Wings & Fate

Wings & Fate
You're My Queen



"Firasat buruk?" Memangnya bakal terjadi apa?


Val tetap tak menjawab pertanyaannya. Pria itu bergerak terlebih dahulu, menuntun jalan sambil menggandeng tangannya.


Kenapa sih? Lexy masih tak mengerti. "Gerak-gerikmu itu menakutiku, tahu. Dan juga..." Lexy menarik kembali tangannya. "Aku tak perlu digandeng."


"Memangnya aku sedang modus?" Pria itu rupanya tidak sedang bercanda. "Lexy, ada saatnya dimana kita harus fokus dan bersikap serius. Jangan mentang-mentang aku tidak lagi bersikap dingin terhadapmu, kau jadi bersikap seenaknya."


Deg! Lexy membelalak, lalu buru-buru melepas pandangannya dari wajah Val. Mungkin perkataannya ada benarnya. Ia sudah berpikir keliru terhadapnya. Ia benar-benar lupa bahwa pria ini juga bisa membunuhnya kapan saja.


"Lexy," katanya dengan nada datar. "Angkat kepalamu."


Namun Lexy masih tetap saja menundukkan kepalanya. Ia masih tidak berani menghadap langsung tatapan tajamnya.


"Jangan lupa kau ini adalah Sang Ratu Lebah," bisiknya di telinganya.


Itu membuat Lexy tersadar, dan ia segera kembali mengangkat kepala. Di saat itulah musik kembali terdengar, kali ini lebih keras.


Mari, mari! Datang dan menarilah!


Dalam sekejap pemandangan tergantikan. Lexy tidak lagi berada di labirin lorong yang gelap, melainkan di sebuah tempat terbuka. Taman luas yang ia lihat sebelumnya di luar istana.


Ternyata musik itu dimainkan oleh para peri lebah. Mereka berwujud sama persis seperti yang pernah ia lihat - sayap kuning cerah yang kecil namun kuat.


"Woah. Mereka laki-laki." Lexy menunjuk ke sekumpulan peri lebah. Warna kulit mereka seperti coklat keemasan, walau tidak semuanya berambut pirang.


Menarilah.


Suara bisikan itu terus terngiang-ngiang dalam otaknya, seperti ada energi tak kasat mata yang ingin mengontrol kakinya.


Yup. Suara itu secara perlahan terulang dalam otak Lexy. Tahu-tahu ia sudah melangkah di atas rumput. Sambil sedikit menaikkan roknya, kaki Lexy mulai menari bebas tanpa ia sadari.


"Lexy!" Val sudah menarik kembali tubuh gadis itu dalam dekapannya. Ia lalu menutup kedua telinganya.


"Jangan dengarkan. Kalau kamu mulai menari, kau tak akan bisa berhenti sampai selamanya."


Lexy mengedipkan matanya, mulai tersadar.


"Apa... apa yang terjadi?"


"Kau hampir masuk ke dalam jebakan para peri lebah."


"Jebakan? Apa menari itu juga dilarang untuk kaum Fae?"


"Bukan begitu." Val menatap lekat-lekat matanya. "Meski mereka masih menganggapmu sebagai Ratu mereka, kau tetap adalah seorang Fae. Kau tak bisa bebas melakukan apa saja sesuai kehendak mereka."


"Tapi-"


Ratu. Ratu kami. Ratu peri lebah.


Lexy kembali menoleh ke belakang.


Kenapa kau berhenti? Ayo, gabung bersama kami. Kami jamin kau akan merasa terhibur.


"Lexy," kata Val yang sudah memperingatinya. "Jangan."


Jantungnya malah berdegup kencang saat ia mendengar bisikan itu lagi. Ia tak pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya. Perasaan saat ia diundang menari bersama para peri lebah itu.


"Biarkan aku, Val," gumam Lexy tanpa sadar. "Hanya sekali...hanya sekali-"


Val makin mempererat genggamannya. Lalu ia sudah menarik tubuhnya dengan kasar. "Ayo pergi dari sini."


"Ugh!" Lexy melepas lengannya sendiri. "Kenapa kau kembali menjadi kasar?! Kau selalu asal memerintahku ini-itu! Memangnya kau siapa?!"


Pria itu hanya memasang muka datar saat melihat perubahan sikap Lexy. "Ayo-"


Terlambat. Lexy sudah berlari, kembali memasuki taman tempat para peri sibuk memainkan alat musiknya.


"Haha!" Lexy tertawa gembira. Sekarang kakinya sudah bebas menari. Ia memutarkan tubuhnya, bisa merasakan rok gaunnya yang ikut mengembang. Ternyata ini rasanya menari di atas rumput tanpa alas.


