Wings & Fate

Wings & Fate
The Outcasts



Setelah pembicaraan rahasia kami, aku tidak lagi membentak dan memprotes. Aku malah jadi memperhatikan jalan, ingin melihat kemana aku akan dibawa.


Kami sudah berada di luar istana, menyusuri jalan setapak yang dihiasi oleh bekas tumpukan salju. Sebentar lagi musim semi akan tiba, menggantikan musim dingin yang semula hampir membunuhku karena hawanya yang luar biasa dingin.


Matahari siang bersinar sangat terik, membantu proses pelelehan salju sekaligus menenangkan pikiranku. Pohon-pohon rindang baru saja kulewati, sehingga tampak gedung familiar dari kejauhan.


Reruntuhan Faedemy.


Aku menyipitkan mata dan dapat melihat segerombolan Fae Ripper, beserta Fae lainnya yang mungkin sedang turut membantu mereka.


Sekarang tanah bekas pijakan gedung jadi terlihat seperti kawah tempat meteor terjatuh. Beberapa Fae Aqua membasahi sedikit tanah, agar abu serta debu dapat mengalir dan menghilang dari pandangan. Sementara Fae Blossom sengaja menumbuhkan tanaman di sekeliling kawah, mungkin agar tanah menjadi subur atau semata-mata ingin mendekorasi wilayah yang telah rusak parah itu.


"Mereka baru berhasil membangun hampir seperempat tinggi gedung," jelas Naomi kepadaku. "Itu tidak mudah. Gedung Faedemy yang lama memiliki ukiran Chrysos di pilar-pilar dan dinding. Butuh banyak biaya agar mengembalikan gedung seperti semula."


Xiela setuju dan mengangguk. "Kalaupun seperti semula, aku yakin tidak akan sama persis."


Aku hanya terdiam, tiba-tiba tertarik untuk melihat keadaan gedung yang telah terbakar secara mengenaskan itu. Gedung prasejarah tempat anak Fae dididik hingga mendapat bakatnya masing-masing. Kini yang tersisa hanya kawah curam. Aku bergidik saat mengingat api besar yang melalap habis gedung itu.


"Memang berapa besar biayanya?" Tanyaku penasaran. "Berapa banyak Chrysos?"


"Umm, tentu sangat banyak. Tapi kurasa jumlahnya hampir setara dengan kekayaan kerajaan peri lebah," jawab Naomi.


"Kekayaan peri lebah?"


"Mungkin. Aku tidak tahu pasti."


Aku belum pernah mengunjungi istana peri lebah, beda dengan adikku. Aku hanya bisa membayangkan betapa indahnya bangunan yang juga dibangun dengan Chrysos, sama dengan Faedemy. Lexy sudah pernah menggambarkannya padaku lewat penjelasannya.


Kami terus berjalan, kini gedung Faedemy sudah terhalang oleh pohon. Aku belum pernah melewati jalanan ini, jalanan yang mengarah lurus ke sebuah bukit kecil. Air sungai di kaki bukit kini mulai mengalir, karena es yang sudah meleleh. Aku penasaran apa yang akan kulihat dibalik bukit itu.


Bora berbalik badan dan menghampiri kami. "Percepat langkah kalian. Kalau bisa, gunakan sayap saja."


"Sayap?!" Protes Naomi. "Kau tahu kan sudah ada peraturan baru. Kalau kita gunakan sayap secara sembarangan, jejak serbuk sayap kita bisa mengumumkan keberadaan kita pada Egleans."


"Mereka muncul hanya di malam hari."


"Tapi kita akan terus berada di Fae Hall sampai berhari-hari kan?" Celetuk Xiela. Aku menoleh kepadanya. "Berhari-hari?!"


"Tak usah pasang wajah terkejut seperti itu, Alena. Kau tentu tahu upacara ini yang paling dinanti-nanti oleh semua orang. Akan kubuat semeriah dan selama mungkin," balas Bora sambil menyeringai.


Pria ini bersemangat sekali setiap kali membicarakan upacara itu. Aku menggeleng-geleng dan berharap dalam hati semoga aku tak disuruh melakukan hal aneh, seperti menari dalam lingkaran api atau memakan pisau seperti sirkus yang kulihat di dunia manusia.


Gedung Fae Hall terlihat sesuai ekspektasiku, setidaknya untuk bagian luarnya saja. Bangunan besar putih seperti katedral, dengan atap abunya yang menyentuh langit. Gerbang pintu besar dengan gaya mirip seperti bangsa manusia era Barok abad ke 16. Gedung yang memberi kesan religius dan penuh perasaan, dengan ornamen yang dicampur dengan bahan asli dari dunia Fae - yang tentunya Chrysos.


"Kita sudah sampai," kata Bora seraya berdiri di depan pintu gerbang. Ia segera menempelkan telapak tangannya ke depan gagang pintu, dan tiba-tiba terdengar suara deritan pintu gerbang.


"Apa itu tadi?" Tanyaku ketika kita sudah memasuki gedung bangunan. Bora tersenyum dan menjawab, "Sensor pintu hanya akan menjawab panggilan dari para Ketua Golongan atau Fae Royals. Fae berpangkat tinggi. Kau juga bisa melakukan hal hebat lainnya setelah berhasil dinobatkan nantinya."


