Wings & Fate

Wings & Fate
The Longest Night



Malamnya dan seterusnya, aku tak bisa tidur. Perkataan Callum terhadapku terus terngiang-ngiang dalam pikiranku.


Kenapa ia berbuat seperti itu? Mungkin benar ia merasa terbebani karena sudah berpura-pura menjadi pasanganku demi melindungiku.


"Tapi aku tak perlu dilindungi," bisikku pada langit malam. "Lagipula ini semua idenya! Kenapa ia memiliki ide buruk seperti ini?!" Aku mulai menyalahkannya.


"Apa kau tak khawatir dengan Pangeranmu?" Aku mendengar suara seseorang di telingaku. Sontak aku bangkit duduk, dan menyipitkan mata.


"Siapa disana?!"


"Ini aku." Sosok itu berjalan mendekatiku. Dengan topi anehnya, aku bisa dengan mudah mengenalinya


"Kau lagi. Apa maumu?" Tanyaku lagi sambil menyilangkan tangan.


Cahaya remang bulan menyinari sebagian wajahnya. Aku dapat melihat wajahnya yang lancip dan mungil. Untuk apa wanita Royal seperti dia menemuiku malam-malam?


"Mereka tidur di ruangan yang sama."


Aku meremas seprai ranjang. Aku sudah mengerti siapa yang dibicarakannya.


"Apa kau kesini hanya untuk memberitahuku hal itu?"


"Hanya di ruangan yang sama," lanjutnya lagi sambil tersenyum. "Bukan di ranjang yang sama."


Wajahku memanas. "Me-memangnya apa peduliku terhadap mereka?! Cal- Pangeran itu bebas melakukan apa saja."


"Oh ya?" Ia tertawa kecil. Suaranya begitu lembut, bahkan lebih lembut daripada Naomi. "Kau tak cemburu dengan itu?"


"Tidak." Meskipun jantungku bergelojak mengetahuinya. "Setahuku, dia memang terbiasa berbagi ranjang dengan wanita lain sebelumku."


Wanita itu mendesah, dan tahu-tahu sudah memegangi tanganku dengan lembut. "Ini kesempatanmu, Alena. Untuk memisahkan mereka."


"Bagaimana caranya?" Tanpa sadar aku sudah bertanya. Sebagian diriku merasa penasaran dan ingin mengambil kesempatan itu.


Ia tersenyum. "Seorang Fae God bisa melakukan apa saja, kan?"


Malam itu, aku termenung, masih terus mengulangi perkataan wanita itu. Ia tidak memberitahuku secara detil apa yang bisa kulakukan. Ia hanya memberi petunjuk kecil.


Ayo, pikir baik-baik, Alena! Kau bisa menciduk mereka sedang berduaan. Kau kan, bisa bebas memakai sihir apa saja.


Aduh, pikir sisiku yang satu lagi. Menyelinap masuk kamar mereka? Tapi aku tak akan sanggup melihat kemesraan mereka.


Aku menghela napas, dan bangkit berdiri. Apa aku harus menyelinap? Apa aku harus mencari tahu sendiri, dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, apa yang kira-kira sedang mereka lakukan sekarang?


Detak jarum jam memenuhi isi pikiranku. Ini sudah malam keempat aku tidak bertemu dengan Callum, karena aku memang sengaja menghindarinya. Aku terus mengurung diri di dalam kamarku, tak menghiraukan bujukan dari Miss Dorothea dan Abigail.


Callum bahkan tidak sekalipun mencariku. Pangeran itu pasti sudah melupakanku dan menghabiskan waktunya bersama pasangannya.


Terbesit bayangan Lucia yang tersenyum puas. Iya, gadis itu pasti sekarang sedang tertawa terbahak-bahak melihat kekalahanku seperti ini.


Tapi aku tak akan menyerah. Aku akan merebut kembali apa yang menjadi milikku.


