
Bacaan ini mengandung konten dewasa! Yang belum cukup umur jangan dibaca dulu ya! Hanya untuk 18+
Setelah pintu tertutup, aku kembali membentak dan menyerang Callum. Ia bahkan diam saja saat tahanannya itu mencakar-cakar wajahnya, lalu memukul dadanya.
"Alena." Akhirnya ia menahan tanganku yang sedang melayang. Namun aku tetap menyerangnya karena merasa dikhianati.
"Kenapa?!" Jeritku langsung di wajahnya. Ia sekarang menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran, beda dengan yang kulihat sebelumnya.
"Dengarkan aku dulu." Ia masih mencengkeram pergelangan tanganku.
"Tak ada yang perlu dijelaskan!" Akhirnya aku menarik kembali tanganku, dan secepat mungkin berlari ke sudut ruangan. Aku tak ingin melihat wajahnya lagi. Hatiku tak mampu menahannya lagi.
Aku merosot ke lantai, dan menarik kedua lututku ke dada. Callum kembali memanggil namaku dengan pelan, tapi aku tak menghiraukannya, hanya menyembunyikan wajah di dalam pelukan lenganku.
Saat suara langkah kakinya kian mendekat, aku masih tak menengadah. Biarkan ia membunuhku. Pasti ia terkejut karena yang tadi bukan diriku. Pasti ia ingin membunuh Alena yang asli sekarang.
Tapi aku salah. Ia malah duduk disampingku, dan tak menyentuhku sedikitpun.
"Kau telah ditahan olehnya selama ini," katanya dengan nada datar.
Huh. Hanya ini yang mau ia sampaikan? Kalau ini sih, aku juga tahu!
Suasana menjadi hening. Namun akhirnya ia kembali berbicara. "Apa lukamu masih terasa...sakit?"
Apa-apaan ini? Apa ia ingin mengetahui kondisiku untuk memperkirakan kira-kira kapan aku akan mati? Tidak mungkin ia sedang mengkhawatirkan diriku, kan?
Aku masih terdiam, tidak ingin berbicara dengannya.
"Kau tak ingin berbicara denganku?" Tanyanya lagi dengan nada sedih.
"Ga." Akhirnya aku bersuara, dan sedikit terkejut karena suaraku sudah serak.
Jadi pada akhirnya, inilah hubungan diantara kami? Setelah melihatnya membunuh 'aku', aku jadi tidak lagi memercayainya. Ternyata ia sudah membenciku sampai seperti ini.
Tapi kenapa malah menuruti Sang Ratu dan memberikannya belati itu? Apa ia ingin menyerahkan nasib kaum Fae begitu saja di tangan yang salah? Apa ia sudah gila? Ia seharusnya tahu bahwa itu benda berharga dan tak boleh diberikan begitu saja.
"Maaf, Alena," bisiknya lagi. Aku bisa merasakan tangannya yang hampir ingin menyentuh lenganku, tapi ia urungkan niatnya dan menariknya kembali.
"Untuk apa? Kenapa kau sampai bisa tertangkap oleh makhluk itu? Kukira istana Bougenville tidak akan mudah dijebol."
"Karena aku sedang mencari-" Ia tak melanjutkan kalimatnya.
Mencari? Mencari apa, atau jangan-jangan, mencari siapa?
Aku tetap menginterogasinya tanpa memperdulikan perasaannya. "Harusnya kau diam saja di istanamu bersama tunanganmu, daripada berkeliaran karena bosan atau apa. Lihat saja sekarang, kau malah ditangkap oleh Sang Ratu."
"Sebenarnya, Lucia bukan lagi tunanganku."
Aku mengangkat kepalaku dan menoleh kepadanya. Di saat itu, jantungku kembali berdegup kencang. Kalau dilihat dari dekat, ia malah terlihat semakin tampan. Rambut hitamnya berantakan, dan noda lumpur atau darah menghiasi wajahnya.
Dan pipinya semakin tirus.
Sial. Aku tak tahan melihatnya. Ingin sekali aku membersihkan tubuhnya, kalau bisa memandikannya seperti saat itu.
Tapi itu tak akan terjadi lagi. Tanpa sadar air mata mulai mengaburi pandanganku, tapi aku menahannya agar tidak tumpah.
"Kenapa?" Tanyaku, masih dengan suara serak dan basah.
"Karena aku yang memutuskannya." Aku tahu ia sedang menatapku sekarang dengan mata birunya.
"Alena, aku tak akan memaksamu untuk memaafkan aku. Tapi kau harus tahu, bahwa malam itu adalah sebuah kesalahpahaman."
Saat aku tidak merespons, Callum melanjutkan ucapannya lagi. "Setiap hari, setiap detik, kepalaku selalu dipenuhi olehmu. Aku tidak yakin kenapa, tapi sepertinya kau benar-benar sukses merebut hatiku."
