
Hujan tidak mereda, dan baju Lexy sekarang sudah lembap karena tanah yang ditidurinya sekarang sudah menyerap banyak air hujan.
Ruangan ini terletak di bawah tanah, jadi akan pasti menjadi tempat pertama yang kebanjiran. Ia menoleh dan melihat Val yang juga tak bisa tidur. Pria itu mencoba mengeluarkan sihirnya, namun cahaya yang dikeluarkannya memang tidak efektif. Tubuhnya merasa lebih hangat, namun itu tidak berlangsung lama.
"Kalau kondisinya seperti ini, kusarankan agar kau berhenti menatapku dan cobalah untuk tertidur," katanya tiba-tiba. Lexy langsung memalingkan wajah dan membalikkan badan. Apa ini yang dirasakan oleh Alena saat ia terjebak di dalam gua bersama Callum? Bergantung pada kehangatan tubuh dan tidak melakukan apa-apa selain berhibernasi seperti beruang kutub.
Beruang. Saat ia menjelma menjadi monster itu, kulitnya ditumbuhi oleh bulu-bulu putih layaknya beruang kutub. Namun wajahnya tidak bermoncong seperti beruang. Berdasarkan deskripsi Alena waktu itu, wajahnya masih berbentuk normal, bedanya bulu-bulu putih tumbuh di sekitarnya.
Berarti aku berwajah seperti monyet dan memiliki tubuh seperti beruang, pikirnya. Perutnya langsung mual saat membayangkan kira-kira wujudnya akan seperti apa.
"Tubuhmu bergetar," kata Val dari seberang sana. Lexy hanya menarik lututnya ke dada, untuk menciptakan kehangatan sendiri bagi tubuhnya. "Bukan karena kedinginan! Aku cuma... lagi memikirkan sesuatu!"
"Emangnya aku tanya apa?"
"Aku ngantuk! Jangan berisik!" Tanpa berbalik badan, Lexy memejamkan matanya, mengusir perasaan tak enaknya karena dapat merasakan mata Val yang sedang memerhatikannya di balik punggungnya.
"Tidak bisa seperti ini." Val bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. Sontak Lexy juga ikut bangkit. "Mau kemana kau?"
"Pergi keluar dan mengatur cuaca," jawabnya tenang sambil membuka pintu gerbang. "Tunggu disini. Aku tidak akan lama-lama."
Sejak kapan Lexy bersedia menunggunya? Lagipula, inilah keinginannya. Akhirnya pria ini beranjak pergi dari tempat ini. "Pe-pergilah! Memangnya aku menunggumu? Aku gak peduli kalau kau sampai terbawa tornado atau... atau tersambar petir!"
Val menaikkan alisnya dan menyengir. "Sampai sekarang kau berhasil membuatku terkejut. Selalu salah sangka. Tenang saja. Hujan akan segera berhenti." Setelah itu, ia sudah menghilang.
Lexy kembali berbaring di atas tanah lembap. Ia tak peduli dengan bau tanah ataupun rambutnya yang lepek.
Pikirannya tiba-tiba tertuju kepada Alena. Kenapa ia tak lagi mengunjunginya? Apakah Callum berhasil menemukannya? Kenapa raut wajahnya panik pada saat itu?
"Alena... semoga kau baik-baik saja. Aku doakan kamu, semoga kau dapat menyelesaikan masalah ini dan menyelamatkan kaum Fae."
Bukan karena kau seorang Fae God, lanjutnya dalam hati. Tapi karena kau Alena, gadis yang pantang menyerah.
***
Detak jarum jam bandul di kamar besarku membuatku tetap terjaga. Seluruh badanku pegal-pegal dan aku sudah terasa letih. Yang membuatku masih tersadar di dunia nyata adalah kejadian sore tadi, dan keberadaan seseorang di sampingku sekarang.
Sore itu, beberapa saat sebelum upacara dimulai, para Fae sampai melumuri luka-lukaku dengan getah cair suatu tanaman. Selain untuk menyembuhkan lukaku, itu juga dapat membantu menyamarkan lukaku agar tidak terlihat dari mata orang lain.