Malam itu merupakan malam yang tak akan bisa kulupakan, karena seiring dengan langkah kakiku yang tiba-tiba terdengar sangat keras dibanding biasanya, aku juga harus menahan napas serta detak jantung yang sudah tak terkendali.


"Hhh." Aku tak bisa mendeskripsikan perasaanku saat itu. Aku memasang telingaku lagi dan yakin sekali bahwa suara desahan itu terdengar dari dalam kamar.


Mereka sedang...Ah. Jangan dibayangkan, Alena.


Betapa tersayatnya hatiku begitu melihat mereka di atas ranjang. Lucia, yang hanya berbalut kain tipis, sedang merayu Callum. Aku tak dapat mendeskripsikan betapa dalamnya luka di hatiku saat melihat pangeran itu yang tidak melakukan apa-apa dan hanya terdiam, dibiarkan dada bidangnya disentuh.


"Cal..." ucap gadis itu. "Katakanlah bahwa kau mencintaiku."


Entah kenapa aku menunggunya untuk memberikan jawabannya.


Setelah beberapa saat, pria yang daritadi memasang muka datar membalas. "Iya."


***


"Kenapa?" Tanpa sadar aku membisikkan kata itu. Karena kehilangan kendali atas sihirku dan tersandung oleh kaki meja yang terletak di belakangku, akhirnya aku terjatuh.


"Siapa disana?" Lucia langsung terbelalak begitu menemukanku terkapar di lantai. "Gadis j*lang! Beraninya menyusup kemari!"


"Callum..." Aku tak memperdulikan cacian Lucia. Pandanganku hanya tertumpu pada pangeran itu. Ia terbelalak saat melihatku, namun tidak mengatakan apa-apa. Mukanya sudah pucat pasi seperti habis melihat hantu.


"Kenapa?" Lirihku. "Kau..."


Plaakk!! Tamparan keras mendarat di pipiku. Lucia sampai menarik kerah bajuku. "Dasar gadis murahan! Penyusup! Dimana para penjaga yang seharusnya menjaga area pribadi Sang Pangeran?!"


"Lucia!" Barulah pria itu menghampiri kami. "Jangan lakukan itu!" Ia lalu mengulurkan tangannya, hendak menolongku. Namun kutepis saja tangannya dengan kasar.


"Ale-"


"Jangan sentuh aku, Pangeran."


Pria itu sampai terbelalak. Terlihat dari ekspresinya bahwa ia sudah tersakiti karena aku tidak memanggilnya lagi dengan namanya.


Tiba-tiba dari sudut mataku aku menangkap cahaya merah. Belati itu masih tersimpan di saku bajunya. Secepat kilat aku berdiri dan merampasnya.


"Apa yang kau-"


"Jangan dekati aku atau kulukai diriku sendiri!" Aku sudah menaruh ujung belatinya pada area nadiku. Lucia menatapku tidak percaya, sedangkan Callum sudah panik bukan kepalang.


Pria itu mengangkat tangannya. "Aku bisa jelaskan. Tolong dengarkan aku dulu-"


"Tak ada yang perlu dijelaskan."


Kemudian, Sreett!! Darah mulai mengucur, menetes dan tak lama mengotori lantai. Lucia langsung berteriak panik, mungkin karena ia jijik melihat cairan berwarna merah ini.


"Alena!"


"Aku benci kau, Callum!" Aku terus melangkah mundur, tak peduli dengan rasa sakit di tanganku serta pandanganku yang mulai kabur. "Aku menyesal sudah jatuh cinta kepadamu! Aku benci kau! Benci!"


Belum sempat aku mendengar balasan darinya, aku sudah menghilang dan muncul kembali di luar istana.


Angin semilir malam meniupkan rambut panjangku, sekaligus menusuk permukaan kulitku. Untuk sejenak, aku kebingungan dan merasa seperti anak hilang. Tiba-tiba sesuatu menggelitik kakiku, dan tanaman mulai tumbuh akibat darahku yang mengotori rumput.


.


.


.


Kira-kira habis ini Alena bakal ngapain ya? 😱