Wings & Fate

Wings & Fate
Propose



Setelah menutup pintu dengan perlahan, Callum berjalan mendekati ranjang Alena. Entah kenapa setiap langkah yang diambilnya terasa sangat berat. Lampu penerangan telah dimatikan, namun ia masih bisa melihat dengan jelas beberapa temannya yang sudah mengelilingi ranjang Alena.


Ada Naomi yang sibuk menangis sambil terisak-isak, sedangkan Xiela hanya menepuk pundaknya dengan pelan. Kemudian ada Lexy dan Val. Mereka saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain. Baru kali ini ia melihat Val mengeluarkan air mata, walau hanya beberapa tetes.


Saat tubuh Callum sudah berada di hadapan ranjang Alena, ia menghentikan langkahnya. Hatinya seperti tersayat melihat kondisi gadis itu, apalagi saat Sana menarik selimut putih dan menutupi wajah mungilnya.


Sejenak ruangan menjadi hening, hanya ditemani oleh suara isakan tangisan. Semua, semua orang berduka, termasuk dirinya.


"Callum, kami turut berduka cita," bisik Naomi sambil menunduk, lalu diikuti dengan Xiela. "Ya. Kami beruntung sudah pernah mengenal Alena. Ia adalah gadis yang baik."


"Terima kasih," ujar Callum kepada mereka sambil memaksakan sebuah senyuman. Saat kedua gadis itu telah meninggalkan ruangan, giliran Val yang menghampirinya.


"Yang Mulia." Baru kali ini Val memanggilnya dengan nama gelarnya. "Aku sama sekali tak menyangka akan berakhir seperti ini."


Callum menepuk pelan pundak temannya. Val terus berbicara padanya. Ia menceritakan pengalaman pribadinya, tentang bagaimana ia bertemu dengan Alena untuk yang pertama kalinya.


"Aku ingat kau selalu saja bercerita kepadaku mengenai Alena," lanjut Val lagi. "Setelah kuperhatikan, dia memang pantas menjadi pasanganmu."


Callum tertawa kecil. "Aku tahu."


"Aku akan menunggumu di luar." Val tersenyum tulus kepadanya, lalu menunduk sekali sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Setelah itu, Sana menghampirinya. Wanita itu masih saja menangis, namun ia memberanikan diri untuk berkata. "Pakai waktumu."


Setelah pintu tertutup, Callum menoleh lagi dan memandangi tubuh Alena yang tersembunyi di balik selimut putih.


"Aku mengenal Alena selama bertahun-tahun lamanya," gumam Lexy dari belakangnya. Sekarang hanya tersisa mereka bertiga di dalam ruangan. "Ia jarang sekali mengeluh soal kehidupannya. Ia adalah gadis ceria dan mudah sekali merasa bahagia atas suatu hal kecil."


Callum mengepalkan tangannya tanpa mengatakan apa-apa.


"Sampai ketika aku ditahan di penjara bawah tanah di istanamu. Alena mengunjungiku setiap hari. Katanya ia merasa kesepian karena kamu tak kunjung kembali."


Lexy melangkah pelan, lalu dengan tangan gemetaran, ia menyentuh tangan kiri Alena dibalik selimut.


"Ia bergumam satu kata. Lelah."


Dada Callum menjadi sesak. Rasanya seperti nyawanya baru saja ditarik paksa dari tubuh fisiknya.


"Ia tak pernah mengeluh, jarang sekali membuka suara dan bercerita kepadaku soal perasaannya sendiri. Selama ini aku pikir ia baik-baik saja, tapi ternyata..."


Hiks! Lexy mulai terisak. Tubuhnya sudah sangat gemetaran. "Tapi aku bisa merasakan kesedihan di balik senyumnya. Ia merasa tersiksa menjalani kehidupannya seperti ini. Ia tak suka diperlakukan seperti seseorang yang berkuasa.


Ia pernah bergumam tanpa disadarinya. 'Jadi ini rasanya menjadi Fae God.' "


Callum bahkan tak bisa menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya merasa tercekat, dan air mata mulai mengalir bebas, padahal ia sudah berusaha agar tidak menunjukkannya di depan orang lain.


"Namun dia suka memakai sihirnya untuk pertunjukkan. Katanya orang-orang sangat menyukainya, dan itu bahkan mengembalikan senyum Ella, gadis kecil yang sempat berduka karena kehilangan Ibunya," lanjut Lexy lagi.