Sepanjang upacara, aku merapatkan bibirku agar tidak kelepasan saat berbicara, terutama saat Bora yang memimpin semuanya. Untung aku masih bisa bersabar saat ia seenaknya menyentuh dan menarik-narik lenganku ke arah air mancur.
Jesca disana berperan sebagai pembaptisku. Aku ditanggalkan jubahnya, sehingga yang tersisa hanya lilitan kain untuk menutupi dadaku sampai bagian pusar. Aku harus menunduk dan mengucap sepatah kata yang sudah kuhafalkan sebelumnya. Mantra dan doa agar aku diterima sebagai salah satu tetinggi Fae yang suci dan tidak akan mengkhianati kaum Fae sampai selamanya.
"Faeries de adverseris." Aku mulai mengucapkan janji. "Aku, Alena Sherman, berjanji akan melaksanakan tugasku dengan baik sebagai seorang Fae God."
Perutku melilit-lilit. Setidaknya sumpah janji yang baru saja kuucapkan itu ada benarnya. Walau aku akan kabur pada hari terakhir upacara, aku tetap akan menggunakan kekuatanku untuk melawan Sang Ratu kalau-kalau dia berani muncul.
Meskipun aku diperlakukan seperti boneka oleh beberapa Ketua Golongan, aku tetap akan melindungi kaum Fae. Naomi, Xiela, Lexy, Sana, Ella, Flora. Dan beberapa temanku lagi seperti Val dan Ledion, bahkan Lotus dan juga Lilies. Dan juga mendiang Mella. Aku tak akan melupakanmu.
Kemudian ada Jesca. Meski aku baru mengenalnya hari ini, aku sudah memercayainya seperti saudariku sendiri. Ia sudah membantuku, bahkan memberikanku Gardian miliknya yang bisa melindungiku.
Terakhir, dan tentu saja, ada Callum. Pangeran termuda Fae. Lelaki yang pernah membuatku tertawa, dan yang sudah berkali-kali menolongku tanpa kusadari. Ia bahkan rela mengorbankan diri waktu itu, agar aku dapat pergi jauh-jauh dari Ratu.
Pandanganku mulai buram, dan air mata sudah membendung. Jadi seperti inilah hubungan kami sekarang? Ia sudah pergi melanjutkan pekerjaannya karena ucapanku yang lantang. Aku yang telah mengusirnya, namun kenapa sekarang aku malah merindukannya? Kalau saja ia berada disini sekarang, melihatku melakukan ini semua. Proses upacara yang melelahkan dan tak ada habis-habisnya, bahkan membutuhkan waktu berhari-hari.
"Alena?" Bora membuyarkan lamunanku. "Kau bisa melakukannya sekarang."
Aku linglung dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Para Fae Royal penjaga sudah mengelilingiku, masing-masing membawa satu piala di tangan mereka. Mereka menutup sebagian wajah mereka dengan kain putih, yang membuat penampilan mereka lebih misterius dan terlihat suci.
Bora berdeham, dan aku buru-buru mengedipkan mata. "Y-ya?"
Aku menunduk dan menatap kakiku di atas rumput hijau yang tidak terlindungi alas. Setelah beberapa detik, aku baru tersadar apa yang harus kulakukan.
"Oh! Ma-maaf!" Aku buru-buru mencelupkannya ke dalam air kolam. Tubuhku langsung menggigil karena ternyata air itu dingin.
"Tak apa-apa," kata Bora lagi sambil tersenyum. "Air memang dingin karena sebentar lagi akan turun hujan."
Benar saja. Saat aku menoleh, aku melihat langit yang sudah mendung. Awan-awan berwarna abu mulai berkumpul, dan bisa menurunkan rintikan hujan kapan saja.
"Karena ini upacara pembaptisan, tidak boleh ada yang mengeluarkan sihir. Fae Light tidak boleh merubah cuaca untuk sementara ini." Bora mengangguk, mengisyaratkan kepada Jesca untuk segera melanjutkan upacara.
