Wings & Fate

Wings & Fate
•Extra•



"Ini rumah mereka?" Tanya lelaki di sampingku, yang tak lain adalah Raja Fae, pemimpin tertinggi kaum ras Fae.


Aku mengangguk, masih menatap bangunan pencakar langit di hadapanku. Kota manusia memang jauh lebih modern dibanding wilayah Fae. Semuanya disini bak sihir yang rumit, tapi anehnya membuat segalanya terasa mudah.


"Apa kau yakin, Alena?" Tanya Callum lagi. "Bangunan tinggi ini... milik keluarga Clara?"


Sejujurnya, aku tak begitu yakin. Maka aku mengeluarkan kertas yang semula berada di kantong celanaku. Aku sempat bertanya kepada salah satu lelaki muda yang kebetulan lewat di jalanan, dan ia telah mengonfirmasikannya. Tentu saja lelaki itu tak berani berlama-lama, mungkin karena tatapan tajam Callum yang setia mengawasi tiap gerakannya.


Ya. Sekarang aku dan suamiku telah mengenakan pakaian yang biasa dipakai oleh manusia. Semua ini kutemukan di kamar bekas orangtuaku. Callum sendiri memakai kemeja Ayah yang berwarna biru, kemeja berlengan panjang yang terlihat pas untuknya. Aku juga memakaikannya salah satu dasi Ayah.


Dan pria ini malah terlihat tampan berkali-kali lipat. Aku tidak tahu apakah ini berkat kemampuanku membuat dasi yang sangat buruk dan dibawah rata-rata, atau semata-mata karena wajahnya menyelamatkan penampilannya.


"Ada apa?" Callum menatapku penuh kebingungan. Ia segera melirik dasi yang terikat pada lehernya. "Apa kau ingin aku melepaskannya?"


"Apa? Uh, tidak tidak!" Aku langsung menggeleng dengan cepat. "Aku hanya..."


"Terkagum melihat penampilanku?" Ia menyeringai. "Aku tahu aku ini-"


Aku menginjak kakinya setiap kali ia mengulangi kalimat itu. "Ayo." Aku menarik tangannya begitu saja, dan mulai memasuki gedung tinggi ini.


Berkat keterampilan Lilies, ia sukses menata rambut kami sehingga telinga lancip kami tidak terlihat. Sementara untuk sayap kami tentu saja disembunyikan di balik baju.


Mulutku tak bisa berhenti menganga. Banyak orang yang sedang berlalu lalang di dalam bangunan ini. Lampu neon yang dipasang di langit-langit entah kenapa membutakan mataku karena cahayanya yang terlalu terang.


Tapi bukan itu yang mengganggu pikiranku.


"Kemana kita harus pergi?" Tanya Callum. Aku menggeleng lemas, tiba-tiba merasa letih. Kepalaku mulai pusing saat tidak melihat suatu petunjuk pun yang bisa menjelaskan kemana kita harus pergi.


"Permisi."


Kami berdua menoleh secara bersamaan ke arah kiri. Seorang pria muda berbadan agak kekar yang tentunya adalah manusia sedang tersenyum ke arah kami. Ia mengenakan baju seragam berwarna hitam, sepertinya seseorang yang bertugas untuk keamanan gedung ini. Matanya lalu mendarat ke wajahku, dan seketika senyumnya sirna.


Uh oh. Ada apa ini? Kenapa semua laki-laki yang kujumpai selalu menatapku dengan ekspresi yang sama? Memangnya ada apa dengan wajahku?


"Ya?" Callum tiba-tiba menarik tanganku, dan memeluk bahuku dengan erat. "Ada perlu apa Anda dengan kami? Saya suaminya."


Aku hampir tertawa mendengar ucapannya. Aku jadi teringat saat ia sengaja memberitahu semua orang bahwa aku adalah pasangannya sewaktu di istana Bougenville. Tak pernah kubayangkan bahwa kami bisa menjadi pasangan betulan sekarang.


"Kalian terlihat kebingungan. Darimana asal kalian?" Tanya pria manusia itu lagi. Aku bisa merasakan getaran pada suaranya. Siapa yang tidak gugup saat harus berhadapan dengan Callum? Suamiku itu memang mampu membuat orang menunduk padanya saat ia tidak sedang bercanda.


Masih sambil menatapnya tajam, Callum menjawab. "Privasi."


"Uhm." Pria itu tertawa sedikit untuk mengurangi kecanggungan. "Aku hanya ingin membantu kalian. Kalau boleh tahu, kemanakah tujuan kalian? Bisa beritahu nomor kamarnya?"


Aku tak mengerti ucapannya mengenai nomor kamar. Maka aku hanya menyodorkan kertas di sakuku padanya.