Suasana semakin meriah saat para peri lebah ikut bergabung dengannya. Suara musik terdengar semakin keras, dan Lexy tak henti-hentinya menari.


"Woah!" Lexy merentangkan tangannya dan kembali memutarkan tubuhnya. Betapa terkejutnya dirinya saat ia menabrak tubuh Val.


Bruuk!! "Uh." Lexy memegangi kepalanya yang sakit akibat tubrukan itu.


Jantung Lexy semakin menggebu-gebu. Bagaimana tidak? Pria di hadapannya ini akhirnya menyerah dan ikut menari dengannya.


Maka menarilah mereka berdua. Lexy sampai lupa waktu. Ia sudah terlalu senang. Meski tubuhnya mulai loyo dan pandangannya mulai kabur, ia tetap berada dalam dekapan Val.


Musik tergantikan menjadi lebih tenang. Tiba-tiba mereka sudah tak ada lagi di taman, melainkan sebuah tempat yang mirip seperti ballroom.


Lampu kandelir bersinar sangat terang, dan tahu-tahu Lexy sudah mengenakan gaun yang berbeda. Sementara itu Val juga terlihat kebingungan.


Suara violin membuat mereka semakin larut dalam suasana. Tangan Val sudah melingkar di pinggangnya, sementara Lexy terus menengadah dan menatap wajah pria itu.


"Le...xy..." Val tak henti-hentinya menggeleng dan mengerjapkan matanya. Ekspresi yang ditunjukkan itu sama sekali berbeda. Bukannya senang, ia malah terlihat panik dan khawatir.


"Kau kenapa?" Tanya Lexy sambil tertawa geli. "Kau seperti orang mabuk."


"Sadar...lah... Ini berba...haya. Ini hanya ti...puan-"


"Apa? Aku tak bisa mendengarmu!"


Val kembali berbicara, namun telinga Lexy kali ini tak dapat menangkap pembicaraannya.


"...darlah!" Kata pria itu samar-samar. Sekarang wajahnya sudah benar-benar terlihat khawatir.


"Kau kenapa sih-"


"Ratuku yang paling cantik." Terdengar suara seseorang yang amat menggema. Lexy memutar kepalanya dan melihat seorang pria tampan. Pria itu tidak berambut pirang kekuningan seperti peri lebah lainnya, melainkan hitam.


"Ra...ja?" Tebak Lexy.


"Ya. Ini aku."


Aneh. Kenapa dalam hati aku merasa takut saat melihatnya? Tapi ia hanyalah Raja! Ia tak mungkin berbahaya untukku!


"Ra...ja..." Tahu-tahu Lexy sudah berlari dan memeluk pria itu. "Aku sudah sangat merindukanmu."


Oh tidak. Apa aku baru saja mengucapkan hal itu?


"Ratuku," bisiknya sambil membelai rambutnya. "Kau telah kembali."


"Ya..." Matilah aku! Ternyata ucapan Val benar! Aku sedang disihir olehnya!


"Lexy..." Bisik Raja itu di telinganya. "Lexy. Nama yang indah."


"Apa maumu, Raja?" Val sudah menghampiri mereka, namun tiba-tiba tubuhnya terhempas ke belakang. Rupanya Raja itu sudah menggunakan tongkat ajaib miliknya.


"Hhh." Lexy hendak menoleh dan melihat kondisi Val, namun Sang Raja tiba-tiba mengecup singkat bibirnya.


Rasanya manis, seperti lumuran madu.


"Le...xy..." Sengal Val di belakang. "Le...paskan dia! Dia bu...bukan Ratumu!"


"Oh ya?" Sang Raja memandangi wajah Lexy. "Lexy, sayangku, cintaku. Kalau begitu, apa kau bersedia menjadi Ratuku mulai saat ini?"


Apa-apaan ini?! Tentu saja ti-


"Ya." Suara itu keluar dari mulut Lexy tanpa disadarinya. "Aku akan menjadi milikmu."


Pria tampan itu menaikkan sudut bibirnya, kemudian mengayunkan tongkatnya.


Cahaya berwarna kuning langsung menyelimuti Lexy tanpa celah seincipun. Tubuhnya mulai berubah kembali menjadi semula.


Apa aku... kembali menjadi diriku yang semula?


Lexy membuka matanya, kemudian terbelalak saat melihat baju gaun baru yang sedang ia kenakan. Tidak ada lagi uraian rambut coklat milik Sang Ratu, melainkan rambut pirangnya seperti biasa. Di atas kepalanya, ia bisa merasakan bobot sebuah mahkota.


Raja tampan sekaligus berbahaya itu terlihat sangat puas dengan penampilan dirinya.


"Lexy. Mulai sekarang, kau sudah menjadi Ratuku."



...-Oh, tidak! Aku sudah masuk ke dalam jebakan Sang Raja!-...