Gadis itu mengambil piala dari salah satu Fae, kemudian mengisinya dengan air kolam yang suci.
Air dingin membasahi rambut panjangku. Tubuhku bergetar, tak kuasa menahan dinginnya air suci ini. Jesca tetap melanjutkan proses penyuciannya. Mungkin ia sudah biasa menghadapi reaksi yang seperti ini setiap kali ada Fae yang ingin dinobatkan.
Ia menuangkan air di atas kepalaku sebanyak tiga kali, lalu aku membasuh wajahku sendiri. Saat akhirnya sudah selesai, aku harus kembali mengucapkan janji serapah.
"Faeries de adverseris. Dengan ini, aku, Alena Sherman, secara resmi sudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dewa yang Maha Pengampun. Dengan ini, nasibku sepenuhnya berada di tangannya. Ia bebas mencabuti nyawaku kapan saja jikalau aku melanggar titah sucinya."
Aku memejamkan mata, merasakan energi tak kasat mata yang menyelimutiku. Entah ini suatu kebetulan atau tidak, aku dapat merasakan keberadaan seseorang yang sedang memelukku.
Angin semilir berhembus, menciptakan suasana yang hening. Rasanya seperti aku berdiri di tengah padang rumput sendirian, ditemani oleh tangan besar Sang Dewa yang meraup tubuhku.
"Alena."
Aku mendengarnya. Aku mendengar sebuah suara.
"Ya?" Jawabku dalam hati. Aku tahu suara itu dapat membaca isi pikiranku.
"Alena, anakku. Kau sudah menjadi satu tubuh denganku. Oleh sebab itu, atas dasar apapun, aku berhak memberimu hukuman jikalau kau melanggar titah suciku."
"Ya, Dewa."
"Sebutkan satu permintaanmu kepadaku, karena kau sekarang sudah menjadi anakku."
Permintaan. Apa yang kira-kira akan kumintai? Kesejahteraan kaum Fae? Atau mengharapkan kematian Sang Ratu? Punahnya monster seperti Egleans dan makhluk-makhluk berbahaya pemangsa Fae? Membalaskan dendam kepada Bora atau kepada siapapun yang mencoba menjatuhkanku? Kebebasan Lexy dari penjara bawah tanah?
Tidak. Semua itu bukanlah permintaanku, karena aku tahu aku bisa melakukannya sendiri. Sendiri, tanpa bantuan Sang Dewa sekalipun.
"Permintaan? Apa saja bisa kau kabulkan?"
"Jangan remehkan aku, Alena. Aku bisa membangkitkan orang mati kalau itu yang kau mau."
"Benarkah?" Bisikku pilu. "Kalau begitu, kemana saja kau selama ini saat aku mengalami kesusahan?" Air mata mulai menetes. Dunia serasa bergetar. Aku tahu aku mulai bersikap tak sopan terhadap Sang Dewa.
"Kau tak punya banyak waktu. Cepat katakan permintaanmu."
"Permintaanku," gumamku. Sulit rasanya untuk mengucapkan langsung permintaanku yang mau dikabulkan.
Setiap orang memiliki banyak permintaan, namun hanya ada satu yang benar-benar mau dikabulkan, yaitu permintaan yang berasal dari hati nurani. Permintaan sejati, permintaan yang tanpa disadari sudah mengontrol jalannya hidup mereka. Permintaan yang selalu menghantui mereka, bahkan disaat mereka tak menyadarinya.
Bahkan disaat mereka berpikir bahwa itu adalah hal sepele dan sama sekali tidak termasuk ke dalam daftar permintaan mereka.
Aku membuka mata, perlahan-lahan merasakan energi tak kasat mata itu yang mulai mengendur. Butuh beberapa saat sebelum pandanganku mulai terfokus dan aku melihat sesuatu.
Sesuatu yang hampir membuat jantungku berhenti berdetak.
Seorang lelaki bersayap emas yang sedang bertukar pandang di hadapanku.