Kini air mataku mulai menetes. Aku mengepalkan tanganku sendiri, saking eratnya kulitku sampai tertusuk oleh kuku jariku.
"Malam itu sebenarnya aku sedang menguji diriku sendiri. Apa yang akan terjadi jika aku mengatakan iya dan menikah dengan Lucia. Tapi..." Ia menggeleng-geleng.
Aku ingat. Aku ingat semua perbuatannya padaku. Ia sengaja menjauhiku dan memilih Lucia.
"Aku tak bisa, Alena. Biasanya aku tak pernah berkata terang-terangan mengenai perasaanku kepada wanita, tapi kali ini lain."
Waktu serasa berhenti saat Callum memutar tubuhnya ke arahku. Matanya menatapku lekat-lekat.
"Aku mencintaimu, Alena. Hanya kamu. Sejak awal, hingga saat ini. Kalau aku harus memilih, hal pertama yang akan terlintas di otakku adalah dirimu. Aku tidak tahu sejak kapan perasaanku terhadapmu mulai berubah. Mungkin saat aku membelamu di lorong Faedemy, saat Val menahanmu pada dinding. Mungkin saat aku melihat wajahmu yang sedang tersenyum."
Benarkah? Ucapan dia terdengar sungguh-sungguh. Pangeran yang setiap hari dikelilingi oleh banyak wanita, ternyata memilihku diantara sekian banyaknya gadis-gadis cantik?
Kukira hanya aku yang sedang jatuh cinta selama ini. Ternyata ia juga diam-diam suka padaku.
"Aku-" Hiks!
Sial. Aku tak dapat menahan emosiku sendiri. Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri karena sudah mengeluarkan suara isakan tangis yang amat memalukan.
"Lena... Lenaku..."
Oh, tidak. Ia kembali memanggilku dengan nama buatannya sendiri. Itu membuat air mataku mengalir semakin deras. Akhirnya aku menutup wajahku sendiri dengan tanganku.
Suasana kembali menjadi hening. Yang ada hanyalah diriku yang sedang menangis. Callum tak menyentuhku ataupun memelukku seenaknya. Ia menghargai privasiku.
Saat air mataku sudah benar-benar terkuras habis, akhirnya aku kembali menengadah, dan mendapati mata birunya yang sedang menatapku.
Aku tersenyum kepadanya. Senyuman tulus, sekaligus senyuman yang sudah kusimpan dan terkubur dalam diriku selama berhari-hari. Senyum yang tak pernah kubayangkan bisa kutunjukkan lagi pada dunia. Pada-nya, pria yang sudah menyatakan cintanya padaku.
"Bolehkah aku... memelukmu?" Tanyanya dengan ragu. Aku tak bisa menahan tawaku saat melihat wajahnya yang memerah. Mungkin karena rasa malu sudah menyatakan cintanya padaku barusan. Ia terlihat seperti bocah muda.
Saat aku mengangguk dengan pelan, ia mendekatiku, kemudian melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dan membiarkan kepalaku beristirahat pada bahunya.
Aku merindukan kehangatan ini. Tubuhnya bergetar, dan aku dapat mendengar suara detak jantungnya yang memompa dengan cepat. Akhirnya aku membalas pelukannya tanpa ragu.
Dapat memeluknya lagi sudah seperti mimpi bagiku.
Apa ini hanyalah salah satu mimpiku dan aku harus bangun dan menghadapi Sang Ratu lagi? Tanpa sadar tubuhku juga gemetaran, dan air mataku membasahi baju Callum.
"Lena... Lenaku..." Ia membelai rambutku, dan semakin mempererat dekapannya.
"Cal..." Akhirnya aku memanggil namanya. Nama yang hampir tidak pernah diucapkan lagi oleh lidahku. Tanganku sudah mencengkeram kaos tipisnya. Bisa-bisa bajunya robek karena ulahku.
Meski kami hanya saling berpelukan, tubuhku sudah benar-benar rileks. Rasanya aku tak akan pernah melepas pelukan ini lagi.
"Cal..."
"Hmm?" Balasnya, sambil mengecup sebentar rambutku.
"Kenapa penampilanmu menjadi seperti ini?"
Ia tertawa kecil, yang membuat hatiku perih karena tanpa sadar aku juga sudah merindukan suara tawanya yang khas. "Aku sebenarnya tertangkap karena sedang berada di area terbuka. Karena tidak tahu dimana keberadaanmu, aku sampai tersesat, haha."
Aku melepas sedikit pelukannya dan menatap wajahnya dari dekat. "Kau... selama ini..."
"Ya," balasnya sambil tersenyum.
"Sejak... kapan?" Tenggorokanku tercekat, dan aku harus menelan ludah susah payah karena tatapannya membuatku gagal fokus.
"Sejak malam kepergianmu."
Rasanya aku tak dapat bernapas. Wajahnya semakin lama semakin mendekat. Saat hidungnya sudah menyentuh hidungku, bola matanya bergerak dan kini memandang bibirku.