Aku tak yakin ingin mengetahui 'hal hebat' apa lagi yang mampu kulakukan kalau aku dinobatkan.


Hal pertama yang kulihat begitu memasuki gedung adalah patung besar seorang Fae yang sedang menghunuskan pedangnya. Itu adalah Sang Raja yang mengenakan mahkota besar di atas kepalanya. Patungnya dibuat sedemikian rupa dengan penampilan Sang Raja sendiri. Ia memiliki tubuh kekar dan berkumis. Sang Raja sendiri sebenarnya sangat menawan, jika dibandingkan dengan usianya yang beratus-ratus tahun. Patungnya berwarna cokelat copper, namun aku tahu ia juga memiliki mata berwarna biru jernih, seperti Callum.


Ada juga pilar-pilar putih raksasa, yang menopang langit-langit. Aku menjumpai lukisan-lukisan yang tergantung di dinding, kemudian ada obor api yang menerangi ruangan. Sebuah tangga besar spiral berkarpet merah langsung menuju ke lantai atas.


Aku dibawa ke lantai atas yang bentuknya seperti ribuan lorong tak berpenghuni. Pintu-pintu bercorak simbol mahkota terukir di setiap sudut. Bora terus berjalan dan baru berhenti di sebuah pintu besar. Saat ia membukanya, aku terkesiap melihat ke dalam isinya.


Warna emas.


"Mereka semua...Fae Royals?!" Naomi mengangguk sambil tersenyum. "Anak-anak dari selir Raja. Bisa juga anak-anak lain yang sedarah dengan Fae Royals."


"Tapi, kenapa mereka disini? Bukankah tempat tinggal utama mereka di Kerajaan Bougenville?" Tanyaku lagi.


"Sebagian memang ditugaskan untuk melindungi tempat ini. Sebagian lagi merupakan kaum terbuang," ucap Naomi dengan hati-hati.


"Kaum terbuang? Apa itu?" Tanyaku dengan suara kecil saat kami melewati para Fae Royals. "Apa karena mereka merupakan anak selir?"


Aku memerhatikan barisan kiri, para perempuan Royals. Mereka semua terlihat muda, bahkan ada yang sepantaran dengan Ella. Sementara di barisan kanan adalah laki-laki.


"Ya. Mereka bukan keturunan Sang Ratu. Itulah mengapa mereka dibenci oleh Yang Mulia Ratu, dan ditempatkan disini."


Ruangan dengan atap tinggi dan berkubah ini memiliki altar mewah. Di sekeliling altar terdapat empat patung besar Fae pria, masing-masing mengenakan jubah panjang, sama dengan para Fae disini.


"Ini ruang altar, tempat utama upacara berlangsung," jelas Bora kepadaku. Kemudian ia menghampiri salah satu gadis di barisan kiri.


Gadis yang terpilih itu mengingatkanku pada Callum, mungkin karena ia juga Fae Royal. Rambut panjangnya yang tidak tertutupi tudung berwarna hitam lurus, sedangkan bola matanya juga berwarna biru agak gelap.


"Jesca disini akan membantumu menyiapkan segalanya," kata Bora. "Tunjukkan kamarnya. Kita harus sudah siap sebelum matahari terbenam."


***


"Apa kau masih disini?"


"Sudah kukatakan beberapa kali. Ya."


Lexy enggan membuka matanya. Tubuhnya masih dirapatkan ke dinding, dan tangannya mendekap erat Cashew. Ia takut kalau-kalau anjing kesayangannya ini melompat keluar dan langsung dihunuskan pedang oleh Val.


"Keluar."


"Tidak semudah itu," balas Val dari seberang. Suaranya terdengar jelas meskipun Lexy tahu ia hanya menggumam. Mungkin ini efek ruangan yang menggema, atau telinga Faenya yang mampu mendengar berkali-kali lipat.


"Waktu terus berjalan, Lexy. Kau pikir aku mau mendekam di bawah sini? Bisa-bisa aku mati kepanasan." Lexy akhirnya mengintip sedikit, dan ia langsung menyesal. Val masih tidak mengenakan bajunya. Fae Light itu memperlihatkan dadanya yang berkeringat.


"Aku tak peduli kalau kau mati kepanasan," balas Lexy dingin.


"Bagaimana kalau aku siksa kau lagi seperti yang dilakukan Ratu kepadamu?" Terdengar bunyi langkah kakinya, dan Val sudah berada di hadapannya.


"Silahkan saja. Mungkin kali ini aku akan membunuhmu dengan benar." Lexy tak lagi takut dengan segala ancamannya.


Val menaikkan sebelah alisnya. "Aku tak mengerti denganmu. Kau peduli dan lembut kepada semua orang. Kau menyukai anak kecil, dan hewan-hewan seperti anjingmu ini. Kau bahkan sangat berani sampai mengambil resiko dan pergi langsung ke sarang Sang Ratu peri lebah."


"Terus? Kau pikir dengan pujian, aku akan menurutimu juga?"


Val kembali menyandarkan diri ke dinding. "Jadi kau hanya akan membenciku."


Lexy tidak perlu membalas karena hal itu sudah jelas sekali. "Aku ini berbahaya. Monster. Tentu saja aku akan membencimu."


Val sudah kembali menutup matanya. "Mungkin iya. Tapi aku masih lihat sisi baikmu." Setelah itu ia sudah kembali terlelap.