke arahnya. Namun ekspresinya itu memiliki aura gelap. "Kau hanyalah Egleans. Kau tak memiliki kemampuan seorang Fae. Kau tak berguna."


"Cukup." Lexy mulai bergetar, dan ia hendak melangkah keluar. Namun Val masih melanjutkan ucapannya.


"Kau tak seharusnya hidup seperti ini. Dasar makhluk E-"


Suara jeritan yang amat memekakkan telinga terdengar sampai luar sel. Tahu-tahu dirinya sudah menjelma. Gaun cantik yang semula dikenakannya menjadi sobek, sampai akhirnya dadanya yang berbulu putih terlihat oleh mata.


Lexy meraung marah. Ia menatap pria di depannya itu dengan dendam, dan tak lama sudah menyerangnya dengan cakarnya.


Meskipun Val tidak bersenjata, ia mampu menghindar serangannya dengan baik. Tubuh besar Lexy yang sudah mengenai langit-langit juga semakin mempersulitnya untuk bergerak lebih leluasa.


Para penjaga sudah mengarahkan tombak runcing mereka. Kemudian dengan beberapa kali lemparan, Lexy sudah terkalahkan dengan mudah.


Syut! Puluhan tombak panjang beterbangan, melukai tubuh putih Lexy dan membuatnya berdarah-darah. Lexy meraung kesakitan, dan ia langsung terhuyung-huyung. Pandangannya masih tertuju ke arah Val, pria yang bahkan sampai sekarang hanya menatapnya tanpa ekspresi, bahkan setelah ia pingsan dan tak sadarkan diri.


***


Yang nanya Alena kemana, dia bakal muncul di eps selanjutnya ya 🤭