"Aku sekarang paham maksudnya. Ia ingin menggunakan sihirnya demi kebaikan semua orang, bukan demi mendapat perhatian semua orang untuk menunjukkan bahwa ia yang paling berkuasa." Lexy menggeleng-geleng. Saat ia ingin melanjutkan perkataannya lagi, isakan tangisnya semakin menjadi-jadi.


Pada akhirnya gadis itu jatuh ke lantai dan menangis.


Ternyata itulah yang dialami Alena sewaktu ia pergi menjalani tugasnya. Betapa bodohnya dirinya. Callum bahkan tak bisa menemani Alena di saat ia paling membutuhkannya.


Saat Lexy hendak pergi meninggalkannya dan berbalik badan, Callum kembali berbisik.


"Maafkan aku, Lexy, karena tak dapat menepati janjiku padamu."


Lexy terdiam. Perlahan-lahan ia berbalik badan. Seutas senyuman tergambarkan pada wajahnya. "Maksudmu, janjimu padaku saat kau menemuiku di penjara bawah tanah waktu itu?"


Callum mengangguk, benar-benar merasa bersalah.


"Tenang saja. Kau tidak mengingkarinya. Kau kan, berjanji akan membawa Alena kembali padamu." Lexy menepuk pelan lengannya. "Terima kasih, Cal, karena sempat berada di sana bersamanya. Di saat-saat terakhirnya." Setelah itu, Lexy pergi meninggalkannya.


Callum memberanikan dirinya untuk membuka kembali selimut yang menutup wajah Alena.


Ia ingin melihat wajah Alena untuk yang terakhir kalinya. Wajah cantik, dengan mata berlentik dan bibir mungil.


"Alena..." Nama itu bagaikan obat penenangnya. Nama indah yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Nama yang tak akan pernah dilupakannya.


Kalung itu tidak lagi memiliki kekuatan besar, karena semuanya telah hancur, bersamaan dengan lemahnya kondisi tubuh Alena. Setelah gadis itu membakar doppelganger-nya sendiri, itu memberi efek juga kepada kekuatan benda-benda tersebut.


Orang-orang mungkin akan membuangnya karena sudah tak berguna, namun Callum masih menyimpannya. Benda ini telah membantunya berkomunikasi dengannya. Benda ini telah membantunya terhubung dengan Alena pada masa-masa terakhirnya.


Ia lalu mengeluarkan belati Gardian, dan menempelkannya pada telapak tangan Alena yang kini terasa dingin dan kaku. Belati ini juga telah kehilangan kekuatannya. Benda yang kini berfungsi sebagai tanda pengingatnya, pengingat atas segala kesalahan yang pernah Callum lakukan, yaitu menghancurkan hati Alena malam itu.


Callum tersenyum dan membelai rambut gadis yang amat dicintainya itu. Ia lalu membuka telapak tangannya sendiri dan menatap dua benda metal itu. Dua benda kecil berbentuk lingkaran. Cincin Gardian.


Callum tak peduli jika ia tak mengetahui cara kerja cincin ini. Setelah semua kejadian ini dan ia kembali ke istana Bougenville, kedua kakaknya langsung mengenali sepasang benda tersebut.


Cincin ini awalnya milik Ibu kandungnya, Miss Cindy. Ini seharusnya menjadi cincin tanda pernikahan, sebelum akhirnya ditempa menjadi benda Gardian dengan kekuatan besar.


Callum menyematkan cincin itu pada jari manis Alena, setelah itu memakaikannya pada jarinya sendiri.


Ia melekatkan jari tangan mereka. "Alena, sebenarnya setelah memutuskan hubunganku dengan Lucia, aku ingin meminangmu. Tapi aku masih takut. Aku takut kau tidak akan menerimaku, karena sebetulnya, aku bukan seorang Pangeran."


Callum menaikkan tangan dingin Alena dengan perlahan, kemudian menempelkannya pada bibirnya sendiri. Ia bisa merasakan tangannya sendiri yang gemetaran.


"Aku bukan anak kandung Ratu Fae. Aku hanyalah salah satu anak selir. Lebih buruknya lagi, hubungan Ayah dan Ibuku hanyalah sebuah kesalahan. Aku ini lebih rendah dibanding anak selir. Aku bukan siapa-siapa."