"Kau yakin bisa memercayainya?" Bisik Callum di telingaku. "Tadi dia sempat menatapmu dengan ekspresi itu. Ekspresi terkejut. Jangan sampai dia jatuh cinta pada kecantikanmu."


Aku memukul pelan dadanya dan tertawa kecil. "Mereka ini hanya manusia. Mereka bukan tandinganmu, Raja Callum Lantski."


Ia menyeringai. "Kau sangat beruntung mendapat pasangan sepertiku."


Aku hanya memutar bola mata.


"Nona, kamar ini..."


Aku hampir melupakan keberadaan pria itu. "Y-Ya?"


Pria itu melirikku, kemudian melirik Callum juga. Jantungku sempat berdegup kencang. Kira-kira apa yang mau disampaikan olehnya?


Untungnya ia hanya tersenyum. "Aku tak menyangka Nona Clara mempunyai teman seperti kalian. Kalian beruntung karena aku tahu letak kamarnya."


Aku menghela napas lega, kemudian melirik Callum.


Sudah kubilang, kita bisa memercayainya. Aku kembali berkomunikasi lewat pikiran.


Ia hanya tersenyum lebar dan memutar bola mata penuh ejekan.


***


"Alena! Callum!" Wanita manusia itu langsung berlari dan memeluk kami berdua. Aku tersenyum lebar dan balas memeluknya.


"Lihat siapa yang datang kesini," ujar Chrys. Pria itu sedang bersantai di atas sofa. Sebelah kakinya terangkat, sedangkan televisi di hadapannya masih menyala.


"Ayo duduk!" Clara segera menarik tangan kami. Wanita itu lalu pergi ke arah dapur dan kembali lagi setelah beberapa saat, membawakan nampan berisi teh.


"Terima kasih," ujarku sambil menyeruput teh hangat itu.


Panas! Pekikku dalam hati. Itu langsung membuat Callum menoleh. Pria itu lalu merebut gelas dari tanganku, kemudian meniupi uap airnya.


Cal, pikirku. Jangan seperti ini dihadapan mereka.


Kenapa? Tanyanya dengan nada nakal. Aku kan, suamimu.


Aku menggeleng-geleng. Tapi bukan seperti ini juga-


"Aku iri melihat kalian." Kata Chrys tiba-tiba. Pria itu menopang dagunya dan mendesah. "Aku juga mau bermesraan dengan Clara. Tapi istriku itu bahkan tak setuju melakukan 10 ronde berturut-turut-"


"CHRYS!!" Clara langsung menutup mulutnya. "KEMBALI KE KAMARMU SEKARANG!!"


"Ampun, Yang Mulia." Chrys sengaja membungkukkan badannya, kemudian mengedipkan katanya ke arah kami. Setelah itu, ia sudah menghilang dengan sihir Lightnya.


"Omong-omong, dimana Miss Gray?" Tanyaku kepada Clara saat ia sudah duduk tenang di sofa.


Clara menaikkan alisnya, tapi tak lama ia tersenyum. "Ia masih sibuk mengajar. Dia akan pulang beberapa jam lagi."


***


"Aku hampir lupa kalau dia itu seorang guru," gumamku kepada Callum. Sekarang kami sudah berada di sebuah kamar. Ruangan kosong yang sudah lama tidak terpakai.


"Sabar." Callum mengelus punggungku dengan pelan. "Kau pasti bisa menemuinya."


Aku mendesah, dan merebahkan diri di atas ranjang yang empuk. Sambil menatap langit-langit, aku mencoba untuk menjernihkan pikiranku. Tiba-tiba aku teringat dengan seseorang.


"Aku penasaran apa yang sedang Jess lakukan bersama Natie," gumamku. Jess adalah anakku. Usianya bahkan belum menginjak setahun.


Callum juga ikut membaringkan diri disampingku. "Anak kita pasti sibuk bermain dengan temannya, sampai lupa waktu."


"Aku jadi kangen dengannya," kataku lagi sambil memeluk guling di sampingku. "Jess... Anakku..."


"Haha!! Belum sehari tapi kau sudah kangen," balas Callum.


"Ya," balasku setuju, masih sambil mengulum bibirku. Aku semakin mempererat dekapanku dengan guling. "Wajar, Cal. Aku ini Ibu muda."


"Hmmm." Tiba-tiba ia berbalik badan dan secepat kilat sudah mendaratkan kecupan di pipiku. Aku menatapnya tajam dan menutupi wajahku sendiri dengan guling.


"Lenaku," gumamnya nakal. Sekarang ia sudah memelukku dengan erat, sambil melingkarkan sebelah kakinya dan mengunci tubuhku. "Lenaku. Ibu muda. Haha..."


