Wings & Fate

Wings & Fate
Spying



Sebelum aku berangkat, Jesca melepaskan kalungnya dan memberikannya kepadaku. Katanya kalung ini sangat dibutuhkan olehku. Selain sebagai penguat sihir, kalung ini juga terhubung dengan siapa saja yang menggunakan kalung yang sama. Pemilik kalung-kalung ini tak lain adalah para Fae Royal di hadapanku.


"Ini kalung penghubung, hadiah dari Raja Fae. Kau bisa berkomunikasi dengan kami lewat kalung itu. Biasa kami menyebutnya Gardian," jelas Jesca lewat tulisannya.


Aku mengangguk, sambil merasakan bobot kalung putih di telapak tanganku.


"Miss harus kembali sebelum matahari terbenam," jelas yang lain. "Dengan begitu, Ketua Fire tak akan curiga."


***


Matahari hampir terbenam, menandakan hari sudah mulai malam. Tapi masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Alena.


Sekarang Callum sedang bersama Ledion. Pria itu bahkan sudah menyiapkan kudanya. Meski ia bukan lagi pengawal pribadinya, Ledion tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.


"Semua sudah siap, Yang Mulia. Anda bisa tinggal berangkat ke Bougenville kapan saja," jelasnya, masih sambil membenarkan pelana kuda.


"Ledion, ada yang harus kusampaikan kepadamu."


Pria itu langsung berbalik badan dan menunduk sedikit.


Awalnya Callum berpikir ingin menggunakan bantuannya untuk mencari Alena, namun ia teringat pria ini termasuk Ketua Golongan. Siapa yang tidak akan panik saat mengetahui bahwa Fae God bisa menghilang? Apalagi Alena sudah pernah menghilang sebelumnya, dan Ledion memang sempat panik pada saat itu.


Ia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk mencarinya sendiri.


"Tolong awasi pergerakan Ketua Fire, dan laporkan segala sesuatu yang mencurigakan kepadaku. Aku akan menyempatkan diri dan menggunakan sihirku untuk mengecek keadaan di istana."


Semenjak Callum dan teman-temannya kembali dari Goa Kora, semua orang sudah memahami betul cara kerja sihirnya, termasuk teleport. Rahasia yang berpuluh-puluh tahun dijaganya, sekarang sudah terumbar. Ia pikir segalanya akan terasa sulit, namun ia salah. Rasanya seperti satu beban telah terangkat dan ia tak perlu bersusah payah menyembunyikan kemampuannya lagi.


Terbuka terhadap rakyat adalah salah satu cara untuk mendapat kepercayaan dan kehormatan.


"Baik, Yang Mulia."


"Dan seperti biasa, rawat Lexy dengan baik. Aku tidak memberikan tugas ini ke sembarang orang. Kau tahu artinya kan?"


Ledion terdiam.


"Itu artinya aku percaya kepadamu sehingga menyerahkan nasib hidup Lexy kepadamu. Tenang saja, ada Val yang akan membantumu. Ia setia merawatnya."


"Aku mengerti, pangeranku."


"Ah, mau sampai kapanpun ini terasa risih saat kau berbicara formal kepadaku."


Ledion tersenyum dan tidak lagi menunduk. "Oke, Callum."


"Nah," imbuh Callum puas. "Itu lebih baik."


Ledion pamit dan menuntun kudanya, membuat Callum menggeleng-geleng kepalanya. Fae itu suka sekali membawa serta hewan piaraannya, padahal ia tinggal menggunakan sayapnya.


Callum menatap langit yang berwarna jingga kekuningan. Pemandangan matahari memang terlihat jelas dari halaman istananya. Ini salah satu alasan kenapa ia lebih suka tinggal di kediaman pribadinya.


Dua sosok yang terlihat familiar tiba-tiba sudah menghampirinya. Callum terbelalak dan sedetik kemudian sudah muncul di hadapan mereka.


"Naomi. Xiela."


"Cal." Keduanya tampak terkejut saat melihatnya.


"Ada apa?"


"Umm..." Mereka saling bertukar pandang, kemudian Xiela mengangguk. Entah apa yang mereka sembunyikan darinya. Ia kadang tak bisa memahami pikiran kedua gadis ini.


"Ada yang harus kau ketahui tentang Alena," jelas Naomi. Jantung Callum langsung berdebar.


"Ia dibawa ke Fae Hall siang tadi."


Fae Hall? Callum mengernyitkan dahinya. Ia teringat dengan perkataan Bora waktu itu sewaktu ia kembali ke istananya. Sesuatu tentang penobatan Fae God. "Oleh siapa?"


Amarah mulai mendidih. Fae itu telah berbohong kepadanya, mengatakan bahwa ia tidak mengetahui keberadaan Alena. Untungnya ia sudah berpesan kepada Ledion untuk mengawasi Ketua itu.


"Kalian ikut denganku sekarang. Kita harus-"


"Callum, jangan sekarang," potong Naomi. "Kita sudah berpesan kepada Alena untuk berhati-hati dan tunggu aba-aba dari kami. Kalau waktunya pas, ia akan menyelinap keluar dari gedung sebelum bisa dinobatkan. Lagipula sekarang ia aman-aman saja."


"Kalian ingin melihat rencana Bora." Seketika pikiran Callum tercerahkan. "Baiklah. Saat ia sudah berhasil keluar, aku akan membawanya bersamaku ke Bougenville."


"Ini akan terjadi 2 hari lagi. Kita harus bersiap." Setelah itu, mereka pamit dan meninggalkannya.