Ia menciumku dengan pelan. Aku bisa merasakan betapa kasarnya permukaan bibirnya yang kering. Ia mel*mat bibirku, kemudian menemukan lidahku dengan lidahnya sendiri.
Napas kami semakin memburu. Aku memejamkan mata, kemudian membasahi bibirnya yang kering dengan lidahku.
Aku tidak tahu kapan lebih tepatnya ia menidurkan tubuhku di atas lantai. Ia terus menciumku penuh perasaan. Setelah beberapa saat, ia melepaskan bibirku dan menempelkannya lagi di leherku, lalu di tenggorokanku, dan akhirnya di bahuku yang kini terekspos.
Aku hanyut dalam setiap sentuhannya, saat rambut hitamnya menggelitik leherku, saat aroma mawar yang sudah sangat familiar memenuhi lubang hidungku.
Tanganku lolos memasuki bajunya. Aku lalu meraba perutnya yang berotot.
"Hnngg," erangku saat ia kembali mendaratkan ciuman ke bibirku. Ia terus memainkan bibirku sampai tangannya menyentuh kulit bahuku.
Sebuah hasrat tiba-tiba bangkit dari dalam diriku. Tubuhku mulai kepanasan dan berkeringat. Aku refleks membuka gaunku yang tipis lewat kepalaku, kemudian melemparnya begitu saja.
Callum terbelalak. Bola matanya sudah bergerak, memandangi tubuhku yang kini terbuka tanpa sehelai benangpun yang menutupinya.
Aku menelan ludah, tidak sadar apa yang sudah aku lakukan. Angin kini menusuk kulitku serta daerah intimku. Namun aku sudah siap. Aku sudah yakin. Aku tidak lagi takut menunjukkan tubuhku yang dipenuhi goresan luka sayatan atau luka bekas tikaman.
Aku yang pertama kali bergerak. Tanpa ragu, aku menarik baju tipis Callum. Ia hanya terdiam dan membiarkan aku yang bekerja.
"Alena," katanya dengan suara kecil. "Kau... yakin?"
Aku langsung mengangguk. "Ya."
"Sekarang?" Tanya Callum.
Aku mengangkat ujung bibirku dengan tulus. "Tak adil kalau hanya aku yang melepas semuanya, kan?"
Dalam sekejap, tubuhku sudah terangkat. Callum membopongku, kemudian menjentikkan jari. Sebuah kasur tiba-tiba muncul di ujung ruangan, kasur empuk yang tidak luas, yang ukurannya entah kenapa memang dikhususkan untuk-
Pipiku merona. Callum menurunkan tubuhku dengan hati-hati dan pelan. Ia lalu membuka sabuk kulit miliknya yang semula melingkar di pinggangnya. Kemudian, ia merosotkan semuanya. Di saat itu mulutku ternganga. Benda berharga miliknya mencuat keluar, seolah-olah sudah siap sejak awal.
Saat tubuhnya kembali berada di atasku, ia kembali merebut ciuman dariku. Rasanya seperti candu bagiku. Aku tak akan puas mendapat sentuhan bibirnya.
Aku terkesiap dan mencengkeram erat seprai kasur saat sesuatu memasuki tubuhku. Di saat bersamaan, ia meremas kedua dadaku, kemudian kembali menghisap bibirku dengan lembut.
Kami menyatu. Kami akhirnya menyatu. Aku mengerang saat ia kembali menerobos pertahananku dengan sangat pelan. Aku bisa merasakan setiap inci miliknya, yang kini telah mengklaim tubuhku sepenuhnya.
Oh! Ia kini menambah kecepatannya. Meskipun ini yang pertama kalinya bagiku, pinggulku sudah memahami betul gerakan tariannya. Rasanya seperti aku sudah ditakdirkan bersamanya. Bersama Callum, pangeran yang kucintai.
Aku tak tahan lagi. Maka aku melingkarkan lenganku pada tubuhnya, dan menusuk punggungnya dengan kuku jariku. Dari ujung jariku, aku menyentuh sayap emasnya. Sayap yang terasa sangat halus dan tipis.
"Enh," lirihku dalam mulutnya saat ia kembali menancap gas. Kemudian setelah beberapa menit, akhirnya ia mulai kelelahan dan berbaring di sampingku.
"Lenaku..." Ia mengusir helaian rambutku yang menempel di sekitar dahiku karena keringat. "A-Apa itu sakit? Ma-maafkan aku... a-aku..."
Apa? Ternyata daritadi air mataku mengalir. "Tak apa-apa, Cal. Aku hanya bahagia," ucapku sambil tersenyum dan memejamkan mata yang sudah terasa sangat berat.
Malam itu, aku tidur dalam dekapannya, dengan kaki kami yang saling terkekang dan napasnya yang bisa kurasakan langsung di wajahku.
Ini seperti mimpi. Mimpi terindah bagiku, yang tak akan pernah kulepaskan.