"Apa sih." Aku kembali melakukan kebiasaanku, yaitu memukul lengannya. "Kau sendiri juga Ayah muda. Sama saja denganku."


Walau aku berkali-kali menghindar dari serangan ciumannya, dalam hati aku merasa bahagia. Ya. Tak pernah terbayang aku akan menjadi seorang Ibu.


Apa kau lupa aku bisa membaca isi pikiranmu?


"Woah! Call!!" Aku masih menutup wajahku dengan guling. Kali ini rasa maluku sudah berkali-kali lipat. "Jangan menerobos isi pikiranku tanpa izin! Itu peraturan baru!"


"Iya iya suami! Kau sudah mengatakan hal itu lebih dari seribu kali!"


"Habis, aku senang sekali... Aku ingin memamerkan istriku yang cantik di hadapan semua orang."


Ugh. Lihat saja! Rasanya aku ingin mengeluarkan sihir Melody dan menutup mulutnya-


Deg!


Suasana menjadi hening. Dadaku tiba-tiba terasa sesak, mengingat bahwa aku tak lagi memiliki sihir seorang Fae God. Lebih parahnya lagi, aku tak memiliki kekuatan sekecil apapun.


Alena. Callum mulai khawatir. Alena. Tak apa-apa.


Aku menggeleng-geleng, lalu buru-buru melepas cincin pada jariku agar ia tak bisa membaca pikiranku lagi.


"Alena!" Callum kini menggeleng-geleng dengan sedih. Ia sampai ikut bangkit juga dari ranjang. "Jangan lakukan ini. Kumohon-"


Tapi aku tak mendengar perkataannya lagi. Aku buru-buru keluar dari ruangan, kemudian mengunci diri di toilet.


***


Sepanjang waktu, aku terus menangis. Air mataku tidak henti-hentinya keluar dari pelupuk mataku. Rasanya sakit. Sakit sekali untuk menerima kenyataan bahwa diriku yang lama sudah menghilang. Tidak, tidak. Bukan menghilang.


Tapi mati dan hancur.


"Huhu..." Aku terus menguburkan kepalaku dalam rangkulan lenganku. Sudah berapa tahun ini? Kenapa aku masih belum bisa mengusir kenangan itu?


"Alena!" Berkali-kali Callum menggedor pintu kamar mandi. "Buka pintunya! Plis!"


Aku bahkan tak bisa tertawa saat ia menggunakan bahasa gaul manusia.


"Alena..." Kini Clara dan Chrys juga sampai membujukku untuk keluar.


Aku menggeleng-geleng, dan menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku tak mau mendengarnya. Aku hanya ingin sendiri. Aku ingin berpikir.


Tapi apa yang harus kupikirkan lagi? Sang Fae God telah binasa. Aku bukan lagi Alena yang dulu. Aku telah kembali menjadi seorang gadis tanpa kekuatan, yang rasanya hampa.


Kini aku mengerti perasaanku yang dulu saat sihir Blossom pertama kali menyembuhkan lukaku di Goa Kora. Perasaan hampa yang kurasakan adalah saat dimana aku kembali menjadi yang sesungguhnya, yaitu mayat yang tak bisa bergerak.


Aku perlahan membuka kepalan tanganku. Aku merindukan sihirku. Aku merindukan saat aku harus memberi semua orang pertunjukkan mengenai kekuatan hebat itu. Aku ingin sekali menaruh senyum pada wajah semua orang setelah mereka melihat sihirku ini.


Tapi semuanya telah menghilang.


Fae God, pikirku dalam hati. Masih sambil menitikkan air mata, aku tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Masa-masa dimana aku pertama kali mendapatkan kekuatan, setelah itu perlahan berevolusi menjadi seorang Fae God. Aku masih mengingat setiap detailnya tanpa lupa sedikitpun.


Cahaya familiar tiba-tiba menyelimutiku. Callum sudah muncul di hadapanku.


"Alena-"


"Jangan lihat aku." Aku kembali menguburkan kepalaku. "Aku menyedihkan."


Aku tak mendengar balasannya. Ia duduk disampingku, kemudian perlahan merangkulku. Saat aku tidak melawan, ia menarik tubuhku dengan pelan, dan mengelus rambutku.


"Kau pasti masih ingat, bagaimana kau pertama kali dapat mengeluarkan sihirmu."


Ya. Aku tak dapat menyeruarakan isi hatiku. Aku masih mengingatnya dengan jelas.


Tapi Callum kali ini tak dapat membaca isi pikiranku, karena cincin itu masih terlepas.