Callum mendesah. Alena sudah aman. Sekarang saatnya bagiku untuk bersiap.


Ia menarik napas dan mengeluarkan sihirnya. Dalam sekejap, ia sudah berada di dalam kamarnya. Dadanya sesak saat mengingat pertemuan terakhirnya dengan gadis yang dicintainya itu. Ia meraba dinding tempat ia bercumbu dengannya.


Wajahnya merona memikirkan memori itu. Waktu itu pikirannya sedang tidak waras. Ia tidak tahu rasa rindu terhadap Alena jauh lebih dalam dari yang dipikirkannya. Ia benar-benar tak bisa mengontrol diri saat memandangi bibir mungil gadis itu. Bibir yang sudah disentuh oleh Bora.


Callum mengepalkan tangannya, tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Maka ia berbalik badan dan berjalan menghampiri lemarinya.


Suara derit pintu lemari terdengar, kemudian aroma semerbak bunga memenuhi lubang penciumannya. Parfum favorit miliknya.


Seperti biasa, Callum mengobrak-abrik barang-barang miliknya. Koleksi senjatanya. Beberapa merupakan hadiah dari guru-guru bela dirinya, beberapa dibeli untuk kesenangan pribadi.


Tangannya terhenti saat sudah menyentuh dua pasang belati yang familiar. Tonjolan batu rubi berwarna merah darah.


Callum mengamati belati itu sebentar, kemudian memasukkannya ke dalam saku.


***


Menggunakan sihir Royal entah kenapa membuatku teringat dengan Callum. Warna cahaya yang merekah dari tubuhku, serta rasa kehangatan yang khas. Dadaku jadi sesak karena itu.


Aku menggeleng-geleng. Sekarang bukan waktunya mengingat dia. Ada hal lebih penting yang harus kau selesaikan.


Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian membuka mata. Sihir Royal telah membawaku sampai disini. Daerah hutan di dekat Fae Hall yang semula kulihat dari kejauhan. Tempat yang kusangka Egleans sedang bersembunyi, yang kuamati dari burung-burung yang terbang keluar dari hutan tersebut.


Suasana terlalu mencekam. Pohon-pohon ini terlalu besar, sinar matahari susah untuk menembus ke dalam. Banyak ditumbuhi semak belukar yang berduri. Aku harus berhati-hati jika kaki ini ingin berpijak. Aku sampai melipat sayapku dan menyembunyikannya di dalam jubah agar tidak sobek karena terkena tajamnya duri-duri.


Selain itu, tanahnya berlumpur dan jejak kakiku membekas. Aku harus selalu waspada dan memasang telingaku.


Tanpa sengaja, aku telah menendang belukar yang mencuat keluar ke jalan setapak. "Aw!" Dengan susah payah, aku membebaskan kakiku dari lilitan belukar. Aduh, Alena. Kau payah sekali! Mana ada mata-mata yang ceroboh seperti ini!


Ingin rasanya aku menggunakan sihirku, mungkin menggunakan sihir Blossom atau...sihir Fire untuk menghilangkan semak-semak yang menggangguku ini. Tanganku sudah gatal, rasanya seperti sihirku sudah berlomba-lomba agar bisa dikeluarkan. Namun tentu saja itu akan mengumumkan keberadaanku. Aku tidak boleh tertangkap.


Sudah bermenit-menit aku bermandikan keringat, namun aku tidak melihat jejak atau tanda apapun yang menunjukkan keberadaan Egleans sebelumnya.


Jelas-jelas burung beterbangan sebelumnya, batinku heran. Kalau bukan Egleans, apa yang terjadi?


Aku juga khawatir karena tidak bisa melihat kondisi langit. Kalau ternyata matahari sudah terbenam, aku harus cepat kembali.


Langkahku lagi-lagi terhambat karena becekan lumpur yang mengotori alas kakiku. Terpaksa aku berjongkok dan bersusah payah mengeluarkan kakiku.


Aku mendesah. Setidaknya harus menemukan sesuatu, kataku pada diri sendiri. Apa saja, setidaknya kau harus mendapat sesuatu yang bisa jadi informasi berharga.


Rencanaku sebenarnya adalah menyelidiki bagian hutan ini, kemudian barulah aku pergi ke wilayah manusia lewat celah yang dilalui oleh para Egleans. Aku belum memikirkan apa yang harus kulakukan begitu tiba disana. Mungkin aku akan kembali mengunjungi rumah besar milik orangtuaku, melihat keadaan mereka sekarang-


Terdengar suara mengendus, kemudian barulah aku melihat makhluk itu.


Kali ini ia tidak lagi berwujud rupa hewan. Egleans itu tidak lagi menjelma karena aku melihat sayap besarnya serta cakar dan taring. Tubuhnya terlihat seperti manusia kering, dengan tulang rusuknya yang menembus kulit.


Aku merinding, dan menahan napasku. Aku lupa kalau mereka bisa mencium bau Fae, jadi aku melumuri seluruh bagian tubuhku dengan lumpur, termasuk sayapku sendiri. Untungnya aku hanya melihat satu Egleans, jadi lebih memudahkan bagiku untuk membuntutinya.


Makhluk itu berhenti mengendus. Seperti harimau, ia tidak berjalan layaknya manusia, namun menggunakan keempat alat geraknya untuk berjalan. Aku melepas alas kakiku, kemudian mulai mengikutinya. Bobot Gardian yang tergantung di leherku bisa kurasakan. Aku hanya berharap waktu yang tersisa cukup bagiku.