"Ibuku dibunuh oleh Ratu Fae. Ibuku bernama Miss Cindy, dan ia memiliki dua anak. Menurutmu, akankah aku bisa bertemu dengan saudara kandungku? Dengan adik kandungku? Atau jangan-jangan, aku sudah pernah bertemu dengannya?"


Callum mengeluarkan suara tawa kecil. Namun senyumnya perlahan memudar saat ia kembali menatap wajah Alena.


Pernapasannya semakin tak terkendali. Sial, ia tak bisa menahannya lagi. Padahal ia sudah bertekad tidak ingin menunjukkan air matanya di depan gadis yang amat dicintainya itu.


"Alena..." Ia meremas erat-erat tangannya. "Andaikan aku bisa memutar ulang waktu, maukah kau menjadi pasanganku?" Gumamnya. "Meski aku bukan seorang pangeran seperti bayanganmu, bersediakah kau menjadi pendamping hidupku?"


Callum menangis. Air matanya menetes, membasahi tangannya yang terpaut dengan tangan Alena.


"Kau pernah bilang aku ini kuat. Bahwa aku ini seorang pangeran mulia, jadi harus bisa menjaga diri baik-baik."


Ya, Alena memang pernah berkata seperti itu. Saat ia pernah mengabaikan resiko keselamatannya sendiri, dan malah memilih menyelamatkan Alena di tengah ganasnya badai salju.


"Siapa yang gak tahu kalau sang pangeran termuda jago bermain pedangnya? Dan siapa yang gak tahu kalau kamu itu kuat?" Alena bangkit berdiri. "Aku gak bisa memahamimu Callum. Lain kali, jangan buat aku khawatir."


Semakin Callum mengingat kenangannya bersama Alena, semakin perihlah hatinya. Terlalu cepat. Ini semua terlalu cepat baginya. Kenapa harus gadis ini yang menanggung semuanya?


"Aku bukanlah seorang pangeran. Aku hanyalah seorang pria muda yang bisa memberikanmu cintaku." Callum mengecup dahi Alena, kemudian memeluknya sebentar. Ia ingin menghirup aroma tubuhnya yang masih tersisa, sebelum segalanya menghilang menjadi debu tanah.


"Alena... sebetulnya aku mendengar isi hatimu waktu itu. Kau menyembunyikan suatu hal dariku," lanjut Callum. Kenyataan bahwa kau adalah makhluk ciptaan Sang Ratu.


Callum tak mampu berkata-kata lagi. Maka ia berbicara lewat pikirannya saja. Kau merasa takut. Takut aku akan menjauhimu karena kau bukan Fae betulan. Namun, kau tahu? Aku tidak peduli. Aku tidak peduli kalau kau hanyalah mayat yang dibangkitkan. Karena aku akan tetap mencintaimu.


Setelah itu, Callum memejamkan matanya, masih memeluk tubuh kecil gadis itu. Tangannya akhirnya menyentuh ujung sayapnya.


Sayap yang kini kembali menjadi tak berwarna.


Sekarang, kau bukan lagi seorang Fae God, bisik Callum dalam hatinya. Namun, tak apa. Aku akan tetap mencintaimu, Alena. Meskipun maut mengambilmu dariku, di hatiku hanya ada satu orang, satu yang akan menjadi pendamping hidupku.


Aku bersedia menjadikanmu istriku, walau maut telah memisahkan kita. Aku akan tetap setia padamu, hingga maut menjemputku juga. Sampai pada saat itu, sampai saat aku kembali bertemu denganmu di alam kematian, aku akan tetap mencintaimu.


Bahkan pada kehidupan selanjutnya, kalau aku bertemu kembali denganmu. Kalau Dewa mengizinkan kita bertemu kembali. Aku akan tetap mencintaimu sampai selama-lamanya.


Suara detak jarum jam bagaikan suara sorakan orang-orang. Callum tak peduli jika tidak ada orang yang menyaksikan pengakuan cintanya. Namun ia tahu, Alena dapat mendengarnya.


Callum benar. Alena mendengar suara hatinya. Karena setelah itu, ia dapat merasakan jemari gadis itu yang mulai bergerak.


Aku juga bersedia menjadi istrimu, Callum. Terdengar suara lemah Alena dalam pikirannya.


Callum membuka matanya dan mendapati gadis itu yang sedang tersenyum lemah kepadanya. Mata biru gadis itu sedang menatapnya penuh perasaan.



Episode terakhir akan up sekitar pukul 12 siang 😁