Masih sambil mengelus rambutku, ia berkata. "Masih ingat saat kau menyelamatkanku waktu itu? Aku kagum sekali saat melihatmu mengeluarkan sihir Light. Lalu setelah itu Blossom, yang membantu kita untuk menyediakan sumber makanan."


Aku tersenyum. Ya. Aku masih mengingatnya. Meskipun aku menderita, tapi perasaanku waktu itu berbunga-bunga, karena ada kamu disisiku.


"Aku juga ingat cerita yang disampaikan oleh Naomi dan Xiela. Mereka terlalu semangat menceritakan perkembangan sihirmu kepadaku. Sampai aku tak bisa tidur karena terus mengingatmu."


Di saat itu aku mengangkat kepalaku dan menoleh kepadanya. "Benarkah?"


"Ya," balasnya sambil tertawa. "Apalagi saat mengingatmu mengendarai naga putih bersama Xiela waktu itu. Aku jadi-"


"Tunggu, tunggu." Aku berkedip. "Waktu itu kan, kau sedang bertugas selama sebulan, jadi tak melihatku mengendarai Lyra-"


"Maksudku adalah saat kau masih menjadi murid di Faedemy," potongnya. Ia kini menatapku lekat-lekat dengan mata birunya.


Pantas saja. Waktu itu aku samar-samar melihat Fae bersayap emas. Itu semua terjadi sebelum aku menjadi dekat dengan Callum.


Bahkan tanpa sihirku pun, ia sudah mengawasiku, berusaha agar aku tetap aman.


"Waktu itu aku benar-benar bangga, Alena," katanya lagi sambil tersenyum. Ia lalu menyentuh lembut pipiku. "Tanpa kekuatanpun, kau tetaplah Alena untukku. Putri. Ratu. Pasangan. Istri."


Aku melongo. Kemudian ia melirik kepalan tanganku, dan membukanya secara perlahan.


Cincin Gardian itu masih berada disana, memantulkan cahaya dari lampu. Benda berharga itu tampak sangat berkilau dari mataku.


Callum meraihnya, kemudian meluruskan jari tanganku.


"Maukah kau menikah denganku?" Tanyanya tiba-tiba. Tentu saja aku terkejut bukan main.


"Apa? Tapi kita sudah menikah-"


"Jadi kamu gak mau?" Kini ia menatapku dengan sendu. Bibirnya bahkan membentuk bulan yang terbalik. Aku dibuat gemas oleh sikapnya.


Meskipun ini hanya bercandaan, tapi ia sukses meluluhkan hatiku. Hari di saat ia melamarku memang momen yang paling membahagiakan dalam hidupku.


"Ya," ucapku sambil tersenyum. "Aku mau menikah lagi denganmu."


"Inilah gadisku. Lenaku." Ia meraup kedua pipiku, lalu mencium dengan lembut bibirku yang kering.


Rasanya seperti berada di masa-masa itu. Masa-masa saat perasaanku terhadapnya mulai tumbuh, hingga akhirnya terbalaskan dan kini aku sudah menikah dengannya.


"Hmm." Aku lagi-lagi kehilangan jejak waktu. Kami terus bercumbu, semakin lama semakin intens.


"Alena," gumamnya. Tangannya kini sudah meremas milikku penuh gairah. Aku sudah mengenali gerakannya dengan baik.


Benar saja. Sekarang salah satu jarinya menerobos pertahananku. Aku terkesiap dan menggigit bibir bawahNYA, meskipun aku sudah terbiasa melakukan ini dengannya.


Setelah tubuhku benar-benar dibuat lelah olehnya, ia membuka celananya. Baru saja kami ingin bercinta, tiba-tiba pintu digedor dari luar.


"GUYS!! LAMA SEKALI KALIAN!!"


"Uh," Callum mendengus. "Wait a moment, please! Use your smartphone!"


"Smartphone?" Aku langsung tertawa geli. "Cal... Kau habis diajarkan apa oleh mereka?"


"Eh?? Salah ya?" Kini ia terlihat seperti seorang bocah. "Aku tidak begitu paham. Katanya smartphone itu benda yang bisa mengetahui segala hal. Kalau mereka ingin tahu apa yang sedang kita lakukan di dalam kamar mandi, gunakan saja smartphone-"


"UH!!" Aku menjitak kepalanya, lalu mengambil kembali pakaianku yang telah ditanggalkan olehnya.


"Miss Gray sudah kembali pulang," kata Clara lagi.


"Wait a moment!" Teriak Callum lagi. "We are just making love!"


Aku tertawa mendengarnya, meskipun aku paham betul arti kalimat itu.


Dasar. Tukang pamer. Ucapku dalam hati, yang dibalas oleh suara tawanya.